
Aksi heroik itu membuat orang yang sedang berkendara menghentikan mobil mereka.
Beberapa pengguna jalan berlari ke arah mobil Valia dan Carmila, mereka membuka pintu dan mengeluarkan keduanya dari dalam mobil.
Setelah Carmila dan Valia keluar, beberapa orang itu membantu menyenderkan keduanya di pembatas jalan, mereka pun membuat jarak antara Carmila dan Valia agar keduanya bisa bernafas dengan normal.
Lalu seorang wanita dengan raut wajah khawatir menghampiri Valia, "Nak, apa kalian baik-baik saja?," tanya seorang wanita paruh baya yang sedikit panik melihat keduanya tengah menghirup udara dengan rakus.
Valia dengan jantung yang masih berdegup kencang, tetap bertutur kata lembut dan terus memikirkan Carmila, "Saya baik-baik saja bibi, tapi sepertinya teman saya tidak, bisakah bibi membantu saya untuk menenangkan dia?," ucap Valia sambil menunjuk kearah Carmila.
Wanita paruh baya itu menoleh kearah Carmila yang berjarak sedikit jauh dari Valia, ia melihat Carmila terus menutup telinga dengan tubuh yang masih bergetar.
Wanita itu langsung menghampiri Carmila dan memeluknya, sedangkan Valia terus menarik nafas dan menghembuskannya secara kasar.
Kalau bukan karena memikirkan Carmila, Valia pasti akan menabrakkan mobil itu lebih brutal lagi, karena Valia pasti tidak akan membuat mereka mati dengan sangat mudah.
Mengingat wajah Carmila yang ketakutan, membuat Valia mengeram marah, "Jika aku sudah mengetahui siapa dalang di balik ini semua, maka aku pastikan kau mati dengan cara tersiksa, dan aku akan mencincang daging mu. Jika orang lain menyebarkan abu ke dasar sungai, maka aku akan menyebarkan dagingmu ke tempat yang sangat familiar untukmu!," geram Valia sambil mengepalkan tangannya dengan kuat.
Saat ini mata Valia terus mengarah pada Carmila, setelah dirinya merasa cukup tenang serta sudah kembali normal, Valia menghampiri Carmila yang tengah di peluk oleh wanita paruh baya itu.
Valia pun berjongkok dan tidak lupa mengucapkan kata yang seharusnya di berikan pad wanita paruh baya itu, "Terimakasih sudah mendengarkan permintaan saya bibi," ucap Valia menunjukkan rasa hormatnya.
Wanita itu terkejut mendengar perkataan Valia, ia bahkan memiliki kesan yang cukup baik pada Valia.
Ia menilai Valia memeiliki pribadi yang sangat baik, bahkan wanita itu melihat Valia lebih mengkhawatirkan temannya dibanding dirinya sendiri.
Bahkan wanita itu sudah melihat dengan kedua matanya sendiri bagaimana Valia mengontrol segala sesuatu itu di dalam mobil, lalu mereka yang ada di jalan juga melihat Valia yang bertukar posisi di saat-saat yang begitu genting.
__ADS_1
Mereka semua dapat melihat dengan sangat jelas, bahkan orang-orang mengeluarkan berbagai ekspresi, mereka yang mengelilingi Valia benar-benar takjub dengan wanita muda itu,
Karena kaca mobil Carmila dapat di lihat secara tembus pandang, maka semua pengguna jalan dapat mengetahui apa yang tengah terjadi di dalam mobil.
Wanita paruh baya itu sedikit penasaran dengan sesuatu, ia pun langsung bertanya pada Valia, "Nak, apa kau mengenal mereka?" tanya wanita itu dengan suaran pelan.
Valia yang mendengarkan pertanyaan itu langsung.m menggelengkan kepalanya dengan pelan, "tidak bibi, kami bahkan terkejut dengan adanya mobil yang tengah mengikuti kami," ucap Valia sambil memegang lengan Carmila.
Wanita itu bahkan tidak tau harus berkata apa, faktanya tidak mungkin seorang di ikuti tanpa alasan yang jelas, ia pun berpikir bahwa kemungkinan kedua wanita di depannya telah menyinggung seseorang, dan orang itu pun mulai menyewa pria bersenjata itu untuk membunuh keduanya.
