Deadly Cold Woman

Deadly Cold Woman
Jantung Yang Seakan Berhenti Berdetak


__ADS_3

Telisa menggelengkan kepalanya berulang kali, "ti-tidak, jangan lakukan itu," ucap Telisa dengan berderai air mata.


Valia memutar bola matanya dengan malas, ia melihat maha karyanya yang hanya menggores kulit epidermis saja, melihat itu Valia seakan tidak rela.


Valia memiringkan kepalanya, "Aku melihat kau tidak kesakitan, apa aku harus memperdalam goresan itu lagi?," tanya Valia dengan santai.


Telisa tampak terkejut mendengar perkataan Valia yang ada di hadapannya sekarang ini, ia tidak pernah berfikir bahwa Valia akan berubah seperti orang yang tak pernah di kenalnya.


Karena bagaimana pun, tidak ada manusia yang menyiksa sesama mereka dengan sangat keji seperti yang di lakukan Valia saat ini.


"Ja-jangan, tolong jangan," ucap Telisa dengan terbata-bata sambil merasa sakit di tangannya.


Valia mengernyitkan dahinya dan langsung menarik tangan Telisa dan memasukkan pisau kedalam goresan yang telah di buatnya.


Arrrghhhh


"Sakit, jangan lakukan itu!" teriak Telisa dengan sangat kuat dan sambil menangis.


Telisa tidak bisa bergerak sama sekali, tubuhnya seolah tak bertenaga karena sudah menghantam dinding dan membuat seluruh tubuhnya sakit.


"Kau mengatakan sakit?, lalu bagaiman denganku?, apa kau pikir aku tidak merasakan sakit?!" teriak Valia dengan marah.


Tapi Valia tidak melepas pisau itu dari tangan Telisa, ia justru menekan pisau itu hingga menembus daging.


Arrrghhhh


"Ma-maafkan aku," ucap Telisa dengan menangis tersedu-sedu.


Ia merasakan sakit yang luar biasa, dan bahkan pakaiannya sudah di lumuri oleh darah yang sangat banyak.


"Aku juga dulu berteriak seperti ini, tapi apa yang kau lakukan?, kau hanya duduk menonton di sudut ruangan yang gelap, aku bahkan berpikir bahwa itu orang lain, tapi setelah aku menelusuri seluruh teka teki itu, aku mendapati bahwa kau orang yang tidak pantas memiliki apapun," ucap Valia dengan sambil mengukir bunga di bagian goresan itu.


Arrrggghh

__ADS_1


"Maafkan aku, tolong maafkan aku," Isak Telisa, ia sungguh tidak kuat menahan rasa sakit itu, karena bagaimana pun, pisau yang di gunakan Valia adalah pisau yang sudah berkarat.


Telisa hanya bisa pasrah, ia tidak tau kapan penyiksaan nya berakhir, karena ia sudah berteriak sekuat tenaga, tapi tidak ada yang datang untuk membantunya.


"A-aku hanya tidak suka kau mendekati kak Kaliandra, aku sangat menyukainya, tapi kak Kaliandra justru hanya melihat kearah mu saja," ucap Telisa dengan kepala yang sudah terjatuh ke lantai.


Sedangkan Valia masih memegang tangannya dan membiarkan kepala Telisa terkena lantai.


Valia tampak semakin kesal mendengar perkataan Telisa, "sungguh menggelikan, hanya karena seorang pria, kau rela menghancurkan valia sampai dia tiada?," ucap Valia sambil menatap kearah Telisa dengan tajam.


Telisa seakan terkejut, ia bahkan membulatkan matanya dengan lebar "A-apa yang kau katakan?," tanya Telisa dengan menatap kearah Valia.


Valia mendekatkan wajahnya, kini keempat mata mereka saling menatap satu sama lain "Karena mu, Valia asli telah tiada, dan aku adalah jiwa asing yang akan membalaskan seluruh dendam pada orang yang telah menyakiti pemilik tubuh," ucap Valia sambil tersenyum smirk.


Telisa semakin terkejut, ia berusaha menjauhkan wajahnya dari Valia walau tarikan tangan yang di lakukan Valia sangatlah kuat, tidak membuat Telisa menyerah untuk menjauhkan kepalanya.


Setelah itu, ia mulai memikirkan perkataan Valia, Telisa sungguh tidak salah dengar, walau dirinya begitu tersiksa tapi telinganya masih berfungsi dengan baik, dan dalam pikirannya sekarang adalah apa mungkin ada jiwa asing masuk kedalam tubuh yang sudah mati?.


