
Semua orang yang ada di kantor melihat kearah Delna, mereka semua bahkan tau apa yang membuat wanita itu terdiam.
Senyuman mencibir kini tengah terpasang di wajah rekan-rekan Delna, sedangkan sang dekan sendiri tidak mengetahui apapun dan dalam kebingungannya sendiri.
"Ada apa Bu Delna?," tanya sang dekan.
Delna Tidak menjawab, dan hanya terus menangis, "bagaimana sekarang?, jika pendiri ingin mengorek informasi yang ada di kampus, maka seluruh perbuatan kami akan ketahuan," batin Delna.
"Apa jawabanmu?," tanya suara itu dengan lantang.
Delna tampak terkejut, ia pun menunduk dan menjawab dengan pelan, "tidak, saya akan berusaha sendiri, pak." jawab Delna dengan terisak.
Sedangkan sang dekan terkejut dengan perkataan Delna, "apa maksudmu?, bukankah kau sendiri yang memohon untuk bertemu pendiri?, sekarang orang yang kamu cari ada di depan mu, lalu kenapa kau menolaknya?," ucap sang dekan dengan binggung.
"Baiklah, aku menghargai keputusanmu," ucap Javier sambil mematikan sambungan itu.
Setelah mendengar perkataan itu, Delna bangkit dan langsung berlari keluar ruangan sambil terus menangis tanpa henti.
Sang dekan berbalik arah dan melihat para dosen, "Sebentar ada apa ini?," tanyanya dengan binggung.
Semua orang saling memandang satu sama lain, dan mereka pun mengangguk secara bersamaan.
Lalu mereka menyuruh sang dekan untuk duduk dan memberitahukan seluruh masalah yang ada di kampus.
Sang dekan benar-benar terkejut, ia tidak menyangka bahwa kedua kakak beradik itu yang notabennya sebagai dosen justru berbuat hal yang begitu kejam pada mahasiswa beasiswa.
__ADS_1
"Maafkan kami pak, karena tidak mengatakan apapun pada bapak," ucap salah seorang dosen yang tengah menyesal.
Sang dekan yang mendengar itu merasa sangat kesal, ia tampak marah dan beranjak dari duduknya, "Ini tidak bisa di biarkan!, aku harus melaporkannya pada tuan Javier!" ucap sang dekan yang akan segera melangkah pergi.
Namun tiba-tiba saja seorang dosen menghentikan langkahnya, "pak, sepertinya tuan Javier sudah mengetahui masalah ini sendiri, bukankah bapak mendengar pilihan yang di ajukan oleh tuan Javier?," ucap dosen lainnya dengan tenang.
Sang dekan yang mendengar itu pun langsung membenarkan perkataan itu, "pantas saja pilihan yang di ajukan pendiri membuat Delna tidak bisa berkutik," batin sang dekan.
Lalu dosen lainnya pun menceritakan alasan di balik kenapa mereka tidak memberitahukan sang dekan.
Segala ekspresi terlihat jelas di wajah sang dekan, tapi ia pun tidak bisa menyalahkan para dosen itu begitu saja, karena bagaimanapun ia tau bahwa para dosen itu tidak memiliki latar belakang yang bisa membantu mereka.
"Pantas saja seluruh dosen dan mahasiswa menutup mulut mereka rapat-rapat, ternyata ini ulah anak dari pemegang saham," gumam sang dekan.
Oscar sungguh tidak mengetahui apapun yang tengah terjadi di dalam kampus, ia memiliki waktu yang sangat padat sehingga membuat dirinya terus bolak balik ke luar kota.
"Jika saja aku lebih peka dengan sekelilingku, pasti semua ini tidak akan terjadi," gumam dekan sambil memijit pelipisnya.
Para dosen pun tampak melupakan sesuatu, lalu ia teringat dengan sang rektor, "Dan, ad ayang harus bapak tau, bahwa mereka bekerja sama dengan rektor juga pak," imbuh dosen lainnya.
Oscar yang mendengar itu melototkan matanya, "Apa?!" teriak Oscar dengan keras.
Ketika baru kembali dari luar kota, Oscar di kejutkan dengan berita tentang kematian Renzo, lalu tentang kematian 3 mahasiswinya, dan hilangnya adik Delna.
Ia bahkan tidak menyangka bahwa tuan Javier juga membatalkan libur untuk kampusnya, ketika mendapat kabar itu, ia langsung memerintahkan Kaliandra untuk membuat surat resmi dan mengedarkannya di forum kampus.
__ADS_1
"Aku tidak percaya bahwa pak Renzo, berbuat hal yang sangat keji seperti itu, sungguh aku tidak pernah menyangka dengan hal ini," gumam Oscar yang terus memijit pelipisnya.
...****************...
Di sisi lain ...
Kaliandra awalnya terlihat binggung dengan perintah Oscar, namun ia pun melaksanakan tugasnya dan tidak menanyakan alasan di balik kampus yang tidak jadi libur.
"Ini aneh, bukankah seharusnya pihak polisi meminta untuk meliburkan kampus agar mereka bisa leluasa menginvestigasi kasus-kasus itu?, tapi sekarang kenapa dekan menyuruhku untuk tidak meliburkan kampus?, lalu bagaimana dengan investigasi para polisi?," gumam Kaliandra yang tengah terduduk di taman sambil termenung.
Lalu tiba-tiba saja, seorang wanita menghampiri Kaliandra, ia pun langsung memeluk leher pria itu dari belakang. "Aku sangat merindukanmu," ucap wanita itu sambil bergelayut manja di leher Kaliandra.
Kaliandra tampak terkejut, tanpa wanita itu menyebutkan nama, Kaliandra bisa langsung mengenal pemilik suara itu.
"Sial!, kenapa wanita pengganggu ini kembali?," batin Kaliandra kesal
Dari awal hingga akhir, ia sangat tidak menyukai wanita itu, dan sejak wanita itu pergi, Kaliandra tampak memiliki sedikit kebebasan dan sekarang wanita itu kembali membuat Kaliandra tampak sangat kesal.
"Lepas!," ucap Kaliandra dengan kesal sambil melepaskan tangan wanita itu dari lehernya.
Kaliandra kini tampak menatap kearah wanita itu dengan tajam. ia sungguh sangat kesal dengan wanita yang terus mengganggunya tanpa henti.
Saat wanita itu berada di kampus, ia mengikuti Kaliandra tanpa henti sehingga membuat pria itu tampak tidak bisa bergerak sesuka hatinya.
"Kenapa kau berkata seperti itu?, apa kau tidak merindukanku?," tanya wanita itu dengan manja dan langsung duduk di samping kaliandra tanpa malu.
__ADS_1
Bersambung ...