Dear Dion

Dear Dion
104. Dia Monster


__ADS_3

Lampu ruang operasi langsung berwarna merah ketika Dion keluar dari ruang operasi. Dia takut dan khawatir ingin tinggal di dalam menemani Sina melewati semua itu tapi dia tidak bisa..


Dia tidak bisa melihat pisau tajam mengiris kulit Sina, dia tidak bisa melihat darah merah bercucuran dari daging Sina, dan dia tidak bisa melihat anak yang dia dan Sina selama ini nanti-nantikan berubah menjadi dingin nan kaku.


Dion sungguh tidak bisa meskipun dia tahu bahwa semua itu adalah keinginan egoisnya.


"Bos, kami sudah membawa dia ke kantor polisi untuk-"


Sebelum dia selesai mengatakan apa-apa Dion sudah sudah melayangkan pukulan ke wajahnya. Dia langsung jatuh ke lantai dengan pipi kanan yang mulai membengkak biru tapi anehnya tidak menyuarakan keluhan.


Padahal dari memarnya saja orang tahu bila pukulan Dion tidak main-main.


"Kenapa dia bisa masuk ke apartemen ku?" Tanya Dion dingin.


Laki-laki itu menjawab cepat,"Non Sina yang membiarkannya masuk-"


"Aku tahu! Kamu pikir aku bodoh?!" Bentak Dion marah.


"Tapi yang aku maksud adalah bagaimana bisa dia tahu apartemen kami dan kenapa dia bisa masuk padahal kalian semua sudah aku tugaskan di sana untuk menjaga Sina!" Teriak Dion sangat marah.


Dia jelas-jelas menyerahkan keamanan Sina kepada mereka sehingga dia bisa tenang pergi keluar untuk membeli makanan. Dia sudah mempercayakan keselamatan kekasihnya kepada mereka tapi kenapa?


Kenapa hal ini masih saja terjadi dan lagi-lagi korbannya adalah Sina!


Bagaimana mungkin.. bagaimana mungkin Dion tidak merasa sakit ketika memikirkannya?


Itu sungguh menyakitkan.


"Apa yang aku katakan sebelumnya kepada kalian?" Volume suaranya kali ini tidak membentak tapi rasa dingin yang menguat jauh lebih kuat dari pertama.


Merasakan ini satu-satunya yang ada dipikiran laki-laki itu adalah, Bos akan kehilangan rasa kemanusiaannya lagi.


"Kami harus mengawasi non Sina dan apartemen bos."


"Lalu, kenapa kalian melalaikan tugas kalian dan membiarkan wanita menjijikkan itu mencelakai kekasihku? Apa..kamu sudah tidak menginginkan hidupmu lagi?" Tanyanya tampak menikmati ketakutan laki-laki itu.


"Bos kami salah..tolong berikan kami kesempatan.." Mohon laki-laki itu.


"Lalu kenapa kalian membiarkan wanita menjijikkan itu menyentuh kekasihku!" Bentak Dion tidak sabar.

__ADS_1


"Bos.. Bos..itu karena Nyonya besar yang meminta kami menemaninya ke hotel X untuk melakukan pertemuan dan menjamin bila non Sina akan baik-baik saja bersama Risa. Kami awalnya menolak bos tapi Nyonya besar tetap bersikeras meminta kami pergi..jika tidak..dia akan melapor ke Tuan besar."


"Ouh.." Dion mencibir.


Bersandar di tembok sambil memandang rendah laki-laki itu.


"Sebenarnya siapa bos mu? Aku atau Papa ku?"


"Bos...kamu adalah bos kami." Jawabnya menahan gemetar.


Dion tersenyum dingin, mengotak atik ponselnya untuk menghubungi seseorang. Setelah itu dia sama sekali tidak berbicara atau memberikan tanggapan. Namun kedua matanya tetap berkilat dingin melihat laki-laki berbaju hitam yang masih berdiri kaku.


"Bos," Dari lorong sebelah kiri muncul laki-laki kekar dengan stelan serba hitam.


Tampak misterius dan membawa aura dingin.


"Seret dia." Perintah Dion kepada laki-laki yang baru datang itu.


"Siapa, bos." Laki-laki kekar itu lalu bergerak cepat menangkap laki-laki itu sebelum melarikan diri.


