Dear Dion

Dear Dion
28. Keanehan Calista


__ADS_3

Dingin.


Saat tangan Sina meraba tempat tidur yang ada di sampingnya dia tidak menemukan keberadaan Dion di sana. Tempat tidur itu juga sudah menjadi dingin yang menunjukkan bahwa Dion sudah lama pergi dari sini.


Maka langsung saja dia membuka matanya dan melihat sekitar kamar ini. Melihat tempat tidur di sisinya kosong dan pakaian yang semalam dia gunakan sudah tergeletak berantakan di bawah.


Semalam?


Sina tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaan saat ini. Semalam adalah kenangan yang tidak akan pernah dia lupakan sampai kapanpun karena orang pertama yang menyentuhnya adalah Dion dan orang pertama serta terakhir yang akan memilikinya adalah Dion. Seperti yang dia harapkan Dion mengambil semua pengalaman pertama hidupnya.


Mulai dari masakan pertamanya, ciuman pertamanya, dan kehormatannya sebagai perempuan. Dion mengambil semuanya namun Sina bersyukur karena orang yang mengambil semua itu adalah Dion, orang yang ia cintai di dunia ini.


"Aish..pantas saja Dion langsung pergi tanpa mengatakan apapun. Mungkin dia bangun kesiangan sehingga langsung pergi dari kamarku. Lihat saja sekarang, aku baru bangun setelah waktu masuk siang hari." Ujar Sina mencemooh dirinya.


Ia bangun dari acara berbaringnya dan menyadari jika saat ini ia masih belum mengenakan apa-apa. Tapi tidak masalah pikir Sina, toh hanya dirinya sendiri di kamar ini sehingga dia tidak perduli masih menggunakan pakaian atau tidak. Namun, aktifitas semalam tidak tidak membuatnya merasa malu. Saking malunya dia bisa merasakan jika wajahnya mulai memanas menahan malu!


"Ini wajar terjadi karena ini adalah pengalaman pertama untuk kami berdua." Bisiknya menghibur diri sendiri.


Dia lalu menarik selimut lebih tinggi lagi untuk menutupi dirinya dan mulai menurunkan kakinya ke lantai. Saat ia mencoba berjalan tiba-tiba Sina merasakan sakit di bagian privasinya. Rasa sakit yang sama dirasakan semalam, membuat kedua matanya menjadi merah menahan sakit.


"Apa semua perempuan di dunia ini akan mengalami rasa sakit setelah melakukan 'itu'?" Tanya Sina ingin tahu.


Karena bagian privasinya sakit Sina terpaksa berjalan dengan hati-hati untuk masuk ke dalam kamar mandi. Begitu masuk ke dalam ia langsung menyentuh menyingkirkan selimut warna merah muda yang dia gunakan untuk melindunginya ke tempat pakaian kotor.


"Ini..kenapa ada bercak darah di selimut ku?" Kaget Sina seraya mengambil kembali selimut yang dia lempar tadi.


Memeriksanya dengan hati-hati dan menemukan banyak bercak merah, Sina yakin jika bercak merah itu adalah darah.


"Mungkinkah ini darahku?" Tanyanya menebak seraya menundukkan kepalanya dan menemukan di paha bagian dalamnya ada juga bercak merah.


"Pantas saja rasanya sakit ternyata bagian privasi ku berdarah." Gumamnya menyimpulkan.


Setelah puas memeriksa selimut tersebut Sina kemudian memulai ritual mandinya dengan hati-hati dan bergerak seminim mungkin agar badannya tidak sakit. Saat mandi Sina juga menyadari jika banyak bercak-bercak merah di beberapa bagian tubuhnya yang sulit dikatakan. Itu seperti luka merah yang digigit tapi sebenarnya tidak terlalu sakit. Hanya saja warnanya terlalu mencolok dan akan membuat siapapun yang melihat ini menebak jika tanda itu ada karena seseorang menggigitnya.


"Apa Dion sangat lapar semalam sampai-sampai kulit ku saja dia gigit tanpa ampun." Gumamnya merasa lucu.


Apalagi saat mengingat sikap Dion yang kekanak-kanakan dan keras kepala, Sina pasti akan tertawa kecil memikirkannya.

__ADS_1


...🌺🌺🌺...


Semuanya berjalan seperti biasa di rumah dan Sina pun merasa lebih nyaman tinggal di sini meskipun ada beberapa orang yang masih belum menerima kehadirannya.


Walaupun begitu Sina tidak terlalu perduli karena cukup calon mertuanya dan Dion yang menerimanya, selain mereka Sina tidak terlalu memikirkannya. Bagi Sina orang-orang yang tidak menyukai Sina ini bisa menyukainya seiring berjalannya waktu.


