
"Elena!"
Granov mencoba memanggil Elena, tapi adiknya itu sudah pergi sangat jauh dan tak terlihat lagi.
Di pinggir jalan, Elena sesekali menoleh kebelakang, sebenarnya ia benar-benar takut, tapi ia merasa harus menjalankan kewajibannya sebagai Siswa, yaitu datang ke sekolah tepat waktu.
Di ujung jalan, seseorang tengah tersenyum smirk, "Ini akan sangat menyakitkan, jadi kau harus menahannya, lagi pula aku tidak mengizinkan mu untuk mati dengan cepat," gumam orang itu sambil menatap lurus kedepan.
Tiba-tiba saja, ketika Elena menoleh kebelakang, ia melihat sebuah mobil tengah melaju dengan sangat kencang kearahnya.
Elena melototkan matanya dan mencoba berlari, tapi kecepatan kaki Elena kalah dengan kecepatan mobil itu.
Brakkk
Arrgghh
Elena terpelanting cukup jauh, ia merasa kakinya seperti mati rasa, disaat itu Elena terlihat masih sadar, tapi perlahan-lahan mata itu mulai tertutup dengan rapat.
Setelah menabrak Elena, Valia menghentikan mobilnya, lalu ia pun kembali memakai topeng, "Kenapa seperti Deja vu?," gumam Valia sambil memikirkan sesuatu.
Tapi ia menepis pikirannya dan langsung keluar dari mobil. Lalu Valia mencoba melihat ke kiri dan ke kanan.
Setelah memastikan semua aman, Valia langsung memasukkan tubuh Elena kedalam mobilnya.
Valia mengehentikan mobilnya di sebuah gudang yang sudah terbengkalai, setelah sampai, Valia membuka topengnya dan mengangkat tubuh Elena ke dalam gudang itu.
Valia melihat ada dua buah besi yang berdiri tegak dengan sejajar, Valia pun memiliki ide untuk mengikat kedua tangan Elena di sana.
Ia mencari tali dan kemudian memasangkan tali itu di kedua tangan Elena, "ini pemandangan yang sangat menakjubkan," gumam Valia sambil melihat maha karyanya yang tengah bergantung.
Valia melihat satu ember air yang berisikan banyak jentik-jentik di dalamnya, lalu ia mengambil air itu dan langsung menyiramkannya pada Valia.
Byuurrr
Engghh
Mata Elena perlahan-lahan mulai terbuka, ketika mata itu terbuka dengan sempurna, ia menoleh ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1
Rasa takut mulai menggerogoti tubuh Elena, tapi Elena justru melihat kedua tangannya juga terikat.
Ketika mata Elena menatap lurus kedepan, ia melihat wanita cantik berdiri dengan seperti model dan menatapnya.
"Ka-kau?, siapa kau?," ucap Elena dengan binggung.
"Orang yang datang dari masa depan," ucap Valia sambil menatap Elena dengan datar.
Elena yang tidak mengerti perkataan itu mulai terlihat kesal, "apa yang kau katakan?, lebih baik lepaskan aku!" teriak Elena.
Valia mengeryitkan dahinya, "Apa aku tidak mendengar ucapan ku?, aku katakan bahwa aku datang dari masa depan untuk membalaskan perbuatan kalian, bibi" ucap Valia dengan mata melotot dengan sempurna.
Elena terlihat mengeryitkan dahinya, "bibi?, siapa bibimu?! apa kau sudah tidak waras?!"teriak elena dengan keras.
Walau masih berada di sekolah menengah atas, tapi kelakuan Elena sangat lah bar-bar.
Dulu, Silyena juga mendengar dari cerita sang ibu, bahwa saat Granov memperkenalkan Carmila menemui keluarga mereka, Elena langsung menyemprot Carmila dengan kata-kata kasar.
Hal itu persis terjadi seperti yang di alami Silyena saat ini, walau dalam situasi yang berbeda tapi ia mulai mengerti seperti apa dulu ibunya di marahi oleh Elena.
Elena yang mendengar kata ambigu itu benar-benar merasa marah, "Aku tidak mengerti apa yang kau katakan!, lepaskan aku wanita ja*lang!" teriak Elena sambil meronta-ronta.
