
Di saat yang bersamaan, Carmila kembali binggung dengan kedekatan keduanya, padahal Carmila yakin bahwa keduanya bertemu untuk yang kedua kalinya.
Ia ingin bertanya pada Valia, tapi Carmila takut dan memilih diam. "Dokter, dia di tampar oleh seseorang, bisakah dokter mengobatinya?," ucap Carmila dengan sopan.
Dokter itu mengangguk dan langsung mengambil barang-barang yang di perlukan, "kau duduklah di atas tempat tidur itu, aku ingin melihat seberapa parah luka yang ada di pipi mu," ucap dokter itu sambil menunggu Valia duduk.
Setelah Valia duduk, dokter itu langsung memeriksa pipi Valia, dan pandangan Carmila tak luput dari wajah sang dokter, ia pun merasa ad yang aneh dengan raut wajah anak dokter.
"Dokter ini seakan ingin marah setelah melihat luka itu, sebenarnya apa hubungan mereka berdua?, bahkan Valia juga seakan berhubungan dekat dengan pengacaranya," batin Carmila yang tidak bisa menebak situasi apapun.
Setelah memeriksanya, sang dokter langsung mengoles obat memar di pipi dan sudut bibir Valia.
"Tidak terlalu parah, hanya perlu di kompres dengan rajin dan jangan lupa berikan obat ini padanya," ucap dokter itu pada Carmila sambil menyerahkan obat itu padanya.
Valia bisa melihat wajah dokter itu yang tampak gelap, "pasti paman marah padaku, karena walau terlihat tidak terlalu parah, tapi penyembuhan ini akan memakan waktu yang lama," batin Valia.
Carmila yang mendengar itu pun mengangguk, lalu ia teringat bahwa mereka belum memakan apapun sama sekali, "Valia, bisakah kau tunggu di sini sebentar?, aku akan membeli makan untuk kita berdua," ucap Carmila yang melihat kearah Valia.
Valia pun mengangguk, "Pergilah, aku akan menunggu di sini, tapi belikan aku bubur saja, saat ini aku tidak bisa mengunyah apapun," ucap Valia sambil memegang pipinya yang terasa sakit.
Carmila mengangguk dan pergi keluar dari ruangan itu, sekarang tinggal lah Xander dan Valia di ruangan itu.
"Paman sudah mengetahui detail cerita itu dari Zion, dan dia mengatakan akan memenjarakan orang itu lebih lama jika bekas luka mu tidak pulih dalam waktu tiga hari," ucap Xander sambil membereskan perlengkapannya.
Valia seakan menggeretakkan giginya, "Aku tidak tau bahwa dia menamparku paman, aku bahkan terkejut ketika dia dengan berani melayangkan tangannya ke pipi ku. Tapi aku setuju dengan perkataan Paman Zion, dan juga, walau dia di dalam penjara, aku tetap tidak akan melepaskannya begitu saja." ucap Valia mengeram marah.
Lalu tiba-tiba saja Valia teringat dengan Zewina dan Fallen, "Paman, apakah dua mahasiswi itu di bawa ke rumah sakit ini?," tanya Valia sambil menatap punggung Xander.
Xander pun langsung mengangguk, "Benar, apa kau ingin melakukan sesuatu?," tanya Xander yang mulai berhenti membereskan barang-barang nya dan berbalik menatap Valia.
"Tentu saja paman, mereka mengatakan bahwa aku anak orang miskin di kantin dan mereka juga mencoba membuat Carmila menjauh dariku. Aku benar-benar kesal mendengarnya," ucap Valia sambil turun dari tempat tidurnya.
"Ikuti paman," ucap Xander yang melangkahkan kaki nya keluar ruangan, Valia pun langsung mengikuti langkah Xander.
Dan sekarang, mereka telah tiba di depan ruangan kedua mahasiswi itu, dan Valia melihat kedua polisi tengah berjaga di depan pintu kedua mahasiswi itu.
__ADS_1
"Ayo kita masuk," ucap Xander yang melangkahkan kakinya kedepan pintu.
Sedangkan Valia tampak terlihat gugup karena kedua polisi itu telah melihat wajahnya dan Xander masuk kedalam ruangan Zewina dan Fallen.
Xander menoleh kebelakang, ia melihat Valia berdiri mematung di belakangnya, "tidak apa-apa, ayo masuk," ucap Xander sambil menarik tangan Valia masuk kedalam ruangan itu.
Setelah masuk, Valia pun tampak terlihat ragu, "tapi paman, jika ada sesuatu yang terjadi pada merek maka polisi itu akan mengetahuinya dan aku sangat khawatir dengan paman," ucap Valia pelan.
"Haha ... apa yang kau khawatirkan?, kita bahkan bisa melakukan apapun pada mereka," ucap Xander tersenyum smirk.
