Deadly Cold Woman

Deadly Cold Woman
Kebingungan Keluarga


__ADS_3

"Setelah memasuki tubuh ini, aku mendapatkan apa yang belum pernah aku rasakan. Ternyata seperti ini mendapat kasih sayang dari seorang paman," gumam Valia sambil menatap mobil Xander yang semakin menjauh.


Saat menjadi Silyena, ia tidak pernah mendapatkan kasih sayang atau pun cinta dari orang lain.


Satu-satunya yang bisa memberikan cinta dan kasih sayang hanyalah sang ibu, ia bahkan teringat dulu bagaimana dulu Granov terus menyiksa Carmila.


Tak terasa, cairan bening itu mulai menetes di pipi Valia. "Aku sungguh menyesal ibu, aku benar-benar sangat menyesal karena tidak pernah membantumu saat diri mu di siksa oleh ayah," gumam Valia sambil menatap lurus kedepan.


"Karena itu, aku berdoa untuk bisa melihat ibu lagi dan meminta maaf padamu, tapi aku tidak menyangka bahwa aku bisa kembali ke zaman diman kita menjadi teman satu kampus. Walau seperti itu, aku tetap harus bersyukur, karena aku bisa melampiaskan marahku yang lalu pada Granov!" lanjut Valia sambil menggeretakkan giginya.


Valia pun mulai menghapus cairan bening itu dan mulai memasuki mansion itu, Valia langsung berjalan ke arah dapur, ia pun berjalan dengan langkah gontai.


Nisia yang baru saja tiba, juatru melihat sang anak terus menunduk di meja makan, ia terlihat binggung melihat eskpresi Valia yang menampilkan sebuah kesedihan.


Nisia menghampiri Valia, kalau ia pun menyapanya sambil menepuk pundak sang anak "Valia," sapa Nisia sambil tersenyum.


Spontan hal itu membuat Valia terkejut dan langsung menoleh kearah Nisia "Ah, ibu," ucap Valia sambil membalas senyuman Nisia.


Setelah melihat wajah sang nak dengan teliti, untuk pertama kalinya Nisia melihat rambut Valia yang begitu rapi, ia pun mulai heran melihat sang anak yang tiba-tiba mengubah penampilannya.


Nisia berdiri di samping Valia dan memegang rambutnya, "Ada apa dengan rambutmu?, bukankah kau sangat suka dengan model yang berantakan?" tanya Nisia dengan heran.


Valia melirik dan ikut memegang rambutnya yang sudah sangat rapi, "Aku tidak menyukainya model itu lagi ibu, itu sudah menjadi trend lama, dan aku menyukai model rambutku yang sekarang, ini tampak terlihat sangat segar" ucap Valia sambil tersenyum.


Nisia yang mendengar itu merasa sangat bersyukur karena sang anak susah mau merubah penampilannya, "Benarkah?, memang benar, kamu bahkan terlihat jauh lebih cantik karena menggunakan gaya rambut seperti ini" ucap Nisia sambil mengelus pucuk kepala sang anak Lalau ia pun menciumnya dengan angkat lembut.


Setelah itu, Nisia seperti merasa mencium aroma yang tidak sedap, lalu ia melihat pakaian yang di gunakan Valia terlihat sudah berlumuran noda merah.


Nisia mengeryitkan dahinya, "Valia!, ada apa dengan pakaian mu?, apa ini darah?" ucap Nisia sambil memegang pakaian Valia dan melihat wajah anaknya secara bergantian.

__ADS_1


Valia mula menunduk kan kapalnya dan ia melihat pakaiannya sudah di penuhi oleh noda berwarna merah.


"Ah ... ini, aku melihat kucing mati di jalan, lalu aku memungutnya dan menguburnya ibu," jawab Valia dengan tenang.


Nisia mengeryitkan dahinya "Apa!, lalu kenapa kau ada disini?, pergi dan mandi lah, aroma mu sungguh sangat tidak sedap" ucap Nisia sambil menutup hidung dan menjauhkan dirinya dari Valia.


Valia yang memiliki ide mulai berdiri dan mendekati Nisia "ayolah ibu, aku ingin ibu memelukku" ucap Valia sambil merentangkan tangannya agar Nisia mau memeluknya.


