
Riana duduk di kursi kosong itu, dan ia melihat ke kursi kosong yang ada di sebelahnya, "siapa pemilik kursi ini?," gumam Riana sambil menoleh keatas meja.
Tiba-tiba saja bola mata Riana membulat dengan sempurna, ia pun langsung memegang meja itu, "ini baru saja di ukir, ternyata di antara para kaum elit juga pembuli yang handal" batin Riana yang terus memegang ukiran-ukiran yang ada di atas meja.
Lalu Riana menoleh kearah orang-ornag itu, namun ia tidak bisa menemukan siapa pelaku yang mengukir meja yang ada di sebelahnya.
"Beruntung sang pemilik kursi tidak hadir hari ini, jika dia melihatnya, maka entah apa yang akan terjadi," batin Riana yang kembali melihat ukiran-ukiran yang ada di atas meja.
Setelah pelajaran Devid selesai, akhirnya para mahasiswa bersorak kegirangan karena mata pelajaran yang seharusnya di tempuh 4 SKS, kini berubah menjadi 2 SKS.
Seharusnya, pelajaran selanjutnya adalah milik Gleni, karena Gleni sudah tiada, serta pihak kampus belum menekan penggantinya, maka departemen itu telah bebas satu hari itu.
Kini, semua mahasiswa itu turun, sedangkan mata Riana mulai tertuju pada Rila dan Jian, ia melihat keduanya terburu-buru membereskan barang mereka.
Riana mengambil tas nya dan melangkah dengan pelan, "kalian ingin pergi?, bukankah itu tidak sopan?," tanya Riana sambil berdiri di samping Jian.
Jian dan Rila mengehentikan tangan mereka, keduanya tampak tidak bergerak, sedangkan mahasiswa yang masih berada di kelas merasa heran melihat Rila dan Jian tidak berkutik di hadapan Mahasiswi baru.
"Apa mahasiswi itu mengenal Jian dan Rila?,"
"Bisa saja mereka sudah saling mengenal satu sama lain,"
"Tapi kenapa mereka berdua seolah terintimidasi di depan Riana?, bukankah biasanya mereka yang mengintimidasi para mahasiswa beasiswa?,"
Riana mendengar semua perkataan teman sekelasnya, ia pun mulai tersenyum smirk, "haha ... dulu setelah kau mendapat hukuman di sekolah, aku bahkan sempat percaya bahwa kau akan berubah, tapi ternyata aku salah, sifat kejam mu itu pasti tidak akan hilang dengan sendirinya," ucap Riana dengan keras.
Teman-teman yang masih berada di sana menutup mulut mereka dengan lebar, mereka tidak percaya bahwa semasa sekolah Kedua ornag itu sudah mulai merinding orang lain.
"Betapa kejamnya mereka, aku bahkan setuju jika Asra mati dengan cara yang sangat mengenaskan seperti yang ada di berita itu,"
"Benar, ketika aku melihat berita kematian Asra, hatiku merasa sangat senang karena salah satu dari kelompok mereka telah hilang dan mungkin perundungan yang di alami para mahasiswa beasiswa itu akan berkurang,"
__ADS_1
Ucapan itu begitu terdengar jelas di telinga Jian dan Rila, telinga keduanya bahkan sudah memanas, jika mereka tidak di hadapkan dengan Riana, sudah pasti keduanya akan langsung mengajar siapapun yang telah wmnagtakan hal buruk tentang mereka.
Sedangkan Riana, sebelum pindah ke kampus sang papa, ia telah mencari berbagai informasi mengenai kampus tersebut, setelah membaca berbagai kasus mengerikan itu di kampus itu, Riana pun mengernyitkan dahinya dengan binggung.
Awalnya ia sempat berpikir bahwa Oscar juga terlibat dalam pembulian itu, tapi ia menepis jauh-jauh pikiran kotor itu.
Dan ketika Riana mencoba menyelidiki lebih dalam, ia mendapati bahwa pemegang saham di kampus itu adalah orang tua dari orang yang telah merundungnya semasa sekolah.
Dan saat Riana melangkahkan kakinya kedalam kampus, ia pun mulai mengerti bahwa sang papa sungguh tidak mengetahui apapun, karena ia juga sempat bertanya-tanya pada mahasiswa lainnya dan mereka mengatakan untuk tidak mengatakannya pada dekan.
