Dear Dion

Dear Dion
88. Dugaan Sina


__ADS_3

"Sina...malam ini aku bobok di sini, yah?" Calista masuk ke dalam kamar karena belum mendapatkan respon dari Sina.


"Boleh-"


"Gak boleh!" Potong Dion dan Ridwan bersamaan.


"Lho, kok gak boleh sih?" Tanya Calista heran.


Dion dan Ridwan saling melirik, permusuhan mereka beberapa saat yang lalu terpaksa dipadamkan dulu karena saat ini mereka harus memperjuangkan keadilan yang seharusnya di dapatkan.


"Begini.." Dion berusaha mencari alasan yang masuk akal.


"Sina saat ini bisa dianggap sebagai orang yang diasingkan keluarga kita oleh karena itu kamu gak bisa tinggal di sini. Jika kamu tinggal di sini Papa sama Mama pasti tidak bisa menerimanya. Mereka akan datang ke sini dan membuat masalah yang lain lagi untuk Sina. Apa kamu paham?"


Bila Nyonya Ranti dan Tuan Edward datang kemari Dion akan kesulitan menghadapi mereka. Kemungkinan terburuknya adalah dia terpaksa mengatakan semuanya kepada mereka. Entah itu tentang perasaannya kepada Sina atau tentang anak mereka, mungkin Dion terpaksa mengungkapkannya.


Calista melirik Sina tidak nyaman.


Dia sudah mendengarnya kemarin tentang masalah yang membuat Sina harus berakhir di tempat ini. Semua itu gara-gara Bela dan Kira yang sengaja memfitnah Sina di depan Nyonya Ranti. Merusak nama baik Sina di depan Nyonya Ranti sehingga Sina tidak punya kesempatan untuk tetap tinggal di rumah ini.


Betapa menjijikkannya!


"Makanya Kak Dion sama Kak Ridwan kalau mau cari pacar tuh jangan cuma liat tampangnya aja tapi liat juga warna hati mereka!" Lagi-lagi Calista menggaungkan keluhan ini.


Bela dan Kira adalah wanita busuk yang menyukai kedua laki-laki ini!


Huh, Calista bertambah kesal setiap kali mengingat kenyataan ini.


"Siapa yang mau pacaran sama mereka!" Dion dan Ridwan kompak menolak!


Sina di atas ranjang sedari tadi berusaha menahan tawanya, merasa lucu melihat ekspresi terpelintir Dion dan Ridwan.


"Ya kalau kalian gak mau pacaran sama mereka terus kenapa kalian biarin mereka berdua terus nempelin. Udah gitu nempelnya pakek nginap segala di rumah ini, emang rumah ini tempat penampungan apa!" Cibir Calista langsung menohok.


"Aku gak pernah izinin Bela nginap di sini, dek." Dion membantah.


"Aku gak maksud ajak dia ikut kemanapun aku pergi karena faktanya Kira sendiri yang ngikutin aku kemana aja." Ridwan membela diri.


Calista memutar matanya tidak perduli. Mendorong Dion menjauh dari Sina dan duduk bak penjaga di atas ranjang menemani Sina.


"Alah, alasan doang. Emang yah, semua laki-laki itu buaya. Mulut mereka aja bilang Ab tapi hati mereka bilang FG, udah basi mah alasan yang begini." Calista yang sudah menjadi korban drama ikut terbawa suasana.


"Kalau Kakak udah gak di raguin manusia dan bukan buaya, tapi kalau orang yang di sebelah Kakak ini udah gak di raguin lagi biawak jejadian. Kamu harus hati-hati saat dekat dengannya nanti." Dion masih menyempatkan diri mengolok-olok Ridwan.


"Wah..wah..lagi ngomongin diri sendiri, yah?" Balas Ridwan balik mengolok.


"Udah ah, kalian berdua sama aja!" Lerai Calista tidak ingin mendengarkan lagi.


