Deadly Cold Woman

Deadly Cold Woman
Ancaman Silyena pada Valia


__ADS_3

"Setelah di pikir-pikir mengapa pengirim pesan itu seolah-olah berada di sekitar kita?," tanya Gia yang menoleh kebelakang, ke kiri, dan ke kanan.


Sedangkan Bioni masih menatap Elena dengan tajam, "Lagipula, sepertinya pengirim pesan ini sangat mengenal mu elena," ucap Bioni sambil merasa curiga dengan Elena.


Padahal Bioni awalnya bertingkah sangat cuek, tapi ketika beberapa pesan itu sudah di baca Elena, Bioni melihat gelagat Elena terlihat sangat aneh, seolah-olah yang pengirim pesan itu katakan adalah benar.


Sedangkan Elena begitu sangat gugup, ia tidak tau harus berbicara apa karena kegugupannya sangat terlihat begitu jelas.


Ting


[Kau gugup?, tak perlu gugup seperti itu, aku hanya ingin kedua temanmu itu tau mengenai sifat asli mu]


Elena melihat notifikasi itu pun melototkan matanya, "bagaimana dia tau?, apa benar yang di katakan Gia, bahwa pengirim pesan itu berada di sekitar kami?," batin Elena.


Lalu dengan perasaan kesal, Elena kini menoleh ke kiri dan ke kanan, ia melihat seorang pelanggan wanita tengah memegang ponselnya sambil tersenyum.


Elena langsung berpikir bahwa sang pengirim pesan itu adalah wanita yang tengah duduk sendirian di sudut. Ia yang melihat itu langsung berdiri dan menghampiri wanita itu.


Bioni dan Gia terkejut melihat Elena berdiri, mereka pun mencoba menghentikan Elena.


"Elena!"


"Tunggu, Elena!"


Bioni dan Gia ikut berdiri dan memegang lengan Elena, tapi Elena yang sudah sangat emosi langsung menghempaskan tangan kedua temannya dan Elena langsung merampas ponsel wanita itu dan melihat apa yang telah di lakukan wanita iru pada ponselnya.


Dan ternyata wanita itu tengah mengirim pesan pada pacarnya, sedangkan Elena telah salah sasaran kini terpaku di tempatnya, ia hanya bisa meminta maaf dengan wajah takut.


"Ma-maafkan aku," ucap Elena dengan terbata-bata.


Tapi wanita itu sudja terlihat sangat marah, ia langsung merebut ponselnya dari tangan Elena dan menampar wajah Elena.

__ADS_1


Plakkk


Arrggh


Tamparan itu terdengar sangat kuat, Bioni dan Gia terkejut melihat pelanggan itu menampar wajah Elena.


Sedangkan Elena langsung memegang pipinya yang begitu terasa sangat panas, cairan bening mulai meters di pipi Elena.


Tapi, tidak bisa membuat amarah wanita itu mereda, "Dasar kurang ajar!, apa kau tidak memiliki sopan santun?, merebut ponsel orang lain dengan sesuka hati, lalu berwajah polos dan meminta maaf!" teriak pelanggan wanita itu dengan marah.


Para pengunjung yang lain juga ikut terkejut mendengar suara tamparan yang begitu nyaring.


"Apa kau tau berapa harga ponsel ku ini?!, jika rusak, apa kau akan bertanggung jawab?!" teriak wanita itu dengan marah.


Elena bahkan sudah menangis, ia tidak tau harus menjawab apa, karena ia melihat ponsel itu memang terlihat sangat mahal, Sedangkan dirinya bukanlah orang kaya yang bisa menghabiskan uang hanya untuk membeli ponsel.


Ia melihat pakaian sekolah yang di kenakan Elena terlihat sedikit lusuh, "Cih, anak miskin seperti mu pasti tidak pernah melihat ponsel mahal seperti ini, tapi karena kau sudah memangnya maka aku harus membuang ponsel ini, tidak ada satupun orang yang boleh memegang ponselku!" ucap wanita itu sambil melempar ponselnya ke lantai.


Elena yang mendengar hinaan itu merasa sakit hati, ia sudah mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.


