Dear Dion

Dear Dion
84. Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


Suara pintu sekali lagi bergema di paviliun dingin ini. Membuat mereka berdua terperanjat kaget secara bersamaan. Sina ingin bangun membuka pintu tapi kakinya bermasalah. Dion juga tidak mengizinkan Sina berjalan kemana-mana karena kondisi kakinya yang masih bengkak.


"Biar aku saja yang membuka pintu." Dion menyelipkan tangan kirinya di bawah lutut Sina dan tangan kanannya ada di punggung Sina. Dengan sekali tarikan nafas Sina sudah ada di dalam dekapannya. Dia membawa Sina turun ke bawah dengan gendongan ala Putri.


"Kamu tidak perlu melakukan ini karena badanku berat." Ucap Sina tidak enak hati.


Dia sedang mengandung dan otomatis berat badannya bertambah. Jadi dia takut Dion akan berpikir negatif tentang dirinya.


"Sangat ringan, lain kali kamu harus lebih banyak makan agar berat badan kamu bertambah." Elak Dion berkata jujur.


Sina tentu saja tidak percaya dengan apa yang Dion katakan. Dia malah menganggap jawaban Dion adalah sebuah olokan terhadap berat badannya. Tapi mau bagaimana lagi Sina tidak bisa diet karena ada buah hatinya yang sangat membutuhkan asupan makanan.


"Apa tadi malam kamu juga membawaku kembali ke sini dengan gendongan ini?" Tanya Sina panik.


Jika jawabannya iya, maka Sina tidak tahu harus menyembunyikan wajahnya dimana.


"Hahaha.. pikirkanlah sendiri." Jawab Dion dengan nada ambigu.


Sina terdiam tidak berani mengatakan apa-apa lagi. Dia sungguh malu karena hanya dalam satu malam dia sudah merepotkan Dion berkali-kali. Dia membuat Dion kerepotan tapi anehnya Sina menikmati perasaan ini. Dia menikmati semua perhatian yang Dion berikan.


"Kamu tunggu dulu di sini dan jangan kemana-mana." Pesan Dion mendudukkan Sina di atas sofa santai.


Paviliun dingin memang kecil. Tidak banyak ruangan di dalamnya. Terdiri dari dua lantai dengan fungsi yang berbeda, lantai satu hanya melingkupi ruang tamu dan dapur sedangkan lantai atas hanya ada satu kamar saja. Meskipun cuma 3 ruangan tapi itu cukup luas untuk menerima banyak orang.


"Oke."


Sina tersenyum lembut melihat punggung lurus Dion berjalan ke arah pintu dan membukanya dalam satu tarikan. Dia pikir orang yang datang adalah Calista tapi ternyata dia salah karena nyatanya orang yang kini berdiri diluar adalah Bela. Senyuman lembut yang baru saja terbentuk di wajah Sina sontak langsung meredup digantikan dengan ekspresi muram.


Dia masih ingat fitnah yang Bela layangkan kepadanya dan dia juga masih ingat apa yang Dion katakan semalam kepadanya.


Bela bukan siapa-siapa untuk Dion tapi wanita bermuka dua ini terus saja menempeli Dion. Huh, gara-gara sikap sok memiliki terhadap Dion, Sina pernah dibuat salah paham.


Sekarang apa?


Dia benar-benar masih memiliki wajah mencari Dion!. Batin Sina cemburu.


"Kenapa kamu ada di sini?" Tanya Dion tanpa ekspresi.


Bela menyentuh tangannya gugup, melirik ke dalam dengan sengaja hanya untuk melihat Sina sedang duduk di atas sofa. Mata mereka bertemu tapi hanya beberapa detik karena Bela langsung mengalihkan pandangannya menatap kembali Dion.


Bela jelas cemburu melihat mereka berada di dalam satu ruangan seharian.


Ini pasti akal-akalan Sina. Batin Bela cemburu.


"Bela?" Panggil Dion lagi.


"Oh..ya..ini aku bawa sesuatu untuk kamu." Bela mengangkat sebuah kotak makanan yang ada di tangan kanannya.


Menunjukkan kepada Dion perhatiannya.


"Kamu gak pernah pulang ke rumah utama dan telpon dariku pun kamu gak angkat. Aku khawatir terjadi sesuatu makanya aku putuskan datang ke sini." Sambung Bela dengan maksud tersembunyi.


Wajahnya tampak cemberut menambahkan sentuhan manja dari seorang gadis pemarah.


Implikasinya jelas, Bela mengatakan seakan-akan Sina bukanlah orang yang baik untuk didekati. Dion memang mengerti tapi dia berpura-pura tidak melihat apa yang Bela inginkan.


"Aku minta maaf karena tidak bisa mengangkat telpon darimu. Hari ini aku sangat sibuk jadi tidak sempat untuk melihat ponsel." Ucap Dion beralasan.

__ADS_1


Dion enggan Bela ada di sini karena dia tahu Sina tidak akan senang. Dion sendiripun masih belum memaafkan apa yang sudah Bela lakukan kepada Sina hari itu.


