
Tangisan yang awalnya tidak bersuara, kini semakin lama semakin terdengar.
Arrgghhh
Bahkan Granov berteriak keras, membuat Karin dan Eric yang ada di dalam rumah terkejut mendengar teriakan itu.
Keduanya melihat kearah pintu belakang dan mereka mulai bangkit dari sofa dan berlari kearah suara itu.
Ketika membuka pintu, mereka melihat punggung Granov tengah bertekuk lutut sambil memangku wajah seseorang.
Karin mengenali pakaian yang di kenakan oleh orang yang tengah di pangku oleh Granov, ia tampak berjalan pelan dengan tubuh yang mulai gemetar.
Eric mulai terpaku, ia pun langsung berlari dan meninggalkan istrinya yang tengah berjalan pelan.
Eric melihat ke sekujur tubuh Elena, samai dimana mata itu melihat kearah kaki, mata yang yang awalnya menyipit kini mulai melotot dengan sempurna.
Eric berlutut dan melihat lebih jelas kondisi kaki Elena, ia tidak menyangka bahwa putrinya di bunuh dengan cara yang begitu sadis.
Air mata Eric sudah membasahi pipinya, "A-apa yang tejadi padamu, nak?" gumam Eric yng sudah tak kuasa menatap jasad Elena.
Karin yang berjalan pelan kini sudah melihat seluruh tubuh Elena, ia bahkan menutup mulutnya dengan kedua tangan dan ia pun jatuh terduduk.
Saat seseorang jatuh terduduk, ia akan merasakan sakit di tulang ekornya, tapi tidak untuk Karin, ia justru lebih merasa sakit melihat kondisi tubuh sang anak.
"Ke-kenapa?," gumam Karin yang sudah berderai air mata.
Sedangkan Granov masih setia memeluk wajah sang adik.
Mereka bertiga menangis dengan keadaan syok berat, mereka bahkan tidak memikirkan apapun selain menangis.
Setelah mata ketiganya terlihat bengkak, Granov menyadari bahwa mereka tidak bisa duduk diam dan menangis, ia pun mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi polisi.
Tidak butuh waktu lama, para polisi itu datang, mereka terkejut melihat jasad yang tidak utuh.
__ADS_1
Mereka pun mencari potongan bagian kaki Elena, tapi yang mereka dapatkan hanya kaki kanan saja, dan mereka tidak menemukan kaki bagian kiri.
"Tuan, kami tidak bisa menemukan kaki bagian kirinya, jadi, kami meminta izin untuk sementara kalian tidak bisa tinggal di rumah ini, karena kami harus melakukan investigasi berkala" ucap Polisi itu sambil meminta izin pada keluarga Amoriya.
Granov yang mendengar itu benar-benar terkejut, sedari awal ia memang tidak melihat kaki adiknya yang satu lagi, tapi mau tidak mau ia harus menyerahkan kasus adiknya pada polisi.
Satu polisi pun mulai menghampiri ketiganya, "Bisakah kalian bertiga ikut kami ke kantor polisi?," tanya polisi itu.
Granov yang sudah tersadar mulai mengangguk, ia melihat sang ibu telah melamun dengan air mata yang terus mengalir, sedangkan sang ayah terduduk dengan wajah tertunduk.
"Bisa, tapi bisakah biarkan ibu dan ayah saya beristirahat dulu,?" tanya Granov yang menahan segala emosinya.
Ia tidak menangis dan terlihat lemah di depan orang tuannya, karena sekarang hanya dirinya yang bisa menjadi kekuatan untuk kedua orang tuanya.
Para polisi itu pun mengerti seperti apa rasa sakitnya, mereka bahkan melihat kedua orang tua Granov seperti orang yang masih Syok, dan hal itu tidak baik untuk di mintai keterangan.
"Baiklah, Kami juga akan membawa jasad ini kerumah sakit untuk dilakukan otopsi, jika ada kabar terbaru, kami akan menginformasikannya pada kalian," ucap polisi itu sambil membawa pergi jasad Elena.
