
Yuwin yang mendengar itu semakin bertambah marah, "aku tidak perduli, anak tidak tau diri seperti mereka bukannya membuat kita semakin bertambah kaya tapi justru malah membuat kita kehilangan segalanya!. Jika aku tau masa depan seperti ini, lebih baik aku menghancurkan dia ketika tumbuh di dalam perut Freya!" ucap Yuwin dengan amarah menggebu-gebu.
Setelah mendengar perkataan menyakitkan itu, hati Jian seakan tertusuk oleh ribuan jarum, air matanya juga mulai terus mengalir dengan deras, ia sungguh tidak menyangka bahwa Yuwin akan mengeluarkan kata-kata kasar seperti itu untuknya.
Freya yang mendengar perkataan itu langsung menatap kearah Yuwin dengan tajam. ia pun bangkit dan mencengkram lengan Yuwin dengan kuat.
"Apa maksud perkataan mu?!" teriak Freya dengan kuat.
Rila, Harkan, Tifa dan Ruslan juga terkejut mendengar perkataan yang di lontarkan oleh Yuwin.
Mereka juga tidak menyalahkan Freya karena telah berteriak dengan kuat di depan mereka, karena menurut semua orang yang ada di sana, perkataan Yuwin sangatlah keterlaluan.
Yuwin pun tersadar dan melihat ke sekelilingnya, ia melihat mereka semua tengah menatap kearahnya, "Sial, jika aku tau bahwa mainan mu adalah bagian dari keluarga Samantha, aku pasti akan menghentikannya saat itu juga!" kesal Yuwin dan langsung kembali duduk.
Sekarang di ruangan itu hanya terdengar Isak tangis dari Jian dan Freya, sedangkan yang lainnya mulai memikirkan keadaan keluarga mereka masing-masing.
...****************...
Sedangkan di sisi lain,
Carmila dan Valia keluar dari rumah sakit, keduanya menaiki mobil Carmila dan memilih mengantar Valia di sebuah gang sempit.
Semua itu adalah permintaan dari Valia sendiri, lalu saat Carmila melihat ke sekelilingnya, ia merasa khawatir pada Valia, "Lorong ini sangat gelap, kau yakin tidak ingin aku mengantarmu sampai kedalam?," tanya Carmila dengan wajah khawatir.
Valia yang melihat wajah khawatir itu mulai mengembangkan senyumnya, "Sangat yakin, percayalah padaku, karena aku sudah sangat familiar dengan jalan ini, jadi aku tidak takut terhadap apapun," ucap Valia yang mencoba menghilangkan segala kekhawatiran yang ada di wajah Carmila.
Carmila pun sempat berpikir dan ia juga berusaha mempercayai perkataan Valia, lalu ia mengangguk dan tersenyum, "baiklah, aku berharap perkataanmu kau mengatakan yang sebenarnya," ucap Carmila dengan mata yng sudah melotot.
__ADS_1
Valia pun mengangguk dan segera turun dari mobil, lalu Carmila pun menancap gas dan segera pergi dari hadapan Valia.
Setelah itu tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di depan Valia, sedangkan Valia langsung membuka pintu mobil itu.
Valia yang mengenali mobik itu langsung tersenyum senang, "Kenapa kakak bisa menjemput ku disini?," tanya Valia pada seseorang yang tengah mulai mengendarai mobil itu.
Rein tersenyum mendengar perkataan Valia, "Nona, tugas saya adalah melindungi nona, jadi nona tidak perlu merasa khawatir mengenai apapun." ucap Rein yang mengerti arah pembicaraan Valia.
Pasalnya, Valia tidak menanyakan apapun pada Xander karena ia sedikit takut jika keduanya berinteraksi, maka Ferry akan mudah mencurigai mereka.
Valia sebisa mungkin menghindari semua kemungkinan yang akan terjadi itu, bahkan saat turun dari mobil Carmila, Valia tampak sedikit kebingungan untuk mencari sebuah kendaraan.
Dan akhirnya kebingungan Valia menghilang ketika melihat mobil yang sangat di kenali ya tengah berada di depannya.
