
Sina masuk ke dalam kamar seraya membawa makan malam untuk Calista dan menempatkannya dengan hati-hati di depan Calista yang dari tadi sibuk melamun.
"Makan dan jangan melamun." Tegur Sina mengingatkan.
Calista tersadar dan melihat makanan yang ada di depannya. Jika dia tidak salah menilai makanan ini seharusnya untuk satu orang'kan?
"Kamu tidak makan?" Tanya Calista bingung.
Sina menganggukkan kepalanya pelan.
"Aku tidak nafsu makan jadi tidak apa-apa'kan jika kamu makan sendiri?" Tanya Sina meminta pendapat.
Sina tidak tahu mengapa akhir-akhir ini dia tidak nafsu makan. Terkadang dia juga merasa mual jika melihat makanan yang penuh minyak dan bau rempah yang kuat padahal biasanya dia biasa-biasa saja ketika melihatnya. Awalnya dia pikir itu karena Dion yang tidak kunjung pulang sehingga membuat nafsu makannya berkurang dan menimbulkan gejala maag. Akan tetapi hari ini Dion pulang tapi nafsu makannya masih saja seperti ini tanpa ada perubahan.
Mungkinkah... Sina benar-benar asam lambung?
Calista mengangkat bahunya acuh seraya menenggelamkan dirinya memakan makanan yang ada di depannya. Gadis tidak makan saat malam hari itu wajar karena mungkin saja dia ingin diet. Jadi, Calista tidak terlalu memikirkannya dan memutuskan untuk berpikir positif.
Diam, Sina memperhatikan jika nafsu makan Calista agak berat. Maksudnya, dengan porsi sebanyak ini Calista sangat mudah melahap habis semuanya. Membuat Sina bertanya-tanya apakah memang Calista pemakan yang rakus atau mungkin karena dia sedang bersedih nafsu makannya terpacu banyak.
Karena yah... banyak orang yang sedang galau melampiaskannya lewat makan banyak. Semakin galau dia semakin banyak yang dia makan.
"Seperti biasa, masakan Bik Mur selalu enak." Ucap Calista di sela-sela mengunyahnya.
Jika saja Sina tidak melihatnya menangis terisak saat sore tadi di taman mungkin Sina akan meragukan kesedihan yang melanda Calista karena nafsu makannya terlalu besar.
Sina pikir akan ada yang bersisa tapi nyatanya Calista sama sekali tidak menyisakan sedikitpun makanan di atas piring. Malah, setelah makan makanan berat kini Calista mulai ronde baru menggerogoti cemilan yang ada di dalam kamar Sina dengan santai dan tanpa malu-malu.
"Nafsu makan mu cukup besar.." Ucap Sina hati-hati tidak bermaksud menyinggung Calista.
Calista menganggukkan kepalanya mengerti dan tidak terganggu sama sekali dengan apa yang Sina katakan. Karena buktinya dia sangat rakus tadi jadi apa yang perlu dibantah?
"Yah, makanan di sini enak-enak jadi mana mungkin aku melewatkannya semudah itu." Ujar Calista jujur.
"Tapi rumah mu juga besar jadi tidak mungkin'kan tidak ada makanan enak di sana?" Keluarga Calista kaya dan tentu saja rumahnya dipenuhi dengan makanan yang enak.
"Yah, di sana memang banyak makanan tapi tidak seenak makanan yang ada di sini. Aku juga punya sedikit masalah di sana.." Dia menghentikan acara mengunyahnya.
Meletakkan toples makanan ringan yang dia peluk tadi, perlahan tangan kanannya mengusap lembut dan penuh kasih sayang perut buncitnya yang terlihat seperti tumpukan lemak.
"Makan makanan sebanyak ini di depan orang tuaku membuat hatiku menjadi tidak nyaman dan merasa bersalah." Lanjutnya terlihat murung.
__ADS_1
Sina mengikuti gerakan tangannya yang penuh kasih sayang dan agak bingung menebak apa maksud Calista. Mungkinkah dia masih lapar atau ada bayi yang imut di dalam sana.
"Kenapa kamu tidak nyaman makan di depan kedua orang tuamu? Mungkinkah itu karena kamu hamil diluar nikah?" Tanya Sina bercanda, menghibur suasana hati Calista yang buruk.
Mendengar pertanyaan Sina langsung saja Calista menatap Sina dengan tatapan terkejut. Dia tidak pernah menyangka jika Sina bisa menebak dengan akurat kehamilannya karena saat Mamanya melihat perut buncit ini, dia menebak jika ini hanya tumpukan lemak sehingga menyarankan agar Calista lebih banyak olahraga untuk mengempiskannya.