"Sekarang kalian berdua mending turun ke bawah. Masakin kita berdua makanan yang enak di dapur. Ingat, harus masakan kalian berdua atau kalau enggak aku akan bawa Sina keluar dari paviliun dingin. Biarin dia tinggal di rumah aku daripada di tempat ini!" Ancam Calista kepada dua laki-laki besar yang ada di depannya.


Sebenarnya orang yang ingin Calista ancam adalah Dion karena alasan Sina sampai menderita di rumah ini karena Dion sendiri.


"Tapi'kan kamu baru aja selesai makan, sayang." Riswan dengan ramah mengingatkan.


Calista melotot tersinggung.


"Aku masih belum puas, maunya makan masakan Kak Ridwan. Lagian yah kita berdua gak ada hubungan apa-apa jadi gak boleh sayang-sayangan!"


Ridwan tidak tahu harus mengatakan apa-apa lagi. Nafsu makan Calista yang cukup besar memang membuatnya terkejut. Dia jadi bertanya-tanya apakah di dalam perut Calista ada perkampungan cacing atau apa mengingat nafsu makannya yang besar.


Ridwan juga pernah merasakan perut Calista yang membuncit itu pasti karena terlalui banyak makan. Lain kali, Ridwan harus menasehati Calista agar belajar diet atau puasa. Toh ini juga demi kebaikan kekasihnya.


"Kamu tinggal sama Calista dulu, yah? Kalau ada apa-apa kamu langsung panggil aku. Ridwan sama aku ada di dapur jadi suara kamu nyampe kok di sana." Ujar Dion berpesan seraya mengusap lembut puncak kepala Sina.


Membuat Sina malu dan hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia tidak berani menatap mata Dion terlalu lama karena kedua mata maupun wajah Dion sangat mempesona!


Calista yang ada di dekat Sina hanya diam melihat interaksi mereka berdua. Itu memang hanya kata-kata pengingat biasa namun entah mengapa suasana yang diciptakan terasa begitu ambigu.


"Apa kamu ingin mengatakan sesuatu kepadaku?" Tanya Calista langsung setelah Dion dan Ridwan turun ke bawah.


"Mengatakan apa?" Sina pura-pura tidak mengerti namun warna merah di pipinya telah menunjukkan semuanya.


"Ya Tuhan, aku hanya pergi beberapa hari dan kamu sudah melangkah sejauh ini bersamanya. Katakan padaku apa yang sudah terjadi diantara kalian selama aku tidak ada di sini?" Calista sangat penasaran.

__ADS_1


Pasalnya beberapa hari yang lalu Sina menangis terisak ingin pulang ke rumah dan berjanji akan menjaga jarak dengan Dion. Tapi selang beberapa hari kemudian dia tampak baik-baik saja-tidak, jelas sangat baik-baik saja. Interaksinya dengan Dion saja tampak ambigu selayaknya sepasang kekasih. Tidak hanya itu saja, yang membuat Calista semakin tercengang adalah keberadaan Dion di sini!


Mengapa Dion ada di dalam Paviliun dingin bersama Sina!


Dia harus tahu kejelasannya.


"Bukankah kamu yang seharusnya mengatakan sesuatu kepadaku?" Kini Sina balik bertanya.


"Kalian menghilang beberapa hari tanpa kabar dan kembali ke sini dengan hubungan yang tampak ambigu. Apa kalian sudah berpacaran?" Lanjut Sina bertanya.


Ditanya balik Calista tidak langsung menjawab namun rona merah diwajahnya tidak bisa menampik bahwa ada sesuatu yang telah terjadi diantara mereka.


"Jadi kalian benar-benar pacaran?" Sina terkejut rapi senang memikirkannya.


"Kami belum pacaran." Bantah Calista langsung.


"Lho," Sina tidak mengerti.


