
"Aku harus membawanya kerumah sakit," gumam Nero sambil berlari ke arah parkiran.
Seluruh mata para mahasiswa tertuju pada Nero dan Valia, tapi, Nero justru tidak memperdulikan mereka dan dia terus berlari setelah sampai di mobil, ia langsung memasukkan Valia kedalam dan akan segera memasangkan seatbelt.
Tapi tiba-tiba saja, kelopak mata Valia bergerak, dan ketika Valia membuka matanya, ia melihat wajah Nero sudah berada di depannya.
Valia menyunggingkan senyumnya, ia bisa melihat wajah Nero yang terlihat sangat panik, "Kenapa kau terlihat panik seperti itu?," tanya Valia dengan santai.
Spontan saja hal itu membuat Nero terkejut dan membuat kepala Nero membentur pintu mobil, "Arrgghhh, kau mengagetkanku," ucap Nero sambil mengusap-usap kepalanya yang terasa sakit.
Lalu ia pun langsung memegang kedua pundak Valia, "apa kau baik-baik saja?, bagaimana kau bisa terjatuh seperti itu?," tanya Nero secara beruntun.
Valia kini mengingat kembali kejadian itu, "aku tidak tau, saat aku melihat kearah kedua orang itu, dada ku terasa sangat sakit," ucap Valia sambil memegang kembali dada nya.
Nero yang mendengar itu kini mulai berjongkok sambil mengeryitkan dahinya, "apa kau cemburu melihat ketua organisasi bergandengan tangan dengan wanita lain?," tanya Nero sambil mendongakkan wajahnya.
Valia yang mendengar itu langsung melihat kearah Nero, "tidak, ini sungguh berbeda, rasa sakit ini bukan seperti yang tengah kau pikirkan, karena aku merasa tubuhnya juga ikut gemetar, seperti ada sesuatu yang aku sendiri tidak mengetahuinya," ucap Valia sambil memegang dadanya yang mulai berdetak cepat.
"Sial!, ini benar-benar sakit, sebenarnya apa yang terjadi?," batin Valia yang mulai memukul dadanya dengan pelan.
Nero yang melihat itu semakin panik, ia pun langsung memeluk tubuh Valia. "tenanglah, jika kau tidak ingin bercerita maka aku tidak akan memaksa mu, dan juga aku akan menemani mu di sini," ucap Nero sambil menepuk punggung Valia dengan pelan.
Valia yang mendapat pelukan itu pun merasa sedikit mendapat ketenangan, ia membalas pelukan itu dan membenamkan kepalanya di pundak Nero.
"Terimakasih, karena kau selalu membantu ku," ucap Valia sambil membalas pelukan itu dengan kuat.
Nero tidak menjawab perkataan utu, ia terus saja menepuk pundak Valia dengan pelan agar wanita itu merasa tenang.
...****************...
Di sisi lain ....
Setelah menakuti-nakuti Jian, wanita itu melangkahkan kakinya sambil melihat ke kanan dan ke kiri, karena merasa kebingungan, ia pun mengehentikan salah seorang mahasiswa yang sedang melewati dirinya.
__ADS_1
Ia menepuk pelan pundak mahasiswa itu, dan membuat sang mahasiswa berhenti, "Permisi kak, ruang dekan ada di mana kak?." tanya wanita itu.
Mahasiswa itu pun langsung memberikan petunjuk dan wanita itu segera berterimakasih dan melanjutkan langkahnya.
Setelah mendapatkan ruangan itu, wanita itu langsung membuka pintu ruangan dekan dengan sangat kuat.
"Papa!" teriaknya dengan kuat.
Sontak saja hal itu membuat Oscar yang berada di dalam terkejut dengan tindakan putrinya itu, "Riana?" ucap Oscar dengan terkejut.
Riana yang masih berdiri di pintu langsung melangkahkan kakinya kedalam, "aku sangat merindukan papa," ucap Riana sama tersenyum dan menghamburkan pelukannya pada Oscar.
Oscar yang melihat itu langsung membalas pelukan sang anak, "bagaimana kau bisa berada di sini?, bukankah kau sedang pergi berlibur keluar negeri?," tanya Oscar dengan binggung.
Riana langsung melepaskan pelukan itu, dan ia duduk di kursi yang sudah tersedia di depan meja Oscar.
"Masa liburanku telah usai, dan sekarang aku ingin pindah ke kampus ini dan mengambil bidang yang sama," ucap Riana dengan manja.
