
Dengan berat hati, Renzo pun mulai berjalan kearah Valia, "maafkan aku karena sudah melibatkan mu," ucap Renzo sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.
Valia yang masih melihat kearah dosen Devid kini melirik kearah Renzo, "Menyebalkan," ucap Valia sambil berjalan keluar ruangan.
Renzo dan yang lainnya terkejut dengan perkataan Valia, tapi tidak dengan Devid, ia justru tersenyum smirk melihat Valia meninggalkan mereka.
Carmila pun mulai melihat kearah orang tua nya, "Pa, ma, maaf telah memanggil kalian secara tiba-tiba, kehidupan Valia di kampus sangat tidak menyenangkan, karena itulah aku memanggil kalian, terimakasih sudah membantuku," ucap Carmila sambil memeluk Ethan dan Liana.
Keduanya saling memandang satu sama lain, "tidak masalah sayang, kalau begitu apa kau mau mama dan papa mengadopsinya?," tanya Liana berterus terang.
Carmila terkejut mendengar perkataan Liana, bahkan kedua orang tua Nero dan yang lainnya juga sama terkejutnya dengan Carmila.
Mereka berpikir bahwa Carmila pasti tidak menyetujuinya, tapi ternyata mereka salah, "Setuju, itu lebih baik," ucap Carmila sambil tersenyum.
Nero tercengang mendengar perkataan Carmila, biasanya anak-anak orang kaya sangat tidak menyukai anak adopsi, tapi Carmila justru berbeda, ia bahkan menyetujui perkataan absurd dari orang tuanya.
"Dia benar-benar aneh, apa dia tidak takut bila suatu saat hartanya di ambil alih oleh Valia?," batin Nero yang menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Nero pun melihat kedua orang tuanya, "Aku memanggil kalian karena pak rektor tidak mempercayai ucapan kami, terimakasih sudah mau datang," ucap Nero sambil memeluk Vincent.
"Tidak apa-apa nak, lagipula kami juga kebetulan berada di dekat sini," ucap Vincent sambil pelukan Nero.
"Yasudah Nero, mama dan papa akan pergi sekarang," ucap Kaily yang sejak tadi kepikiran dengan perkataan adopsi yang keluar dari mulut orang tua Carmila.
Vincent dan Kaily pun keluar dari ruangan itu, dan diikuti oleh Liana dan Ethan.
Keempat orang itu keluar dari ruangan secara bersamaan, di sepanjang jalan mereka berbincang-bincang dengan akrab.
"Ayo, kita juga harus pergi menyusul Valia," ucap Carmila sambil berjalan meninggalkan ruangan itu.
Kaliandra dan Nero mengangguk secara bersamaan, mereka pun langsung keluar dari ruangan itu dengan Renzo dan Devid yang tengah berdiri.
Renzo terlihat mulai kesal melihat kepergian mereka, "dasar anak-anak manja, jika bukan karena mereka kaya, aku pasti akan mengeluarkan mereka dari kampus ini!" gumam Renzo yang melupakan keberadaan Devid.
__ADS_1
Devid yang mendengar itu pun mengeryitkan dahinya, "berhati-hatilah dengan perkataan mu, lagi pula kau sudah membangunkan singa yang tengah tertidur," ucap Devid sambil menepuk pundak Renzo.
Seketika saja tubuh Renzo menegang, ia sungguh melupakan keberadaan Devid, "Kau!, jika kau membocorkannya maka aku ... " perkataan itu terpotong oleh Devid
"Tidak, aku tidak akan mengatakan pada siapapun, tapi aku sedang memperingatkan mu pak rektor, bahwa kau telah mencari masalah dengan olah yang tidak seharusnya kau singgung," ucap Devid lalu meninggalkan Renzo yang masih menatapnya.
"Apa maksudmu?" ucap Renzo dengan marah.
Devid hanya melambaikan tangannya dan tetap berjalan lurus keluar dari ruangan.
Renzo yang melihat itu langsung memukul meja yang ada di depannya, "Sialan!, mereka semua tidak menghormati ku!, bukan hanya mereka saja, bahkan anak miskin seperti Valia juga mengabaikan ku!," geram Renzo sambil menggeretakkan giginya.
Selama menjabat sebagai rektor di kampus itu, seluruh mahasiswa, dosen dan para petinggi sangat menghormatinya, dan baru Valia lah mahasiswa pertama yang tidak memandang dirinya.