"Ti-tidak, itu tidak mungkin, kau pasti adalah Valia!" teriak Telisa dengan keras sambil menahan sakit.


Sedangkan Valia semakin tersenyum smirk "Kau tidak percaya dengan perkataanku?, maka kau harus membuktikannya sendiri," ucap Valia sambil tersenyum smirk.


Sedangkan Telisa mulai terlihat bingung dengan perkataan Valia, "apa maksudmu?," tanya Telisa sambil mengernyitkan dahinya.


Valia pun tersenyum, ia memegang pisau itu dengan sangat kuat dan langsung memotong telinga Telisa.


Arrgghh


Telisa semakin teriak dengan histeris, ia tidak menyangka bahwa Valia memotong daun telinganya begitu saja.


Ia melihat daun telinga itu sudah jatuh di sampingnya, bahkan darah sudah mengalir dengan sangat deras. Bahkan Telisa bisa melihat karatan yang ada di pisau itu sudah menempel di daun telinga yang sudah jatuh ke lantai.


"Bukankah kau sudah melihat?, aku orang yang seperti ini, seharusnya kau bisa membedakan sifat kami berdua, jika kau tidak bisa membedakannya, maka kau adalah orang terbodoh yang pernah aku temui," ucap Valia sambil tersenyum.

__ADS_1


Dalam tangisnya, Telisa mulai mengingat semua hal yang pernah di lakukan ya pada Valia, dan saat itu mata Valia terlihat sangat hangat dan lembut, Valia juga tidak pernah membalas perbuatannya, bahkan Telisa merasa yakin bahwa Valia tidak mengetahui apapun tentangnya.


Lalu mata Telisa kini melihat kearah Valia yang ada di depannya, ia dapat melihat kedalam mata Valia, disana ia tidak bisa menemukan kelembutan dan kehangatan itu lagi, melainkan sebuah kobaran api yang seakan ingin melahapnya hidup-hidup.


Telisa kembali mengingat, saat pertama kali Valia kembali dari masa cutinya, ia terlihat sangat senang, lalu ketika Telisa mendekatkan dirinya pada Valia.


Tanpa di duga, Valia justru menjauhinya dengan tatapan tajam, hal itu sungguh sangat aneh di mata Telisa.


Mata Telisa mulai membulatkan dengan sempurna, sedangkan Valia mulai tersenyum smirk, ia bisa menduga bahwa Telisa sudah mengingat pertemuan pertama mereka.


"Haha ... apa kau sudah mengingatnya?, seharusnya sejak awal kau sudah menyadari hal ini, tapi kau begitu bodoh dan tanpa rasa malu justru terus memprovokasi ku." ucap Valia di sela tawanya.


"Dan ya .... aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku juga lah sang pembunuh yang tengah di cari para polisi," ucap Valia sambil tersenyum manis.


Telisa yang sedang menahan sakit di seluruh tubuhnya, kini harus mendengar perkataan yang sangat mengerikan itu.


Jantung Telisa semakin berdetak dengan kencang, "A-apa!?" teriak Telisa dengan keringat yang sudah membanjiri dahinya.


"Untuk apa terkejut?, bukankah anak orang kaya seperti kalian bebas melakukan apapun?, jadi aku sebagai anak dari pemilik kampus juga bebas melakukan apapun yang aku mau. bukankah seperti itu?," tanya Valia dengan santai.


Deg


Jantung Telisa seakan ingin berhenti, satu persatu fakta di ungkap Valia mampu membuat Telisa tak berkutik.


Semua orang yang ada di kelas itu mengetahui nama lengkap Valia, tapi mereka semua sangat meragukan nama belakang itu, karena bagaimanapun keluarga Samantha tidak mungkin membiarkan pewaris mereka masuk sebagai anak beasiswa dan tanpa pengawalan.


"Kau membuat reaksi yang sama seperti orang-orang yang telah tiada itu, tapi aku tidak perduli, karena aku akan membalaskan semua perbuatan kalian satu persatu, bahkan aku akan membumi hanguskan sampai ke akar-akarnya." ucap Valia dengan nada yang sangat menyeramkan


Bersambung ...


Maaf karena lama update, banyak kerjaan real yang harus di lakukan, dan juga libur lebaran adalah waktu berkumpulnya keluarga besar, mohon pengertiannya ya readers 🙏


Minal Aidin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin 🙏

__ADS_1


__ADS_2