Dear Dion

Dear Dion
101. Berakhirkah?


__ADS_3

"Hei, lama tidak bertemu. Apa aku mengagetkan mu?" Risa menyapa hangat Sina seolah-olah mereka sebelumnya sangat akrab.


"Darimana..kamu tahu tentang tempat tinggal kami?" Sina berdiri canggung di depan Risa.


Pasalnya hubungan mereka berdua dulu bisa dibilang tidak akrab dan hangat. Kerap kali Risa menarik jarak diantara mereka, melayangkan kata-kata kasar dengan ekspresi tenang seakan-akan dia sangat menikmati kesakitan Sina.


"Oh tentang itu," Risa berkedip alami tanpa membuat kecurigaan.


"Aku menelpon Kak Dion. Setelah berbulan-bulan mencoba menghubunginya, Kak Dion akhirnya menjawab telepon ku. Dia juga memberitahuku tentang apartemen ini bila aku ingin datang berkunjung." Jawabnya lancar.


"Jadi begitu," Pantas saja Risa bisa datang ke sini pikir Sina.


Namun, anehnya Dion tidak pernah menceritakan tentang ini kepada Sina. Padahal Risa adalah calon adik ipar jadi seharusnya Dion terbuka saja kepada Sina bila menyangkut tentang keluarga.


"Apa kamu ingin masuk? Kaki ku rasanya pegal berdiri terus." Dia sekarang berbadan dua jadi beban tubuhnya pun bertambah banyak.


Sina tersenyum malu, mengelus perut bundarnya yang menonjol di depan Risa tanpa memikirkan niat pamer atau apapun. Itu hanya kebiasaan tangannya selama beberapa bulan ini.


Kedua mata jernih Risa mengikuti pergerakan tangan Sina di atas perut bundarnya yang sangat menonjol. Orang bodoh pun tahu bila Sina sedang mencari anak.


Senyuman hangatnya sontak menjadi kaku,"Perut mu..apa itu adalah anak Kak Dion?"


"Oh," Sina tersenyum malu, mengusap perutnya untuk menenangkan baby yang mulai menendang-nendang panik di dalam.


"Apa ini anak Kak Dion?" Genggaman tangannya di balik saku gaun kian menguat.


Kedua matanya bahkan mulai memerah, tidak sabar menunggu jawaban langsung dari Sina.


"Benar, ini adalah anak kami dan sudah 9 bulan. Sebentar lagi keponakan mu akan lahir." Jawab Sina akhirnya.


Risa langsung menghirup udara dingin, wajah cantiknya membentuk garis senyuman yang indah tapi sorot matanya jelas menutupi tujuan tertentu.


"Hem, aku sudah tidak sabar melihat keponakan tersayang ku lahir ke dunia ini." Katanya masih tersenyum.


Kedua matanya lalu melihat sekeliling apartemen Sina. Dimana-mana ada kardus besar yang sebagian sudah ditutup tapi sebagian lagi tidak, di dalamnya ada berbagai macam-macam barang. Intinya, Sina dan Dion akan segera pindah. Jika dilihat dari kesiapan semua yang ada di sini, seharusnya hari ini mereka bisa pergi.


"Ini sangat berantakan." Sina mengikuti kemana arah pergerakan mata Risa.


"Mau masuk?" Sekali lagi Sina menawarkan.


Risa tersenyum,"Ya, tentu."


Sina lalu memimpin jalan masuk ke dalam apartemen. Di dalam apartemen juga tidak jauh berbeda dengan yang diluar. Dimana-mana ada kardus dan beberapa barang yang belum dimasukkan ke dalam kardus.


Sebenarnya barang Sina tidak sebanyak ini ketika pertama kali tinggal di apartemen. Semua barang-barang ini ada karena Dion yang membelinya. Dion bilang wanita hamil sangat membutuhkan semua itu padahal Sina pribadi tidak terlalu memikirkannya.


"Duduklah," Sina mempersilakan Risa duduk di sofa.