"Kak Ridwan sudah mengatakan perasaannya kepadaku dan dia juga mengklarifikasi bahwa orang yang berciuman dengan Kira di club' malam itu bukan dia. Bahkan yang paling memalukan adalah Kak Ridwan masih mengingat malam ketika aku memberikannya minuman keras. Ahhhh...itu sangat memalukan!" Calista sangat malu mengingat percakapan mereka.


Rasanya dia ingin mengubur wajahnya setiap kali terngiang percakapan malam itu.


"Tapi..tapi dia mencintai mu'kan?" Sina senang juga cukup shock mendengarnya.


Dia tidak menyangka kepura-puraan Calista selama ini tidak berarti apa-apa di depan Ridwan.


"Dia memang mengatakan itu..." Calista mengiyakan.


"Tapi tetap saja itu memalukan!"


"Ini adalah akhir yang bagus, lebih baik dari yang aku harapkan. Lalu kenapa kamu masih belum berpacaran dengannya padahal sudah jelas-jelas dia mencintaimu." Sina masih bingung.


Dia memang sudah menduga jika Ridwan menyukai Calista mengingat tatapan halus yang Ridwan berikan selama ini.


"Aku akan menerimanya setelah dia menyelesaikan masalahnya dengan Kira. Aku tidak mau selama kami menjalin hubungan Kira akan datang mengganggu hubungan kami."


"Ini juga bagus.."


"Soal itu.." Calista mengulum senyumnya. "Aku akan segera memberitahunya."


"Kamu harus memberitahunya karena masalah ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Perutmu akan semakin membesar seiring waktu berjalan." Sina mengingatkan.


"Aku tahu..aku tahu.." Calista menepuk pundak Sina meyakinkan.


"Lalu, bagaimana dengan mu dan Dion. Aku tidak percaya bila tidak ada terjadi apa-apa dengan kalian berdua ketika aku pergi."


"Aku dan Dion..."


Memang banyak yang sudah terjadi tapi Sina tidak tahu bagaimana cara mengatakannya.


Hubungan mereka berdua tampak ambigu tapi Sina masih belum mendapat kejelasan apapun di sini. Dalam artian lain dia baru saja memulai kembali untuk mengharap cinta Dion.


"Kami memang-"


Terd..


Terd...


"Sebentar Sin, Mama ku nelpon." Calista turun dari ranjang untuk menerima panggilan.


Sina tidak tahu apa yang sedang Calista bicarakan karena jaraknya cukup jauh untuk menguping. Beberapa menit kemudian Calista menyelesaikan panggilan. Dia menatap Sina dengan ekspresi cemberut.


"Apa ada masalah?" Sina khawatir.


Calista menggelengkan kepalanya.


"Aku harus pulang ke rumah karena keluarga Mamaku akan menginap di sana. Jadi..aku tidak bisa tinggal lama di sini karena kata Mama mereka sebentar lagi akan sampai." Jawab Calista masih cemberut.


"Pulanglah, jangan buat mereka menunggu mu. Mereka pasti lelah setelah menempuh perjalanan yang jauh." Ada baiknya Calista segera pulang karena menurut Sina urusan ini cukup mendesak.


"Yah, besok pagi aku akan datang mengunjungi mu." Calista mengambil tas branded yang dia lempar tadi.


Memeluk Sina singkat dan segera turun ke bawah untuk memanggil Ridwan. Mereka harus segera pulang ke rumah karena keluarga dari Mamanya akan datang.

__ADS_1


Sina tinggal sendirian di dalam kamar sambil merenungi potongan ingatannya yang sempat tertunda karena kedatangan Calista. Dia mulai menganalisis wajah anak laki-laki yang ada di dalam ingatannya dengan wajah milik Dion. Seharusnya mereka cukup mirip.


Namun untuk saat ini Sina masih tidak berani berspekulasi tinggi bahwa orang yang dia selamatkan 15 tahun yang lalu adalah Dion.


