
Xander yang mendengar itu mulai menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan, ternyata keponakannya itu benar-benar pandai dalam membuat sebuah lelucon.
"To-tolong hentikan!," teriak Renzo yang tidak kuat menahan sakit di mata dan dahinya.
Valia yang mendengar perkataan itu semakin menggebu-gebu "Apa kau masih tidak mengerti perkataanku!, Kau ingin lagi?!" teriak Valia dengan keras sambil melorotkan matanya dengan lebar.
lagi-lagi Xander dan Rein terkejut mendengar suara Valia, perlahan-lahan senyuman Xander memudar, ia mulai berpikir dan merasa bahwa apa yang di pikirannya selama ini adalah benar, "Sekarang Aku semakin yakin bahwa dia memanglah bukan Valia kami," batin Xander sambil mengepalkan kedua tangannya.
Xander sudah hidup bersama Valia selama 19 tahun, jadi ia sangat mengerti karakter dari sang keponakan, dan menurutnya Valia adalah anak yang pendiam dan tidak pernah berteriak keras.
Tapi sekarang ia di kejutkan dengan teriakan itu, dan ini pertama kalinya Xander mendengar nya, jadi Xander berspekulasi bahwa dia bukan lah Valia.
"Sejak awal perubahan ini sungguh membuatku terkejut, dan semua bermula sejak dia terbangun dari koma nya," batin Xander yang sudah sangat penasaran dengan rahasia Valia.
Xander sungguh bisa menahan dirinya, ia tetap tidak berbicara apapun dan terus menonton pertunjukan itu.
Renzo yang mendengar teriakan itu seketika menutup mulutnya dengan rapat, karena semakin dirinya meminta berhenti, Valia justru menambah kesadisannya.
Valia kini menatap Renzo dengan tajam, "kenapa kau terdiam?!, bukankah kau ingin lagi?, maka aku bisa menurutimu!," teriak Valia sambil melototkan matanya.
Renzo yang mendengar itu terus menggelengkan kepalanya, satu mata yang masih utuh sudah mengalirkan cairan bening.
"Dulu aku juga menangis seperti ini sambil meminta tolong padamu, tapi kau justru semakin menambah hukumanku, bukankah kau rektor yang tidak kompeten?, yang ada di kepalamu hanya uang dan kekuasaan, sedangkan aku yang memiliki semua itu justru ingin hidup sederhana, kau sungguh manusia menjijikan!." ucap Valia lagi.
Wajah Renzo sudah tampak terlihat pucat, darah yang mengalir semakin deras, bahkan Renzo merasa kepalanya begitu terasa sangat sakit.
"Sakit sekali, aku harus cepat keluar dari tempat ini," batin Renzo yang melihat keluar pintu, ia berpikir untuk segera kabur dari tempat itu.
Walau ia melihat Rein yang tengah berdiri di depan pintu, tapi Renzo tatap berpikir untuk melewatinya.
__ADS_1
Valia melihat mata Renzo, lalu ia pun mengikuti tatapan mata itu. "Kau ingin kabur?, apa ni kau berpikir bahwa kau bisa kabur begitu saja?," ucap Valia sambil memegang pisaunya dengan erat.
Renzo belum sempat menoleh dan tiba-tiba saja Valia langsung menggoreskan pisau itu di kepala Renzo.
Srekkkk
Aarrgghh
Seketika saja Renzo terjatuh, serta darah keluar dengan sangat deras, dan mengenai pakaian Valia.
Rein yang melihat itu merasa bergidik negeri, kini terlihat kulit kepala Renzo sudah terbelah dan memperlihatkan tengkorak kepalanya.
Rein sungguh tidak kuat melihat hal itu, dan di tempat itu juga Rein mengeluarkan seluruh isi perutnya.
Sedangkan Xander terus menontonnya dengan sangat teliti, ia sudah terbiasa melihat bagian dalam manusia, jadi Xander tidak memberikan reaksi apapun.
"Valia bukan orang yang kejam, tapi orang yang di depanku ini sungguh sangat kejam," batin Xander.