"Kamu...bisa melihatnya?" Calista sangat terkejut.
Sina lebih terkejut, rahangnya hampir jatuh saking terkejutnya. "Ja-jadi kamu benar-benar hamil?"
Calista mengangguk dengan malu. "Ya, aku hamil dan usia kandungan ku sebentar lagi masuk 2 bulan."
Tangan kirinya ikut mengusap perut buncit yang menonjol halus dibalik pakaian tidur milik Sina yang dia pakai. Tatapan sendu di kedua matanya dengan penuh kasih sayang menatap perut buncit yang sedang dia usap. Sebuah perasaan hangat semakin mengalir setiap kali dia memikirkan ada sosok mungil nan lembut yang sedang tidur lelap di dalam perutnya. Sebuah sosok mungil yang tercipta dari penyatuan darah dirinya dengan laki-laki yang dicintai. Rasanya luar biasa membahagiakan apalagi jika laki-laki itu mau menerima kehadiran sosok mungil ini.
Ya, andai saja.
"Kamu..hamil hampir 2 bulan tapi kenapa..kenapa kamu masih belum menikah juga? Apakah kekasih mu punya kesibukan yang tidak dapat ditunda sehingga pernikahan kalian harus ditunda dulu untuk menyelesaikan kesibukannya?" Tanya Sina hati-hati.
Bibir tipis Calista tersenyum miris, "Andai saja kebenarannya seperti itu mungkin aku tidak akan berlari ke sini untuk menenangkan diriku."
Sina tertegun, "Maksudmu dia lari meninggalkan mu dan tidak ingin bertanggungjawab?" Tanya Sina agak kesal.
"Dia tidak lari tapi akulah yang melarikan diri darinya." Kata Calista membuat Sina masih belum mengerti.
"Kenapa kamu melarikan diri darinya? Katakan saja jika kamu hamil dan kalian bisa menikah. Kamu tidak berniat menggugurkan kandunganmu'kan?" Sina merasa was-was.
"Bodoh, akulah yang menginginkannya jadi mengapa aku harus menggugurkannya?" Calista terkekeh geli melihat ekspresi was-was Sina.
"Aku tidak bisa memberitahunya karena dia sudah punya kekasih. Jika aku memberitahunya hubungan mereka akan hancur dan aku tidak ingin mereka putus hanya gara-gara aku. Lagipula, meskipun aku memberitahunya laki-laki itu juga belum tentu mau menerima ku karena dari awal semua ini adalah kesalahan ku sendiri." Lanjut Calista kembali murung.
Ini adalah kesalahannya sendiri dan dia tidak yakin jika laki-laki itu mau menerimanya. Pasalnya, laki-laki itu sudah punya orang yang dia cintai sehingga akan sulit meninggalkan wanita itu hanya untuk menikah dengan dirinya.
"Kesalahan apa, bisakah kamu memberitahu ku?" Sepertinya ini lebih rumit dari yang Sina pikirkan.
Calista tersenyum tipis dan mulai mengenang kejadian 2 bulan yang lalu.
"Aku pertama kali bertemu dengannya saat Kak Dion membawaku ke sebuah jamuan makan di hotel X. Di sana dia memperkenalkan ku dengan salah satu sahabatnya yang baru pulang ke Indonesia setelah menyelesaikan sekolah kedokterannya di Amerika, Ridwan adalah namanya. Malam itu aku sempat berbicara singkat dengannya dan langsung jatuh hati kepadanya. Sikap yang terkesan dingin dan pendiam membuat ku tidak bisa menahan debaran kuat dari jantungku. Setelah pertemuan singkat itu, aku mulai bertekad untuk mengejar Ridwan dengan cara mencari tahu semua tentang Ridwan dari Kak Dion. Tidak hanya memberi tahuku tentang masa lalu Ridwan, Kak Dion juga memberi tahuku dimana tempat Ridwan bekerja. Rumah sakit X, rumah sakit besar yang ada di pusat kota ini adalah tempatnya bekerja. Aku mulai sering datang ke sana untuk sekedar bertemu dengannya dan terkadang membawakannya makan siang atau sarapan. Sesekali aku juga menawarkannya makan malam bersama di saat dia punya waktu luang untuk bersantai." Calista tersenyum lembut ketika mengingat masa-masa itu.
Masa-masa itu adalah waktu yang sangat berkesan untuk Calista. Dia begitu aktif ke sana kemari hanya untuk menarik perhatian Ridwan, menawarkannya berbagai macam hadiah yang seharusnya dimiliki oleh sepasang kekasih.
