
Ferry berbalik dan membungkukkan tubuhnya, "Terimakasih dokter, karena sudah membantu saya dalam bertugas, dan juga saya izin pamit undur diri" ucapnya dengan tulus.
Setelah mendapat anggukan dari Xander, Ferry pun langsung keluar dari ruangan itu dan meminta kedua pria yang tengah berdiri di depan pintu untuk membantu mengangkat kedua jasad mahasiswi itu.
Perawat yang tertinggal pun langsung membantu melepaskan alat-alat yang terpasang di tubuh Zewina dan Fallen, walau dirinya tidak tahan dengan aroma itu, tapi ia harus tetap menjalankan tugasnya, ia pun juga bertugas untuk membersihkan jasad itu.
Setelah itu perawat itu pun keluar dari ruangan, "kalian sudah bisa membawanya pergi," ucap perawat itu.
Kedua polisi itu pun langsung berjalan masuk kedalam dan membungkus kedua jasad Fallen dan Zewina
Lalu mereka membawa jasad keduanya pergi ke ruang jenazah.
...****************...
Di sisi lain ...
Orang tua dari Asra, Rila dan Jian mendatangi perusahaan Samantha, mereka bahkan terkejut ketika ketiganya bertemu secara bersamaan di depan perusahaan itu.
Yuwin tampak terkejut, ia pun mengeryitkan dahinya, "Jangan-jangan kalian juga?" tanya Yuwin dengan menunjuk kearah Harkan dan Ruslan secara bergantian.
Harkan dan Ruslan bahkan saling memandang satu sama lain, mereka pun langsung menganggukkan kepala mereka secara bersamaan.
Lalu Yuwin pun langsung melangkahkan kakinya berjalan untuk memasuki perusahaan Samantha.
Namun, kedua penjaga yang berdiri di depan pintu perusahaan justru langsung menghalangi mereka.
"Tuan-tuan, kalian tidak di perbolehkan untuk masuk kedalam," ucap penjaga itu sambil menghadang Yuwin.
Yuwin yang mendengar itu pun merasa sangat kesal, "bagaimana mungkin?, kami memiliki sesuatu yang harus kami katakan," ucap Yuwin dengan keras sambil menatap kedua penjaga itu dengan tajam.
"Kami sudah mendapat perintah dari atasan, jadi kalian bisa pergi dari sini," usir penjaga dengan sopan.
__ADS_1
Yuwin yang mendengar itu pun merasa sangat kesal, "tidak!, kami akan menunggu di sini dan bertemu dengan tuan Javier!" ucap Yuwin dengan tegas.
Para karyawan yang ada di dalam berbondong-bondong keluar dari gedung, mereka ingin melihat siapa yang tengah membuat kegaduhan di depan perusahaan.
Harkan tampak panik melihat orang-orang mulai mengelilingi mereka, lalu ia pun langsung melangkah dan menepuk pundak Yuwin, "hentikan, kita sudah menjadi bahan tontonan semua orang," bisik Harkan.
Yuwin seolah tidak memperdulikan perkataan itu, ia bahkan menepis tangan Harkan dari pundaknya.
"Tuan, kami masih berbicara baik-baik, jadi cobalah untuk pergi dengan tenang tanpa membuat keributan," ucap Penjaga yang mulai kesal pada Yuwin.
Yuwin tampak tak bergeming, ia semakin marah mendengar perkataan Penjaga itu, "apa kau pikir aku tidak bisa melakukan apapun padamu?!" teriak Yuwin dengan marah.
Penjaga itu pun mulai terpancing, "Tentu saja kau tidak bisa melakukan apapun," ucap penjaga itu dengan mata yang sudah melotot dengan sempurna.
Yuwin yang sudah sangat kesal mulai melayangkan tangannya, namun tiba-tiba, penjaga yang lain langsung memukul wajah Yuwin dengan sangat keras hingga membuatnya terjatuh.
"Kau tidak memiliki hak untuk menginjakkan kakimu di sini, lebih baik kalian pergi sekarang!" ucap penjaga dengan marah.
Ruslan yang sedari tadi diam, langsung membantu Yuwin berdiri, bahkan sekarang para karyawan Samantha tengah mencemooh ketiga orang itu.
"Tentu saja untuk meminta penjelasan pada pak Javier, apa kalian lupa bahwa pak Javier menghapus nama perusahaan tanpa adanya penjelasan?"
