
Aku langsung masuk ke dalam kamarku untuk menenangkan diriku. Mengunci pintu kamarku dengan tergesa-gesa dan memastikan tidak ada seorang yang bisa masuk ke sini. Setelah mengunci pintu kamar, aku bisa merasakan jika tenagaku benar-benar habis. Aku tidak kuat menahan berat tubuhku dan membiarkannya merosot begitu saja bersandar pada sisi pintu.
Aku kemudian menekuk kedua lutut ku, memeluknya untuk menenggelamkan wajahku. Sesak yang mengganggu di dalam dadaku begitu ingin dilepaskan. Mau tidak mau aku mengeluarkan sesaknya, suara isak tangis yang sedari tadi coba ku tahan akhirnya ku lepaskan juga di sini. Aku menangis keras, menumpahkan segala sesak yang aku rasakan. Entah itu tentang ketakutan ku melihat ekspresi dingin Dion, penyesalan ku karena sudah bertindak ceroboh, dan kebodohan ku karena sudah sewenang-wenang menggunakan barang penting Dion.
Tadi, Dion menatapku dengan mata hitamnya yang menakutkan. Itu terasa sangat asing dan sejujurnya aku tidak menyukai perasaan itu. Seolah-olah Dion tidak memandangku sebagai orang yang penting melainkan hanya orang asing yang tidak dikenalnya. Aku tidak mau Dion menatapku seperti itu.. karena menurut ku posisi ku di dalam hati Dion sangat penting.
Sekarang, dia sangat marah kepadaku dan bahkan melarang ku untuk masuk ke dalam kamarnya. Aku tidak bisa lagi membersihkan kamarnya di masa depan dan aku juga tidak tahu bagaimana hubungan kami selanjutnya setelah kemarahan Dion.
Aku..akui jika aku memang salah. Tapi, tapi tidak seharusnya Dion memberikan ku sikap yang kasar. Dia bisa bicara baik-baik tentang cincin itu bahwa cincin itu bukan untukku melainkan untuk Tante atau Risa, aku akan memahaminya dengan cepat. Namun, Dion tidak melakukan itu dan justru menarik tanganku kuat. Mengambil cincin itu dari jariku dengan kemarahan yang mengerikan. Ya, cincin berlian itu mahal jadi aku tidak bisa merusaknya, aku bisa mengerti ini.
Aku mengerti kepanikan Dion pada saat itu tapi dia tidak seharusnya memberiku bahu dingin. Lihat saja pergelangan tangan kiri ku, meninggalkan cap merah yang sejujurnya mulai terasa sakitnya. Dion.. apakah cincin itu lebih berharga dari diriku?
Dokumen-dokumen yang tidak sengaja aku jatuhkan itu memang kesalahan yang sangat fatal. Tidak hanya menyangkut Dion saja, namun juga keluarga besar Dion. Aku tidak tahu bagaimana meminta maaf kepada Dion karena kesalahan ku ini memang sangat fatal.
Hah..aku ingin pulang tapi rasanya juga enggan. Aku ingin bertemu Mbok Yem di rumah, menceritakan tentang semua keluh kesah ku di sini. Aku ingin menceritakan kepada Mbok Yem jika kedatangan ku di rumah ini sebenarnya mendapatkan banyak rintangan. Beberapa kali aku harus mendengarkan kata-kata dari mulut tajam Risa, kemudian menghadapi ketidaksenangan para pembantu di rumah ini, dan aku ingin menceritakan kepada Mbok Yem tentang hubungan ku dengan Dion.
Aku merindukannya, satu-satunya orang yang mau bersikap selayaknya Ibuku. Aku merindukannya, satu-satunya orang yang mau mendengarkan keresahan hatiku. Aku merindukannya.. satu-satunya orang yang mau menerima kehadiran ku dengan tulus.
Aku ingin pulang.
...🌺🌺🌺...
"Mbok Yem, siapa laki-laki yang baru saja datang ke sini?" Tanya gadis kecil itu lembut.
Kaki kecilnya yang ramping berjalan lambat mendekati lawan bicaranya. Berjalan sambil memeluk boneka beruang yang dia dapatkan dari seseorang yang tidak diketahui siapa nama dan bagaimana wajahnya.
"Dia anak laki-laki yang sudah beberapa minggu ini datang ke sini, non Sina." Mbok Yem mendekati Sina kecil, mengelus lembut wajah cantiknya yang penuh akan keingintahuan.
Ah, jadi itu anak laki-laki yang kemarin memberikannya boneka ini.
"Dia orang yang baik tapi kenapa Mbok Yem tidak pernah mengizinkannya bertemu dengan ku?" Sina kecil tidak mengerti.
__ADS_1
Setiap kali anak laki-laki itu datang ke rumahnya Mbok Yem selalu memintanya untuk bersembunyi di dalam kamar dan tidak boleh keluar sampai anak laki-laki itu pergi. Padahal Sina kecil juga ingin bertemu dengan anak laki-laki itu dan mengucapkan terimakasih untuk hadiah-hadiah yang dia kirim kepadanya.
Sina kecil sangat senang setiap kali mendapatkan hadiah dari anak laki-laki itu. Karena anak laki-laki itu baik dia ingin menjalin pertemanan dengannya, akan tetapi setiap kali Sina kecil ingin pergi menemui anak laki-laki itu pasti selalu dicegah oleh para pembantu yang ada di rumah ini.