Ridwan, Sina masih ingat dengan jelas laki-laki ini. Salah satu sahabat Dion yang menjadi dokter di rumah sakit swasta terbesar di kota ini. Dia ingat dan sangat terkejut dengan apa yang dia dengar dari Calista. Meskipun masih belum jelas tapi Sina bisa menebak bahwa pemilik darah daging yang ada di dalam perut Calista adalah Ridwan.
__ADS_1
"Awalnya semua baik-baik saja dan berjalan dengan lancar sampai suatu hari Kira tiba-tiba mendatangiku di kampus. Dia bilang agar aku jangan mengganggu hubungannya dengan Ridwan lagi karena sebagai pacar Ridwan, dia sangat cemburu melihat sikapku yang terus-terusan mendekati Ridwan. Sejujurnya saat itu aku memang shock tapi belum mempercayai apa yang dia katakan karena kata Kak Dion mereka bertiga adalah sahabat jadi tidak mungkin ada perasaan cinta diantara Kira dan Ridwan. Aku meneguhkan keyakinan ku dan memutuskan untuk terus mendekati Ridwan, ya, itu adalah tekat terbesarku tapi tekat ku ini tidak bisa bertahan lama. Aku pergi ke sebuah club malam bersama dengan teman-teman kuliahku dan menemukan Kira dan Ridwan sedang berciuman di sudut.." Calista tidak bisa menyelesaikan kata-katanya.
Sebuah cairan bening tidak bisa dia tahan untuk tetap di dalam sarangnya. Jatuh mengalir lembut di kulit pipinya yang halus dan agak pucat. Padahal, kejadian itu sudah berbulan-bulan terlewati tapi sakitnya masih saja menyakitkan setiap kali mengingatnya.
Mengusap wajahnya singkat, dia melanjutkan lagi ceritanya. "Mereka berciuman di sebuah sudut ruangan tanpa memperdulikan orang-orang yang ada di sekitar mereka. Aku sangat terkejut dan merasakan sakit di saat yang bersamaan, aku tidak bisa menahan sakit yang aku rasakan sehingga aku lebih memilih untuk pergi dari tempat itu. Pulang ke rumah dan memutuskan untuk melupakan semua tentang Ridwan. Ya, aku melakukan semuanya selama berbulan-bulan. Melupakan Ridwan dengan cara menyibukkan diriku sendiri dan tidak lagi mencari Ridwan di rumah sakit tempatnya bekerja. Aku melakukan semuanya dengan lancar walaupun sangat sulit, aku saat itu berpikir jika rencanaku ini berhasil. Akan tetapi rencanaku ternyata mempunyai rintangan karena sempat beberapa kali kedua orang tuaku mengatakan jika Ridwan datang mencari ku ke rumah, bukan hanya kedua orang tuaku saja yang mengatakannya tapi Kak Dion juga. Mereka bilang Ridwan mencari ku dan ingin bertemu denganku. Aku tahu, aku Ridwan mencari ku karena sejak aku menghilang dia sering menghubungi ku namun tidak pernah ku respon. Tapi aku cukup terkejut mengetahui Ridwan sampai datang mencari ku ke rumah selama beberapa kali. Aku pikir dia datang mencari ku untuk memperjelas hubungan kami berdua jika cinta yang aku rasakan tidak bisa dipaksakan kepadanya. Kemudian, aku semakin menjaga jarak darinya dan mengganti nomor handphone ku agar dia tidak bisa menelpon ku lagi. Selama beberapa hari rencana ku ini berjalan sesuai harapan ku sampai tiba-tiba keluarga besar kami pergi berkemah untuk menikmati waktu keluarga. Aku pikir kegiatan ini sangat membantu ku untuk menjauh dari Ridwan tapi sayangnya tidak karena Ridwan ternyata ikut bersama Kak Dion. Otomatis kami akan sering bertemu di sana tapi walaupun kami sering bertemu aku mencoba untuk bersikap biasa agar tidak membuatnya merasa terganggu. Saat malam api unggun Ridwan mendatangi tendaku dan ingin mengatakan sesuatu kepadaku. Aku ingin menolak tapi berpikir lagi jika tidak seharusnya aku menjaga jarak darinya. Kami harus berbicara untuk memperjelas semuanya bahwa aku tidak akan lagi mengganggu hubungannya dengan Kira." Calista terbatuk ringan karena tenggorokannya terasa kering.
"Minum dulu." Sina dengan sigap memberikannya air putih.
"Terimakasih." Ucap Calista sebelum meminum air putih yang diberikan Sina.
