Deadly Cold Woman

Deadly Cold Woman
Aksi di Tengah Jalan


__ADS_3

Saat Carmila sedang menyetir mobil, ia sesekali melirik ke kaca spion, awalnya ia tidak merasakan curiga, tapi ia merasa ada sebuah mobil yang terus mengikuti mereka sedari tadi.


"Valia, sepertinya mobil itu terus mengikuti kita," ucap Carmila yang mulai kelihatan panik.


Valia terkejut, lalu ia pun menoleh kebelakang, dan benar saja ketika Carmila membawa mobilnya berbelok, mobil yang ada di belakang mereka juga ikut berbelok.


Tanpa pikir panjang, Valia berniat untuk bertukar posisi, "Jangan berhentikan mobilnya dan mari kita bertukar posisi," ucap Valia sambil melepas seat belt nya.


Carmila yang mendengar itu melototkan mata ya, "A-pa?, apa kau bisa membawa mobil?." tanya Carmila dengan terkejut, ia tidak menyangka bahwa Valia meminta bertukar posisi dengan mobil yang masih melaju dengan kencang.


Valia mengangguk dengan ekspresi yang serius "Bisa, percaya lah padaku," ucap Valia sesekali melirik ke belakang.


Carmila sesekali melirik kearah Valia, ia melihat ada keseriusan di wajah Valia, carmila yang sudah gemetar ketakutan mau tidak mau mengangguk setuju, tapi di hatinya berkata lain, Carmila sedikit menyimpan ketidakpercayaan nya pada Valia.


Karena Carmila tau bahwa Valia adalah anak beasiswa dan Carmila berpikir bahwa Valia tidak bisa membawa mobil, tapi wajah serius yang di tampilkan Valia membuat Carmila menyerah.


Valia pun dengan cepat membantu membuka seat belt Carmila, "Ini benar-benar berbahaya apa kau yakin akan bertukar posisi?," tanya Carmila memastikan.


Valia mengangguk, ia tidak marah dengan keraguan yang di berikan Carmila, karena bagi Valia, hal itu sangatlah wajar, mengingat bahwa dirinya tidak pernah terlihat membawa mobil ke kampus.


"Tenang saja, serahkan padaku, pertama-tama maju kan tubuhmu, lalu saat aku hitung sampai tiga kau harus berpindah dengan cepat, oke?." ucap Valia dengan serius.


Carmila yang mendengar itu pun menganggukkan kepalanya, walau ia sedikit takut, entah kenapa ia seolah sangat mempercayai perkataan itu.


Pertama-tama Carmila memajukan tubuhnya seperti yang di katakan Valia, lalu Valia yang ada di kursi sebelah dengan mudah pindah ke belakang punggung Carmila, dan kini ia masih berjongkok di kursi sambil membantu sebagai mata dan tangan Carmila.


"Satu"


"Dua"


"Tiga"


Carmila dengan cepat melepas tangan dan kakinya, lalu ia merangkak ke kursi sebelah dan Valia langsung mengambil alih pedal gas yang sedari tadi ditahan oleh Carmila.


Carmila yang sudah berada di kursi sebelah mulai memegang dadanya sambil menghela nafas berulang kali.


Sedangkan Valia membawa mobil itu dengan kecepatan tinggi, Carmila yang berada di kursi kemudi bahkan terkejut dengan kecepatan itu, ia juga langsung memegang pegangan yang ada di atas pintu mobil.

__ADS_1


"Jika aku menghancurkan mobil ini apa kau tidak mempermasalahkan nya?" tanya Valia sambil sesekali melirik ke arah spion.


Carmila yang tidak tau rencana apa yang sedang di buat Valia hanya bisa mempercayai semua padanya. "Tidak masalah, kau bisa melakukan apapun," ucap Carmila sambil melihat kearah Valia yang tengah menyetir dengan serius.


"Baiklah, jangan lupa memakai seat belt, karena ini akan terasa tidak nyaman," ucap Valia yang terus sesekali melirik spion.


Carmila mendengarkan perkataan Valia, ia terus mendengarkan instruksi Valia tanpa membantah.


Padahal jalanan itu terlihat sangat luas, bahkan di sampingnya terlihat kosong, tapi mobil jeep justru terus berada di belakang mobil Carmila dan Valia.


