
Carmila terus saja menggenggam tangan Valia, ia tampak masih syok dengan kejadian yang baru saja mereka alami.
Sedangkan Valia yang membawa mobil terlihat biasa-biasa saja, ia bahkan sibuk menenangkan Carmila yang tengah gemetar.
Wanita paruh baya itu terlihat sedikit binggung melihat wajah Valia, "dia seolah bersikap tidak terjadi apapun, ini benar-benar di luar dugaan," batin Wanita itu.
Kini mereka telah sampai di rumah sakit terbesar di kota Rotterdam, dari luar, rumah sakit itu tampak luas dan begitu mewah, dan disana terpampang jelas nama dari rumah sakit itu, yaitu Nosawn Hospital.
"Aku akan langsung mengantar kalian ke salah satu dokter kenalan ku," ucap wanita itu sambil memimpin jalan.
Lalu mereka kini sampai di sebuah ruangan yang tengah tertutup rapat, lalu wanita itu membuka pintu, dan mereka semua melihat seorang dokter tengah duduk di kursi kebesarannya.
Valia yang melihat itu benar-benar terkejut, ia bahkan sedang membulatkan matanya, "Pa—, ah dokter tolong teman ku," ucap Valia yang langsung mengedipkan matanya.
Kaily yang melihat ekspresi Valia, serta mendengar kata yang tidak selesai itu membuatnya mengeryitkan dahi.
Sedangkan dokter itu terkejut melihat salah satu dari ketiga wanita yang telah membuka pintu ruangannya, dan ketika ia mendengar sapaan asing itu membuat sang dokter mengerti akan situasi mereka.
"Baiklah, tolong baringkan dia di atas tempat tidur ini," ucap sang dokter sambil membuka tirai yang ada di ruangannya.
Valia langsung membawa Carmila dengan pelan, lalu ia membantu membaringkan tubuh Carmila di atas tempat tidur.
"Sebenarnya ada apa dengan mereka, kak Kaily?" tanya dokter itu sambil memeriksa Carmila.
Dokter itu bahkan sesekali melirik kearah Valia, "mereka diikuti oleh sebuah mobil dengan orang-orang yang membawa senjata, tapi dia bisa menghindari mereka dan mendorong mobil orang tersebut ke dalam laut, beruntung merek baik-baik saja dan tidak terkena tembakan itu," jelas Kaily.
Sedangkan dokter itu sudah melotot dengan sempurna, ia melihat Valia dengan mata menyelidik, dan ia membenarkan perkataan Kaily bahwa Valia dan temannya terlihat baik-baik saja.
__ADS_1
Valia yang melihat mata dokter itu langsung membuang wajahnya ke sembarang arah, "Sialan, kenapa paman melihatku seperti itu, lagipula aku tidak terluka sedikitpun" batin Valia yang tidak suka melihat tatapan dari Xander.
Ya benar, awalnya ketika melihat Xander, ia ingin memanggilnya dengan sebutan paman, tapi setelah Valia memikirkannya lagi, membuat Valia tidak jadi memanggilnya dengan sebutan akrab itu.
Bagaimana pun pamannya adalah seorang dokter terkenal yang memiliki berbagai gelar, tapi yang paling utama adalah sang paman lebih terkenal dengan bidang ahli forensik.
Jadi yang ada di dalam pikiran Valia adalah menjadi kenalan pamannya pastilah orang-orang ternama, dan kemungkinan wanita paruh baya yang ada di sampingnya juga pasti salah satu dari orang ternama tersebut.
Setelah memeriksa Carmila, Xander menghela nafas pelan, "dia hanya mengalami syok, kau bisa berbincang ringan dengan temanmu agar dia bisa cepat melupakan traumanya itu," ucap Xander sambil melihat kearah Valia.
Valia mengangguk, "baik dokter, terimakasih sudah membantu," ucap Valia sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.
"Aku dan dokter Xander akan keluar sebentar, kau bisa menemani teman mu di sini," ucap Kaily sambil menepuk pelan pundak Valia.
