Deadly Cold Woman

Deadly Cold Woman
Senior dan Junior


__ADS_3

Dalam langkahnya orang itu menghubungi seseorang, dan ketika panggilan itu tersambung, ia langsung mengoceh dengan sangat cepat.


"Apa keponakan teman mu itu gila?, dia meninggalkan bukti nyata begitu saja, jika saja tidak ada aku, maka detik ini juga semua perbuatannya akan terbongkar," celotehnya dengan keras.


Orang yang ada di ujung telepon bahkan menggosok telinganya dengan kuat, "tidak bisakah kau mengatakannya dengan pelan?, lagipula semua itu tugasmu, dan jika kau tidak bisa mengatasinya maka aku akan mengirim mu ke Afrika," ucapnya dan langsung mematikan ponselnya.


Setelah panggilan itu terputus, ia pun melihat pakaian Valia, "sial!, tugas ini benar-benar berat, sejak aku mendapat tugas ini, aku bahkan tidak pernah tidur dengan tenang, bahkan anak perempuan sepertinya lebih menakutkan daripada kau!" ucap orang itu sambil berteriak pada ponselnya.


Orang itu dengan cepat membuang pakaian Valia, ia pun langsung mengeluarkan pemantik api dan langsung membakar pakaian itu.


Setelah ia melihat pakaian itu habis terbakar tak bersisa, ia pun langsung meninggalkan lokasi itu.


Sementara di sisi lain, Granov terlihat cukup pusing memikirkan sang ibu yang ada di dalam penjara, ia sudah berusaha mencoba menyewa pengacara, namun semua pengacara menolak untuk memegang kasus Karin.


"Aku sungguh tidak tau harus berbuat apa," ucap Granov yang terduduk di depan kantor polisi.


Tiba-tiba saja, pikiran Granov tertuju pada Valia, "Semua ini karena wanita itu, dia penyebab dari kekacauan ini, jika saja dia tidak datang, maka semua ini tidak terjadi!," gumam Granov dengan kesal.


Setelah lama bergulat dengan pikirannya, Granov tidak bisa memikirkan apapun, ia bahkan sudah mengacak-ngaca rambut dengan sangat kasar.


"Aku tidak bisa hanya duduk dan menunggu di sini, aku harus berusaha membuat ibu keluar dari penjara," gumam Granov yang sudah sangat frustasi.


Setelah Granov bergulat dengan pikirannya, tiba-tiba saja ia teringat bahwa hanya Valia lah yang bisa membantu ibu nya keluar dari penjara.


"Benar .... hanya dia satu-satunya yang bisa membantu ibu, tapi apa dia mau mengeluarkan ibu begitu saja?," ucap Granov sambil menghela nafas dengan kasar.


"Tapi aku harus mencobanya, dan demi ibu, aku harus menurunkan harga diriku pada orang miskin sepertinya," gumam Granov sambil menatap lurus ke depan.


Granov berdiri lalu berjalan menuju parkiran, ia pun masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi.


Di tengah perjalananan, ia mengingat tentang Carmila, wanita yang selalu di abaikan oleh Granov.

__ADS_1


Dengan malas dan berat hati, pertama-tama Granov menghela nafasnya dengan kasar, "jika bukan karena ibu, aku bahkan tidak berpikir untuk menghubungimu," gumamnya sambil menggeretakkan gigi.


Granov memegang ponselnya dan langsung mencari nomor Carmila, ia tau bahwa Carmila selalu berada di sisi Valia, jadi karena dirinya tidak memiliki nomor Valia, maka jalan sagu-satunya hanya bisa bertanya pada Carmila.


Di dalam pekarangan kampus, terdengar dering ponsel Carmila yang membuat ketiga orang itu terkejut.


Mata keringatan tertuju pada ponsel Carmila yang di letakkan di tengah-tengah mereka.


Mereka bisa nama yang tertera di layar ponsel itu, terlihat jelas raut wajah ketiganya mengeluarkan ekspresi yang berbeda.


Wajah Valia mulai terlihat kesal, sedangkan Nero mengerutkan dahinya lalu melihat kearah Carmila, berbeda dengan kedua orang itu, wajah Carmila terlihat berseri-seri.


Carmila mengambil ponselnya dan langsung mengangkat panggilan dari Granov, saat mendengar suara Granov, wajah Carmila terlihat berubah menjadi sedih.


