
Gleni sangat menyukai rambutnya, sedari kecil, ia merawat rambutnya itu, dan sekarang ia harus melihat rambut yang sangat di rawatnya rontok begitu saja di tangan Valia, "Apa yang sedang kau lakukan?!" teriak Gleni dengan nada tinggi sambil mendongakkan wajahnya dan membuat mereka saling menatap satu sama lain.
Di sekitar mereka tidak ada satupun orang yang berlalu lalang, jalanan itu begitu terasa sangat sepi, karena akses jalan yang sedang mereka lewati adalah untuk memasuki perkampungan.
Terlihat jelas di sisi kanan dan kiri terdapat pohon-pohon yang begitu rindang, dan juga terdengar kicauan burung, suasana itu terlihat begitu asri.
Udara yang sejuk itu kini di gantikan dengan hawa pembunuh yang tidak bisa di kendalikan oleh Valia.
Valia tidak langsung menjawab pertanyaan dari Gleni, ia terus saja menatap Gleni dengan tajam, setelah itu ia menjawab dengan wajah datar dan suara dingin, "Membunuhmu."
Tentu saja mendengar satu kata yang keluar dari mulut Valia membuat Gleni benar-benar terkejut, ia bahkan tidak menyangka bahwa Valia akan mengatakan maksud dan tujuannya dengan sangat terbuka.
"A-apa maksudmu?" ucap Gleni dengan tak percaya.
Valia menatap tajam dengan bola mata yang mengarah ke bawah, "Apa kau pikir aku kan diam saja ketika kau menyuruh para bandit itu mengejar ku?. Lagipula aku orang yang sangat benci jika melihat temanku itu kesakitan, jadi aku berniat untuk membalas mu, dan sekaligus membalas hutang-hutang yang sudah pernah kau lakukan padaku," ucap Valia dengan mata melotot kearah Gleni.
"Ti-tidak, aku akan melaporkanmu pada polisi!" teriak Gleni dengan sangat kuat.
"Benarkah?, aku ingin melihat, siapa di antara kita yang terlebih dahulu masuk kedalam penjara," ucap Valia sambil menggenggam pistol itu dengan kuat.
#Flashback on
Saat masih di rumah sakit, Valia sedang mengawasi mereka, "Paman, aku membutuhkan mobil dan pistol, apa kau memilikinya sekarang?" tanya Valia yang mulai mengetik.
Xander terkejut mendengar perkataan Valia, "pistol?, apa kau bisa menggunakannya?" tanya Xander alih-alih tidak percaya dengan pendengarannya.
"Jangan meremehkan aku paman, aku bahkan bisa memegang semua jenis senjata," ucap Valia sambil menatap kearah Xander.
Xander yang mendengar itu benar-benar tidak percaya, tapi ia bisa melihat keseriusan di dalam mata Valia.
"Darimana kau mempelajarinya?" tanya Xander dengan mata menyelidik.
__ADS_1
Seketika saja Valia terdiam, dan ia teringat bahwa sekarang dirinya bukanlah Silyena melainkan Valia.
Hal itu membuat Valia sedikit binggung untuk menjelaskannya pada Xander, tapi dengan otaknya yang begitu cerdas, dalam keadaan genting seperti sekarang ini, ide-ide brilian kini sudah ada di dalam kepalanya.
"Ah, Aku pernah meminta Carmila untuk membawaku ke sebuah tempat, dan itu adalah pelatihan penembak jitu dan aku mempelajarinya sudah lama, maafkan aku karena tidak membicarakan hal ini pada kalian," ucap Valia sambil sesekali melirik kearah Carmila yang tertidur, lalu ia menoleh kearah Xander dengan tersenyum canggung.
Walau masih dalam keadaan binggung Xander langsung berjalan kearah mejanya dan ia membuka laci dan mengambil dua benda yang diinginkan oleh Valia, lalu Xander kembali dengan membawa sebuah kunci mobil dan pistol di tangan kanannya.
"Pergilah sekarang, paman akan merawat temanmu dengan baik," ucap Xander sambil memberikan kedua benda itu pada Valia.
