
Sejak awal memasuki kampus dan mendapat ospek, mata Jian sudah sangat terpana dengan ketampanan Kaliandra, ia bahkan mencoba selalu mendekati ketua organisasi itu, tapi semua rayuan yang di berikan Jian tidak mampu membuat dinding pertahanan Kaliandra runtuh.
Lalu ketika Jian melihat Valia asli meminta tanda tangan Kaliandra, ia tampak sangat marah, dan saat keduanya saling bertabrakan, Jian pun berpikir untuk terus membuli Valia asli karena ia tidak terima melihat Kaliandra berlaku berbeda dengan Valia asli.
...****************...
Kaliandra terus berlari dengan sangat cepat, ia tidak perduli dengan mahasiswa yang terus melihat kearahnya.
Setelah sampai di ruangan rektor, Kaliandra mengatur nafasnya dengan baik, lalu ia pun langsung mengetuk pintu ruangan itu.
Tok
Tok
Tok
Kaliandra masuk dan melihat rektor tengah menunduk sambil memegang kepalanya.
Melihat itu, Kaliandra merasa yakin bahwa sang rektor sudah mengetahui apa yang sedang terjadi di kampus mereka, "Pak, para polisi itu meminta pada saya untuk mengosongkan kampus ini," ucap Kaliandra sambil melangkah dan berdiri di depan meja Renzo.
Renzo tampak mengeram marah, ia ingin melakukan itu, tapi jika pemilik kampus dan para memegang saham tau mengenai hal ini, maka dirinya yang akan di salahkan. "apa belum ada petunjuk tentang pelaku itu?" tanya Renzo yang mulai mendongakkan wajahnya sambil melihat kearah Kaliandra.
"Tidak ada pak, mengenai daging itu para polisi dan dokter belum menemukan titik terang, dan sama halnya mengenai kedua mahasiswi itu, saya pun juga belum mendapatkan bukti apapun."
"Lalu saya bertemu dengan teman dekat keduanya, sebelum mereka ke kamar mandi, keduanya tampak sedikit berselisih, tapi ternyata dia selalu bersama teman saya, jadi saya simpulkan bahwa dia tidak mengetahui tentang kejadian yang menimpa kedua mahasiswi itu" jelas Kaliandra.
Renzo pun tampak tersenyum, ia seperti memiliki ide licik, Renzo berpikir mungkin bisa menggunakan orang itu sebagai kambing hitam, jadi wajahnya tampak begitu cerah, lalu ia pun ingin mengetahui siapa teman dari keduanya.
"Siapa teman dari kedua mahasiswi itu?," tanya Renzo.
__ADS_1
Kaliandra yang melihat wajah Renzo mulai mengeryitkan dahinya, "Carmila," jawab Kaliandra dengan tegas.
Seketika saja, senyum Renzo memudar, ia tidak menyangka bahwa orang yang dekat dengan kedua mahasiswi itu adalah Carmila.
Renzo bahkan terlihat sangat lesu ketika mendengar nama Carmila, "Siapa sangka teman mereka adalah si bunga campus, dia juga berasal dari kalangan atas, aku tidak bisa membuatnya menjadi kambing hitam, jika itu terjadi maka sama saja akan menghancurkan karier ku, keduanya benar-benar menjadi pilihan yang sangat sulit." batin Renzo sambil menggebrak meja dengan sangat kuat.
Kaliandra tampak mengeryitkan dahinya, ia gerus menatap gerak gerik Renzo yang sedikit mencurigakan.
Tiba-tiba saja, Renzo teringat dengan seseorang yang mencari masalahnya, "Benar, aku harus membuatnya menjadi kambing hitam, bukankah dia hanya anak orang miskin?" batin Renzo yang mulai tersenyum smirk.
Lalu ia pun menetralkan wajahnya itu dan mulai menatap Kaliandra dengan mata yang begitu tajam, "Aku mencurigai seseorang, kau harus memanggil para polisi, dokter, Valia, dan Carmila," ucap Renzo itu sambil berdiri dengan tegak.