Sina-nya dibuat menderita tapi syukurnya karena masalah itu Dion bisa memindahkan Sina ke paviliun dingin.


"Ah.. ternyata begitu." Bela langsung percaya.


Dion adalah laki-laki yang sangat mencintai bisnis. Tahun-tahun yang Dion lalui dilewati dengan mempelajari bisnis dan mulai membangun karirnya sendiri sampai setinggi ini. Semua itu karena kerja keras Dion untuk menjadi pebisnis sukses.


"Lalu kamu harus memakannya." Bela memberikan Dion kotak makan yang dia bawa.


Dion mengambilnya.


"Terima kasih." Kata Dion sama sekali terlihat tidak bersyukur.


Lalu dia masuk ke dalam membawa kotak makan itu ke dapur. Dia menaruhnya di sana karena dia tahu Sina tidak senang mencium makanan yang terlalu berminyak.


Sekembalinya dari dapur Dion tiba-tiba tercengang melihat Bela sudah duduk anteng di depan Sina.


"Aku ingat tidak mempersilakannya masuk, tapi kenapa dia tiba-tiba sudah duduk di sana?" Gumam Dion agak heran.


Dion kemudian melirik Sina yang masih duduk di sofa itu. Wajahnya terlihat muram dan secara terang-terangan tidak menyukai keberadaan Bela.


Melihat ini Dion menghela nafas panjang. Matanya tiba-tiba melihat sebuah kotak P3K di atas tembok dapur. Dion mengambilnya dan membawa kotak itu ke ruang tamu.


Dia secara alami duduk di lantai, mengangkat kaki bengkak Sina ke atas paha tanpa melihat reaksi Sina dan Bela.


"Dion kamu tidak per-"


"Apa yang sedang kamu lakukan Dion!" Kata-kata Sina terpotong oleh suara panik Bela.


Dion menjawab tanpa mengangkat kepalanya,"Seperti yang kamu lihat."


Bela menarik nafas panjang, sekilas Sina bisa melihat raut wajah tidak senangnya. Dia sedang cemburu pikir Sina menebak. Wajah Bela yang biasanya terukir lembut kini menjadi suram. Pemandangan yang sangat menghibur.


Untuk sekali saja. Batin Sina.


"Dion sakit..kamu jangan keras-keras tekan kain perbannya." Sina berpura-pura mengeluh kesakitan.


Padahal Dion sama sekali tidak menggunakan tenaga yang besar untuk memperban kaki Sina. Tapi Dion percaya begitu saja, dia langsung merasa bersalah karena tidak terlalu berhati-hati.


"Maaf, apa sekarang rasanya lebih nyaman?" Dion mengurangi tekanannya sambil menatap Sina.


Sikapnya sangat berbanding terbalik ketika berbicara dengan Bela.


Sina menahan senyumnya dan mengangguk ringan. Kedua matanya melirik wajah buruk Bela yang semakin berubah warna ketika melihat interaksi mereka berdua.


"Ya, ini jauh lebih baik." Kata Sina sambil mengulum senyum kemenangan.


"Kamu bisa meminta pembantu untuk melakukan ini, Dion. Pekerjaan kasar ini tidak cocok dilakukan-"


"Ah Dion, apa kamu mau membantuku?" Potong Sina berani.


Dion bisa merasakan permusuhan diantara Sina dan Bela melalui suasana tegang di sini. Tapi Dion tidak menghentikan mereka melakukan perang dingin. Malah dia ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk menguji ketahanan mental Sina menghadapi serangan Bela.


"Kamu ingin aku bantu apa?" Tanya Dion setelah menyelesaikan pekerjaannya.


Meskipun sudah selesai tapi dia tidak menurunkan kaki Sina dari pangkuannya.


"Aku..aku ingin ke kamar mandi tapi..aku tidak bisa berjalan dengan satu kaki ke atas." Kata Sina sambil menggerak-gerakkan kaki kirinya yang tidak apa-apa.


Artinya jelas, Sina ingin digendong oleh Dion naik ke lantai dua. Tapi selama ada Bela ada di sini dia tidak akan pernah membiarkan itu terjadi.


"Aku akan memapah kamu!" Ucap Bela tidak memberikan Dion kesempatan untuk menjawab.

__ADS_1


Melihat kesediaan Dion mengobati Sina tadi Bela yakin jika Dion juga tidak akan menolak permintaannya Sina ini.


Bela melirik Dion yang juga sedang menatapnya kaget. Tampaknya efek suara Bela membuat Dion terkejut. Bela tidak sengaja melakukan itu, dia hanya panik saja oleh karena itu volume suaranya lupa dikendalikan.


"Itu..aku dan Sina sama-sama perempuan jadi ada baiknya biar aku saja yang membantu Sina ke kamar mandi." Kata Bela menjelaskan.


