Deadly Cold Woman

Deadly Cold Woman
Membuat Senior Menjadi Miliknya


__ADS_3

Polisi itu bahkan tidak menyangka bahwa pelaku bisa menghapus seluruh sidik jarinya di semua benda. "Bagaimana dia bisa menghilangkan seluruh sidik jarinya?" gumam polisi itu yang terlihat binggung.


Lalu ia tidak sengaja melihat sebuah botol sabun, dan polisi itu mulai mendekat dan mengangkat botol itu.


Ia juga memeriksa sidik jari itu disana, tapi sama aja, ia tidak menemukan jejak apapun, hal itu membuang sang polisi semakin kesal.


"Sial!" umpat sang polisi sambil melempar botol itu dengan sangat kuat.


"Jika aku bisa menangkap mu, maka aku akan menghukum mu dengan caraku sendiri," geram sang politik itu dengan menggeretakkan giginya.


...****************...


Kaliandra mengajak Carmila untuk mengobrol di taman, "apa kau tidak keberatan jika kita mengobrol disini?" tanya Kaliandra sambil melihat kearah Carmila.


"Tidak apa-apa senior," ucap Carmila sambil menggelengkan kepalanya.


Kaliandra pun duduk di sebuah kursi yang memiliki meja, jadi sekarang keduanya duduk saling berhadapan satu sama lain.


"Pertama aku ingin bertanya, apa mereka berdua teman dekatmu, Carmila?" tanya Kaliandra mendengar menatap Carmila dengan serius.


"Benar senior," jawab Carmila mengangguk.


Kaliandra melihat bahwa Carmila menjawabnya Tampa ragu, "baiklah, tapi apa pernah terjadi sesuatu sebelum kejadian ini?," tanya Kaliandra dengan pelan.


Walau Kaliandra orang yang cuek, tapi ia bisa membaca situasi dan membuat orang lain nyaman berbicara dengannya.


Apalagi sekarang kasusnya sungguh sangat berbeda, jadi ia harus berbicara santai dengan orang-orang yang memiliki ikatan dengan para korban.


"Ada senior, saat aku, Nero dan Valia di kantin, Zewina dan Fallen menghampiri meja kami, mereka menghina Valia dan aku dengan spontan membelanya, lalu mereka pun pergi dari meja kami, dan sejak itu aku tidak melihat mereka lagi," ucap Carmila sambil mengingat kilas balik kejadian yang terjadi di kantin.

__ADS_1


Kaliandra yang mendengar itu merasa tidak ada yang janggal, "apa kau yakin hanya itu saja Carmila?," tanya Kaliandra untuk memastikan kembali perkataan Carmila.


"Yakin senior," jawab Carmila dengan yakin.


Kaliandra yang mendengar jawaban tegas ieu hanya bisa menghela kasar, "sepertinya ini akan menjadi kasus yang begitu rumit," batin Kaliandra sambil menatap keatas.


Carmila melihat Kaliandra menghela nafas, ia merasa kasihan dengan ketua organisasi mereka, "Maaf aku tidak bisa membantu, senior," ucap Carmila yang benar-benar merasa bersalah.


Kaliandra pun menurunkan pandangannya dan melihat kearah Carmila, "tidak apa-apa, aku hanya berpikir apa motif sang pelaku, kenapa dia memotong kedua lidah mereka dan juga mematahkan tangan mereka" ucap Kaliandra sambil terus berpikir.


Carmila yang mendengar itu berusaha memutar otaknya, "senior, jika itu yang di lakukan, maka dia mencoba untuk membuat mereka berdua tidak bisa berbicara, dan juga membuat keduanya tidak bisa menulis, karena dengan begitu mereka tidak bisa membocorkan identitas pelaku," ucap Carmila sambil memegang dagunya.


Kaliandra yang mendengar itu merasa mendapat pencerahan dari Carmila, "benar, ia Riska ingin identitasnya di ketahui, jadi dia pun memotong lidah mereka dan mematahkan kedua lengan wanita itu, kenapa aku tidak mementingkan hal ini?" gumam Kaliandra sambil menatap kearah Carmila.


Carmila pun tersenyum ketika melihat wajah Kaliandra tampak sedikit terlihat bercahaya, "dia pasti sangat kelelahan, mengingat bahwa dia adalah ketua organisasi, dan sekarang dia dihadapkan dengan penyama daging serta kasus Fallen dan Zewina, pasti itu sangatlah berat," batin Carmila sambil melihat kearah Kaliandra.


Lalu tiba-tiba saja Kaliandra tampak murung kembali, "Aku benar-benar tidak mengerti kenapa dia melakukan hal itu pada kedua temanmu. oh ya ... apa kau pernah mendengar mereka bertengkar dengan mahasiswa lainnya?," tanya Kaliandra lagi.


