Deadly Cold Woman

Deadly Cold Woman
Menaburkan Daging Sesuai Janji


__ADS_3

Valia terlihat sangat senang, ia bahkan tersenyum sambil mencincang daging Gleni, tiba-tiba saja ia teringat dengan satu hal, "Aku sudah membantu membalaskan dendam mu, Valia. Jadi jika kau menghantui ku lagi, maka aku dengan senang hati menghabisi nyawaku sendiri di depan orang tua mu," gumam Valia sambil menancapkan pisau itu dengan kuat di tangan Gleni, hingga terdengar suara yang begitu mengerikan.


Kreeekk


Valia melihat kearah pisau itu, ternyata pisau itu telah membuat tulang tangan Valia retak, "lagipula kau sudah mati, jadi kau tidak akan merasakan sakit lagi walau tubuhmu sudah ku cincang seperti daging sapi," gimana Valia yang terus melanjutkan memotong daging di bagian tangan dan kaki Gleni.


Lalu Valia mulai mencari sebuah kotak di sekelilingnya, namun ia tidak menemukan apapun.


Tiba-tiba Valia teringat bahwa di dalam mobil pamannya terdapat sebuah kotak obat yang berukuran besar.


Valia langsung berjalan kearah mobilnya dan mengambil kotak itu, lalu ia mengeluarkan seluruh isi dalam kotak itu ke bagian belakang mobil.


Setelah memotong daging itu kecil-kecil, Valia mengumpulkannya dan langsung memasukkan nya kedalam box.


Valia berdiri dan menatap mereka dengan dalam, "Dasar wanita sampah!, bisa-bisanya orang sepertimu menjadi dosen di universitas ku!" ucap Valia sambil menendang wajah Gleni.


Valia terus bergumam dengan sorot mata yang begitu tajam, "Aku akan membiarkan mereka melihat seperti apa daging dosen yang selama ini telah membela mereka," gumam Valia sambil tersenyum smirk.


Setelah memotong tangan dan kaki, kini Valia hanya menyisakan bagian badan, kepala serta tulang tangan dan kaki saja.


"Ini baru benar, sekarang waktunya kembali ke kampus, tapi sebelum itu aku perlu meminta seseorang untuk mengantarkan satu set pakaian," gumam Valia sambil menunduk dan seluruh tubuhnya sudah di lumuri oleh darah.


Valia masuk ke mobilnya dan memasang kedua earphone nya, ketika panggilan itu tersambung, Valia dengan manja mengatakan, "Paman, tugasku sudah selesai, bisakah paman mengantar satu set pakaian ku?," tanya Valia dengan nada bicara yang cukup pelan.


"Maaf Valia, paman masih memiliki banyak pekerjaan, tapi kau tenang saja, paman akan memerintahkan beberapa bawahan paman untuk membereskan jasad itu, dan sepertinya paman harus memberi satu pengawal yang cukup handal padamu, agar kau tidak perlu repot untuk menghubungi paman lagi, bagaimana?" ucap Xander dari ujung sana.


"Baiklah paman, aku akan mengikuti saran paman, aku juga akan mengirim lokasi jasad itu, dan paman, tolong katakan pad bawahan paman untuk bertemu di dekat kampusku," ucap Valia sambil menyetir mobil untuk kembali ke kampus.


"Baiklah, kau hanya tinggal menunggu," ucap Xander dari ujung sana lalu mematikan panggilan itu.


Valia menggaruk dan tersenyum, "Beruntung Valia asli memiliki paman yang baik seperti ini, karena jika aku melakukannya sendiri, maka balas dendam ini akan memakan waktu yang cukup lama," gumam Valia sambil membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


...****************...


Di sisi lain, saat Valia keluar dari ruangan, Kaily sedang sibuk menghubungi anak laki-lakinya, dan saat itu juga sebelum meninggalkan Carmila, Xander langsung meminta tolong pada Kaily untuk menjaga Carmila.


"Kak, tolong bantu aku untuk menjaga pasienku, aku memiliki sesuatu yang harus aku kerjakan," ucap Xander yang meminta tolong pada Senior di kampusnya dulu.


"Baiklah, aku akan menjaganya," ucap Kaily sambil mengangguk kepalanya, ia bersedia menjaga Carmila sambil menunggu anak laki-lakinya.