"Terimakasih kak, aku berpikir untuk tidak menghubungi paman dulu, karena polisi masih berada di rumah sakit, jadi aku takut mereka akan curiga pada paman dan justru bisa membuat paman kerepotan," ucap Valia menghela nafas pelan.
mendengar hal itu Rein pun mulai tertawa keras, "Haha ... nona, saya sarankan nona tidak perlu memikirkan itu, karena tidak ad yang mampu menjatuhkan tuan Xander," ucap Rein di sela tawanya.
Rein yang mendengar itu hanya bisa tersenyum, "Nona, hanya itu saja yang bisa saya katakan pada anda, jadi saya berharap nona bisa mempercayakan semuanya pada kami dan tidak perlu mengkhawatirkan apapun," ucap Rein sambil menyetir dengan kecepatan penuh.
Valia menghela nafas kasar, ia sungguh sangat penasaran dengan semua teka teki itu, tapi apa daya, Rein bahkan tidak mau memberitahukan apapun tentang pamannya itu.
"Sudahlah, lupakan saja," ucap Valia sambil melihat keluar kaca.
Lalu setelah menempuh perjalanan yang sedikit jauh, mereka kini telah sampai di mansion, saat Valia turun ia melihat Bian tengah menatap kearahnya.
Rein bisa melihat Bian di depan pintu mansion, ia pun juga turun dari mobil dan langsung melangkahkan kakinya masuk kedalam mansion.
__ADS_1
Sedangkan Valia mengikuti langkah Rein dan mengumpat di belakang punggung pria itu, ia bahkan mulai merasa sedikit ketakutan karena valia sungguh tidak tau harus mengatakan apa tentang pipinya yang sudah membiru itu.
"Apa tuan dan nyonya ada di dalam?" tanya Rein pada Bian.
Bian mengangguk sebagai jawaban dan ia mulai melirik ke arah Valia, "apa kau bisa menjelaskan tentang itu Rein?" tanya Bian kembali melihat kearah Rein.
"Haha ... tidak apa-apa, tadi nona menabrak pohon yang mengakibatkan pipinya membiru, kami juga baru saja pergi kerumah sakit, dan nona hanya mengalami luka memar ringan, kau bisa mengatakan itu pada tuan dan nyonya," ucap Rein di sela tawanya.
Sedangkan Valia terlihat sedikit kesal mendengar perkataan itu, ia bahkan tidak menyangka bahwa Rein begitu hebat dalam menjelaskan sebuah kebohongan.
"Pohon?, yang benar saja," batin Valia kesal.
Bian justru mengangguk dan percaya dengan perkataan Rein, keduanya sudah saling mengenal satu masa lain, dan faktanya mereka juga tidak diizinkan untuk berbohong tentang apa yang telah terjadi pada majikan mereka.
Tapi semua itu sekarang justru tidak berlaku untuk Rein, karena atasannya sendiri menyuruhnya untuk menutupi seluruh kejadian Valia dari sang kakak.
"Nona, tugas saya sudah selesai, saya pamit undur diri," ucap Rein sambil membungkukkan sedikit tubuhnya dan langsung pergi meninggalkan keduanya.
Sedangkan Valia hanya menganggukkan kepalanya dan masuk kedalam mansion. lalu Bian pun juga ikut masuk kedalam dan mengikuti langkah Valia dari belakang.
"Nona," panggil Bian.
Valia tersentak kaget, lalu ia pun menormalkan ekspresinya. "Ada apa ,kak?" tanya Valia.
"Tidak ada," ucap Bian lalu mempercepat langkahnya menuju ruang tengah.
Valia yang melihat itu justru mengeryitkan dahinya, ia tampak binggung dengan sikap Bian. "Apa dia telah menemukan sesuatu?," batin Valia sambil melihat punggung Bian.
__ADS_1
"Tapi, jika dia mengetahui sesuatu, pasti dia akan memberitahukan pada ayah, dan ayah juga pasti akan mendatangiku. Ah mungkin itu hanya firasatku saja," batin Valia sambil melanjutkan langkahnya naik ke atas.
Bersambung ...