Kaliandra pun memegang kepalanya, ia sungguh tidak bisa menemukan apapun, "baiklah, terimakasih karena sudah meluangkan waktumu untuk berbicara denganku, sekarang kau bisa kembali kepada Valia dan Nero," ucap Kaliandra sambil menatap kearah Carmila.


Carmila yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas pelan, ia cukup merasa bersalah karena tidak bisa membantu apapun tentang kejadian itu.


"Maaf senior, kalau begitu aku akan pergis sekarang," ucap Carmila yang langsung berdiri dari tempat duduknya dan juga membungkukkan sedikit tubuhnya pada Kaliandra.


"Bagaiman sekarang?, ini benar-benar sangat kacau," ucap Kaliandra sambil memijit dahinya yang mulai terasa pusing.


Kaliandra pun beranjak pergi dari sana, ia berjalan kembali ruangan ibu Gleni, Jian pun melihat Kaliandra tengah berjalan kearahnya, ia langsung merapikan penampilannya dan berjalan kearah Kaliandra, "Kakak senior, apa kau sudah menemukan sesuatu?," tanya Jian dengan raut wajah sedih.


Kaliandra hanya menatap Jian, lalu ia pun langsung melewati Jian begitu saja tanpa meninggalkan sepatah kata pun.

__ADS_1


Sedangkan Jian tengah terpaku karena Kaliandra terus saja mengabaikan keberadaannya, "Lihat saja kakak senior, aku pasti akan mendapatkan mu," gumam Jian yang sudah bertekad untuk mendapatkan Kaliandra dan membuat senior itu menjadi miliknya.


Jian yang mendapat perlakuan itu pun hanya bisa terpaku, ia bahkan mulai mengeram marah dan bertekad untuk mendapatkan Kaliandra.


"Lihat saja kakak senior, aku pasti akan mendapatkan mu dan membuatmu menjadi milikku seutuhnya," gimana Jian sambil berbalik badan dan melihat punggung Kaliandra yng tengah memasuki ruangan TKP.


Kaliandra masuk kedalam ruangan itu, ia melihat seorang dokter tengah mengumpulkan daging yang tercecer di lantai, Kaliandra mendekatinya dan memanggil sang dokter.


"Dokter, bisa kita bicara sebentar?," tanya Kaliandra sambil menatap punggung sang dokter.


Sang dokter tidak terganggu dengan hal itu, karena sejak awal ia mengetahui siapa Kaliandra.


Lalu ia juga memanggil seorang polisi untuk keluar dari ruangan itu, setelah keduanya keluar dari ruangan, Kaliandra tampak menghela nafas dengan kasar.


Dan Kaliandra pun bercerita tentang penemuan mahasiswa yang ada di toilet, Kaliandra juga menceritakan tentang Carmila yang menjadi teman dekat dari kedua korban itu.


Dokter dan polisi itu tampak begitu terkejut, mereka bahkan tidak menyangka di kampus yang sangat terkenal ini terdapat seorang mahasiswa psikopat yang begitu sadis.


"Sepertinya ini sudah menjadi kasus tingkat A, karena pelaku itu bisa menghilangkan jejak nya, dan sepertinya kita harus mengosongkan kampus ini untuk beberapa hari kedepan, untuk meminimalisir korban yang akan berjatuhan, karena kita sendiri tidak tau apa motif sang pelaku melakukan hal ini pada korban-korbannya" usul polisi itu sambil menatap Dokter itu dan Kaliandra secara bergantian.


Kaliandra pun menganggukkan kepalanya, ia pun mendengarkan usulan itu dan langsung bergegas pergi dari sana meninggalkan polisi dan sang Dokter.


Sedangkan Jian merasa binggung karena ketiga orang itu tampak berbicara dengan serius, dan lagi-lagi Kaliandra harus melewati Jian, namun ia tampak tidak memperdulikan Jian dan terus berlari dan menatap lurus kedepan.


Jian yang melihat itu benar-benar terpana dengan ketampanan Kaliandra, "pokoknya aku harus mendapatkan senior, Jika aku tidak bisa mendapatkannya, maka orang lain juga tidak bisa memilikimu," ucap Jian sambil tersenyum smirk.


Bersambung ...


Hai readers ... biasanya para readers yang marathon, tapi hari ini authornya juga belajar marathon, tapi tidak apa-apa karena sesekali author harus bisa ngerasain seperti readers 🌹

__ADS_1


Selamat membaca dan terimakasih sudah memberikan komen, rate, like serta bunga dan kopinya 🌹


__ADS_2