"Terimakasih kak," ucap Xander yang bergegas keluar dari ruangan.


Kaily adalah senior Xander di kampus tempat nya berkuliah, Xander juga cowok populer di kampusnya, sehingga banyak wanita yang selalu mengejarnya.


Sebagai senior, Kaily mengusir para wanita itu untuk menjauhi Xander, walau umur Kaily lebih tua, tapi Xander lebih nyan berteman dengannya dan mereka pun menjadi dekat satu sama lain.


Sedangkan di dalam ruangan, Xander tengah di sibukkan dengan berbagai dokumen pasien, ketika ponselnya berbunyi, ia melihat nama Valia tertera di layar ponselnya, ia tersenyum dan langsung menjawab panggilan itu tanpa menundanya.


Setelah panggilan selesai, Xander menghubungi bawahannya dan memerintahkan mereka untuk bergerak ke lokasi yang di kirimkan Valia.


[Bawalah satu set pakaian wanita, dan berikan itu pada nona Valia, dan posisi nona Valia saat ini tengah berada di kampusnya, jadi selama kau bersamanya tolong jaga dia untukku]


Setelah menyelesaikan masalah Valia, Xander pun memulai kembali fokus dengan dokumen yang ada di depannya.


Bawahan yang menerima pesan dari Xander langsung bergegas pergi meninggalkan tempat mereka.


...****************...


Valia sudah memarkirkan mobil Xander tepat di belakang mobilnya, ia terus menunggu di pinggir jalan.


Setelah beberapa menit berlalu, seorang pria mengetuk pintu mobil Valia, sedangkan Valia sontak merasa kaget.


"Nona, saya sudah membelikan pakaian yang cocok untuk nona," ucap pria itu sambil menyodorkan sebuah paper bag hingga menempelkannya pada kaca mobil

__ADS_1


Mendengar hal itu, Valia sudah mengetahui bahwa pria itu adalah bawahan sang paman.


Ia menurunkan kaca mobilnya, dan melihat seorang pria yang memiliki tubuh atletis sedang melihat kearahnya dengan tatapan intens.


"Terimakasih," ucap Valia sambil mengambil papperbag itu dan menutup kaca mobilnya kembali.


Valia dengan cepat mengganti semua pakaiannya, lalu ia melempar pakaian kotor itu kebelakang mobil.


Setelah kaca tertutup, pri itu langsung memutar tubuhnya, "apa mayat yang selalu kami bereskan itu adalah ulah nona?," batin pria itu.


Kerena, ketika Valia menurunkan kaca mobilnya, ia melihat seluruh pakaian Valia terdapat noda merah, bahkan aromanya begitu sangat amis.


Sedangkan pria itu yang selalu berurusan dengan mayat sangat mengetahui bahwa orang yang tengah terhirup olehnya adalah aroma darah.


Setelah Valia selesai berganti pakaian, Valia keluar dan mengeluarkan kotak itu.


Lalu Valia ingin melangkahkan kakinya, lalu ia menoleh ke arah pria itu, "kak, tolong tinggal lah disini, karena aku tidak akan lama," ucap Valia sambil tersenyum.


Pria itu mengangguk dan berdiri di dekat mobil Xander, lalu Valia berjalan kaki ke kampusnya, setelah berada di depan gerbang, Valia melihat bahwa kampus itu terasa sangat sepi.


Melihat peluang yang sangat bagus itu membuat Valia tersenyum smirk, "ini benar-benar bagus," gumam Valia sambil melangkahkan kakinya dan melangkah memasuki gedung.


Kini Valia sudah berada di ruangan Gleni, lalu ia tersenyum sambil menaburkan daging tubuh Gleni di lantai dan di meja kerjanya.


"Sekarang janji ku sudah lunas!, jadi musuhku hanya tinggal beberapa orang lagi saja" ucap Valia tersenyum senang.


Ruangan itu terlihat bagai lautan darah dan daging, setelah menaburkan nya, Valia tetap membawa kotak itu padanya dan ia pun langsung menutup pintu ruangan itu.


Valia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, tidak di sangka ternyata seseorang melihatnya dari kejauhan, tapi Valia tidak menyadari hal itu.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2