Deadly Cold Woman

Deadly Cold Woman
Menjenguk


__ADS_3

Lalu Granov pun langsung bergegas kembali ke rumah, ia melihat Eric dan Karin tampak terlihat sangat lesu. "Ayah, ibu, aku pulang," ucap Granov sambil melangkah masuk kedalam rumah.


Keduanya tampak sedang melamun, karena sepertinya mereka tidak mendengarkan perkataan Granov.


Granov menghela nafas pelan, ia sungguh tidak sanggup melihat kedua orang tuanya terpuruk kembali seperti dulu.


Granov melangkah mendekati keduanya, dan keduanya tampak terkejut melihat sosok Granov tengah berada di dekat mereka.


Karin yang melihat wajah Granov langsung bertanya mengenai kasus Elena, "bagaimana?, apa sudah ada perkembangan?" tanya Karin dengan penasaran.


Granov langsung menggelengkan kepalanya, "tidak ada ibu, tapi ada yang aneh dnegan ini semua, di kampusku di temukan daging yang berhamburan di ruang guru, dan terdapat dua mahasiswa dengan lidah terpotong, dan yang anehnya adalah jejak para pelaku tidak bisa di temukan oleh polisi dan penyidik, bahkan alat yang di sebutkan sebagai benda yang menggores lidah dan pisau pemotong daging itu juga tidak dapat di temukan oleh polisi, bukankah hal ini sama persis dengan keterangan kasus Elena?" ucap Granov sambil berpikir.


Eric dan Karin terkejut mendengar hal itu, karena mereka tidak menyangka bahwa kampus yang terkenal itu justru mendapat teror dari pelaku yang tidak di ketahui identitasnya.


"Apa kamu yakin Nak?," tanya Eric dengan tidak percaya.


Granov pun menganggukkan kepalanya, "Aku sangat yakin ayah, karena mau bagiamana pun, semuanya benar-benar tampak sama, hanya saja cara membunuh nya saja yang berbeda." ucap Granov sambil memikirkan semua kejadian itu.


Cairan bening tampak terlihat di mata Karin, ia masih tidak terima dengan kenyataan, "Tapi apa salah putriku pada pelaku itu?, bagaimana bisa dia menyiksa putriku seperti itu," ucap Karin yang mulai menitikkan air matanya.


Granov merasa kasihan melihat Karin, "ibu, sudahlah, semua ini sudah berlalu, kita hanya bisa menemukan pelaku itu dan memberi dia pelajaran yang tak terlupakan," ucap Granov dengan mengeram marah.


...****************...


Di sisi lain, Carmila mencoba menghubungi Granov, tapi tak ada jawaban dari Granov, "kenapa akhir-akhir ini kak Granov tidak menghubungiku?" gumam Carmila sambil melihat ponselnya.


Lalu tiba-tiba saja, sebuah pesan masuk dan membuat Carmila tersenyum, "sejak mengenalnya, dia telah menjadi obat kesepianku," gumam Carmila sambil membalas pesan itu.


Setelah itu, Carmila pun langsung beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas berganti pakaian, setelah itu ia keluar menggunakan mobilnya.


Ia mengendarai mobil menuju alamat yang di kirimkan padanya, di ujung jalan Carmila sudah bisa melihat batang hidung orang itu.

__ADS_1


Carmila mengendarai mobilnya dan berhenti di depan orang itu, lalu ia membuka kaca mobilnya "masuklah Valia," ucap Carmila sambil tersenyum.


Valia langsung memasuki mobilnya dan Carmila langsung mengendarai mobilnya kembali.


Di dalam mobil Carmila sesekali melirik kearah Valia, "Ehm ... sebelum kita pergi bersenang-senang, aku ingin pergi ke rumah kak Granov, apa kau tidak keberatan Valia?," tanya Carmila dengan ragu-ragu.


Valia pun menoleh dan melihat kearah Carmila, "Tidak, aku akan mengikuti mu saja, karena kau lah yang mengemudikan mobilnya," ucap Valia sambil tersenyum.


"Lagi pula aku juga ingin melihat bagaimana keluarga itu hancur, apakah sama seperti yang mereka lakukan padaku dulu?, ataukah berbeda?, mari kita lihat" gumam Valia sambil tersenyum smirk.


