Deadly Cold Woman

Deadly Cold Woman
Penemuan Jasad Elena


__ADS_3

Granov benar-benar bingung, ia mencoba berpikir untuk mencari sang adik, setelah mendapatkan ide, Granov berdiri dan menoleh kearah Karin dan Eric.


"Ayah, ibu, kalian tetap di sini saja, biarkan aku yang mencari Elena ke rumah teman-temannya," ucap Granov sambil berlari keluar rumah dan memasuki mobil nya.


Karin dan Eric mendengar perkataan Granov, mereka kini duduk dengan pikiran yang sudah kacau.


Tangan Karin terlihat sedang gemetar, Eric yang ada di sampingnya mencari cara untuk menghibur sang istri, "Bagaimana kalau kita kehilangan anak kita lagi?," gumam Karin sambil menangis terisak.


Eric merasa kasihan pada Karin, ia teringat dengan kejadian yang telah berlalu, karena dulu mereka juga pernah kehilangan seorang anak, dan hal itu membuat Karin tampak begitu depresi.


Eric memegang tangan Karin dan menggenggamnya, ia berusaha membuat Karin tidak mengkhawatirkan Elena secara berlebihan, "Tidak, tidak, itu tidak akan terjadi, percayalah bahwa Elena akan pulang dengan selamat," ucap Eric sambil memeluk tubuh istrinya agar sang istri bisa berpikir dengan tenang.


...****************...


Di sisi lain para polisi tengah berusaha mencari siapa pelaku dari pembunuhan Asra, kedua orang tua Asra terus berusaha mencari pelakunya.


Bahkan para polisi sudah mengintrogasi Rila dan Jian, mereka tidak menemukan kejanggalan apapun pada mereka, sedangkan kedua orang tua Asra tetap tidak yakin bahwa keduanya tidak terlibat dengan pembunuhan anaknya.


Kini mereka tengah mengadakan pertemuan dan juga di ikuti para polisi.


"Aku yakin bahwa anak kalian terlibat dengan pembunuhan ini!," teriak Ibu Asra yang tengah menangis sesenggukan.


Ibu Jian yang mendengar tuduhan itu merasa sangat marah, ia ingin mengeluarkan kata-katanya, tapi ayah Jian justru menghentikan istrinya.


Karena ayah Jian takut jika ibu Jian mengeluarkan ucapannya, maka ruangan itu akan semakin runyam.


Sedangkan Jian merasa tidak terima dengan tuduhan itu, ia pun mencoba mengatakan fakta yang telah terjadi di antara mereka dengan suara pelan, "Bibi, kami benar-benar tidak mengetahui apapun, setelah kami bersenang-senang, kami mengantarnya ke depan gerbang Vila, lalu kami berdua pergi," jelas Jian yang berusaha sabar dengan tuduhan yang di layangkan orang tua Asra padanya.


"Aku tidak pernah percaya dengan perkataan kalian!" teriak Ibu Asra yang sudah tak kuasa menahan sesak di dadanya.


Para polisi itu terlihat pusing mendengar teriakan ibu asra, tapi mereka sangat mengerti perasaan nya.

__ADS_1


"Aku ingat, bahwa di setiap gerbang Vila terdapat Cctv, jadi kita bisa mengeceknya di sana," ujar polisi itu sambil berdiri dan memanggil salah satu pegawai yang biasa mengecek keadaan lalu lintas.


Kini polisi itu memberikan sebuah layar lebar, agar para orang tua bisa melihat dengan jelas, dan di sana mereka melihat bahwa Jian dan Rila mengantar Asra tepat di depan Vila, dan terlihat disana bahwa mereka langsung pergi.


Jian dan Rila yang melihat layar itu merasa sangat lega, dan sedangkan kedua orang tua mereka merasa tidak senang, dan mereka menatap kedua orang tua Asra dengan tajam.


Lalu tiba-tiba saja rekaman itu tidak berlanjut, para polisi itu begitu tampak heran, "ini, cctv nya seolah tidak berfungsi," ucap polisi itu yang benar-benar merasa heran.


"Ini pasti pembunuhan berencana," ujar polisi lainnya.