Karena kedua tangannya menggantung, Elana merasakan sakit di bagian kedua pundaknya, ketika dirinya meronta, pundaknya bahkan menimbulkan bunyi yang membuat Elena tidak bergerak lagi.
Elena menoleh melihat kearah pundaknya, ia benar-benar takut jika kedua tangannya benar-benar patah.
Valia melihat Elena tengah ketakutan, ia pun tertawa dengan keras, "Haha ... kau terlihat takut tangan mu akan patah, tapi kau lupa bahwa kaki mu sudah tidak bergerak daritadi," ucap Valia di sela tawanya.
Kini, Elena menyadari bahwa perkataan Valia benar, ia sudah tidak merasakan kakinya lagi, "Kaki ku!" ucap Elena sambil melihat kearah Kakinya yang sudah benar-benar tidak bergerak.
Elana menatap tajam kearah Valia, "Apa yang aku lakukan pada kaki ku!" teriak Elena dengan marah.
"Aku tadi sengaja menabrak mu, dan aku baru menyadari bahwa kaki mu sudah tidak bisa bergerak lagi, itu saja" ucap Valia sambil menaik turunkan kedua pundaknya.
"Sialan!, dasar wanita ja*lang!" teriak Elena dengan cairan bening yang mulai menetes.
Valia menatap tajam kearah Elena, "Mulut mu itu benar-benar kotor, sepertinya aku harus mencari pencuci mulut yang sangat segar," ucap Valia sambil menggeretakkan giginya.
__ADS_1
Valia melihat sebuah botol yang berisikan oli, ia mengambil botol itu dan langsung berjalan kearah Elana.
Elena merasa tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, "Hentikan!, apa yang akan kau lakukan dengan benda itu!" teriak Elena yang sudah berkeringat dingin.
"Sepertinya kau benar-benar tuli!, aku ingin mencuci mulut kotor mu itu!" ucap Valia dengan menekankan semua perkataannya.
Valia langsung mencengkram rahang Elena dengan kau, lalu ia pun memasukkan oli itu kedalam mulut Elena.
"Hentikan!" teriak Elena sambil mencoba meronta-ronta.
Tapi, Valia tidak menghentikan aksinya, ia justru mencengkram lebih kuat dan mendongakkan wajah Elna agar semua oli itu bisa tertelan oleh Elena.
Elena sudah tidak berbuat apapun, ia hanya bisa pasrah di perlakukan dengan kejam oleh Valia.
Setelah oleh itu habis, Valia langsung melepaskan tangannya dari rahang Elena.
Uhuk
Uhuk
Uhuk
Elana terbatuk dan memuntahkan sebagian oli itu, "Apa kau membuangnya karena mulutmu sudah bersih?," tanya Valia dengan sorot mata yang tajam.
Elena tampak terlihat lemas, "sebenarnya siapa kau?, kita tidak pernah bertemu, tapi kau terus saja meneror ku dan sekarang kau menyiksaku," ucap Elena dengan diiringi suara tangis.
"Aku Silyena Amoriya, aku anak dari Granov Amoriya," ucap Valia dengan memperkenalkan dirinya.
Elena tampak terkejut, ia terus menatap Valia dengan tidak percaya, "Amoriya?, tidak mungkin, kakak tidak memiliki anak!" bantah Elena dengan keras.
"Tentu saja di tahun ini dia masih belum memiliki anak, tapi satu tahun kemudian dia akan di anugrahi seorang anak dan itu adalah aku. Bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku berasal dari masa depan, dan aku kembali ke masa ini karena aku ingin menghabisi keluarga ayahku, agar masa depan yang pernah ku lalui tidak akan pernah terulang lagi!" ucap Valia dengan mata yng sudah menatap Elena dengan tajam.
Elena yang mendengar itu merasa sangat terkejut, bahkan ia masih tidak mempercayainya, tapi, ia melihat mata Valia begitu sangat marah padanya, bahkan elena bisa melihat seperti tidak ada kebohongan di mata Valia.
Tiba-tiba saja sebuah pertanyaan terlintas dalam kepala Elana, "Memangnya masa depan seperti apa yang telah kau jalani?," tanya Elena yang langsung mengutarakan pertanyaan pada Valia.
Bersambung...
__ADS_1