Rektor dan pemegang saham lainnya takut pada sang dekan, karena mereka tau bahwa sang pemilik kampus sangat mempercayai Oscar, sehingga mereka tidak pernah memberitahukan seluruh masalah itu pada sang dekan.
Riana langsung menarik rambut panjang Jian dengan kuat, sedangkan Jian spontan mendongakkan wajahnya dan berteriak.
Arrgghhh
Telisa dan yang lainnya terkejut melihat tindakan Riana.
Dukk
Aarrrgghhh
Lagi-lagi teman-teman yang ada di kelas terkejut dengan tindakan Riana, mereka merasa bahwa hantaman itu terasa sangat menyakitkan.
Jian merasa kepalanya berdenyut, ia pun langsung memegang wajahnya dan menutup nya dengan kedua tangan.
Riana menatap Jian sambil tersenyum smirk, "Jangan lupakan rasa sakit itu, karena rasa sakit yang sebenarnya baru saja di mulai," ucap Riana dengan menatap Jian dengan tatapan remeh.
Sedangkan Rila tengah melototkan matanya dan tidak berkedip sedikitpun, "bagaimana bisa berubah drastis seperti ini?," batin Rila yang benar-benar tidak percaya dengan perubahan Riana yang sekarang.
Kini mata Riana melihat kearah Rila yang tengah melototkan matanya, "kau tidak perlu melotot seperti itu, karena kau juga akan mendapatkan hal yang sama, jadi kau hanya bisa menunggu giliranmu," ucap Riana dengan santai.
__ADS_1
Lalu Riana melangkahkan kakinya turun, lalu ia teringat dengan sesuatu, Riana pun berbalik dan menatap keatas.
"Dan satu lagi, jika kau tidak senang dengan perbuatan ku, maka kau harus melaporkan masalah ini pada dekan, karena bagaimanapun rektor yang tidak berguna itu telah tiada, dan nama para pemegang saham telah di hapus dari daftar keluarga Samantha, jadi aku sarankan pada kalian untuk berpikir dengan bijak, haha ..." ucap Riana sambil tertawa keras.
Lagi-lagi semua orang yang ada di kelas itu terkejut dengan perkataan Riana, mereka tidak menyangka bahwa mahasiswa baru itu mengetahui seluk beluk yang ada di dalam kampus mereka.
Tapi mereka semua tidak ingin ambil pusing, karena entah mengapa, masing-masing mahasiswa itu merasa bahwa Riana berlaku kerjaan hanya pada Rila dan Jian saja.
"Haha ... bukankah ini menyenangkan, lihatlah, sekarang mereka memiliki lawan yang sepadan,"
"Bahkan aku merasa bahwa Riana adalah orang yang paling bisa di andalkan untuk melawan Jian dan Rila,"
"Sekarang mereka bahkan sudah bukan siapa-siapa, dan kita juga bisa berlaku seperti apa yang Riana lakukan pada mereka, seperti ini ... "
Tuk
Arrrggghhh
Kini yang berteriak adalah Rila, karena salah seorang mahasiswa itu melempar sebuah pena ke kepala Rila.
Rila pun langsung memegang kepalanya dan menoleh, "Siapa yang melempar ke arah ku?," teriak Riana dengan keras.
"Aku," ucap salah satu mahasiswa itu dengan lantang.
Ketika Rila hendak berdiri, Jian langsung memegang tangan Rila, lalu ia langsung menarik tangan Rila untuk segera pergi dari ruang kelas.
Keduanya berlari kearah gudang yang terbengkalai, lalu Rila pun langsung menghempaskan tangan Jian dengan keras.
"Kenapa kau menghentikan ku?, mereka semakin hari semakin berani melawan kita, seharusnya kita memberi mereka pelajaran," ucap Rila dengan keras.
Jian merasa kesal mendengar teriakan Rila, ia pun langsung mengeluarkan suaranya dengan cukup keras, "Jika kau ingin lebih di permalukan, maka kau bisa kembali ke kelas," ucap Jian sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
__ADS_1
Bersambung ...