
Xander dan Valia membawa jasad Elena ke hutan yang ada di belakang Granov, Lalau Xander menyuruh Valia untuk menjauh.
Xander membawa sebuah tas besar, lalu ia membuka tas itu, "Valia, tolong menjauh, karena paman akan membersihkan sidik jarimu," ucap Xander sambil mengeluarkan sebuah cairan berukuran besar yang bisa menghilangkan sidik jari mereka.
Xander pun menuangkan ke seluruh tubuh Elena, sedangkan Valia sangat takjub melihat cairan itu, karena cairan itu bisa menghilang hanya dalam sekejap mata.
"Paman, siapa yang membuat cairan itu?, bagaimana bisa ketika di tuangkan justru langsung menghilang, itu sangat keren paman," ucap Valia antusias.
"Ini adalah penelitian paman, jadi hanya paman yang memilikinya, bahkan paman juga memiliki cairan pelebur tubuh manusia," ucap Xander sambil melihat kearah Valia.
Valia yang mendengar itu seperti memiliki ide, "Paman, bisakah paman memberi kan sedikit cairan pelebur itu padaku?," tanya Valia dengan memohon.
"Jika kau ingin, kau bisa memilikinya," ucap Xander lalu memberikan satu botol besar cairan pelebur itu.
"ingat Valia, cairan ini tidak boleh mengenai kulitmu, jadi, ketika kau menggunakannya, jangan lupa untuk menggunakan sarung tangan dan kalau bis jangan sampai mengenai dirimu," ucap Xander yang memeperingati Valia.
"Baik paman, terimakasih," ucap Valia sambil tersenyum.
Lalu Valia melihat kaki Elena, "paman tuangkan cairan pelebur itu pada satu kakinya, agar mereka tidak bisa mengubur tubuh ini dengan utuh," ucap Valia sambil tersenyum smirk.
Xander yang melihat senyum Valia hanya menggelengkan kepalanya, ia pun membuka botol cairan pelebur itu dan langsung menuangkannya di satu kaki Elena.
Perlahan-lahan kulit kaki itu mulai meleleh bahkan tulang putih yang begitu keras itu juga ikut meleleh, dan lelehan itu kini sudah bercampur dengan rerumputan yang ada di sekitarnya.
Valia yang melihat itu merasa sangat senang, sedangkan Xander yang melihat senyum Valia juga ikut tersenyum.
"Paman sudah selesai, sekarang waktunya kita pergi," ucap Xander sambil menutup kembali tasnya dan langsung mengajak Valia pergi.
Valia mengangguk dan pergi dari tempat itu, mereka pun langsung masuk kedalam mobil masing-masing dan membawa mobil itu dengan kecepatan tinggi.
Di dalam mobil, Valia tersenyum senang, ia merasa beban di hatinya sedikit berkurang, perasaan bersalah pada ibunya juga ikut berkurang sejak dirinya membalaskan dendam itu pada Elena.
__ADS_1
"Sekarang aku harus fokus pada para pembuli Valia asli, karena jika aku tidak melakukannya, aku takut dia akan terus mengganggu balas dendamku," gumam Valia sambil menatap lurus kedepan.
Kini, Valia sudah berada di pekarangan mansion nya, lalu ponselnya terus saja berdering hingga membuat Valia terlihat kesal.
Lalu Valia mengecek ponselnya, dan ia melihat di forum kampus tersebar sebuah video, dimana dirinya sedang mengambil soal ujian.
Vali yang melihat itu semakin tersulut emosi, "Sialan!, kalian ingin bermain-main denganku?, baiklah, aku akan menerimanya." ucap Valia dengan mengeram marah.
Tapi sebelum itu, ia berharap kedua orang tua Valia tidak mengecek forum sekolah, karena bagaimana pun, kedua orang tua Valia adalah pemilik sekaligus pemegang saham terbesar di kampus itu.
"Semoga ayah dan ibu tidak melihat postingan ini, karena jika mereka melihatnya, maka aku tidak bisa bermain dengan leluasa pada manusia menyebalkan itu," gumam Valia sambil keluar dari mobilnya.
Saat ingin membuka mansion, Valia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan ya secara perlahan.