Mbok Yem juga bingung kenapa majikan kecilnya tidak bisa menemui anak laki-laki itu, padahal anak laki-laki itu terlihat baik dan jujur.
"Tuan dan Nyonya tidak mengizinkan non Sina bertemu dengannya. Mereka bilang jika non Sina akan dikirim ke luar negeri jika bertemu dengan anak laki-laki itu." Mbok Yem menjelaskan dengan lembut kepada majikan kecilnya.
Inilah yang dikatakan Tuan dan Nyonya nya jika majikan kecilnya tidak bisa bertemu dengan anak laki-laki itu.
Sina kecil cemberut, pipi chubby nya yang menggemaskan menggembung kesal tidak suka dengan pengaturan kedua orang tuanya.
Melihat ekspresi kesal majikan kecilnya, Mbok Yem kemudian memberikan Sina kecil titipan anak laki-laki tersebut sebelum pergi. Sebuah hadiah yang jauh berbeda dari hadiah-hadiah sebelumnya.
"Anak laki-laki itu menitipkan bunga ini untuk Non Sina." Katanya sambil menyerahkan sebuah bunga tulip merah yang indah dan harum.
Sina kecil langsung dibuat takjub olehnya dan langsung melupakan kekesalan hatinya terhadap kedua orang tuanya. Dia mengambil buket bunga tulip merah tersebut, memeluknya dengan hati-hati ke dalam pelukannya. Wanginya begitu harum dan warnanya begitu cantik, Sina kecil tidak pernah melihat bunga seindah ini sebelumnya.
"Biar Mbok yang ambilkan, non." Mbok Yem mengambil catatan kecil tersebut dan memberikannya ke tangan majikan kecilnya.
Lalu, dia dengan sikap mengerti mengambil alih buket bunga tersebut dari pelukan Sina kecil. Dia melakukan ini agar Sina kecil lebih mudah membaca catatan itu.
Sina membuka lipatan catatan kecil tersebut dan menemukan sebuah tulisan yang agak berantakan khas anak-anak. Hem, sepertinya ini adalah tulisan tangan dari anak laki-laki itu, pikir Sina kecil.
Walaupun agak berantakan tapi Sina kecil untungnya masih bisa membacanya.
Untuk Sina
Suatu hari nanti aku akan datang menemui mu. Aku harap saat hari itu tiba nanti kamu masih mengingatku dan tidak melupakanku, Sina.
Dari, D.
__ADS_1
"Kenapa aku harus mengingatmu di saat aku tidak mengenal dirimu?" Bisik Sina kecil bingung, ia merasakan ada sesuatu yang salah dengan jantungnya.
Mungkinkah ini gejala penyakit jantung? Batinnya ketakutan.
...🌺🌺🌺...
Tok
Tok
Tok
Tidur Sina terusik mendengar suara ketukan itu. Bangun dari tidurnya, dia tiba-tiba menyadari jika dirinya tertidur di depan pintu. Pantas saja dia tadi berpikir jika ketukan pintu ini terlalu keras dan mengganggu.
"Non Sina, saatnya makan malam." Suara sopan Bik Mur memanggil dari balik pintu.
Sina bangun dari duduknya seraya melihat ke arah balkon kamarnya yang menampilkan permadani kegelapan yang tidak berujung. Sina tidak bisa menahan keterkejutannya setelah melihat jam yang ada di dinding kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 19. 28 malam, waktu yang tepat untuk makan malam di dalam keluarga ini.
Tapi bukan ini yang membuatnya terkejut, dia terkejut karena masih ingat dengan jelas saat itu masih belum 12 siang saat dia keluar dari kamar Dion. Dia tidak menyangka jika sudah 6 jam lebih tertidur seperti ini di depan pintu. Menghabiskan waktu berjam-jam di depan pintu untuk tidur dan menenangkan hatinya, ini sangat mencengangkan, ah!
"Non Sina?" Panggil Bik Mur lagi karena masih belum mendapatkan respon dari Sina.
Sina tersadar dari lamunannya dan segera berlari ke kamar mandi untuk cuci wajah.
"Bibi turun aja dulu nanti Sina nyusul setelah ganti baju." Teriak Sina memberitahu.
Setelah Bik Mur pergi, kamar Sina benar-benar sunyi. Dia di dalam kamar mandi dengan terburu-buru mencuci wajahnya. Namun, di sela-sela membersihkan wajahnya Sina tiba-tiba teringat dengan mimpinya tadi. Mimpi itu sekilas mengingatkannya pada masa lalu namun karena itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu, Sina tidak terlalu mengingatnya lagi.
"Kenapa aku baru mengingatnya sekarang jika beberapa tahun yang lalu ada seorang anak laki-laki yang sering datang ke rumah dan memberikan ku hadiah. Meskipun tidak pernah bertemu tapi aku bisa merasakan ketulusan dari anak laki-laki itu. Lalu, soal surat itu...aku ingat jika setelah anak laki-laki itu memberikan ku bunga tulip merah dan surat kecilnya dia tidak pernah lagi datang ke rumah. Ya, sejak itu anak laki-laki itu tidak pernah mencari ku lagi dan memohon kepada Mbok Yem untuk bertemu denganku. Dia sangat keras kepala ingin bertemu denganku... tapi, apakah kami pernah bertemu sebelumnya sehingga dia sangat ingin senang memberikan ku hadiah apalagi sampai ingin bertemu?" Tanyanya bingung.
Bersambung..
__ADS_1