Valia pun membanting stir ke kiri, Carmila terlihat terkejut dengan apa yang di lakukan Valia, tapi ia hanya diam agar tidak mengganggu Valia yang tengah konsentrasi.


Lalu Valia menabrak mobil itu dari belakang.


Brakkk


Suasana kini semakin menegangkan, dan sekarang posisi mereka berbalik. Mobil yang mengikuti mereka berada di depan sedangkan mobil Valia susah berada di belakang, dan kedua mobil itu berdempetan, Valia terus mendorong mobil yang mengikuti mereka dengan mobil yang di gunakannya.


Valia bahkan tampak tidak perduli bahwa kap mobil miliknya sudah akan terlepas, Carmila yang melihat pemandangan itu langsung melototkan matanya.


Valia terus menempelkan mobilnya pada mobil Jeep itu, dan dari kaca mobil ia melihat seseorang dari mobil jeep tengah menodongkan pistol kearah mereka.


Valia langsung memundurkan mobilnya ini, lalu sesekali melirik kearah Carmila, "Lepaskan tangan!, Menunduk!," teriak Valia dengan keras.


Carmila yang mendengar itu merasa sangat terkejut, dan ia langsung melepaskan tangannya dan menunduk ke bawah.


Dor


Prakk


Dor


Prakk


Dor


Prakk

__ADS_1


Tiga tembakan itu menembus kaca mobil Valia, sedangkan Valia berusaha memundurkan mobilnya dengan zig zag.


Aksi itu membuat sejumlah kendaraan yang alin menghentikan mobil mereka, dan salah satu dari pengendara itu menghubungi pihak kepolisan.


Walau dalam keadaan darurat, Valia melirik kearah Carmila, ia melihat Carmila sudah sangat ketakutan.


Melihat Carmila yang gemetar ketakutan, aura di sekeliling Valia tiba-tiba saja berubah, sekarang ia benar-benar marah karena ia tidak suka melihat ibunya kembali menderita.


Dengan keadaan emosi yang meluap-luap, Valia kembali menempelkan mobil mereka, lalu ia melihat di depan sana terdapat sebuah jembatan yang di samping kanan dan kiri itu adalah lautan.


Tanpa pikir panjang, Valia terus menambah kecepatan mobilnya, sedangkan mobil yang ada di depan mencoba berusaha melepaskan diri dari mobil Valia, tapi Valia pun tidak membiarkan mereka kabur.


Lalu Valia kembali menambah kecepatan dan mendorong mobil itu melewati pembatas jembatan dan membuat mobil itu terjun ke dalam laut.


Karena Valia menambah kecepatan, kini mobilnya sudah berada di ujung pembatas.


"Sial!, aku tidak ingin ibu kembali menderita," batin Valia sambil melirik Carmila yang terus tertunduk.


Valia mulai terlihat panik, tangannya mulai gemetar dan dahi sudah di penuhi keringat dingin, ia dengan cepat berusaha memundurkan mobilnya.


Walau mobil itu juga tidak mundur, Valia terus mencobanya tanpa menyerah, setelah memakan waktu yang cukup lama, akhirnya perjuangan itu pun tidak sia-sia.


Terlihat wajah Valia yang sudah berkeringat karena ia terus memikirkan Carmila, ia tidak ingin di kehidupan ini Carmila kembali menderita.


Setelah berhasil Valia pun mulai bisa bernafas dengan lega, walau mereka berhasil, tapi tangan Valia tidak berhenti bergetar.


Valia pun melihat kedua tangannya,"Sialan!, aku akan mengingat kejadian ini!" teriak Valia dengan marah.


Lalu Valia menoleh ke samping, ia melihat Carmila terus menunduk sambil menutup telinganya dengan kedua tangan.


"Carmila, kau sudah bisa duduk dengan tegak," ucap Valia sambil menepuk punggung Carmila.


Carmila menggelengkan kepalanya, ia benar-benar ketakutan, karena hal ini adalah untuk pertama kalinya bagi Carmila.


Valia menghela nafas pelan, "Percayalah padaku, kau sudah bisa mengangkat kepalamu," ucap Valia sambil berusaha menemukan Carmila, walau tangannya sendiri masih bergetar hebat.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2