
Perlahan ia membaringkan Sina di atas ranjangnya kemudian menarik sebuah selimut lembut untuk menutupi tubuhnya. Setelah itu Dion duduk di samping Sina dan diam-diam mengamati wajah polos Sina yang sedang terlelap nyaman. Tangannya dengan lembut mengusap wajah Sina, menyingkirkan beberapa helai rambut nakal yang menodai wajah tidur Sina.
Usapannya bergerak semakin turun hingga menyentuh bibir ranum milik Sina, mengusapnya dengan pandangan yang rumit Dion kemudian menundukkan kepalanya dan dengan singkat mengecup bibir itu. Dagingnya begitu kenyal dan lembut, tanpa sadar membuat Dion kecanduan. Sejujurnya ia tidak puas akan tetapi karena ini adalah ciuman pertamanya rasa ketidakpuasan itu langsung hilang digantikan dengan sebuah senyuman yang mempesona.
"Mimpi indah, Sina." Bisiknya lembut.
...🌺🌺🌺...
"Anak laki-laki tidak boleh menangis karena kamu diciptakan menjadi orang yang kuat." Gadis kecil itu menghampiri anak laki-laki yang terlihat ketakutan dipinggir jalan.
"Laki-laki juga manusia jadi mengapa tidak boleh menangis? Meskipun terlahir lebih kuat tapi laki-laki juga punya ketakutannya." Ucap anak laki-laki itu terdengar masuk akal.
Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya seolah mengerti apa yang anak laki-laki ini maksud. Kemudian tangannya yang kecil menarik tangan anak laki-laki itu untuk berdiri dari duduknya.
Setelah menarik anak laki-laki itu, gadis kecil ini tersadar jika tinggi mereka berdua jauh berbeda. Gadis ini hanya setinggi dada anak laki-laki itu, langsung saja pikirannya bergerak cepat setelah melihat perbedaan tinggi mereka.
"Tapi kamu sudah besar jadi menangis sangat tidak diperbolehkan untuk laki-laki besar seperti kamu." Kata gadis kecil itu masih keras kepala dengan keyakinannya.
"Umurku baru saja 9 tahun dan tidak cukup untuk menjadi laki-laki besar, lihat..aku tidak setinggi orang-orang yang ada di sana." Kata anak laki-laki itu sambil mengarahkan jari telunjuknya pada sekelompok anak laki-laki yang tinggi dan besar-besar.
Tanpa sadar ketakutan anak laki-laki itu mulai terkikis ketika bersama gadis kecil ini.
"Jadi kamu masih anak kecil?" Tanya gadis kecil itu tampak takjub.
Anak laki-laki itu menganggukkan kepalanya dengan yakin, "Iya, aku masih anak kecil. Lalu, berapa umurmu? Aku tebak jika kamu juga masih kecil."
Gadis kecil itu mengangguk semangat, "Aku memang masih kecil, umurku saja baru 5 tahun. Oh ya namaku Sina, lalu siapa namamu?"
Sina, gadis kecil itu ternyata bernama Sina. Senyuman polosnya yang menyenangkan ikut mempengaruhi suasana hati anak laki-laki itu.
Dia tersenyum antusias dan dengan semangat pula menggenggam tangan Sina, "Namaku adalah-"
Sina tidak bisa mendengar apa yang laki-laki kecil itu katakan karena tiba-tiba ia sudah jatuh terkapar di atas aspal. Pandangan matanya yang semula jernih kini telah diwarnai dengan merah terang yang menakutkan. Semua orang yang ada di jalan berteriak mendekatinya namun anak laki-laki yang berbicara dengannya tadi tiba-tiba hilang di dorong kerumunan orang.
__ADS_1
Buram, Sina tidak bisa melihat dengan jelas karena kelopak matanya terasa berat dan sulit untuk digerakkan. Ia tidak bisa merasakan apa-apa sampai dirinya tertelan dalam sebuah kegelapan yang tidak berujung.
Gelap, sangat gelap.
"Mimpi itu lagi." Keluhnya lemah setelah bangun dari tidurnya.
Matanya yang jernih melihat sekeliling dan menemukan jika dirinya tidak di rumah, lebih tepatnya dia tersadar jika saat ini ia masih di rumah Dion untuk mendapatkan misi cinta dan membawa Dion pulang untuk dijadikan pewaris perusahaan keluarganya. Melirik jam manis yang ada di dinding,
Ia mengusap wajahnya lelah mengerang tidak berdaya pada ketidakmampuannya menghentikan mimpi itu.
"Sudah bertahun-tahun lamanya tapi mimpi ini masih belum hilang juga. Padahal tidak ada gunanya mengingat semua itu karena kejadiannya sudah terjadi 15 tahun yang lalu. Mimpi ini juga tidak bisa memberikan petunjuk apapun tentang anak laki-laki itu karena mimpi ini selalu berakhir di cerita yang sama." Sina mendudukkan dirinya di atas ranjang seraya mengenang masa lalu.
