Deadly Cold Woman

Deadly Cold Woman
Berusaha Bersikap Normal


__ADS_3

"Jian!" panggil Rila sambil berlari keatas, wajah Rila terlihat sangat panik melihat Jian terduduk di lantai.


Gleni kembali menyimpan Ponselnya dan menghela nafas pelan, ia juga dengan segera naik keatas.


Lalu keduanya pun membantu Jian berdiri dan mereka langsung keluar dari ruangan itu, "kita harus bicara," ucap Gleni pada keduanya, lalu ia pun membawa mereka berdua keruangannya,


Di kelas lain, Carmila tengah melihat layar lebar yang ada di kelasnya, jika tersebar ke kelasnya, maka itu juga akan tersebar ke kelas lain.


Itulah yang ada di pikiran Carmila, ia juga sedikit cemas dengan keadaan Valia saat ini, "Bagaimana dengan, Valia?, apa dia juga sudah melihat layar lebar ini?," batin Carmila.


Carmila bahkan begitu mencemaskan Valia, tapi jika ia tau bahwa video terakhir adalah perbuatan Valia, maka entah seperti apa reaksi yang di keluarkan oleh Carmila.


Carmila yang telah melihat itu justru merasa bahwa Valia tidak mungkin melakukan hal kotor seperti itu.


Lalu Carmila menoleh kearah dua temannya itu, "apa kalian tau sesuatu tentang, Valia?," tanya Carmila pada Fallen dan Zewina, Carmila terus melihat keduanya secara bergantian.


Keduanya tampak terkejut karena untuk pertama kalinya Carmila bertanya tentang orang lain.


Fallen dan Zewina saling memandang satu sama lain, lalu mereka pun menatap kearah Carmila secara serentak, "Apa kau penasaran dengan Valia?," tanya Fallen yang tengah mengeryitkan dahinya.


Lalu Zewina juga menganggukkan kepalanya, "Bukankah kau tidak tertarik mengetahui gosip yang beredar," timpal Zewina sambil menatap Carmila.


Carmila yang mendengar itu membenarkan keduanya, tapi sekarang ini adalah hal yang berbeda, "benar, tapi setelah kami sedikit menghabiskan waktu bersama, sepertinya aku mulai mengetahui sifatnya, dan aku merasa dia bukan orang yang seperti itu," ucap Carmila sambil melihat kedua temannya itu.


Zewina menggelengkan kepalanya setelah mendengar perkataan Carmila, "Apa-apaan itu?, aku bahkan percaya dengan rumor itu, karena bagaimana Apun juga dia telah mencuri soal ujian, dan bisa saja karena itu dia mendapatkan beasiswa penuh." ucap Zewina sambil membuka ponselnya.

__ADS_1


Lalu Fallen pun mengangguk untuk membenarkan perkataan Zewina, "Benar, bukalah matamu Carmila, dia tipe orang yang mendekatimu karena uang," timpal Fallen yang mencoba menghasut Carmila agar mempercayai perkataannya.


Carmila tampak sedang berpikir, "Jika dia orang yang seperti itu, dia pasti akan memintaku membayar makan dan tiket bioskop, tapi dia tidak melakukan itu, dia malah meminta agar dirinya yang membayar semua itu. Ketika aku jalan bersama kalian, justru kalianlah yang meminta ku membayar semua tagihan itu." batin Carmila sambil menatap keduanya secara bergantian.


Lalu Zewina menunjukkan kembali video yang ada di forum sekolah, "apa kau yakin orang yang begitu handal seperti ini tidak melakukan kecurangan?," tanya Zewina yang terus menerus menyodorkan kesalahan Valia pada Carmila.


Carmila mengibaskan tangannya ke udara, "Sudahlah, aku jadi tidak tertarik untuk mengetahuinya," setelah itu Carmila mulai membaca buku yang ada di tangannya.


Zewina serta Fallen saling memandang satu sama lain, mereka merasa bahwa nanti Carmila pasti akan menjauhi Valia.


...****************...


Di mansion Samantha, Javier dan Nisia sudah melihat video itu sejak Valia pulang entah dari mana.