"Bos..bos.. mengapa kamu melakukan ini kepadaku?" Tanya laki-laki itu panik.


"Jangan lepaskan sebelum dia mengatakan semuanya, Hem..aku juga ingin dia merasakan sakit sama seperti yang Sina rasakan. Apa kamu paham?"


Laki-laki kekar itu mengangguk cepat.


"Aku paham."


"Lalu," Mata dinginnya berubah menjadi sendu ketika melihat pintu ruang operasi masih tertutup rapat dan masih menyala merah.


Sudah 20 menit berlalu, 20 menit terlambat dan terkejam yang pernah Dion rasakan.


"Beli wanita menjijikkan itu dari tahanan polisi. Aku ingin kamu memotong kedua tangan dan kakinya agar dia bisa merasakan bagaimana rasanya lebih baik mati daripada hidup. Apa kamu sanggup?"


Ini adalah pekerjaan yang sangat gila, orang normal biasanya akan langsung menolak karena mereka masih punya rasa kemanusiaan. Namun Dion berbeda. Dia sudah lama berkecimpung dalam dunia bisnis dan bisnis mengajarkannya apa itu dunia gelap atau apa itu dunia bersih.


Dion memang tahu dunia gelap tidak baik namun dia tidak bisa melakukan apa-apa karena di dalam pikirannya dia mempatenkan jika kejahatan hanya bisa dilawan oleh kejahatan pula.


Konsep dunia ini memang seperti itu.

__ADS_1


Menjijikkan.


"Bos, bukankah ini terlalu kejam untuknya?" Laki-laki yang diamankan pemilik tubuh kekar itu bersuara cemas.


Dari sinar matanya Dion tahu bila laki-laki ini sudah lama mengkhianatinya.


"Apa yang wanita menjijikkan itu berikan kepada mu?" Tanya Dion mengejek.


"Bos..ini tidak seperti yang kamu pikirkan.."


"Hem, apa dia memberikan mu uang atau tubuhnya sendiri sebagai jaminan agar kamu mau mengikuti ucapannya, betapa naif! Kamu pikir aku tidak bisa melihatnya?"


Mata dinginnya lalu beralih menatap laki-laki kekar itu.


"Ketika kamu mengeksekusi wanita menjijikkannya itu, aku ingin kamu melakukannya di depan sampah ini tanpa bius. Mengerti?"


"Jangan.. jangan-" Laki-laki kejar itu langsung memukul tengkuknya sehingga dia pingsan.


"Mengerti, bos."


"Bagus, sekarang kamu boleh pergi." Usir Dion kembali murung.


Begitu laki-laki itu pergi, dia duduk bersandar di depan ruang operasi dengan bertumpu di kedua lututnya. Perasaan putus asa ini terakhir kali Dion rasakan ketika Sina berjuang antara hidup dan mati 15 tahun yang lalu.


Waktu itu sangat sulit karena dia tidak punya kekuatan apapun untuk membela diri apalagi sampai membela Sina. Namun sekarang berbeda, dia punya segalanya untuk membalas setiap orang yang berbuat jahat. Dia punya semuanya tapi tetap saja rasanya sangat hampa karena semua itu tidak ada artinya bila Sina tidak ada di sisinya.


"Dion..Nak, apa yang terjadi dengan Sina?"


Nyonya Ranti dan Tuan Edward segera ke rumah sakit setelah mendapatkan laporan dari bawahan mereka bila Sina terluka. Mereka tidak tahu secara spesifik kondisi Sina namun yang pasti bawahan yang mereka kirim untuk mengawasi hidup Dion dan Sina mengatakan jika Sina mengalami pendarahan hebat.


Perlahan Dion mengangkat kepalanya, menatap kedua orang tuanya dengan ekspresi kosong.


"Kenapa kalian tidak bertanya kepada monster yang telah kalian besarkan selama ini?"


Nyonya Ranti tertegun,"Dion.. maksud kamu apa?"


"Masih belum mengerti juga?" Dion lalu berdiri dari duduknya, dengan kedua mata merah dan basah dia menunjuk ruang operasi yang masih tertutup rapat.


"Monster yang kalian adopsi dan besarkan dengan kasih sayang sepenuh hati ingin mengambil nyawa Sina serta anakku!""

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2