Bahkan Carmila, Kaliandra dan Nero juga mengikuti jejak Valia, "sialan!, semua ini gara-gara kau Valia!, aku akan segera memberimu perhitungan!" geram Renzo sambil mengeluarkan ponselnya.
[Tangkap Valia hidup-hidup dan bawa dia ketempat biasa]
"Kau telah memeperlakukan aku, jadi aku akan membalas penghinaan ini," gumam Renzo yang sudah tidak bisa mentolerir sikap Valia padanya.
"Kau hanya anak miskin yang tidak memiliki kekuatan, jadi aku bisa dengan bebas melakukan apapun padamu," lanjut Renzo yang sudah membayangkan tubuh Valia.
...****************...
Di sisi lain Valia tangah berjalan bersama Kaliandra, Nero dan Carmila.
"Maaf karena tidak bisa membantumu," ucap Kaliandra yang meminta maaf dengan tulus.
Valia yang mendengar itu merasa sangat kesal, "Kau tidak perlu mengatakan itu, karena sejak awal kau memang tidak pernah membantuku, jadi, simpan saja kata-kata itu untuk mu sendiri," jawab Valia dengan datar.
Sedangkan Nero cukup terkejut mendengar perkataan Valia, biasanya cewek lain akan berteriak jika kaliandra berkata lembut seperti itu, tapi semua itu justru tidak berpengaruh pada Valia.
Dan saat Kaliandra melihat kearah Carmila, dan ia melihat ekspresi tidak keperdulian dari Carmila, "kenapa mereka seperti terlihat sangat mirip?," batin Nero yang melihat keduanya dengan aneh.
__ADS_1
"Kita akan berpisah di sini, aku sangat lelah dan ingin segera pulang," ucap Valia tanpa menoleh kebelakang.
Carmila yang mendengar itu pun langsung menawarkan tumpangan pada Valia, "tidak Carmila, saat ini, aku butuh sebuah ketenangan" tolak Valia dengan pelan.
"Aku tidak ingin kalian terlibat, karena perasaan ku mengatakan bahwa renzo sedang mengincar ku," batin Valia yang berusaha menjauhkan dirinya dari ketiga orang itu.
Carmila yang mendengar penolakan itu hanya bisa tersenyum dan mengangguk, "ia sangat menghormati keputusan Valia, jadi jika Valia menolak maka ia hanya bisa menerimanya saja.
Carmila segera berjalan ke arah yang berbeda, sedangkan Nero dan Kaliandra tampak sedang kebingungan.
"Pergilah, aku butuh sendiri," ucap Valia lagi tanpa menoleh.
Kaliandra yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas pelan.
"Baiklah, kau harus berhati-hati," ucap Kaliandra dan Nero secara bersamaan, lalu mereka pun berjalan ke parkiran dan memasuki mobil mereka masin-masing.
Setelah melihat ketiga mobil yang tersisa dalam parkiran itu pergi, akhirnya Valia berlari keluar gerbang kampus, dari kejauhan ia melihat Bian tengah menunggunya di dalam mobil.
Valia merasa ada beberapa orang yang tengah mengikutinya, sebelum keluar dari gerbang kampus ia melihat mobil hitam tengah terparkir di pinggir jalan.
Valia pun merasa curiga dan langsung membuat sebuah gerakan tangan yang tertuliskan "Ikuti saja mobil ini,"
Rein mencoba membaca pergerakan tangan itu. Setelah membacanya, Rein mengangguk kan kepala dan bersiap-siap memegang stir mobil.
Dari dalam mobil Rein melihat beberapa pria menutup mulut Valia dan memasukkannya kedalam mobil.
Rein terlihat sangat santai, ia bahkan tidak menunjukkan ekspresi apapun, dan setelah melihat mobil itu bergerak, Rein pun langsung menginjak pedal gas dan membawa mobil itu dengan kecepatan sedang.
"Kenapa mereka menculik nona Valia?, bukankah seharusnya di kampus ini tidak ada yang mengetahui identitas asli nona Valia?," batin Rein yang terus mengikuti mobil itu dari belakang.
Agar tidak di curigai, Rein mencoba menjauhkan mobilnya dari mereka, dan ia adalah orang yang sangat ahli dalam hal mengejar.
Bersambung ...
__ADS_1