Kini keduanya tengah duduk di taman belakang, "Apa dia akan melawan mereka sayang?," tanya Nisia sedikit takut setelah melihat forum kampus.


Nisia mengangguk dan mencoba mempercayai perkataan suaminya, "Aku berharap seperti itu sayang," balas Nisia sambil melihat Javier dan memeluk suaminya itu.


Javier pun menghela nafas pelan, ia menaruh tangannya di pundak sang istri Lalau mengelusnya, "Mungkin itu alasannya kenapa dia tidak ingin mengatakan apa yang terjadi, jadi kita hanya bisa menunggu dia mengatakannya sendiri dengan jujur," ucap Javier sambil tersenyum.


Nisia yang mendengar itu mencoba kembali berpikir kembali, tapi kepalanya sudah diselimuti oleh rasa penasaran yang cukup besar.


"Aku benar-benar penasaran, kenapa dia menyembunyikan hal sebesar ini pada kita, bahkan sampai dirinya susah tertidur beberapa hari, tapi anak itu memilih untuk tetap bungkam," timpal Nisia yang benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Valia.


Javier yang mendengar itu mulai mengeram marah, ia juga tidak menyangka bahwa anak yang begitu di sayanginya justru mendapat buli dari anak lain.

__ADS_1


"Sudahlah sayang, kali ini kita harus memantau nya dari kejauhan, jika memang dirinya sudah menyerah maka aku yang akan menggantikannya untuk menyerang para bajingan yang tidak tau berterimakasih itu," ucap Javier dengan mengepalkan satu tangannya.


Karena ia mengenal para orang tua ketiga orang itu, bahkan Javier lah yang membantu keuangan ketiganya sehingga bisa membuat mereka sesukses sekarang.


Nisia melepas pelukannya, ia tiba-tiba mengingat sesuatu Lalau mantap sang suami, "Tapi sayang, apa kau mendengar bahwa Asra sudah meninggal?," tanya Nisia sambil menatap suaminya.


Javier yang mendengar itu tampak sangat terkejut, ia pun langsung menatap Nisia dengan mata melotot, "Apa kau yakin sayang?," tanya Javier yang sangat penasaran.


Nisia menganggukkan kepala dan mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, lalu ia membuka forum kampus dan dibawah postingan Valia terdapat postingan dengan ucapan belasungkawa dari rektor, dosen serta para mahasiswa.


Nisia langsung memperlihatkan Forum kampus pada sang suami, "Mereka bahkan meliburkan kampus itu 1 hari demi berbelasungkawa pada kedua orang tua Asra," ucap Nisia sambil menunjuk dan membaca komentar yang ada di postingan tersebut.


Javier juga ikut membaca postingan itu, tapi ia benar-benar tidak tau mengenai hal tersebut, "Aku sungguh tidak tau tentang hal ini sayang, Karena aku terus berfokus pada postingan tentang anak kita saja," ucap Javier dengan binggung.


Nisia pun menghala nafas pelan, dan menurunkan tangannya, lalu ia pun melihat kearah Javier, "Mau bagaimana pun kita harus mengunjungi mereka dan mengucapkan belasungkawa," ucap Nisia menghela nafas kasar.


Sebenarnya setelah melihat ketiganya di mall, Nisia tampak mulai tak menyukai mereka, bahkan Nisia sendiri ingin mendatangi orang tua dari ketiganya.


Tapi, Javier menahan Nisia karena Valia sendiri tidak mengatakan apapun tentang pembulian itu, dan Javier takut jika Valia mengetahuinya, maka Valia akan kecewa pada mereka.


Setelah mendapat usulan dari suaminya itu, Nisia mencoba menahan diri dan berusaha untuk bersikap normal di depan Valia.


Sekarang, Javier dan Nisia tengah bersiap-siap untuk pergi menuju kerumah Asra, "ketika kita tiba disana, aku berharap mereka berdoa bersungguh-sungguh agar aku bisa menahan emosi ku ini," celetuk Nisia sambil menghela nafas pelayan dan mulai memasuki mobilnya.


Javier yang mendengar itu celetukan itu hany bisa tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2