Deadly Cold Woman

Deadly Cold Woman
Mata dibalas Mata dan Gigi dibalas Gigi


__ADS_3

"Nah, ini baru menyenangkan," gumam Valia yang sudah menghapus jejaknya dari seluruh cctv yang merekamnya.


Setelah menyingkirkan satu orang, Valia bertekad untuk meneror Granov, "Jika ayah kuliah, maka tanteku yang manis itu pasti masih berada di sekolah menengah atas, jadi aku akan membuat perhitungan dengan mu terlebih dahulu," gumam Valia dengan jari yang tengah menari-nari diatas keyboard laptop.


#Flashback On


Saat itu, Silyena tengah mengoleskan obat di punggung Carmila, lalu ia pun mencoba bertanya pada Carmila tentang identitas Granov.


Awalnya Silyena tampak ragu untuk bertanya, tapi karena hal itu menyangkut sang ayah jadi ia memberanikan diri untuk bertanya pada Carmila.


"Ibu, bagaimana dengan ayah?, apa dia juga berasal dari keluarga berada, sama seperti ibu?," tanya Silyena dengan tangan yang sedang bergerak di punggung Carmila.


Carmila yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas dengan pelan, ia tidak bisa menyalahkan Silyena karena ingin mengetahui tentang sang ayah, tapi Carmila sendiri tidak bisa menceritakannya pada Silyena.


"Berhenti menanyakan tentang ayahmu, apa kau tidak bosan membicarakannya, Yena?," tanya Carmila sambil tertawa kecil melihat anaknya terus bertanya tentang sang ayah.


Silyena yang mendengar itu langsung terdiam, tapi ia juga tidak mudah menyerah, karena ia benar-benar sangat ingin mengetahui identitas sang ayah.


"Tolong ibu, biarkan aku mengetahuinya juga, aku ingin mengetahui semua tentang ayah," rengek Silyena pada Carmila.


Silyena memaksa Carmila untuk menceritakan tentang sang ayah, awalnya Carmila menolak, tapi Silyena tetap memaksa dan membuat Carmila mau tidak mau harus menceritakan tentang Granov.


"Ayah mu memang dari keluarga berada. Dia, tante, kakek dan nenekmu tinggal di sebuah rumah yang berada di pinggir pusat kota Rotterdam," jelas Carmila sambil menundukkan kepalanya.


Silyena pun mulai berpikir, dan saat itu ia pun mengatakan apa yang ada di kepalanya, "Artinya, ayah tidak sekaya ibu yang tinggal di kawasan elit 2?" tanya Silyena lagi.


#Flashback Off

__ADS_1


Valia mengingat masa lalunya, ia tak habis pikir dengan dirinya yang dulu "Padahal saat itu, ketika aku bertanya tentang ayah, raut wajah ibu terlihat sangat sedih, tapi aku justru memaksanya untuk mengatakan semua hal mengenai ayah," gumam Valia sambil menghembuskan nafas kasar.


Saat itu Silyena tidak menanggapi cerita ibunya, tapi sekarang, ia menyadari bahwa dari dulu sang ayah sudah mengambil seluruh harta ibunya.


Silyena yang sudah melihat data Granov, kini mencoba mencari dimana alamat itu dan ingin melihat seperti apa rumah dari ayahnya itu.


Setelah sudah menyusuri seluruh data mengenai ayahnya, Silyena mulai mengeram marah, ia tidak menyangka bahwa sang ayah tidaklah sekaya itu, dan ia menemukan sebuah fakta yang jauh lebih mengejutkan.


"Sialan, kalian mengatakan ibuku orang miskin, tapi kenyataannya harta kalian bahkan tidak sebanding dengan ibu, bahkan harta mereka adalah hasil sumbangan dari ibu," gumam Valia yang terlihat sangat marah.


Silyena mengingat bagaimana keluarga ayahnya terus menyiksa Carmila, bahkan mereka pun tidak segan-segan ikut memukul sang ibu.