"Kami berbicara di tempat yang agak jauh dari keramaian untuk melindungi privasi kami berdua. Lebih tepatnya dia membawaku ke sebuah bar yang memang disediakan untuk bersantai di sana. Suasananya agak mendukung dan seharusnya aku bisa mengatakan semua yang ingin aku katakan dengan lancar. Tapi.. ketika aku melihatnya mabuk pikiran ku tiba-tiba berubah. Aku tidak ingin melepaskan Ridwan setidaknya hanya untuk malam itu saja. Karena itulah aku membuat keputusan untuk membuat Ridwan lebih mabuk lagi dan untungnya Ridwan tidak bisa minum minuman beralkohol sehingga sangat mudah untuknya mabuk. Setelah dia mabuk aku membawanya ke dalam tenda ku dan seperti yang bisa kamu tebak...kami menghabiskan malam bersama di sana." Tangannya sekali lagi terulur mengusap perut buncitnya.
"Setelah berminggu-minggu bersembunyi darinya tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang salah dengan diriku oleh karena itu aku memutuskan untuk pergi ke rumah sakit untuk melakukan perjalanan. Aku pikir itu hanya penyakit biasa tapi ternyata aku hamil..aku hamil anak Ridwan. Aku hamil karena kesalahan yang aku buat sendiri sehingga aku tidak bisa memberi tahu Ridwan ataupun kedua orang tuaku tentang kehadiran anak ini. Aku takut mereka akan menolak dan memintaku untuk menggugurkannya. Aku tidak melakukannya..aku tidak bisa membunuh darah daging ku sendiri oleh karena itu aku memilih untuk diam dan bersembunyi dari mereka. Aku tidak siapapun mengetahui keberadaan anak ini..."
Sina langsung memeluk Calista hangat, mengelus punggungnya dengan lembut berniat menenangkan kesedihannya. Sina juga seorang gadis dan bisa mengerti bagaimana perasaan Calista menghadapi semua ini. Dia pasti sangat tertekan menghadapi semua masalah ini, entah itu hati atau keluarga, pasti itu sangat memberatkan Calista.
"Tenangkan dirimu, ingat, ada seorang anak di dalam perut mu. Jika kamu tertekan maka dia juga akan tertekan." Ucap Sina mengingatkan.
Dilihat dari sikapnya Calista tidak ingin anak itu digugurkan sehingga sudah pasti dia menyukainya. Karena Calista menyukainya maka Sina akan mengingatkan Calista bahwa emosi apapun yang Calista rasakan akan dirasakan juga oleh anak yang ada di dalam perutnya.
"Aku tahu dan aku akan mencoba mengontrol emosi ku lebih baik lagi. Sina, terimakasih karena sudah mau mendengarkan ku." Ujarnya tulus dari hatinya yang terdalam.
Sina menggelengkan kepalanya ringan, "Aku adalah keluarga mu sekarang jadi kamu tidak perlu berterima kasih kepada ku. Katakan saja jika kamu tidak nyaman maka aku akan mendengarkannya."
Calista tersenyum tipis, dia melepaskan pelukan Sina dan meminum air putih untuk melegakan tenggorokannya.
"Jadi, bagaimana rencana mu selanjutnya? Kamu tidak ingin Ridwan dan kedua orang tuamu tahu tentang kehamilan mu, jadi aku penasaran apa rencana mu selanjutnya."
Calista tidak ingin mereka tahu tentang kehamilannya jadi Sina agak bingung apa yang harus Calista lakukan. Mustahil rasanya terus menyembunyikan kehamilannya dari mereka kecuali Calista berencana tinggal di tempat yang jauh untuk bersembunyi. Mungkinkah Calista akan tinggal di tempat yang jauh?
"Aku masih belum memikirkannya karena masa depan adalah sebuah misteri. Bisa jadi aku akan memberi tahu kedua orang tuaku atau bisa jadi aku pergi keluar negeri dengan alasan ingin kuliah. Apapun itu, aku hanya bisa menyerahkan semuanya kepada Tuhan." Jawab Calista masih belum memikirkannya.
Hening, mereka berdua terjebak dalam pikiran masing-masing. Jika Sina sibuk mengkhawatirkan rencana Calista ke depannya maka Calista justru sibuk memikirkan nasib Sina di rumah ini ke depannya.
Tidak ada yang tidak tahu tentang Bela, gadis yang selalu mengisi hari-hari Dion setiap kali datang ke rumah ini. Dibandingkan dengan Sina, sejujurnya Bela jauh lebih baik dari segi apapun. Inilah yang membuat Calista khawatir Sina akan mendapatkan rasa sakit yang juga dia rasakan.
Jatuh cinta pada seseorang yang sudah mencintai orang lain, itu sungguh menyakitkan.
"Sina," Panggil Calista serius. "Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu."
Bersambung..
__ADS_1