Oscar terkejut mendengar perkataan Putri bungsunya itu, biasanya ia tidak ingin satu kampus dengan sang ayah ataupun dengan saudaranya, tapi kali ini, ia justru menginginkan hal itu.
Riana sedikit berpikir, lalu ia menjawab dengan sangat santai, "Em ... hanya saja, di kampus lama ku tidak ada yang menarik," ucap Riana sambil tersenyum.
Oscar pun menganggukkan kepalanya, "Baiklah, papa akan mengurus seluruh berkas-berkas mu," ucap Oscar sambil mengalihkan matanya ke komputer.
Riana pun langsung berdiri dan mengeluarkan sejumlah berkas yang ada di dalam tas nya, "Papa tidak perlu repot, karena aku sudah mengurus semuanya," ucap Riana sambil menyerahkan berkas itu pada Oscar.
Sedangkan Oscar sendiri justru tertegun karena ia tidak menyangka bahwa Riana sangat bertekad memasuki kampus yang tengah di pegangnya.
Oscar pun memulai memeriksa berkas-berkas itu, dan setelah semuanya lengkap, Oscar menghubungi dosen Devid agar langsung menemuinya.
Tidak butuh waktu lama, Devin pun datang keruangan Oscar, ia melihat seorang wanita muda tengah tersenyum kearahnya.
"Dia Riana, seorang mahasiswa pindahan, lalu dia akan masuk kedalam jurusan yang saat ini kau ajarkan, jadi tolong bimbing dia untuk masuk kedalam kelasmu," ucap Dekan dengan santai.
__ADS_1
Oscar tidak ingin mengenalkan putrinya secara langsung, baginya itu tidaklah penting, karena ia mengajarkan kepada putri-putrinya untuk bisa melakukan semuanya dengan tangan mereka sendiri.
Devid yang mendengar perintah itu langsung membungkuk, "baik pak," ucapnya lalu berjalan meninggalkan ruangan Dekan.
Saat ini keduanya telah sampai di depan kelas, awalnya Devid mendengar suara yang sangat ribut dari dalam kelas, lalu ketika Devid masuk, seketika saja, suara itu menghilang.
"Saya ingin memperkenalkan mahasiswa pindahan," ucap Devid sambil melihat kearah pintu.
"Masuklah," lanjut Devid sambil memperagakannya dengan tangan.
Wanita itu pun melangkahkan kakinya kedalam, membuat seluruh mata para mahasiswa yang ada di dalam kelas tertuju padanya.
Sedangkan Rila dan Jian kini mulai melotot dengan sempurna, bahkan keduanya yang tengah duduk bersama mulai memandang satu sama lain.
"Bagaimana ini Jian," gumam Rila yang tengah menggenggam kuat lengan Jian.
Jian sungguh merasa Syok melihat keberadaan wanita itu di kelasnya, ia yakin bahwa wanita itu akan membalas perbuatannya di masa lalu.
Karena genggaman Rila terlalu kuat, Jian mulai merasa sakit dan saat melihatnya, ternyata Rila membuat kukunya menembus kulit Jian.
"Lepas!, apa yang kau lakukan," teriak Jian dengan marah sambil melepaskan tangan Rila yang tengah menempel padanya.
Kini mata para mahasiswa melihat kearah mereka, dan spontan saja hal itu membuat Rila terkejut dan ia tidak menyangka bahwa dirinya telah menyakiti Jian.
"Ma-maafkan aku," ucap Rila dengan menggenggam kedua tangannya.
Sedangkan Riana mulai tersenyum smirk, "perkenalkan saya Riana, semoga untuk kedepannya kita menjadi teman baik," ucap Riana sambil tersenyum.
Setelah mendengar suaramu Riana, pandangan semua orang pun mulai tertuju padanya kembali.
Devid melihat dia kursi kosong yang ada di atas, yang satu di dekat jendela dan yang satunya berada di samping, kedua kursi itu saling berdampingan.
"Baiklah, kau bisa duduk di kursi kosong yang ada di atas, tapi tidak dengan yang di dekat jendela, karena kursi itu sudah memiliki tuan," ucap Devid sambil memperingati Riana.
__ADS_1
Riana melihat keatas, ia pun mengangguk dan saat Riana melangkahkan kakinya, ia melewati kursi Jian dan Rila, ia menghentikan langkahnya dan berbisik "kali ini aku bersungguh-sungguh ingin membalaskan perbuatan kalian, jadi bersiaplah merasakan neraka yang telah aku ciptakan," bisik Riana sambil tersenyum smirk, lalu ia pun melangkahkan kakinya keatas dan duduk di kursi kosong yng telah tersedia.
Bersambung ...