Lalu mata Carmila tertuju pada Valia, "Kami berada di lapangan kampus," jawab Carmila dengan pelan.


Lalu panggilan itu langsung berakhir tanpa ada kata-kata lainnya.


"Tidak ada, dia hanya bertanya tentang keberadaan mu," jawab Carmila sambil meletakkan ponselnya dan mengambil makanan yang ada di depannya.


"Untuk apa dia bertanya tentang keberadaan Valia?," tanya Nero heran.


"Entahlah .... mungkin dia memiliki sesuatu yang ingin di katakannya," jawab Carmila dengan santai.


Valia bahkan berpikir sambil mengernyitkan dahinya, dan tiba-tiba saja, dalam otak Valia terlintas wajah Karin yang sedang menamparnya.


Hal itu membuat Valia mengangguk pelan "Aku lupa tentang hal itu, jadi mari kita tunggu dia dan sebentar lagi kita akan melihat pertunjukan yang menarik," ucap Valia sambil tersenyum manis.


Nero yang sedari tadi tidak mengetahui apapun justru terlihat cukup binggung dengan berada di antara keduanya, ia bahkan tidak tau apa yang telah di katakan oleh kedua wanita itu.


"Mereka sungguh makhluk yang aneh, aku bahkan tidak tau apa yang telah mereka katakan," ucap Nero sambil menikmati makanannya kembali.

__ADS_1


Dari kejauhan Granov bisa melihat tiga orang duduk di bawah pohon, ia pun langsung menghampiri ketiga orang itu dengan nafas tersengal sengal.


"Aku ingin bicara berdua dengan mu," ucap Granov yang baru saja tiba di tempat mereka.


Valia yang mendengar itu mulai tersenyum tipis, "aku menolak, jika kau ingin berbicara dengan ku, maka kau bisa melakukannya di sini," ucap Valia tanpa memandang Granov.


Seketika saja, wajah Granov berubah menjadi merah, tapi dalam sekejap, ia bisa mengontrol wajahnyadan kembali menjadi normal.


Granov harus tetap mengingat tujuannya mendatangi Valia, ia tidak boleh terbawa emosi, karena sekarang, nasib ibunya tengah berada di tangannya sendiri.


Granov melirik kearah Nero, "apa kau bisa meninggalkan kami?," tanya Granov dengan suara pelan namun menekan seluruh perkataannya.


Valia melirik tajam kearah Granov, "Kau hanya orang yang baru saja tiba, lantas, apa hak mu menyuruhnya meninggalkan kami?," tanya Valia dengan kesal.


Granov cukup terkejut mendekat perkataan Valia, ia pun mengalihkan pandangannya pada Valia, dan melihat wanita itu sudah meliriknya dengan sangat tajam.


Granov mulai terpancing kembali, ia cukup kesal mendengar perkataan Valia, lalu ia teringat mereka tengah berada di kampus.


"Jangan melewati batas, kita sedang berada di dalam kawasan kampus, jadi sudah seharusnya Junior seperti kalian menuruti perkataanku," ucap Granov yang berusaha mencoba membuat Valia tak berkutik.


Di dalam kampus, anak-anak senior menerapkan bahwa junior mereka harus mendengarkan seluruh perkataan senior, jika tidak, maka para junior yang tidak mau menaati aturan itu, maka akan di kenakan hukuman yang telah mereka buat.


Carmila dan Nero yang mendengar itu mulai membulatkan mata mereka, keduanya mengalihkan pandangan kearah Valia, mereka berdua tidak melihat adanya ketakutan di mata Valia, justru mereka melihat mata itu seperti tengah menantang Granov.


Valia pernah mendengar tentang hukuman itu, tapi ia sungguh tidak perduli, karena dirinya bukanlah Valia yang dulu. Jadi, hukuman senior dan Junior itu sungguh tidak berlaku untuknya.


"Kau ingin memainkan peran senior dan Junior?, baiklah, kau bisa melakukannya sesuai aturan yang telah para senior buat, tapi ingat satu hal, jika kau menyentuh satu jarimu padaku, maka aku tidak akan segan-segan untuk membunuh ibumu yang ada di dalam penjara," ucap Valia dengan di selingi senyuman smirk.


Nero dan Carmila terlihat syok mendengar perkataan Valia, "hei, apa kau sadar dengan ucapan mu?," ucap Nero yang mencoba menyadarkan Valia.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2