Xander dan Kaily keluar dari ruangan itu, lalu Kaily menatap Xander dengan menyelidik, "apa kau mengenal salah satu dari mereka?," tanya Kaily memajukan wajahnya mendekati Xander.
Xander memasang wajah dingin dan menjauhkan tubuhnya dari Kaily, "tidak, aku bahkan baru pertama kali melihat mereka," jawab Xander dengan datar.
Sedangkan Xander menganga dengan lebar, jika Kaily mengetahui sifat keponakannya itu, maka entah apa yang akan terjadi, "kau hanya menilai dari luarnya saja, tapi jika mengetahui sifat aslinya, kemungkinan kau akan ilfeel dengannya," batin Xander yang mulai tertawa kecil
"Haha ... kakak yakin?," tanya Xander yang semakin lama tertawa dengan keras.
Kaily yang mendengar tawa itu mengeryitkan dahinya, "Aku benar-benar ingin menjadikannya menantuku, apa itu salah?," tanya Kaily dengan binggung.
Xander menghentikan tawanya, "tidak apa-apa, semoga kakak tidak menyesal saja," ucap Xander sambil kembali masuk kedalam ruangannya.
Ketika Xander masuk kedalam ruangan kembali, ia melihat Valia tengah memainkan ponselnya dengan ekspresi wajah yang sangat sulit di artikan.
__ADS_1
"Ada apa dengannya kenapa dia terlihat begitu serius?," batin Xander sambil berjalan mendekati kearah Valia.
"Paman, aku sudah menduga bahwa ini adalah pekerjaan seseorang, aku harus membunuhnya karena dia sudah berani mengancam nyawa temanku," bisik Valia dengan pelan.
Xander berdiri di samping Valia sambil melihat keadaan Carmila yang tengah tertidur, sedangkan Valia duduk di samping tempat tidur Carmila dan kini ia duduk di tengah yang di himpit oleh meja dan Xander.
Xander terkejut mendengar perkataan Valia, ia tidak menyangka bahwa Valia begitu peduli kepada temannya yang tengah terbaring di tempat tidur.
"Kenapa kau sangat peduli padanya?," tanya Xander dengan pelan.
Valia yang mendengar itu langsung menjawab dengan tegas, "Karena dia satu-satunya temanku di kampus, jadi, siapapun yang mengancam nyawanya, maka akan berhadapan dengan ku," balas Valia lagi.
"Maaf paman, aku belum bisa menceritakan apapun padamu, yang jelas suatu hari nanti kau pasti akan mengetahui semuanya," batin Valia yang terus melihat ponselnya.
Xander yang mendengar itu merasa tidak curiga, ia pun menganggukkan kepalanya dengan pelan, "baiklah, kau bisa melakukannya, kalau bisa, jangan melakukannya sendirian, aku takut kau tidak bisa melawan mereka sendirian," ucap Xander lalu meninggalkan Valia untuk menjaga Carmila.
Kini, Valia sudah menemukan siapa dalang dari kecelakaan yang mereka alami, sorot mata itu terlihat sangat murka, "Haaa ... sepertinya aku harus melaksanakan janji ku itu padamu," gumam Valia yang sudah menggenggam ponselnya dengan erat.
...****************...
Di sisi lain, beberapa orang tengah tertawa bahagia, "Haha ... bagaimana Jian?, sepertinya ide kita berjalan dengan lancar," ucap Gleni di sela tawanya.
Jian tersenyum senang dengan ide yang di berikan Gleni, mereka bahkan kini tertawa dengan gembira.
"Kau ingin melawanku?, maka kau harus melewati banyak rintangan" geram Jian dengan amarah menggebu-gebu.
"Tenang saja, rencana kita pasti berjalan dengan lancar, pasti sekarang dia tengah terkapar di tengah jalan yang dingin itu," ucap Gleni yang sangat bahagia.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Jian teringat akan seseorang, "Tapi bu?, bagaimana dengan wanita yang satunya?, bukankah dia wanita kaya?, jika keluarganya melibatkan polisi maka kita pasti akan ikut terseret" ucap Jian yang teringat dengan Carmila.
Bersambung ...