Sedangkan Bioni dan Gia susah merasa marah karena di lihat oleh banyak orang, mereka berdua pun langsung membayar tagihan makanan mereka dan langsung pergi dari cafe itu.


Sedangkan Elena justru terkejut melihat Bioni dan Gia meninggalkannya sendirian.


Manager cafe itu pun menghampiri keduanya, saat manager cafe ingin berbicara, wanita itu langsung mengusir Elena dengan sangat kasar.


"Jika aku datang ke cafe ini dan masih melihat anak ingusan ini lagi, maka aku akan menuntut cafe ini karena telah menerima pelanggan yang tidak waras!" ucap wanita itu sambil meninggalkan biaya makanannya di atas meja dan pergi keluar dari cafe.


Elena terkejut mendengar perkataan wanita itu, padahal ia hanya memegang ponselnya sebentar, tapi ia malah harus menerima semua hinaan yang di lontarkan wanita itu.


Manager cafe yang mendengar itu pun merasa sangat marah, ia tidak ingin kehilangan pelanggan yang sangat kaya itu hanya untuk mempertahankan anak seperti Elena.

__ADS_1


"Segera lah pergi dari sini nona, karena aku tidak ingin kehilangan pelanggan ku!" ucap manager itu sambil meninggalkan elena yang tengah menangis.


Elena yang sudah tidak bisa menahan malu itu pun langsung berlari keluar cafe, ia terus berlari sambil menangis.


Valia tengah menatap Elena dari dalam mobil,


"Ini belum apa-apa, karena kau harus melewati lebih banyak siksaan mental yang lebih menyakitkan." gumam Valia yang mengeram marah.


Saat Silyena melajukan mobilnya dengan kencang, tiba-tiba saja arwah Valia asli muncul di samping kursi kemudi.


Silyena yang terkejut langsung menghentikan mobilnya secara mendadak hingga dahi nya menghantam stir mobil.


"Aku sudah katakan untuk membalaskan dendam ku terlebih dahulu, apa kau tidak mendengarkan ku?" ucap Valia asli dengan marah.


Silyena yang mendengar perkataan itu merasa tidak terima, ia mengangkat kepalanya dan merasa ada sesuatu yang mengalir di dahinya.


Silyena memegang dahinya dan ternyata dahi nya sudah mengeluarkan darah, hal itu membuat Silyena semakin marah.


"Jangan mengira aku takut padamu!, aku juga bukan orang yang bisa kau ancam sesuka hatimu!" teriak Silyena dengan amarah yang menggebu-gebu.


"Bukankah kau sudah melihat bahwa aku telah memberi mereka pelajaran, lalu sekarang kenapa kau menghalangiku untuk membalaskan dendam orang-orang yang ada di masa laluku!" lanjut Silyena dengan berteriak keras.


"Aku tidak perduli, yang aku inginkan adalah kau harus membereskan orang-orang yang membuli ku, dan setelah itu kau bisa dengan bebas menggunakan tubuhku," ucap Valia asli sambil menatap datar kearah Silyena.


Silyena yang mendengar itu mengeryitkan dahinya, "Kau tidak perduli? ... " perkataan Silyena terhenti lalu ia pun berdecih pelan, "Cih, baiklah ... aku juga akan melakukan hal yang sama, yaitu tidak akan perduli dengan tubuh mu lagi, aku bahkan tidak perduli jika aku mati untuk yang kedua kalinya, tapi aku yakin bahwa kau perduli, karena jika tubuh ini terbaring di rumah sakit, maka orang tuamu akan menjadi khawatir dan kau tau akhir dari segalanya ... " ucap Silyena sambil membalas tatapan Valia asli dengan datar.


Valia asli melototkan matanya, ia sungguh terkejut mendengar perkataan Silyena, dan ia melihat di dalam mata Silyena, bahwa Silyena tidak pernah main-main dengan perkataannya.


Tiba-tiba saja, Valia asli menghilang dari samping kursi pengemudi, sedangkan Silyena sudah terlihat sangat marah, "kau sudah salah menantang orang!, dan jika kau ikut campur lagi dengan masalah pribadiku, maka aku tidak akan segan-segan untuk bunuh diri!," ucap Silyena dengan kesal.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2