Awalnya Xander bahkan berpikir bahwa Valia menyiksa mereka saat jasad itu susah tak bernyawa, tapi selama ini dugaannya salah, sejak ia melihat Valia menusuk mata Renzo, saat itu juga ia semakin yakin bahwa Valia yang ada di depannya bukanlah Valia asli.
Valia melihat Renzo tampak begitu kesakitan, tapi ia justru tidak perduli dengan hal itu, bahkan Valia kini mendekati Renzo dan menusuk kembali matanya.
Srekk
Arrgghhh
Setelah itu Valia pun langsung menendang tubuh Renzo, "Cih, manusia sampah!" ucap Valia sambil berdecih kesal.
Valia berbalik dan berjalan mendekati Xander, "Paman, maaf sudah menunggu lama," ucap Valia sambil merubah ekspresinya menjadi tersenyum.
__ADS_1
Xander yang melihat itu langsung melirik kearah Valia, "tidak apa-apa, sekarang waktunya kita pulang, dan kau ikut kedalam mobil paman, karena Rein akan membereskan jasad itu," ucap Xander dingin sambil berbalik dan melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu.
Valia yang mendengar suara dingin itu merasa sangat terkejut, "ada apa dengan paman?, kenapa dia berkata dingin padaku?," batin Valia sambil melihat punggung Xander.
Setelah berada di luar pintu, Xander melihat Rein yang tengah menatapnya, "Jangan sampai meninggalkan jejak apapun," ucap Xander pada Rein.
Xander menoleh kebelakang dan melihat Valia masih berdiri di tempatnya, "ada apa denganmu Valia, kita harus pergi sekarang," ucap Xander tetap dengan suara dingin.
Valia yang mendengar suara dingin itu semakin tidak percaya,"kenapa paman berbicara dingin padaku?," batin Valia sambil melangkahkan kakinya.
Lalu keduanya pun keluar dari rumah itu dan langsung meninggalkan Rein. sedangkan Rein masuk kedalam rumah dan melihat kearah Renzo.
Walau ia tidak bisa melihat, tapi sepertinya telinga masih berfungsi dengan semestinya, ia seakan tau bahwa ada orang yang tengah mendekatinya.
Renzo mencoba meminta pertolongan pada orang itu, "To-long," ucapnya dengan suara pelan.
Rein yang mendengar itu memutar bola matanya dengan malas, "tidak, lebih baik kau mati dalam ke sakitan, kau sudah bersalah pada nona kami, jadi hukuman ini sangatlah cocok untukmu," ucap Rein yang berdiri di sana tanpa menolong Renzo.
Ia bahkan berdiri sambil melipat kedua tangannya, "ayolah menyerah saja, sampai kapan kau mau bertahan seperti ini?, kedua mata buta serta kulit kepala yang terbelah, untuk apa kau pertahankan bentuk seperti itu, lagi pula aku yakin bahwa tidak ada wanita yang menyukai fisikmu itu," ucap Rein yang lelah menunggu Renzo mati.
Rein sangat tidak ingin mengotori tangannya karena masalah ini tidak ada sangkut paut dengan dirinya, ia hanya ingin tangannya cukup berdarah untuk Xander saja, tidak untuk yang lainnya.
Renzo yang sudah dalam keadaan sekarat sudah tidak bisa berkata-kata lagi, dan akhirnya ia pun menghembuskan nafasnya untuk terakhir kalinya.
Rein yang melihat itu pun langsung mengecek nadi Renzo, dan benar saja, pria itu telah menghilang untuk selama-lamanya.
"Jika saja kau tidak menyinggung nona, maka kau tidak akan pernah berakhir seperti ini," gumam Rein sambil mengambil pisau yang masih menyangkut di mata Renzo.
Rein menghapus semua jejak yang melekat pada diri Renzo, bahkan Rein juga menyemprot cairan penghilang jejak itu ke seluruh ruangan dan bahkan diluar rumah itu.
__ADS_1
Setelah selesai, Rein pun langsung keluar dari rumah itu dan dengan cepat pergi meninggalkan tempat itu.
Bersambung ...