Itulah yang ada di pikiran wanita paruh baya itu, ia benar-benar sangat yakin akan hal itu.
Valia melihat Carmila yang sangat membutuhkan pertolongan medis, "Sepertinya kita memenag harus pergi ke rumah sakit, tapi ... kita tidak memiliki kendaraan, jadi kita terpaksa harus taksi" gumam Valia sambil menoleh ke kanan dan kekiri dan membantu Carmila berdiri.
Valia melihat mobil mereka sudah tidak bisa di gunakan lagi, dan ia pun terlihat sedikit kebingungan.
Wanita itu mengetahui kekhawatiran Valia, ia pun berbicara pada bawahannya yng tengah berdiri di belakangnya.
"Aku baru saja memanggil polisi, jadi kemungkinan polisi sebentar lagi akan sampai ke tempat ini, tapi biarkan bawahanku yang memberi keterangan pada mereka, dan izinkan aku untuk mengantar kalian ke rumah sakit," ucap wanita paruh baya itu dengan lembut.
Valia menatap wanita itu dengan dalam, ia melihat ada ketulusan di dalam mata itu, dan Valia pun menyetujui perkataannya.
"Terimakasih bibi," balas Valia sambil memegang lengan kanan Carmila.
Carmila terlihat cukup tenang, tapi ia terus menunduk karena masih merasa sedikit ketakutan, bahkan ia menggenggam lengan kiri Valia dengan kedua tangannya.
Mereka berjalan beriringan dengan Carmila yang terlihat menyembunyikan wajahnya di pundak Valia.
__ADS_1
"Sepertinya ibu benar-benar ketakutan," batin Valia menoleh kearah Carmila.
Wajah Valia terlihat sangat sedih, ia benar-benar tidak sanggup melihat sang ibu menderita kembali.
"Padahal aku sudah berjanji untuk membuatmu bahagia, tapi lihatlah, sekarang kau justru tengah merasa ketakutan," batin Valia yang terus mengelus lengan Carmila.
Tanpa Valia sadari, wanita paruh baya itu terus melihat kearahnya, ia bahkan mengembangkan senyumnya untuk Valia.
"Dia anak yang kuat dan juga baik, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini," batin wanita paruh baya itu.
Setelah sampai di mobilnya, wanita itu pun membantu membuka pintu mobilnya untuk Valia dan Carmila.
Lagi-lagi satu perkataan Valia mampu membuat wanita paruh baya itu tersenyum, "Terimakasih bibi," ucap Valia sambil membungkukkan sedikit kepalanya.
"Masuklah Carmila," ucap Valia sambil mendorong pelan tubuh itu agar masuk ke mobil.
Terlihat jelas Carmila menolak menaiki mobil itu, bahkan tubuh yang sudah normal itu kembali bergetar.
Valia yang melihat itu melototkan matanya, benjolan yang ada di lehernya terlihat sangat jelas.
Wanita itu bahkan terkejut melihat kearah Valia, lalu ia pun menepuk tangan Valia, sehingga membuat Valia tersentak kaget.
Setelah wanita itu melihat Valia kembali normal, ia pun berbicara dengan pelan, "Biarkan bibi membantumu," tawar wanita itu sambil tersenyum.
Lalu Valia menormalkan ekspresinya dan mengangguk setuju, "nak, tidak ada yang akan melukaimu, kau akan aman jika bersamaku," bujuk wanita itu pada Carmila.
Carmila yang belum stabil mencoba mengangkat kepalanya dan menoleh kearah wanita itu, lalu ia langsung masuk kedalam mobil sambil manarik lengan baju Valia.
__ADS_1
Valia pun masuk kedalam mobil dan di kendarai oleh wanita itu, "Mereka pasti sangat sulit di pisahkan, yang satu sangat melindungi temannya, dan yang satunya justru tidak bisa lepas darinya, benar-benar menggemaskan," batin wanita itu sambil sesekali melirik ke kaca yang bisa memantulkan interaksi Valia dan Carmila.
Bersambung ...