Deadly Cold Woman

Deadly Cold Woman
Skakmat!


__ADS_3

Granov yang melihat itu justru mulai ketakutan, "Ada apa dengan raut wajahmu kak?, tadi kau ingin melakukan apa?" tanya Valia dengan nada dingin dan wajah datar.


Saat itu, ketika suasana menjadi hening, Valia sedikit mengintip dan ia melihat wajah Granov yang terlihat kesal, dan saat itu juga ia pun langsung memunculkan dirinya.


"Berani sekali pria ini menatap ibu dengan tatapan marah, bahkan tadi dia seperti sudah siap ingin melontarkan kata-kata makian untuk ibu," batin Valia kesal


Granov terkejut mendengar perkataan Valia, ia juga bisa melihat bahwa tatapan Valia terlihat sangat membencinya, dan ia ingin menanyakan itu pada Valia, tapi entah kenapa perkataan yang sudah ada di lubuk hatinya justru tidak bisa keluar dari mulut Granov, "Ti-tidak ada, aku hanya terkejut karena Carmila membawamu bersamanya," ucap Granov mencoba menjawab senatural mungkin.


Valia semakin menatapnya dengan tajam, "apa kakak membiarkan kami hanya berdiri di depan pintu saja?, kami ini bukanlah penagih hutang, walau aku terlihat miskin darimu, tapi setidaknya aku tidak menggunakan harta pemberian orang lain untuk ku gunakan" sindir Valia.


Carmila justru terkejut mendengar perkataan Valia, ia pun menoleh kebelakang dan seketika saja Valia merubah ekspresinya menjadi tersenyum.


"Kenapa kau mengatakan seperti itu pada kak Granov?" tanya Carmila dengan mengeryitkan dahinya.


Valia pun mulai tersenyum canggung, "aku hanya bercanda, bukankah penagih hutang berdiri di depan pintu?, dan itu mirip sekali dengan kondisi kita saat ini, lagipula aku hanya asal bicara saja agar kita tidak terlalu canggung haha .... " ucap Valia sambil tertawa kecil.


Granov bahkan terkejut terkejut mendengar perkataan Valia, dan ia juga bisa melihat perubahan reaksi dari wajah Valia yang begitu cepat, Granov bahkan merasa bahwa tatapan yang di berikan padanya seolah hany ilusi semata.


"Kenapa dia mengatakan seperti itu?, apa hanya pikiranku saja bahwa tadi dia menyindir aku?, dan sepertinya aku juga salah melihat ekspresi wajah Valia, dia tidak mungkin membenciku, karena aku hanya pernah bertemu dengannya saat dia tiba-tiba memeluk Carmila" batin Granov menggelengkan kepalanya dengan pelan.


Granov pun langsung membuka pintu rumahnya dengan lebar. "Silahkan masuk," ucap Granov dengan menyambut keduanya.


Sedangkan Carmila mulai menoleh kearah Granov dan tersenyum, ia memegang tangan Valia dan menariknya untuk masuk kedalam.


Valia yang sudah masuk kedalam mulai menyusuri setiap sudut rumah itu dengan matanya, lalu ia melihat berbagai bingkai foto yang terpajang jelas di dinding rumah Granov.

__ADS_1


Seketika saja Valia tersenyum smirk, lalu keduanya pun duduk di sofa, sedangkan Granov melihat para tamunya sudah duduk dan ia pun langsung bergegas ke dapur untuk membuatkan sesuatu.


Lalu Valia melihat dengan mata berbinar "Wahh ... rumah kakak sangat luas," ucap Valia dengan antusias.


Carmila yang melihat itu justru tersenyum, ia tidak malu membawa Valia yang bersikap seolah-olah baru pertama kali masuk kedalam rumah yang besar.


Di mulut Valia mengeluarkan kata kagum, tapi di hatinya di berdecih kesal, "Cih, menjijikkan, sampai kapan aku berperan seperti orang miskin seperti ini," batin Valia yang kesal menjalankan peran yang sudah di dalami oleh pemilik tubuh.