Namun Risa seolah tidak mendengar apa yang Sina baru saja katakan. Dia tetap berdiri sambil melihat apartemen Sina yang jauh lebih berantakan dari di luar.


"Kamu mau minum apa?"


Risa menggelengkan kepalanya tidak berminat,"Tidak perlu repot-repot. Bila haus aku bisa pergi sendiri ke dalam dapur." Intinya Sina jangan sungkan.

__ADS_1


"Jadi, hari ini kalian akan pindah?" Padahal semuanya sudah jelas tapi Risa tetap bermain bodoh.


"Seperti yang kamu lihat, hari ini kami akan pindah. Jika tidak sore ini maka mungkin nanti malam."


Risa tersenyum dingin,"Hem, aku tidak sabar mengirim mu pergi." Katanya dengan sorot mata yang tidak bersahabat.


"Ugh.." Baby di perut Sina menendang-nendang dinding rahim panik.


Baby di dalam seperti memberikan tanda bahaya yang akan mendekati Sina apabila dia tidak segera berlari.


"Kenapa?" Dia menilai ekspresi tidak nyaman Sina.


Kemudian matanya jatuh pada kedua tangan yang sibuk mengelus perut bundar itu.


"Bayimu membuat ulah?" Dia terlihat sangat senang melihat wajah tersukses Sina.


Sekali lagi, tangan yang ada di balik gaunnya mengepal kuat berusaha menahan diri.


Sina menganggukkan kepalanya tidak yakin. Karena faktanya baby tidak pernah membuat ulah atau menyakitinya semenjak Dion tinggal di sini. Justru hari ini Sina heran melihat pergerakan aktifnya.


"Dia hanya gugup karena sebentar lagi dia akan lahir." Tapi mungkin saja ini karena waktu kelahirannya kian dekat.


Dokter saja mengatakan bila baby akan membuat pergerakan lebih aktif dari biasanya sehingga tidak menutup kemungkinan perutnya akan lebih sering sakit.


"Bukankah dia membebani mu?" Perlahan Risa berjalan mendekati Sina.


"Dia tidak membebani ku sama sekali, aku malah senang melihatnya kian aktif." Karena dokter bilang baby sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya.


Risa menggelengkan kepalanya membantah.


Mendengar kata ini Sina sontak terkejut. Dia menatap Risa tidak percaya dan berharap jika itu hanya bercandaan saja.


"Risa jangan bercanda, dia adalah keponakan mu jadi bagaimana mungkin kamu ingin aku melenyapkannya."


"Hem," Langkah kakinya berhenti.


Dia berpose seperti sedang berpikir keras, tapi itu hanya sesaat karena beberapa detik kemudian tangan kanan yang telah bersembunyi dari balik gaun akhirnya terangkat. Ternyata benda yang coba dia sembunyikan dari dalam gaun adalah sebuah pisau dapur yang tajam dan masih baru.


Sepertinya itu baru saja dibeli.


"Risa..apa..apa yang kamu coba lakukan?" Teriak Sina ketakutan.


Melihat pisau ditangan Risa membuat otak Sina langsung bekerja cepat mengirimkan tanda bahaya. Dia segera mundur ke belakang berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dari Risa.


"Apa yang coba aku lakukan?" Dia berpura-pura bodoh.


Atensinya lalu melihat pisau yang dia pegang dengan tatapan menilai, sedetik kemudian berpindah melihat perut bundar Sina yang menjijikkan.


"Tentu saja aku akan membantumu mengeluarkan anak itu dari dalam perutmu. Bukankah rasanya menyakitkan terus membawanya kemana-mana?" Ucap Risa polos, membuat Sina merinding di sekujur tubuhnya.


Sina spontan melindungi perutnya dengan kedua tangan dari tatapan Risa meskipun itu sama sekali tidak berguna. Itu hanya gerakan spontan darinya untuk respon ketakutan yang dia rasakan.


"Oh," Risa tiba-tiba terkejut.