"Tapi, bukankah jika pak Javier menghapus mereka, artinya mereka memiliki kesalahan yang sangat fatal?, karena keluarga Samantha ada lah orang-orang yang sangat jujur, jika mereka bertiga tidak memiliki kesalahan, maka pihak samantha tidak mungkin menghapus nama perusahaan itu,"
Para karyawan terus saja mengatakan hal itu, tapi mereka juga bahkan penasaran dengan kesalahan yang telah di lakukan oleh ketiga orang itu.
Yuwin, Harkan, dan Ruslan juga terus bertanya-tanya dengan hal itu.
Tapi, Ruslan mencoba untuk tetap bersabar walau ia sudah terlihat begitu sangat kesal, "Katakan pada Tuan Javier, apa kesalahan yang telah kami lakukan?, kami bahkan tidak melakukan kesalahan apapun," ucap Ruslan pada kedua penjaga itu.
Ketika para penjaga ingin mengeluarkan kata-kata keramat, tiba-tiba saja para karyawan langsung memberi jalan pada salah seorang yang tengah berjalan santai di antara kerumunan itu.
__ADS_1
Para karyawan mulai membungkukkan tubuh mereka, "Tuan Javier," ucap mereka secara bersamaan.
Lalu Ruslan, Yuwin dan Harkan tampak terkejut melihat Javier yang sudah berada di antara mereka.
"Tuan, kami ingin meminta penjelasan, kenapa tuan melakukan hal itu pada kami?," tanya Harkan dengan pelan.
Javier menatap ketiga orang itu dengan tajam, "Apa kalian tidak sadar bahwa kalian telah melakukan kesalahan pada salah satu anggota keluargaku?," tanya Javier dengan dingin.
Yuwin yang mendengar itu merasa sangat terkejut , "Tuan, kami merasa tidak pernah melakukan kesalahan pada salah satu keluarga Samantha," ucap Yuwin yang berusaha meyakinkan Javier.
Javier pun mengeryitkan dahinya, "Apa kau yakin?, kembalilah dan tanyakan pada anak kalian masing-masing, karena hanya mereka yang bisa menjawab pertanyaan kalian" ucap Javier sambil menatap keduanya dengan tajam dan meninggalkan kerumunan itu.
Yuwin, Ruslan dan Harkan terkejut mendengar perkataan itu, lalu mereka semua pun tersadar dan langsung berlari meraih Javier.
"Tuan!, tunggu!" teriak Harkan, Yuwin dan Ruslan.
Tapi, para karyawan langsung menutup jalan itu dan mereka semua tidak mengizinkan ketiga orang itu untuk meraih Javier.
Lalu, semua para karyawan pun kembali masuk kedalam perusahaan, sedangkan ketiga pria itu terlihat sangat marah, "apa maksud perkataan tuan Javier?, lalu aku harus bertanya pada siapa?, sedangkan anakku sudah tiada," ucap Ruslan dengan sedikit sedih mengingat kematian Asra.
Harkan pun mulai berpikir, karena nama mereka di hapus bersama-sama, artinya anak mereka pun melakukan kesalahan itu bersama-sama.
"Karena Asra sudah tidak ada, berarti jawabannya hanya bisa kita tanyakan pada Jian dan Rila," ucap Harkan dengan menatap Ruslan dan Yuwin secara bergantian.
Lalu, kedua orang itu pun menyetujui perkataan Harkan, "Baiklah, sepertinya kita harus berkumpul, dan aku akan membawa Jian ke rumah Harkan," ucap Yuwin sambil meninggalkan kedua temannya dengan tergesa-gesa.
Sedangkan Ruslan justru merasa sangat sedih, "Ikutlah kerumah ku, agar kita semua mengetahui masalah ini dengan jelas," ucap Harkan sambil melangkahkan kakinya menuju mobil.
Ruslan yang mendengar itu pun langsung menganggukkan kepalanya dan juga melangkahkan kembali ke mobilnya.
Mereka bertiga sungguh sangat penasaran dengan perkataan Javier, sedangkan Yuwin justru terlihat sangat binggung, karena, ia sudah bertanya dengan istri dan anaknya, namun jawaban mereka justru mengatakan tidak mengganggu bagian keluarga itu.
__ADS_1
"Kenapa kau melakukan ini ada papa, Jian?," gumam Yuwin sambil memukul stir mobil.
Bersambung ...