Zewina dan Fallen di tempatkan di rungan yang sama, mereka di berikan pengawalan agar bisa menjadi saksi kunci dari sang pelaku, walau terdengar sulit, tapi Fallen dan Geril akan berusaha meminta keterangan dari Zewina dan Fallen.
Mendengar hal itu, Valia tampak tidak perlu khawatir lagi, ia pun melihat kearah Zewina dan Fallen, "Mereka tidur dengan nyenyak paman, ini pasti akan sangat menyenangkan, sekarang kita harus melakukan sesuatu yang menarik," ucap Valia tersenyum smirk.
Lalu Valia melihat di meja yang ada di samping Zewina terdapat beberapa botol injeksi amoxicillin.
Valia melangkah dan mengambil botol itu, lalu mengambil sebuah suntikan, sedangkan Xander hanya menonton dengan santai.
Ia melihat Valia mengambil obat injeksi itu dan memperhatikan cara Valia memasukkan suntikan itu pada injeksi itu.
Lalu Valia menyuntikkannya kedalam infus Zewina, Valia bahkan tidak puas menyuntikkan satu botol, ia terus melakukannya sebayak empat kali.
Setelah beres dengan Zewina, Valia berpindah pada Fallen, ia juga menyuntikkan 4 botol Amoxicillin kedalam infus Fallen.
"Sekarang kita lihat, seperti apa reaksi mereka," gumam Valia sambil tersenyum smirk.
Lalu Valia menggoyangkan infus Fallen hingga membuat sang pemilik tangan membuka mata, awalnya Fallen membuka mata secara perlahan, dan ia hanya melihat sebuh cahaya yang membuat matanya sakit.
Tapi Valia justru langsung memunculkan wajahnya di hadapan Fallen.
"Hai," sapa Valia dengan tersenyum lebar.
Fallen tampak terkejut dan meringis kesakitan, ia ingin berbicara tapi tidak bisa mengeluarkan suaranya.
Setelah tersadar sepenuhnya, Fallen merasa tangannya begitu sakit.
__ADS_1
Valia yang melihat itu mulai menanyakan yang biasa diinginkan par pasien yang baru saja bangun dari tidur, "Kau ingin apa?, minum?, makan?, katakan saja padaku, aku akan mengambil semua keinginanmu" ucap Valia sambil tersenyum.
Fallen tampak ketakutan, ia tidak menyangka bahwa Valia akan datang ke tempatnya dan Zewina.
Lalu Fallen menoleh kesamping, ia masih melihat Zewina tampak tertidur dengan pulas.
Valia melirik kearah pandangan Fallen, "apa kau ingin dia bangun?, maka aku akan mengabulkan permintaanmu," ucap Valia sambil berjalan kearah tempat tidur Zewina.
Lagi-lagi Valia menggoyangkan Infus itu, dan ia bahkan mengangkatnya beserta tangan sang pasien, Zewina pun langsung terbangun dengan membulatkan matanya, ia melihat tangannya sudah mengambang di udara.
Zewina merasa kesakitan, ia tidak menyangka bahwa Valia sangat mengerikan, dan sejak kejadian Valia memotong lidah mereka, keduanya tampak sangat takut melihat wajah Valia.
"Kau tidak perlu melihatku seperti itu, bagaimanapun Fallen lah yng menyuruhku membangunkan, dan aku hany bersedia membantunya," ucap Valia sambil tersenyum smirk.
Zewina menoleh kearah Fallen, sedangkan Fallen menggelengkan kepalanya berulang kali.
Zewina membuka mulutnya dengan lebar, tapi ia tidak tau harus mengatakan apa, karena terhambat dengan lidah yang sudah tidak ada lagi.
"Ah maaf, aku tidak mengerti bahasa orang cacat," ejek Valia sambil tersenyum.
Wajah Zewina dan Fallen tampak memerah marah, mereka berdua bahkan sudah benar-benar membenci Valia.
"Kalian tidak perlu mengeluarkan energi untuk berbicara padaku, karena sebentar lagi energi kalian akan terkuras habis dengan efek samping obat ini," ucap Valia sambil memperlihatkan delapan botol kosong dan satu suntikan pada Zewina dan Fallen.
Keduanya tampak melototkan mata dengan sempurna, mereka langsung menoleh kearah infus yang tidak berwarna.
Karena melihat tidak ada perubahan warna pada infus mereka, wajah keduanya pun terlihat sedikit lega.
Valia yang melihat wajah keduanya mulai tertawa, "Haha ...Kalian yakin aku tidak melakukan apapun?, aku saja berani memotong lidah kalian, jadi tentu saja aku juga berani menyuntikkan obat mati ini juga," ucap Valia di sela tawanya.
Uwekk
Uwekk
Melihat hal itu senyum Valia semakin melebar "Sudah aku katakan, tentu saja aku berani melakukannya,"
__ADS_1
Bersambung ....