Deadly Cold Woman

Deadly Cold Woman
Teror yang di Dapat Elena


__ADS_3

Valia pun mengirim pesan yang sama sekali lagi.


Ting


[Aku akan terus mengirim mu pesan, sampai kau membalas pesanku].


Elena kembali membuka pesan itu, dan ia pun mengernyit kan dahinya dengan heran, "Apa kalian yakin bahwa ini pesan orang iseng?," tanya Elena yang mulai ketakutan.


Teman pertama Elena terlihat sangat cuek, ia masih berpikir bahwa pesan itu adalah pesan yang tidak seharusnya di pikirkan, "sudahlah, lupakan saja pesan itu, sekarang adalah waktunya untuk kita bersenang-senang," ucapnya.


Dan teman kedua Elena langsung menggandeng lengan Elena dan mereka pun dengan cepat memasuki sebuah cafe yang sangat terkenal.


Lagi-lagi Elena mengabaikan pesan Valia, sedangkan Valia, justru memilih membereskan barang-barang dan pergi dari kampus.


...****************...


Rila dan Jian masih berada di kelas, kini beberapa polisi masuk kedalam kampus dan memanggil kedua wanita itu.


Para mahasiswa yang belum pulang melihat para polisi itu menggiring Rila dan Jian masuk kedalam mobil polisi.


Mereka tampak sangat binggung, karena ini sudah kedua kalinya mereka melihat Jian dan Rila berurusan dengan polisi.


"Apa mereka terlibat dengan kematian Asra?,"


"Hush, kau harus menutup mulut mu, apa kau ingin di keluarkan dari kampus ini karena telah memfitnahnya?,"


"Tapi aku sungguh penasaran, bagaimana Valia memberikan syarat setelah wanita itu keluar dari kantor polisi?, apa dia sudah memperkirakan bahwa Jian tidak akan pernah masuk kedalam penjara?, Jian bahkan lolos dari taruhan yang dia lakukan dengan Valia, dan apa menurut kalian Valia akan membiarkannya Jian lolos begitu saja?,"


"Tentu saja tidak, karena Valia yang sekarang sungguh sangat mengerikan. Aku bahkan tidak sanggup untuk menatap matanya,"


Suasana kelas menjadi riuh, mereka bahkan tidak pulang karena masih ingin bergosip.


Sedangkan Telisa yang masih terduduk merasa sangat kesal karena teman-teman kelas mereka mulai terlihat takut dengan Valia.

__ADS_1


"Bagaimana bisa anak miskin itu berubah?, aku tidak menyangka bahwa dia akan mengusirku di depan teman-teman yang lain. Ini benar-benar tidak bisa di biarkan!" batin Telisa sambil berdiri dan langsung melangkah keluar kelas.


Telisa pergi ke toilet dan mengeluarkan segala emosinya di sana, lalu ia mengambil sebuah ponsel dari dalam tas nya, dan ia membuka sebuah file yang berisikan tentang Valia.


Dengan mata yang memerah, Telisa sudah mempersiapkan jarinya untuk mengirim Video itu ke Forum campus, "Bukankah kau sekarang sedang membangun image menyeramkan?, bagaimana jika video ini tersebar?, aku ingin melihat apa yang akan kau lakukan," ucap Telisa sambil menekan enter, dan video itu pun sudah terkirim ke forum kampus.


Seketika saja, Telisa tersenyum smirk, ia bahkan sudah tidak perlu untuk mencari muka di depan Valia, karena ternyata Valia sudah mengetahui rahasia yang telah di sembunyikannya cukup lama.


"Video itu aku berikan sebagai hadiah untuk kampus, karena belakangan ini mereka tidak pernah mengeluarkan berita-berita yang bermutu," gumam Telisa sambil keluar dari dalam toilet dan ia pun membenarkan make up sambil tersenyum cerah.


...****************...


Di dalam mansion, Javier dan Nisia tengah duduk bersama di ruang sofa.


"Aku tidak menyangka, ternyata selama ini anak kita telah membohongi kita berdua," ujar Javier dengan Nisia.