Valia pun mengangguk dan langsung pergi dari rumah sakit, sedangkan Xander terlihat menatap punggung Valia dengan datar.
Setelah keluar dari rumah sakit, Valia menekan kunci mobil Xander, dan ketika mobil itu berbunyi, Valia melihat Mercedes-Benz C200 tengah terparkir di antar mobil mahal lainnya.
"Paman hanya membeli mobil ini?, padahal keluarga Samantha bisa membeli berbagai mobil mahal," batin Valia yang terlihat heran.
Pasalnya keluarga Samantha adalah orang terkaya nomor satu di negara nya dan masuk kedalam salah satu jajaran orang terkaya di dunia.
"Aku bahkan curiga kenapa paman mengatakan bahwa tidak ada yang bisa mencabut lisensi dokternya. Ah ... kepalaku sakit memikirkan ini semua, jadi lupakan itu dan fokuslah pada balas dendammu." gumam Valia sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan.
#Flashback off
Seketika saja Gleni terdiam, ia mengingat tentang orang-orang yang di sewanya, "apa yang kau lakukan pada mereka?," teriak Gleni dengan sangat kuat.
"Apa kau bertanya tentang orang suruhanmu?, mereka sudah tenggelam di laut," jawab Valia sambil menatap Gleni.
Gleni mulai mengerti bahwa Valia orang yang bisa membunuh siapapun, "Ba-bagaimana mungkin?," gumam Gleni dengan mata yang sudah melotot dengan sempurna.
Valia tidka menjawab pertanyaan, ia bahkan mengeluarkan perkataan yang bisa membuat Gleni terkejut. "Sekarang adalah giliran mu," ucap Valia dengan menodongkan pistolnya kearah Gleni, lalu ia menghempaskan rambut Gleni ke sembarang arah.
Gleni mencoba bergerak, lalu ia pun berusaha untuk berdiri agar bisa melarikan diri, "aku harus kabur," batin Gleni yang sudah ketakutan.
__ADS_1
Dor
Dor
Dor
Dor
Valia melepaskan empat tembakan hingga mengenai titik yang berbeda. keempat tembakan itu mengenai kedua tangan dan kaki Gleni.
Darah itu keluar dari tubuh Gleni, bahkan rerumputan yang ada di sekitar mereka sudah berubah warna menjadi merah.
Gleni yang terkena tembakan langsung terjatuh, ia bahkan mulai berdesis kesakitan.
Sshhh
"Sakit," gumam Gleni dengan pipi yang sudah menyentuh tanah.
Valia memutar-mutar pistol itu di jarinya "Sebelum aku menemukan pelakunya, aku pernah berjanji bahwa aku akan mencincang daging orang itu, tapi aku tak menduga bahwa aku harus melakukannya pada dosen ku sendiri," ucap Valia sambil berjalan mendekati Gleni yang sudah terkapar.
Gleni benar-benar tidak menyangka bahwa Valia bisa membalasnya sekejam ini, bahkan ia juga tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya.
Gleni berjongkok di depan wajah Gleni, "Apa kau pikir aku adalah anak miskin yang tidak bisa membalas perbuatan kalian?, biar ku beritahu sebuah rahasia. Aku Valia Samantha, anak dari Javier Samantha dan Vinisia Samantha," ucap Valia sambil mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto keluarganya pada Gleni.
Gleni benar-benar tidak bisa berkata-kata, otaknya seakan tidak bekerja seperti semestinya, bahkan ia merasa tenggorokannya tercekat dan lidahnya begitu kelu.
Valia menyadari ekspresi Gleni, ia tau bahwa Gleni mengenal kedua orang yang ada di foto keluarganya, "Kau mengenal mereka?, yah ... wajar saja, Karena orang tua ku selalu di liput oleh media dan membuat wajah mereka terlihat jelas dimana-mana," ucap Valia dengan nad mengejek.
Keringat dingin dan tangisan mulai terdengar di telinga Valia, "To-tolong maafkan aku, Valia," ucap Gleni dengan memohon.
Bersambung ...
__ADS_1