
Valia berjalan dengan langkah pelan serta di iringi oleh senyuman manis. ia keluar dari gerbang kampus dengan wajah yang begitu gembira.
Dari kejauhan pria itu terlihat sangat binggung dengan Valia yang tengah tersenyum manis, "apa nona memang memiliki sifat periang seperti itu?," batin pria itu.
Semua bawahan setia Xander sangat mengenal keluarga Samantha, bahkan mereka juga mengenal Valia, tapi Valia yang mereka kenal dulu adalah anak yang suka menunduk ketika berjalan, dan ia bahkan anak yang jarang sekali berbicara.
Dan sekarang pria itu melihat nona Valia nya justru tengah tersenyum manis, hal itu sungguh sangat jauh berbeda dengan Valia yang dulu mereka kenal.
Setelah Valia berjalan mendekati pria itu, Valia langsung berkata "Kak, aku sudah selesai, sekarang waktunya untuk kembali ke rumah," sambil tersenyum manis kearah pria itu.
Pria itu tersentak kaget, ia pun terus menatap Valia dengan binggung, "Dulu nona adalah orang yang sangat pemalu, tapi sekarang dia bahkan bisa tersenyum lebar setelah membunuh orang, ini benar-benar di luar dugaan" batin Pria itu.
Pria itu pun tidak mengatakan apa yang ada di kepalanya, ia justru langsung menepis pikiran jeleknya dan kembali menatap Valia dengan tatapan datar, "Nona bisa memanggil saya, Rein" ucapnya sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.
Valia terkejut melihat Rein berwajah datar, perubahan wajah itu mampu membuat Valia
terpaku.
Tapi tak bisa di pungkiri bahwa bawahan pamannya begitu sopan padanya, ia pun langsung menggelengkan kepala, "aku tetap akan memanggil mu dengan kakak, karena kau sedikit lebih tua dariku," ucap Valia sambil menatap ke arah Rein.
Rein yang mendengar itu hanya menghela nafas, "Baiklah, itu terserah nona saja, tapi sebelum itu, aku akan mengantar nona pulang dengan menggunakan mobil nona, dan aku akan membereskan segalanya," seraya sambil berjalan kedepan dan membuka pintu kursi penumpang.
Valia yang melihat itu menganga dengan perlakuan Rein yang membuatnya seperti ratu, "Kak, lain kali jangan perlakukan aku seperti ini, karena aku tidak ingin orang mengetahui bahwa aku adalah bagian dari keluarga Samantha." ucap Valia yang berjalan dengan cepat dan langsung memasuki mobilnya.
Rein terkejut mendengar hal itu, ia tidak menyangka bahwa Valia tidak ingin orang lain mengetahui hubungannya dengan keluarga Samantha.
Awalnya, Rein juga terlihat binggung karena Valia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, dan justru lebih memilih untuk berjalan kaki.
__ADS_1
Ternyata itu semua ada alasannya, dan yang pasti mampu membuat Rein begitu terkejut.
"Jika itu adalah anak lain, mereka pasti membanggakan harta keluarganya, tapi nona kami justru sangat berbeda, nona benar-benar luar biasa," batin Rein sambil menutup pintu mobil Valia dan ia pun berlari pelan dan masuk kedalam mobil.
Di dalam mobil terasa begitu hening, Rein sesekali melirik ke arah Valia, ia melihat Valia sedang memainkan ponselnya.
Seketika saja mata Rein melotot dengan sempurna, ia bahkan menghentikan mobil itu secara mendadak.
ccciiittt
Karena mobil mendadak berhenti membuat Valia terkejut dan hampir saja membuat kepalanya terbentur, "Ada apa?, apa kakak menabrak sesuatu?" ucap Valia terkejut sambil menoleh kearah Rein.
Kini, Rein menatap Valia dengan intens, "Nona, apa nona baru saja menghapus jejak cctv?" tanya Rein dengan serius.