Nisia yang mendengar penuturan suami nya pun merasa di bohongi oleh anaknya sendiri, "Aku ingin sekali memarahinya, tapi aku tidak sanggup melakukan hal itu padanya," gumam Nisia sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Nisia bahkan tampak benar-benar tampak sangat sedih, selama ini dirinya dan Javier sangat sibuk bekerja, tapi dalam hal kasih sayang, mereka tidak pernah membiarkan Valia merasakan kekurangan kasih sayang.


Awalnya mereka tampak tidak setuju, tapi lama kelamaan, mereka pun menyetujui perkataan Valia.


Dan setelah masuk ke kampus, setiap mereka bertanya tentang kabar Valia, anak itu selalu menjawab bahwa dia baik-baik saja, lalu ketika Valia sakit, mereka pun langsung meluangkan waktu untuk Valia dan merawatnya.


Tapi mereka tidak pernah menyadari bahwa Valia adalah korban pembulian di kampus mereka sendiri.


Javier memegang dahinya dan memijatnya dengan pelan "Aku bahkan tidak menyadari ini," gumam Javier yang sudah benar-benar kesal.


"Kita harus bagaimana menghadapinya?, saat ini aku ingin sekali menegurnya, kenapa dia menyembunyikan hal sebesar ini pada kita?," gumam Nisia yang mulai menitikkan air matanya.


Javier melepaskan tangannya, dan ia pun menenangkan Nisia "Aku akan menyelidiki ini, tapi kita harus bersikap seperti biasa pada Valia, jangan sampai dia curiga bahwa kita telah mengetahui kebohongannya," ucap Javier yang mengelus punggung sang istri.


...****************...

__ADS_1


Valia keluar dari kampus dengan cara mengendap-endap, ia pun menoleh ke kanan dan kekiri lalu memasuki mobilnya dengan cepat.


"Cih, padahal ini adalah mobilku sendiri, tapi aku memasukinya seolah sudah seperti maling saja, benar-benar sial!" gumam Valia berdecih kesal.


Lalu Valia membawa mobil itu dengan kecepatan tinggi, ia tidak lupa memakai kacamata hitam dan langsung menuju cafe yang sedang di duduki oleh Elena dan teman-temannya.


Ketika sampai di cafe tersebut, Valia langsung masuk kedalam dan dia melirik kearah Elena, Valia melihat elena terlihat sangat senang.


Rasa ingin membalas dendam sudah mendarah daging di dalam hati Valia, ia tidak ingin orang yang menyiksanya justru bisa tertawa lepas tanpa mengingat beban apapun.


Valia memesan satu coffe dan ia memilih duduk dengan kursi yang tidak terlalu jauh dengan Elena.


"Apa kau tau wanita yang ada di sebelah kelas kita benar-benar sangat cantik, aku bahkan sangat kagum padanya," gumam teman pertaman Elena.


Wajah elena tampak terlihat tidak suka, Valia yang melihat itu justru tersenyum tipis, "ternyata sifat iri nya itu sudah terbentuk sejak dia masih kecil," batin Valia sambil mengetikkan sebuah pesan.


Ting


[Kau pasti sangat iri mendengar perkataan temanmu itu, tapi nyatanya kau memanglah tidak cantik, jadi terima saja pujian yang di berikan temanmu pada wanita itu]


Elena terkejut melihat notifikasi pesan yang muncul di ponselnya, pesan itu sudah bisa terbaca tanpa harus di buka oleh pemiliknya.


Kedua teman elena membaca pesan itu lagi, mereka terlihat sedikit binggung, "apa kau tidak suka mendengar kami memujinya?," tanya teman kedua Elena.


Elena terkejut dan ia pun langsung menoleh kearah kedua temannya, "Tidak, aku tidak pernah memikirkannya, aku bahkan sangat kagum dengannya," elak Elena yang berusaha menyembunyikan kekesalannya.


Ting


[Haha ... kau tipe orang yang bisa menyembunyikan perasaan mu di depan teman-temanmu, tapi jika itu di hadapanku, maka aku tidak akan langsung percaya begitu saja dengan omongan mu]


Lagi-lagi mata Elena mengarah ke notifikasi pesan di ponselnya, seketika saja, jantung Elena berdegup kencang, keringat dingin bahkan sudah terlihat jelas di dahinya.


Sedangkan kedua teman Elena justru merasa curiga melihat Elena tampak terlihat gugup.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2