15 tahun yang lalu Sina bertemu dengan anak laki-laki yang terlihat ketakutan dipinggir jalan. Saat itu Sina ditemani oleh Mbok Yem ke toko es krim kesukaan Sina. Diperjalanan menuju toko tersebut ia tiba-tiba melihat anak laki-laki yang ketakutan dipinggir jalan dan terlihat kebingungan pada lingkungan sekitarnya. Sina penasaran dan memutuskan untuk berjalan mendekati anak laki-laki itu, sampai sana Sina akhirnya menyadari jika anak laki-laki itu tidak hanya ketakutan namun juga menangis.
Sontak Sina langsung mengajaknya berbicara dan memulai obrolan yang menyenangkan dengan anak laki-laki tersebut. Mereka berbicara singkat tapi itu cukup berkesan untuk Sina yang tidak punya teman, sampai akhirnya saat mereka saling memperkenalkan diri tiba-tiba ada sebuah mobil oleng yang akan menabrak anak laki-laki itu. Sina yang melihat kedatangan mobil itu tidak sempat mengatakan apa-apa dan langsung mendorong anak laki-laki itu menjauh dari posisinya. Sina juga tidak sempat untuk menyelamatkan dirinya karena orang yang menjadi korban tabrakan tersebut adalah dirinya.
Setelah itu Sina tidak ingat apa-apa tentang laki-laki itu kecuali pertemuan singkat mereka. Ingatannya juga semakin diperkuat dengan mimpi yang selalu menghantuinya beberapa malam. Yah, walaupun agak ingat tapi Sina masih belum jelas melihat wajah anak laki-laki itu sampai sekarang. Setiap kali memimpikannya seolah ada kekuatan aneh yang menghalangi Sina melihat wajah anak laki-laki itu secara jelas.
Mungkin anak laki-laki itu sudah melupakannya karena biar bagaimanapun juga pertemuan mereka sangat singkat dan seharusnya tidak memberikan kesan apapun kepada anak laki-laki itu.
Melirik jam manis yang ada di dinding, Sina akhirnya sadar jika ia tertidur di taman tadi saat Dion memijit kepalanya.
Dalam benaknya ia bertanya-tanya bagaimana bisa ia tiba-tiba ada di kamar sekarang? Mungkinkah Dion yang membawanya kembali ke kamar?
Tapi Sina meragukan hal ini karena Dion tidak mungkin seperhatian itu sampai membawanya ke lantai dua. Well, ia bukannya meragukan kelembutan Dion akan tetapi Sina sedang berpikir rasional jika berat badannya tidak akan pantas bisa dibawa dengan enteng oleh Dion. Karena Sina berbicara tentang lantai dua yang sudah tidak diragukan lagi tantangannya.
Jadi, Sina tidak percaya jika Dion yang membawanya ke sini.
Tok
Tok
Tok
__ADS_1
Sina terkejut dan langsung memperbaiki ekspresinya menjadi lebih baik lagi.
"Masuk." Ucap Sina mempersilakan.
Setelah mendengarkan izin Sina, pintu kamarnya langsung dibuka oleh seorang wanita paruh baya yang terlihat lembut dan penyayang.
"Non Sina, Tuan muda berpesan untuk bersiap-siap keluar bersamanya. Tuan muda ingin mengajak non Sina keluar siang ini." Lapor wanita paruh baya itu dengan sopan.
Sina sangat terkejut sontak langsung meluruskan punggungnya.
"Dion ingin mengajakku keluar rumah?" Tanya Sina memastikan.
Well, ini adalah sebuah kejutan untuknya jadi wajar saja ia akan kesulitan mempercayai berita ini.
"Benar, Tuan muda ingin membawa non Sina keluar rumah." Wanita paruh baya itu menegaskan.
Sina sangat gembira setelah mendengar penegasannya, kedua tangannya bahkan menutupi wajahnya untuk meredam kegembiraan yang membuat hatinya bergetar kuat.
"Aku..aku akan bersiap-siap dulu jadi tolong katakan kepadanya untuk menungguku sebentar saja di bawah." Pesan Sina sebelum turun dari ranjangnya.
Ia dengan panik masuk ke dalam kamar mandi namun tiba-tiba langkahnya terhenti, ia berbalik menatap wanita paruh baya yang kini sedang tersenyum menatapnya.
"Bibi, boleh aku tahu siapa namamu?" Tanya Sina malu.
"Nama saya Murni, non Sina. Panggil saja saya Bik Mur untuk kenyamanan non Sina." Jawab Bik Mur dengan senyuman yang sama.
Sina menganggukkan kepalanya semangat, "Terimakasih untuk informasi yang Bik Mur sampaikan, Sina sangat senang mendengarnya." Ucap Sina berterimakasih.
Lalu, ia benar-benar masuk ke dalam kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya dengan cermat dan teliti namun berusaha tidak memakan banyak waktu.
Hei, cinta terlalu rumit, ah!
Bersambung..
__ADS_1