Di setiap langkahnya, Valia terus saja berdoa agar ayah dan ibunya tidak membuka forum sekolah.
Tapi nyatanya, kedua orang tuanya tengah memegang ponsel, Valia merasa jantungnya berdegup dengan kencang, bahkan keringan dingin sudah membasahi dahinya.
"Valia, ibu sudah memasak makananmu, setelah membersihkan diri, kita akan makan bersama, ibu terlalu sibuk jadi hanya bisa berbicara seperti ini," ucap Nisia yang tidak menoleh kearah Valia sama sekali.
"Benar nak, cepatlah membersihkan diri, lalu turun lah, karena ayah sedang menunggu mu pulang agar kita bisa makan bersama," timpal Javier yang juga tidak menoleh ke arah Valia.
Sedangkan Valia terlihat bernafas lega, ia merasa sedikit beruntung karena keduanya tidak melihat pakaiannya yang begitu kotor dan juga Javier dan Nisia tidak melihat forum sekolah.
"Baiklah ibu, ayah. Tubuhku benar-benar lengket jadi aku akan membersihkan diri," ucap Valia yang langsung berlari ke lantai atas.
Setelah memasuki kamarnya, Valia melempar pakaian yang di kenakan nya ke perapian, ia tidak ingin meninggalkan jejak sekecil apapun.
"Sayang sekali, padahal aku menyukai pakaian itu, tapi karena pakaian itu terkena percikan darah wanita menyebalkan itu, jadi ku harus membakarnya," gumam Valia sambil berbalik dan pergi ke kamar mandi.
Lalu Valia membersihkan dirinya, dan setelah setengah jam berlalu, Valia keluar dan langsung memakai pakaian biasa.
__ADS_1
Setelah itu Valia mengeluarkan laptopnya dan mulai bekerja, jari itu terus menari-nari diatas laptop, dan seketika saja senyuman mengerikan kini terbit di bibir Valia.
"Kau tidak akan bisa kabur dari ku!, tunggu dan lihat saja!" ucap Valia lalu menutup laptopnya dan langsung keluar dari kamar.
...****************...
Di sisi lain, Granov, Karin dan Eric tengah mencari Elena.
Granov terus mencoba menghubungi ponsel Elena, tapi panggilan itu tidak pernah tersambung, "Ponselnya tidak aktif ibu," ucap Granov pada Karin.
Karin yang mendengar itu merasa sangat khawatir, ia merasa ada kejadian yang tidak beres yang telah menimpa Elena.
"Kita lapor polisi saja," saran Karin yang sudah benar-benar khawatir.
Granov yang mendengar saran itu langsung menggelengkan kepalanya, "Ibu, melapor polisi tidak semudah itu, kita harus mencari sendiri selama 1x24 jam, jika kita tidak menemukan Elena, baru kita bisa membuat laporan orang hilang," ucap Granov yang juga ikut khawatir.
"Lalu kita harus bagaimana?, ibu khawatir karena sudah jam segini tapi adikmu belum juga pulang," ucap Karin yang mulai menitikkan air matanya.
Sedangkan Eric sedang berusaha menghubungi teman-teman Elena, tapi jawaban mereka semua sama, yaitu mengatakan bahwa Elena tidak masuk kelas hari ini.
Eric mulai melihat kearah Garnov dan kini beralih ke Karin, "Apa kalian yakin bahwa Elena pergi ke sekolah?" tanya Eric dengan jantung yang sudah berdegup dengan kencang.
"Tadi pagi dia memakai seragam sekolah, dan kami melihatnya sendiri ayah, memangnya apa yng di katakan teman-temannya, ayah?," ucap Granov yang sudah sangat penasaran dengan perkataan teman-teman Elena.
Eric terduduk di sofa dan terlihat tak bertenaga, "mereka semua mengatakan bahwa Elena tidak masuk sekolah hari ini," ucap Eric dengan pelan.
Karin dan Granov terlihat sangat syok, bagaimana mungkin?, padahal tadi pagi mereka melihat sendiri bahwa Elena memakai seragam sekolah, tapi kenapa adiknya itu tidak masuk sekolah?.
Kini mereka bertiga tampak gelisah, bahkan mereka terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.
Bersambung ...
__ADS_1