Suaranya kembali melembut seperti biasanya dan ada rona merah dikedua pipi. Tampilan ini sangat sesuai untuk laki-laki yang menyukai kelembutan dan wajah cantik dengan sorot mata keibuan.


"Aku pikir kamu-"


"Baiklah, aku setuju. Karena kami berdua sama-sama perempuan jadi ada baiknya Bela membantuku." Potong Sina tanpa pikir panjang.


"Tidak..tidak, ini berbahaya. Biar aku saja yang melakukannya." Dion tidak setuju.


Persaingan kedua wanita ini berada di level yang berbahaya.


"Sina sudah setuju dan aku pun tidak bisa menarik kata-kataku kembali. Kamu tidak perlu khawatir, selama ada aku Sina tidak akan kenapa-kenapa." Tolak Bela bersikukuh ingin membawa Sina secara pribadi ke kamar mandi.


Oh ya, kamu terlalu percaya diri. Batin Sina mencemooh.


Dia lalu bangun dari duduknya setelah Bela menerima uluran tangannya. Dengan hati-hati Bela memapah Sina menuju anak tangga yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka duduk.


Dion tidak tinggal diam dan mengikuti mereka dari belakang. Dia merasa ngilu melihat Sina melompat-lompat mendekati tangga dengan kaki kirinya. Berbagai macam pikiran negatif terus saja membanjiri pikiran Dion. Entah itu kandungan Sina akan bermasalah jika melompat-lompat seperti itu atau Sina akan berakhir jatuh jika terus melompat-lompat.


Dion mulai merutuki kebodohannya karena tidak meluangkan waktu untuk mencari tahu apa saja yang boleh dan tidak boleh wanita hamil lakukan selama fase pertama.


Apalagi ini adalah kehamilan pertama Sina yang sudah pasti cukup rawan mendapatkan masalah.


"Pelan-pelan saja, jangan terlalu buru-buru." Kata Dion parno.


Sina mengerti kondisinya sendiri jadi dia tidak boleh melakukan hal yang dapat membahayakan janinnya. Adapun kenapa dia berani melakukan ini karena dia ingin memberikan Bela pelajaran untuk hari itu.


Jadi, saat akan menaiki tangga ketiga, Sina sengaja lompat lebih rendah sehingga kaki kirinya hanya bisa menyentuh ujung tangga. Sebenarnya itu tidak terlalu bahaya tapi Sina sengaja membuatnya lebih dramatis karena dia tahu ada Dion di belakang mereka.


"Akh.." Sina berteriak nyaring seraya menjatuhkan badannya ke belakang. Bertindak seolah-olah dia jatuh terpeleset.


Untung saja Dion langsung menangkapnya dari belakang. Membawa Sina ke dalam pelukannya dengan panik. Di dalam pelukan Sina bisa merasakan deru nafas memburu Dion dan suara detak jantungnya yang bergerak cepat. Mendengar suara-suara itu Sina merasa aman dan tenang.


Dia tanpa sadar ingin berlama-lama dalam pelukan Dion.


"Bukankah aku sudah bilang kamu tidak bisa membawanya tapi kamu tetap saja keras kepala. Lihat sekarang, dia hampir saja jatuh jika aku tidak langsung menangkapnya." Ujar Dion dingin menatap tajam Bela yang masih shock dengan apa yang baru saja terjadi.


Wajah Bela tampak pucat dan ketakutan. Dia tidak pernah melihat Dion semarah ini sebelumnya.


"Aku..aku juga tidak mengharapkan ini terjadi Dion.." Kedua mata Bela mulai memerah akan menangis.


Dia menggigit bibirnya gugup merasa malu juga bersalah. Dia ingin menyalahkan Sina tapi siapa pun akan tahu bahwa orang yang salah di sini adalah dirinya. Dialah yang menawarkan diri sendiri untuk membantu Sina dan karena dialah Sina hampir saja mengalami kecelakaan.


Bela tahu dia tidak punya solusi untuk melakukan pembelaan.


Dion tidak mengatakan apa-apa, dia memalingkan wajahnya dari Bela dan menunduk untuk menghibur ketakutan Sina.


"Tidak apa-apa, ada aku di sini." Bisik Dion dengan suara lembut.


"Ayo, aku akan membantumu ke kamar mandi." Dion menggendong Sina seperti gendongan pengantar.


Dia menahan berat badan Sina dan membawanya menaiki tangga menuju lantai dua. Ketika menaiki tangga ke sembilan, Dion tiba-tiba menghentikan langkahnya dan mengatakan sesuatu kepada Bela tanpa menoleh ke belakang.


"Sebaiknya kamu pulang sebelum langit menjadi gelap. Jalan yang menghubungkan rumah utama dan paviliun dingin sengaja dibiarkan tanpa lampu penerangan untuk membuat orang enggan mengunjungi paviliun dingin di malam hari. Kamu mengerti'kan maksud ku?"


Dion kemudian melanjutkan langkahnya naik tangga dan masuk ke dalam kamar tanpa menoleh ke belakang untuk memberikan Bela wajah.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2