__ADS_1


Dia kemudian melihat wajah cantik Sina yang tadinya bersinar kini meredup digantikan wajah pucat pasi yang menggiurkan.


"Bagaimana jika aku juga melenyapkan kamu dari dunia ini?" Dia menawarkan solusi yang lebih ekstrim lagi.


"Risa ku mohon sadarlah.. aku..aku adalah Sina dan anak yang aku kandung ini adalah anak ku dengan Dion. Dia adalah keponakan kamu..jadi ku mohon tenangkan lah dirimu.." Sina mencoba menenangkan Risa seraya terus mundur ke belakang.


Sesekali menoleh untuk mencari keberadaan ponselnya.


"Justru karena anak itu aku harus melenyapkan kamu dari dunia ini!" Teriak Risa sekuat tenaga.


Berjenggit kaget, Sina hampir saja terjatuh jika dia tidak berpegangan pada dinding di belakang. Baby di dalam perutnya juga lebih panik dari pertama karena merespon ketakutan Sina.


"Dia anak Dion, Risa! Anak ini adalah anak Kakak kamu!" Sina masih berusaha menyadarkan Risa.


"Kakak ku?" Tanyanya dengan ekspresi mengolok-olok.


"Hei, biar ku beritahu kamu kebenarannya." Risa duduk di atas lengan sofa.


Memain-mainkan pisau dapur yang ada di tangannya dengan santai.


"Dion adalah Kakak angkat ku-oh, lebih tepatnya aku adalah adik angkatnya. Aku dan dia tidak punya hubungan darah apapun oleh karena itu diantara semua gadis yang mengharapkannya hanya aku yang pantas bersanding dengannya." Matanya lalu melirik wajah shock Sina.


Seperti dugaannya, wanita bodoh ini ternyata tidak tahu apa-apa tentang keluarga mereka. Baguslah pikirnya, karena dengan begitu dia akan mudah menyingkirkannya dari kehidupan Dion.


"Tapi kamu!" Dia bangun dengan amarah yang lebih tinggi.


Menunjuk-nunjuk Sina dengan pisau yang ditangannya.


"Kamu hanyalah wanita biasa! Kami tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ku! Tapi kenapa harus kamu yang dipilih oleh Kakak ku?! Kenapa harus kamu yang dipilih olehnya!"


"Aku?"


Dia memukul-mukul dadanya tidak mengerti.


"Aku cantik, aku juga akan kuliah di Belanda sama sepertinya, aku juga sempurna...aku jauh lebih dari sempurna dibandingkan dengan mu tapi kenapa? Kenapa harus kamu yang mendapatkan cintanya! Kenapa harus kamu yang mendapatkan perhatiannya! Kenapa harus kamu yang bisa membuatnya segila itu?! Padahal.. padahal Sina kamu tidak punya apa-apa yang bisa dibanggakan!" Dia menjambak rambutnya uring-uringan.


Penampilannya sudah tidak lagi anggun seperti beberapa menit yang lalu. Dia malah terlihat kacau dan depresi.


"Risa.. sadarlah.." Sina semakin ketakutan melihat tingkah aneh Risa yang lebih pantas disebut sebagai orang gila.


Dia sudah tidak waras, dia tidak bisa membedakan mana yang benar dan buruk saat ini.


"Ei, orang yang harusnya sadar adalah kamu, Sina!"


Dia kini menatap Sina yang terus mundur ke belakang. Tersenyum dingin, dia lalu berjalan mendekati Sina dengan langkah yang dibuat main-main.


"Kemana kamu akan pergi Sina?" Tanyanya mengejek.


"Kamu.." Dia mengambil sebuah guci dari dalam kardus, membawa guci itu bersamanya mendekati Sina.


Mengangkat guci itu tinggi-tinggi dan melemparkannya ke arah Sina dengan sekuat tenaga.


"Harus mati!"

__ADS_1


Bersambung...


Selamat Berbuka Puasa Bagi Yang Menjalankan 🌼


__ADS_2