Valia mengeryitkan dahinya, ia pun mulai terlihat kesal, "kakak menghentikan mobil seperti itu hanya karena masalah cctv?" tanya Valia dengan kesal.
Valia pun menghela nafas dengan pelan, dan tetap melihat kearah Rein, "Benar, aku hanya ingin meringankan beban paman saja," ucap Valia dengan santai.
Rein sudah tidak bisa berkata-kata lagi, ia lebih memilih menginjak pedal gas dan melajukan mobil itu.
Tapi di dalam pikirannya muncul berbagai praduga dan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tidak akan bisa keluar dari mulutnya.
"Sejak kapan nona belajar menghapus rekaman cctv?, aku melihat nona tidak pernah mempelajari hal ini. Pantas saja ketika membereskan jasad-jasad itu, aku memeriksa cctv dan tidak ada jejak dari nona, ternyata nona sendiri lah yang sudah menghapusnya, bahkan pada saat itu tuan Xander sendiri terlihat binggung karena tidak ada satupun jejak apapun di cctv itu"
...****************...
Di sisi lain, Delna sudah terlebih dahulu sampai dirumah, ia pun langsung membersihkan dirinya dan memasak di dapur.
__ADS_1
Lalu ia teringat dengan Gleni yang belum pulang, "Apa dia ada jam tambahan?" gumam Delna sambil memotong sayur.
Setengah jam telah berlalu, Delna pun sudah selesai berkutat di dapur, ia juga sudah menata makanan di atas meja.
Sesekali Delna melihat arloji yang tengah berada di tangannya, "sepertinya benar, kalau dia memiliki jam tambahan. Lebih baik aku makan terlebih dahulu" ucap Delna sambil duduk di kursi dan memakan makanannya dengan lahap.
Dua jam telah berlalu, Delna yang tengah duduk sambil menonton televisi terus saja teringat dengan Gleni. "Dimana dia?, kenapa dia lama sekali?, jika ada jam tambahan seharusnya saat ini dia sudah sampai rumah," gumam Delna sambil melihat arloji yang tengah menempel di tangan kirinya.
Saat ini jantung Delna juga tengah berdegup dengan kencang, ia tidak tau apa yang membuat jantungnya seperti itu.
Tapi yang jelas, pikiran Delna sekarang tengah tertuju pada sang adik. Delna pun mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi ponsel Gleni, tapi ternyata panggilan itu tidak tersambung.
"Kenapa tidak tersambung?," gumam Delna sambil menatap kearah ponselnya dengan wajah panik.
Delna dan Gleni adalah kakak beradik, Delna di terima sebagai dokter di kampus sedangkan sang adik di terima sebagai salah satu dosen di kampus itu.
Keduanya sama-sama memiliki sifat licik, Delna bahkan sangat mendukung keputusan sang adik yang sangat membela Jian daripada Valia.
Keduanya hanya ingin mengamankan posisi mereka, kehidupan kakak beradik itu tidaklah mudah, mereka harus bekerja keras kuliah sambil bekerja.
Dan keduanya belajar dengan giat dan berjuang keras agar bisa masuk kedalam kampus ternama itu, tapi karena merasa lelah dengan kemiskinan, mereka pun memilih jalan yang singkat sehingga kehidupan keduanya menjadi makmur dan sentosa.
Hari semakin larut, Delna terus menunggu sang adik, ia begitu cemas karena tidak melihat Gleni, ia bahkan terus mencoba menghubungi para dosen yang ada di kampus itu, tapi semua tampak sia-sia, karena para dosen tidak ada yang melihat Gleni.
Setelah mendengar jawaban yang sama dari para dosen, kecemasan Delna semakin menjadi-jadi, "kemana kau Gleni?, kenapa kau membuat kakak menjadi cemas?" gumam Delna sambil melihat ponselnya dan terus mencoba menghubungi ponsel sang adik.
Bersambung ...
__ADS_1