Silyena yang melihat itu mencoba membantu Carmila, lalu bibinya memerintahkan Silyena tidak boleh ikut campur dengan urusan mereka. Jika Silyena membantu ibunya, maka bibi nya mengancam akan memberitahukan hal itu pada Granov.


Mereka semua tau bahwa Silyena haus akan kasih sayang Granov. dan ketika Silyena mendengar ancaman itu, ia justru merasa takut dan memilih untuk tidak membantu ibunya.


"Mata di balas mata dan gigi di balas gigi, aku akan melakukan apa yang pernah kalian lakukan di kehidupanku sebelumnya," gumam Valia dengan mata yang sudah memerah serta tangan yang sudah terkepal dengan kuat.


Lalu Valia pun langsung mencari keberadaan bibi nya melalui cctv yang ada di kota Rotterdam.


"Bibi, karena kau dulu sangat suka mengancam ku, maka aku akan membalikkan ancaman itu pada mu," gumam Valia sambil tersenyum smirk.


Ia melihat bibi nya tengah berjalan bersama teman-temannya, lalu Valia langsung mengirim sebuh pesan ke ponsel bibinya.


[Jangan terlalu senang Elena, aku akan terus memantau mu, karena kau akan menjadi korban selanjutnya].


Tulis Valia, lalu ia pun mengirim pesan itu dan ia ingin melihat reaksi seperti apa apa yang akan di perlihatkan oleh Elena.

__ADS_1


...****************...


Elena yang tengah berjalan dengan temannya Mendengar ponselnya berbunyi, lalu ia pun mengehentikan langkah kakinya dan mengeluarkan ponselnya, ia melihat nomor yang tidak di kenal, tapi ia tetap membuka pesan itu.


Setelah membaca pesan itu, mata Elena tampak membulat dengan sempurna, Elena benar-benar tampak terkejut, sedangkan kedua temannya menoleh kebelakang, mereka melihat elena tengah berhenti sambil memperhatikan ponselnya.


Keduanya saling memandang satu sama lain, lalu mereka menghampiri Elena, dan mereka merasa heran karena melihat raut wajah Elena yang tampak tidak enak di pandang,


"Apa apa?" tanya teman pertama dengan heran.


"Iya, ada apa denganmu?" timpal teman kedua yang ikut binggung dengan sikap Elena.


Tapi pertanyaan mereka tidak di jawab oleh Elena, dan keduanya memutuskan untuk merebut ponsel itu dari tangan Elena.


Kedua temennya sempat ikut terkejut ketika membaca pesan itu, tapi setelah di pikir-pikir lagi, mereka pun memilih untuk menghapus pesan itu dari ponsel Elena.


Lalu salah satu mereka pun mencoba bersikap acuh tak acuh, "Abaikan saja pesan itu, lagipula sekarang memang banyak orang iseng yang suka mengirim pesan seperti itu," ucap temennya sambil mengembalikan ponsel itu pada Elena.


Dan teman yang satunya membenarkan perkataan teman pertamanya, "Benar, tidak perlu di pikirkan, karena aku juga pernah mendapat pesan iseng seperti itu, dan setelah kau lihat sendiri, tidak terjadi apapun padaku," ucap teman keduanya sambil mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah pesan asing yang masuk ke ponselnya.


Elena melihat ponsel sang teman, setelah selesai membaca pesan itu, ia pun bisa sedikit merasa lega karena mungkin yang mengirim padanya adalah pesan iseng.


Elena yang mendengar saran kedua temennya itu langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku kembali, dan mereka memilih untuk melanjutkan perjalanan.


...****************...


Sedangkan Valia yang melihat Elena mengabaikan pesannya mulai tersenyum tipis, "kau berani mengabaikan pesanku?, maka aku akan terus mengirim pesan itu sampai kau membalasnya," gumam Valia yang semakin terlihat senang karena telah bermain dengan bibinya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2