Granov menoleh kebelakang, ia pergi ke dapur dan mengambil minuman untuk kedua orang tuanya.
Setelah kedua orang tua Granov sedikit pilih, mereka memilih untuk datang ke kantor polisi dan memberikan keterangan.
Setelah menekan waktu yang cukup lama, Granov memilih untuk membelikan makan untuk kedua orang tuanya lalu mengantar mereka kerumah.
"Ibu, ayah aku akan pergi sekarang, kalian tolong jaga diri baik," ucap Granov sambil berpamitan.
Granov membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia berpikir untuk pergi ke sebuah taman untuk menenangkan dirinya, ia belum menerima kenyataan bahwa adiknya telah meninggal dunia.
Granov duduk di sebuah kursi taman yang cukup jauh dari kerumunan orang-orang, "Kenapa kau meninggalkan kakak secepat ini?," gumam Granov sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Sebenarnya siapa yang membunuhmu?, jika aku mengetahuinya, aku kaan mencabik-cabik orang itu hingga dia mati dengan cara mengenaskan," gumam Granov yang benar-benar murka.
"Sialan!, apa yang kau inginkan dari adikku!, kenapa kau harus membunuh wanita lemah!" teriak Granov dengan keras.
__ADS_1
Beruntung Granov memilih tempat yang begitu sepi, sehingga dia bisa berteriak dengan sesuka hatinya.
Jika orang lain mendengar, mereka pasti merasa kasihan pada Granov, karena bagaimana pun, pembunuhan adalah tindakan yang sangat keji.
"Maaf karena belum bisa menjadi kakak yang baik buat mu, kenapa kau meninggalkan ku sendirian?, aku bahkan belum bisa membuat mu bahagia," ucap Granov dengan kedua tangan yang menutupi seluruh wajahnya.
Tapi jika dilihat dengan seksama, dari sela-sela jari itu muncul cairan bening yang terus menetes.
"Aku benar-benar menyesal," gumam Granov lagi.
Air mata itu terus mengalir tanpa henti, Granov langsung memukul dadanya dengan satu tangan, dan tangan yang satu masih memegang wajahnya. ia merasa hatinya benar-benar begitu sakit.
"Kalian begitu teng meninggalkan aku, bagaimana aku hidup jika tidak ada kalian berdua di sampingku," ucap Granov dengan tangis sesenggukan.
Kali ini Granov terlihat sangat terpukul dengan kematian sang adik, bahkan kedua orang tuanya juga ikut terpukul.
Saat ini Granov teringat dengan sang ibu, ia yang sudah tenang mulai mengkhawatirkan sang ibu, ia pun langsung pergi dari taman itu dan kembali ke rumah.
Setelah menempuh perjalanan yang sangat, Granov masuk kedalam rumah dan benar saja apa yang di pikirkan nya, yaitu ibunya akan terus termenung bagai orang yang telah mati, tapi ia masih bisa mendengar perkataan orang-orang di sekitarnya.
Eric melihat kearah pintu, ia melihat Granov telah sampai ke rumah, "Bantu ayah menyadarkan ibu mu, ayah sudah berusaha mengajaknya berbicara, tapi ibumu tidak satupun menjawab pertanyaan, ayah," ucap Eric yang berusaha mencoba menggoyangkan tubuh Karin sambil mengajaknya berbicara.
Granov menghela nafas pelan dan mulai menghampiri Karin, "ibu" panggil Granov sambil menggoyangkan tubuh Karin.
Karin langsung menoleh ketika mendengar suara Granov, "Adikmu, bagaimana dengan adikmu?" tanya Karin dengan menatap kosong kearah Granov.
Granov yang melihat tatapan kosong sang ibu, benar-benar merasa bersalah, ia menyalahkan dirinya karena tidak bisa menjaga Elena dengan baik.
"Jawab ibu, bagaimana dengan adikmu?," tanya Karin yng seakan lupa dengan kejadian yang baru saja di lihatnya.
Bersambung ...
Jangan lupa untuk memberikan like, gift, vote dan Comment 🙏 terimakasih semuanya 🙏
__ADS_1