Kaliandra yang mendengar itu merasa sangat terkejut, ia pun menganggukkan kepalanya dan langsung keluar dari ruangan rektor.
"Kenapa dia justru memanggil Valia?, bukankah aku tidak ada menyebutkan namanya?," gumam Kaliandra yang sedang berjalan mencari Valia.
Kaliandra teringat bahwa Nero ada di antara mereka, lalu Kaliandra mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Nero.
"Kami berada di kelas, ada apa?" tanya Nero yang berada di ujung sana.
"Tunggu di sana, aku akan segera menyusul," ucap Kaliandra yang memutusakan panggilan itu dan segera berlari ke kelas Valia dan Nero.
"Aku ingin lihat, apa yang akan di lakukan Renzo" gumam Kaliandra dengan datar.
...****************...
Di sisi lain, Granov berada di taman, saat dirinya sedang termenung, ia mendengar dari mahasiswa lain yang bergosip tentang penemuan daging di gedung sebelah, dan juga tentang kedua mahasiswi yang disiksa di toilet sampai lidah keduanya di potong.
Granov yang mendengar itu tiba-tiba saja teringat dengan kasus sang adik, ia bergegas beranjak dari tempatnya dan berlari ke Kedung sebelah.
__ADS_1
Granov benar-benar penasaran dengan hal ini, karena ia sudah menunggu laporan polisi, tapi jawaban yang di berikan polisi sangat tidak memuaskan.
Granov berlari ke arah toilet untuk memastikan sesuatu, setelah sampai, ia melihat seorang polisi tengah berjongkok sambil memeriksa seluruh area toilet.
Polisi itu terkejut karena mendengar suara alangkah kaki mendekatinya, "bukankah sudah ku perintahkan untuk tidak mendekati lokasi ini?" ucap polisi itu tanpa menoleh.
Dengan nafas tersengal-sengal, ia pun langsung berbicara "Aku ini memastikan sesuatu," ucap Granov sambil berusaha mengatur nafasnya.
Polisi itu yang pun langsung berbalik, ia seakan familiar dengan wajah Granov, "Sepertinya aku pernah melihatmu," ucap polisi itu sambil berdiri.
"Benar, aku pernah datang ke kantor polisi," ucap Granov sambil berdiri tegak di depan polisi itu.
Polisi itu pun mulai mengingat kembali, dan benar saja, mereka berdua bertemu di kantor polisi saat Granov di periksa oleh temannya.
"Aku ingat, apa kau berkuliah di tempat ini?" tanya polisi itu sambil tersenyum.
"Aku ingin memastikan sesuatu, apa benar kalian tidak menemukan jejak apapun dari pelaku yang memotong lidah kedua mahasiswi itu?" tanya Granov yang sedang berusaha mengatur nafasnya.
Granov tidak menjawab pertanyaan itu, ia justru bertanya kembali pada polisi itu.
Seketika saja raut wajah polisi itu berubah menjadi datar, "benar, kami tidak menemukan bukti apapun, bahkan sidik jarinya juga tidak bisa kami temukan," jelas polisi itu.
Granov yang mendengar itu mulai memegang kepalanya, "kenapa kasus ini seperti kasus adikku?, mereka juga tidak menemukan jejak apapun di sekitar tubuh adikku," gumam Granov yang tengah berpikir.
Polisi itu mendengar gumaman Granov, walau terdengar kecil tapi polisi itu tidak salah dengar, "apa kasus adikmu juga seperti ini?," tanyanya.
Karena kasus adik Granov bukan lah di pegang oleh dirinya melainkan pada temannya yang lain, jadi wajah saja ia tidak mengetahui apapun tentang kasus adik Granov.
Granov menganggukkan kepalanya, "benar pak, apa jangan-jangan pelakunya adalah orang yang sama?, karena faktanya kalian tidak menemukan petunjuk apapun, sama seperti kasus adikku," ucap Granov dengan sedih.
__ADS_1
Ia sangat menyayangi adiknya, dan sekarang adiknya telah meninggalkannya untuk selamanya, Granov bahkan berpikir jika pelakunya tertangkap, ia tidak akan melepaskannya hidup-hidup.
Bersambung ...