Lalu Valia pun melihat di setiap dinding dan ternyata disana ia melihat sesuatu yang menarik, senyum manis pun semakin terbit di bibirnya, "Akan ku buat kalian mengingatnya kembali" batin Valia sambil menelusuri lagi seluruh dinding yang ada di sekelilingnya. "Kak Granov, apa mereka semua adalah keluargamu?," tanya Valia sambil menunjuk kearah sebuah foto dan Valia menunjuk kearah foto Elena.


Granov yang masih berada di dapur bisa mendengar suara lantang itu, sontak saja hal itu membuat Granov mengepalkan kedua tangannya.


Lalu Granov menoleh dan melihat mata Valia mengarah ke foto keluarganya, ia bahkan tidak mengeluarkan suaranya sedikitpun.


Belum sempat Carmila menyebutkan nama lengkap itu, tiba-tiba saja terdengar suara Granov yang sangat menggelegar, "Carmila!" ucap Granov sambil menghentikan perkataan Carmila.


Carmila dan Valia yang mendengar itu pun merasa terkejut, walau Valia mengetahui sifat sang ayah di masa depan, tetap saja Valia tidak menyangka bahwa ia bisa mendengar suara lantang itu lagi di kehidupannya yang sekarang.


Valia yang mendengar itu pun tidak tinggal diam, ia berdiri dan menoleh kearah dapur, "Di kampus aku mendengar kau begitu baik pada Carmila, tapi di belakang mereka kau justru memperlakukan Carmila dengan sebaliknya, sebenarnya apa mau mu?, apa kau pikir kau bisa seenaknya saja melakukan apapun padanya hanya karena dia berada di rumah mu?," tanya Valia dengan menatap Granov dengan tajam.


Granov yang mendengar itu pun merasa sangat terkejut, dan ia benar-benar tidak menyangka bahwa lagi-lagi Valia menebak dengan benar.


"Ti-tidak seperti itu," ucap Granov dengan gugup.


"Tidak seperti itu?, lalu apa maksudmu memanggilnya dengan nada seperti itu?, aku hanya bertanya dan dia menjawab, memangnya dimana letak kesalahannya?," cerca Valia dengan berbagai pertanyaan.

__ADS_1


"Skakmat!" batin Valia.


Lalu Carmila pun menunduk, ia sedikit malu karena dirinya tidak bisa mengatakan apapun dan justru Valia lah yang membelanya.


Jadi ia tidak mungkin menghentikan Valia begitu saja, karena Carmila merasa dirinya memang tidak bersalah.


Sedangkan Granov justru terdiam dan tidak bisa mengatakan apapun, "Sial!, bisa-bisanya dia memarahiku di rumah ku sendiri!," batin Granov kesal tapi ia tidak menunjukkan wajah ketidak sukaan nya itu.


"Ma-maafkan aku," ucap Granov sambil melihat kearah Valia dengan memperlihatkan wajah bersalah nya.


Sedangkan Valia mengeryitkan dahinya, ia tidak akan bisa tertipu dengan raut wajah yang perlihatkan pada Granov."aku tau bahwa kau sudah merasa sangat kesal, akun ingin lihat sampai kapan kau bisa menahan rasa kesal yang menumpuk di hatimu itu" batinnya.


"Jika kau tidak senang melihat keberadaan ku, maka aku akan pergi sekarang," ucap Valia sambil mengambil tasnya.


Dan sebelum melangkahkan kakinya, ia menoleh kearah Carmila. "Kau mau ikut pulang atau kau masih mau di tempat ini?," tanya Valia dengan wajah datar.


Carmila tampak terkejut dengan pertanyaan yang di ajukan oleh Valia, ia terlihat sangat bingung, karena keduanya adalah orang yang sangat penting untuk Carmila.


Dan jika Carmila membiarkan Valia pulang sendirian, maka ia tidak bisa membayangkan jikalau ada bahaya yang menimpa Valia.


Tapi di sisi lain, Carmila sedang menjenguk pacar yang selama ini jarang memeilikis waktu untuknya.


Kedua pilihan itu merasa membuat Carmila kesulitan, "apa yang harus aku lakukan?," batin Carmila sambil berpikir keras.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2