Sina tidak akan memaksa dan Sina tidak akan meminta karena ketulusan hadir murni dari hati yang tulus.


To: Suami Tampanku


Kamu langsung pergi tanpa membangunkan, apa kamu tidak tahu betapa takutnya aku bangun tanpa melihatmu?


"Aku tidak tahu bagaimana ekspresinya saat melihat pesan ini." Ucapnya tidak bisa menahan perasaan senangnya.


"Apa yang sedang kamu tertawakan?" Tanya Calista heran.


Begitu masuk ke dalam rumah dia menemukan Sina sedang tertawa sendiri. Percayalah pemandangan ini justru membuatnya bergidik.


"Oh Calista, sejak kapan kamu masuk ke sini?" Tanya Sina memasang senyuman ramahnya.


"Sejak kamu mulai tertawa sendirian, kau tahu saat aku melihat mu tadi suasana di sini tampak aneh." Jawabnya acuh.


"Kamu bisa katakan sesukamu, aku tidak akan perduli." Kata Sina seraya melambaikan tangannya tidak terpancing.


Sejak pembicaraan mereka di taman Sina dan Calista akrab selayaknya teman yang sudah lama tidak bertemu.


Calista memutar bola matanya malas.


"Apa ini?" Tanya Sina pada paper bag yang dilemparkan Calista tadi.


Calista tidak melihatnya, "Buka saja."


Sina langsung membukanya dan melihat ada buku ukuran tebal di dalamnya. Melihat ini kening Sina berkerut tidak nyaman, ini semakin diperparah setelah dia mengeluarkan buku tersebut.


"Cerita sebelum tidur." Ia mengangkat wajahnya menatap Calista tidak mengerti.


"Kenapa kamu memberikan ku buku ini..kau tahu..ini buku untuk anak-anak dan bukan untuk orang seusiaku."

__ADS_1


Calista masih tidak melihat Sina karena dia sibuk memperhatikan kuku cantiknya yang dihias indah.


"Memang, tapi kau harus tahu jika orang yang patah hati tidak ada bedanya dengan anak kecil. Mereka butuh cerita yang dipenuhi dengan imajinasi yang tinggi untuk menghibur hati yang terluka." Jawab Calista.


Sina mengangguk ragu, "Mungkin..tapi apa hubungan orang yang patah hati denganku?" Tanya Sina lagi.


Calista menghentikan gerakan tangannya, mengalihkan perhatiannya untuk menatap wajah kebingungan Sina.


"Kamu akan tahu...suatu hari nanti. Intinya simpan saja buku ini berjaga-jaga."


"Apa kamu mengharapkan aku patah hati?" Tanya Sina tidak habis pikir.


Calista menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mendoakan mu tapi siapa yang tahu tentang masa depan. Bisa jadi kamu..yah, aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi."


"Kamu aneh.." Ucap Sina tidak mengerti.


Dia memang tidak suka buku ini tapi tidak ada salahnya menyimpan buku ini. Seperti yang Calista bilang tidak ada yang tahu tentang masa depan jadi Sina harus bersiap-siap dari sekarang untuk menyambut kedatangan buah hatinya.


"Apa ada sesuatu yang menarik di sana, kenapa dari tadi aku melihat kamu sering menatap ponsel mu?" Tanya Calista tidak tahan.


Sedari tadi Sina terus menatap ponselnya dan itu tidak terjadi dua atau tiga kali, tapi mungkin lebih dari sembilan kali!


Sina malu, "Aku sedang menunggu balasan dari Dion. Tapi sudah beberapa jam berlalu namun Dion masih belum membalas pesanku. Mungkin saat ini dia sedang sibuk atau rapat di kantor."


Calista sejenak terdiam, memandangi wajah cantik Sina yang masih senang memandangi layar ponselnya. Dia sama sekali tidak terlihat bersedih saat ini, dia malah terlihat senang memandangi layar ponselnya.


Calista tiba-tiba berdiri dari duduknya, "Aku..butuh makanan." Katanya seraya berlari cepat ke arah dapur tanpa menunggu respon dari Sina.


"Calista...di sini juga ada makanan. Kamu tidak perlu pergi ke dapur...hei!" Teriak Sina memberitahu namun Calista sama sekali tidak melihatnya.


Mengangkat bahunya merasa aneh, Sina memutuskan untuk menatap layar ponselnya lagi. Dia ingin melihat apakah Dion sudah membaca pesannya atau belum.


Akan tetapi sekuat apapun ia bolak-balik memeriksaku, Dion masih belum jua membuka pesannya.


"Dion mungkin sangat sibuk di kantor, aku seharusnya tidak terlalu mengganggunya." Katanya menyimpulkan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2