Bagaimana pun, Valia tetap ingin melihat keluarga Amoriya jatuh di tangannya, bahkan dia sudah berpikir untuk menghabisi seluruh keluarga itu, agar tidak ada anak yang lahir dari keturunan mereka.


Tapi ada satu pertanyaan yang ada di pikiran Valia, "apakah aku akan binasa di jaman ini, ataukah setelah aku merubah jalan takdir maka aku tidak akan terlahir lagi di masa depan?," batin Valia.


Walau Valia asli mengatakan memberikan tubuhnya pada Silyena, tapi tidak menutup kemungkinan ia juga akan meninggalkan zaman ini dan menghilang, karena bagaimanapun, ia hanya roh asing yang melintasi waktu.


"Sudahlah, tidak perlu memikirkan hal yang belum terjadi, jadi yang terpenting sekarang adalah jalani dulu semua yang ada di depan mata." batin Valia yang bertekad untuk melupakan semuanya dan fokus pada pembalasan dendam yang sangat di nantikan nya itu.


Mata Valia melirik kearah Carmila yang sedang berada di luar mobil, ia juga melihat bingkisan yang ada di tangan Carmila. Hal itu membuat Valia sedikit merasa kesal, "untuk apa manusia seperti mereka di bawakan buah tangan, toh pada akhirnya mereka akan mengabaikan ibu lagi," batin Valia kesal.


Tapi Valia tetap diam dan tidak mengatakan apapun, saat ini dia tidak ingin memberitahukan itu pada Carmila.


Dan Carmila pun kembali kedalam mobil, ia tampak tersenyum karena akan segera bertemu dengan Kekasihnya.


"Lihat?, aku membeli banyak buah-buahan yang di sukai oleh kak Granov," ucap Carmila sambil menaruh bingkisan itu di belakang mobil dan melanjutkan perjalanan mereka.


Valia yang melihat reaksi Carmila hanya bisa menghela nafas pelan, "apa kau sangat mencintai kak Granov?," tanya Valia sambil mengucapkan nama Granov dengan malas.


"Sangat mencintainya dia sangat baik padaku, dan dia seperti kekasih yang ideal," ucap Carmila sambil tersenyum manis.


"Sudah ku duga, ibu sangat mencintai pria itu, jika aku menyakiti pria itu, entah bagiamana reaksi ibu," batin Valia sambil menoleh ke luar kaca mobil.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya mereka sampai di depan rumah Granov.


"Ini rumahnya, mari kita turun," ucap Carmila sambil melepaskan seat belt nya dan keluar dari mobil.


Valia pun tidak berkomentar apapun, ia juga ikut keluar dari mobil dan Carmila mengambil bingkisan itu dan berjalan memasuki pekarangan rumah Granov.


Sedangkan Valia memilih untuk berdiri di belakang Vas bunga yang sangat besar sehingga bisa menutupi seluruh tubuhnya.


tok


tok


tok


"Permisi" ucap Carmila sopan.


Tiba-tiba dari dalam mulai terdengar suara langkah kaki dan orang dari dalam pun langsung menekan handle pintu.


Ketika pintu itu terbuka, orang itu terkejut melihat Carmila berada di depan pintu rumahnya.


"Carmila?, kenapa kau bisa ada di sini?," tanya Granov dengan mata melotot.


Camelia yang mendengar itu pun tersenyum hangat, "aku tidak bisa menghubungi kakak, aku takut kakak memiliki masalah jadi aku berinisiatif untuk menjenguk kakak, apa kakak baik-baik saja?" ucap Carmila dengan pelan.


Awalnya Granov yang mendengar itu merasa sangat kesal dan ketika ia ingin bersiap untuk memarahi Carmila, tiba-tiba saja Valia menunjukkan batang hidungnya dan berdiri di belakang Carmila.


Granov bahkan terkejut melihat Valia datang bersama dengan Carmila, "Valia?," ucap Granov sambil mengerutkan dahinya.


"Hallo kak," ucap Valia dengan wajah datar dan tak bersahabat.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2