"Apa yang sedang kamuWd pikirkan?" Masuk-masuk ke dalam kamar Dion melihat Sina sedang melamun.


Dia bahkan tidak terganggu sama sekali dengan suara pintu yang terdengar ketika Dion masuk ke dalam kamar.


"Aku..aku hanya memikirkan Calista." Sina berbohong.


Dion sama sekali tidak curiga meskipun dia tahu Sina sedang membohonginya.


"Yah, dia baru saja pergi dan kamu masih memikirkannya." Ucap Dion cemberut.


"Aku.." Sina tidak tahu mau mengatakan apa.


"Apa kamu sudah selesai memasak?" Dia mengalihkan pembicaraan.


"Aku baru saja selesai, ini hanya makanan biasa dan mudah dibuat. Mau turun?"


Karena Sina sudah mengambil topik ini maka dia seharusnya tidak akan menolak.


"Mau, tapi kakiku sulit berjalan di tangga." Rasanya cukup menyusahkan.


"Maka kamu tidak perlu berjalan." Kata Dion tidak ambil pusing.


Dia langsung mengangkat Sina, menggendongnya ala pengantin baru untuk yang ketiga kalinya.


"Seharusnya kamu tidak perlu melakukan ini.." Sina tersipu.


"Apa rasanya tidak nyaman?" Goda Dion bermain-main.


"Tidak.. rasanya sangat nyaman." Sina tampak gugup.


"Lalu kenapa kamu tidak mau aku gendong seperti ini?" Dion berpura-pura tidak tahu.


"Itu.." Sina melirik Dion hati-hati.


"Aku tidak mau merepotkan mu dan aku juga takut kamu kelelahan membawaku kesana kemari."


Dion tersenyum simpul,"Aku sama sekali tidak merasa kerepotan atau lelah membawamu seperti ini. Malahan aku lebih nyaman melihat mu selalu dekat denganku." Dion sama sekali tidak menyembunyikan perasaannya.


Dia sudah mengatakannya bukan?


Dion akan mengejar Sina mulai sekarang dan tidak akan canggung lagi menunjukkan perasaannya.


"Oh.." Dia tidak bisa mengatakan apa-apa.


"Wajahmu merona." Bisik Dion semakin membuat Sina salah tingkah.


Sina tidak berani mengatakan apa-apa tapi kepalanya diam-diam bersandar pada dada bidang Dion. Dia menutup kedua matanya merasakan suara detak jantung Dion yang sangat kuat dan cepat.


Jantungnya juga berdebar kencang sama seperti milikku. Batin Sina berbunga-bunga.


Bersandar pada dada bidang Dion sambil mendengarkan suara detak jantungnya sebagai pengiring tidur terbaik, rasa kantuk Sina tiba-tiba datang menyerbu. Kedua matanya mulai berat dan perlahan tertutup seiring wangi khas Dion yang candu membekalinya.


"Dion.." Panggilnya mulai tidak sadarkan diri.


Dion menoleh ke bawah dan menemukan Sina sudah tertidur lelap di dalam pelukannya. Melihat ini dia tidak tahu harus tertawa atau menangis karena Sina belum makan apa-apa malam ini.


Dia khawatir ini akan membuat tubuh Sina mengalami sebuah masalah.


"Dasar putri tidur.." Dion menggelengkan kepalanya tidak berdaya.


Berbalik 360 derajat untuk kembali ke dalam kamar.


Sambil berjalan Dion sempat memikirkan untuk membelikan Sina susu untuk wanita yang baru hamil. Dia memutuskan besok setelah pulang dari kantor akan menyempatkan diri ke supermarket untuk membeli keperluan kekasihnya yang sedang mengandung.


"Untuk malam ini..aku akan membiarkan mu lolos tapi tidak ada lagi lain kali di masa depan, dasar putri tidur." Bisik Dion terkekeh seraya mengusap wajah tampannya di atas puncak kepala Sina.


"Mimpi indah sayang."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2