Di dalam ruangan itu terdapat dua polisi, awalnya mereka sedang mengusut sebuah kasus yang menewaskan 3 orang pria, lalu tiba-tiba saja, mereka di minta oleh atasan untuk mengusut kasus Asra.


"Tapi tim penyidik tidak menemukan adanya sidik jari apapun, bahkan kasus ini sama seperti kasus sebelumnya," ujar Ferry pada temennya.


"Benar, ini sama seperti kasus sebelumnya," ucap Geril sambil mengingat kembali kasus yang sedang mereka usut.


Rila dan Jian terkejut mendengar perkataan kedua polisi itu, kini mereka saling memandang satu sama lain.


Keringat dingin mulai mulai keluar di dahi keduanya, pikiran mereka kini hanya tertuju pada satu orang, yaitu Valia.


Rila yang melihat kode yang di berikan Jian berusaha kembali menutup mulutnya, tapi tatapan Ferry tidak luput dari Jian dan Rila.


Setelah semuanya sudah terlihat jelas, Kedua orang tua Asra sudah tidak bisa menuangkan Rila dan Jian.


Tapi, keduanya terus meminta polisi untuk mengusut kasus anak mereka yang mati dengan tragis.


Setiap orang tua pasti sangat menyayangi anaknya, walau mereka tau bahwa anak mereka sangatlah nakal, tapi kasih sayang itu tidak akan pernah hilang dari hati mereka.


Sedangkan kedua orang tua Jian dan Rila langsung membawa anak mereka pulang.


...****************...

__ADS_1


Granov susah mencari ke rumah teman-teman Elena, tapi mereka semua tidak menemukan jejak apapun.


Granov pulang dengan wajah kecewa, dari kejauhan, Granov tidak sengaja melihat beberapa burung gagak yang terbang di atas belakang rumahnya.


Ia yang melihat itu merasa curiga bahkan Granov juga memiliki firasat buruk tentang burung itu, ia pun keluar dari mobil dan langsung berlari ke belakang rumahnya.


Saat berada di tempat burung gagak itu, Granov melorotkan matanya dan ia berdiri seperti patung.


Jantungnya berdetak sangat kencang, bahkan detakan itu sangat menyakitkan seperti ditusuk oleh ribuan jarum.


Granov seolah tidak bisa bernafas dan ia bahkan merasa paru-parunya tidak bekerja dengan normal.


Cairan bening itu turun begitu saja, tubuh Granov bahkan bergetar sangat hebat, ia ingin sekali mengucapkan nama sang adik, tapi tenggorokannya seakan tercekat dan mulut itu juga terasa sangat kaku.


Granov bahkan sudah tidak bisa menopang tubuhnya lagi, ia bersimpuh di samping jasad sang adik.


Granov ingin memegang wajah adiknya yang sudah memucat, tapi tangan kekar itu bahkan bergetar hebat. Air mata Granov kini jatuh dengan sangat deras, dan walau dengan tangan yang bergetar hebat, tapi Granov berusaha meraih wajah sang adik.


"E-elena," gumam Granov sambil meraih wajah sang adik dan mengusap wajah itu beberapa kali.


Suara itu terdengar bergetar dan memilukan, dengan tangan yang gemetar Granov tetap mengusap wajah sang adik.


Ia menangis dengan tidak bersuara, kata orang, tangis yang seperti itu adalah tangisan yang paling tulus.


Dan saat ini itulah yang dilakukan oleh Granov, setelah kepergian kakaknya, ia hanya memiliki seorang adik dan ia benar-benar sangat menyayangi Elena.


Tapi sekarang, tubuh sang adik kini sudah berubah menjadi dingin dalam pelukannya, ia bahkan tidak menyangka bisa melihat kaki adiknya yang sudah terpisah dari tubuh sang adik.


"Kenapa kau meninggalkan kakak?," gumam Granov dengan air mata yang sudah mengalir dengan deras dan sambil memeluk wajah sang adik.


"Siapa orang yang melakukan hal keji ini padamu?," lanjutnya sambil menenggelamkan wajah sang adik di dada bidangnya.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa bantu untuk like, coment, gift dan Vote ya 🙏 terimakasih semuanya 🙏


__ADS_2