"Menjauhlah dari ibu Valia," usir Nisia sambil membuat gestur mengibas-ngibaskan tangannya.


Melihat raut wajah sang ibu, membuat Valia mulai tertawa terbahak-bahak "Haha ... ayolah ibu, aku sangat merindukan ibu" ucap Valia disela tawanya sambil mengejar Nisia.


Nisia terkejut karena melihat Valia mengejarnya "Tidak!, menjauh lah Valia!" teriak Nisia yang berlari menjauh dari Valia.


Sedangkan Javier yang baru saja datang terkejut melihat Valia mengejar Nisia sambil merentangkan tangannya.


"Valia!" panggil Javier dengan suara pelan namun menggema ke seluruh mansion.


"Apa dia marah padaku, seperti ayah ku yang dulu?" batin Valia sambil melototkan matanya dan tubuh itu pun mulai gemetar.


Javier berjalan menghampiri Valia dan ia pun menjewer telinga Valia "kau anak nakal, beraninya mengganggu ibumu" ucap Javier dengan tegas.


Awalnya Valia menutup matanya, tapi ternyata ketiak tangan Javier berada di daun telinganya, ia justru tidak merasakan sakit sama sekali, lalu Valia melihat kearah Javier yang sedang menatapnya dengan tajam.


"Tidak sakit, tapi kenapa ayah menatapku seperti itu" batin Valia sedikit ketakutan.


"Apa yng kau lakukan pada anakku?, kenapa kau menatap Valia seakan ingin memakannya?" ucap Nisia sambil mencubit lengan Javier.


"Tidak, tidak, aku hanya memberinya pelajaran saja" ucap Javier yang merasa sakit di lengannya.

__ADS_1


Seketika saja, Valia tertawa dengan keras "Haha ... ada apa dengan kalian berdua?, kenapa kita saling mencubit satu sama lain" ucap Valia di sela tawanya.


Javier dan Nisia cukup terkejut melihat Valia tengah tertawa keras, keduanya bahkan saling memandang satu sama lain.


Biasanya Valia tidak pernah tertawa pada mereka, karena hal itu lah yang membuat keduanya tampak terdiam dan tercengang.


Binggung?, tentu saja. Perubahan yang di berikan Valia pada dirinya mampu membuat Javier dan Nisia tampak kebingungan.


"Valia?, apa benar ini kau, nak?" tanya Nisia dengan cairan bening yang tampak mulai tumpah.


Tawa Valia terhenti, ia melihat kedua orang tuanya tengah menatapnya dengan wajah yang sangat sulit di artikan.


tapi, mau tidak mau, ia tetap harus menghadapi situasi sulit yang mungkin akan terjadi, "tentu saja ini aku ibu" ucap Valia sambil merentangkan tangannya lagi.


Javier melepaskan tangannya dari daun telinga Valia, dan Nisia juga melepaskan tangannya dari lengan Javier.


Nisia terkejut dan ia pun bersiap-siap untuk melarikan diri "Tidak!, menjauhlah Valia" ucap Nisia yang berusaha lari mengelilingi sofa.


Javier yng melihat itu merasa tidak percaya, keduanya tampak seperti kucing dan tikus, dan perubahan Valia justru membuat keduanya tampak terlihat senang.


"Haha .... " Javier pun mulai tertawa.


Lalu Valia menghentikan langkahnya dan mulai menatap kearah Javier, "aku juga sangat ingin memeluk ayah" ucap Valia yang kini tengah berlari kearah Javier dan langsung memeluknya.


"Valia!" teriak Javier dengan keras.


"Haha ... , ayo terus peluk ayah mu, Valia." ucap Nisia Yanga tertawa terbahak-bahak.


Kini didalam pelukan javier, Valia tengah tersenyum sumringah "dulu aku berharap bahwa ayah dan ibu akan seperti ini, tapi semua harapanku tidak pernah terkabulkan, dan sekarang aku bisa mendapatkan kedua cinta dari mereka. Ini benar-benar sangat hangat" batin Valia yang terus memeluk Javier dengan kuat.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2