
"Ugh.." Dion akhirnya bangun dari tidurnya.
Aku segera berjalan naik ke atas ranjang setelah menaruh bubur hangat yang ku masak di atas nakas.
"Sina?"
"Kamu sudah bangun?" Aku membantunya duduk di ranjang.
Aku menyentuh keningnya dan memastikan suhu tubuh Dion tidak sepanas tadi malam. Ini sudah menjadi hangat dan sebentar lagi akan kembali ke suhu normal. Hanya perlu memberikannya obat dan makanan saja untuk mengembalikan energinya.
"Kamu makan bubur dulu yah, baru minum obat." Aku mencoba mengambil bubur di atas nakas tapi tanganku dipegang oleh Dion.
"Kenapa, Hem?" Mungkinkah ada bagian dari tubuhnya yang masih sakit.
Maka ini bukanlah demam biasa?
Dion tidak mengatakan apa-apa tapi matanya terus menatap ku, bahkan dia juga tidak tersenyum sama sekali.
Apa ada yang salah?
"Dion, apa kamu baik-baik saja?" Aku menggenggam tangannya, menyentuh pipi dan keningnya untuk memastikan bahwa demamnya sudah baik-baik saja.
Tapi dia tidak mau berbicara, dia masih diam dan terus saja menatap ku. Jika terus seperti ini aku akan menjadi salah tingkah!
"Dion berbicaralah, jangan membuatku takut!" Kataku seraya menggoyang-goyangkan tangannya.
"Apa rasanya sakit?"
Hah, sakit?
Yang sakit dia bukan aku tapi kenapa dia bertanya kepadaku?
Oh, apa kepalanya sempat terbentur di suatu tempat sebelum datang ke sini?
"Dion, apa kepalamu baik-baik saja?" Aku jadi mikir yang aneh-aneh'kan!
"Kepala kamu yang gak baik-baik aja!" Eh, dia kok jadi cemberut sekarang. Apa aku punya salah sama dia?
"Yakan yang sakit kamu tapi kenapa nanyanya sama aku?" Jelas-jelas dia yang punya masalah kok, eh iya..iya maklumi aja Dion lagi sakit. Biasanya kan orang sakit otaknya kadang eror.
Aduh, Sina.. Sina..kok bisa gitu lupa hal sedasar ini!
"Aku serius Sin, apa hati kamu sakit jauh sama aku?"
Ah, jadi dia cemberut karena ini.
"Aku..sakit.." Kataku malu.
Dia lagi-lagi menatapku dan tidak berbicara, membuat ku salah tingkah.
"Aku salah Dion..aku gak mau pisah lagi sama kamu, aku gak mau kita jauh lagi jadi kamu mau kan maafin aku?" Aku sungguh tidak akan mengulanginya lagi.
"Dion..maafin aku, yah?" Aku menggoyangkan tangannya membujuk.
Tapi dia sama sekali tidak mau menjawab dan hanya menatapku saja. Jika seperti ini aku tidak tahu bagaimana membujuknya.
"Aku salah Dion-ah!" Perutku terasa sakit.
"Apa yang salah?" Dia menyentuh perutku dan mengusapnya lembut, sesekali dia mengecupnya sayang seperti seorang Ayah yang sedang membujuk anaknya agar tidak berbuat nakal.
Eh, tapi dia adalah Ayah anakku!
Hem, Hem!
"Aku gak-"
__ADS_1
"Jujur, kamu tidak boleh menyembunyikan apapun lagi dariku." Dia memperingati ku agar tidak berbohong lagi.
Benar, aku harus jujur. Hubungan kami seharusnya tidak boleh diselingi sebuah kebohongan lagi karena kami tulus satu sama lain.
Aku mengambil tangan Dion, menuntunnya ke bagian perutku yang terasa sakit dan tidak nyaman. Bahkan bernafas rasanya sakit sekali.
"Bisakah kamu mengusapnya?"
Dia tidak menjawab dengan suara melainkan dengan sebuah tindakan. Dia mengecup perut ku yang masih terasa sakit dan mengelusnya sayang.
"Jangan nakal okay, kasian Mama kamu." Bisiknya seperti anak kecil.
Hah, dia masih saja perhatian kepadaku meskipun sedang marah.
"Dokter bilang aku terlalu banyak pikiran beberapa bulan ini sehingga kesehatan masa kehamilan ku cukup rentan. Tapi untungnya anak kita kuat, dia masih bisa bertahan sampai hari ini meskipun mendapatkan berbagai macam cobaan. Aku sungguh bersyukur karena anak kita tidak selemah diriku."
"Sina, ini sakit bukan?"
Bukankah sudah jelas?
"Jika ini sakit lalu kenapa kamu tidak datang mencariku? Jika kamu tidak bisa datang maka kenapa kamu tidak mencoba menghubungiku dan katakan bahwa kamu sedang membutuhkan ku. Kenapa kamu tidak melakukan semua itu dan hanya diam saja menerima semua rasa sakit ini?. Apa ini menyenangkan? Apa menyenangkan membuat ku di sana tersiksa terus-terusan memikirkan kamu dan anak kita?" Dion sungguh sangat marah sekarang.
Apa yang harus aku lakukan?
"Dion, aku tidak bermaksud seperti itu.."
"Bohong, lalu kenapa kamu pergi meninggalkan ku?"
Aku yakin kamu sudah tahu jawabannya Dion tapi mungkin karena marah kamu tetap mempertanyakan alasan ku meninggalkan mu.
"Kamu seharusnya tahu Dion." Kataku seraya tersenyum tipis.
"Aku tidak tahu." Yah, kamu berbohong.
Kamu adalah Dion, pengusaha muda sukses yang jeli dan tajam jadi mana mungkin kamu tidak tahu hal sekecil ini?
"Kamu adalah seorang pengusaha muda yang sukses dan mencintai pekerjaan sedangkan aku? Aku hanyalah wanita biasa lulusan SMA yang tidak mempunyai prestasi apa-apa. Aku hanya akan menjadi baban untuk kamu jika kita bersama dan aku tidak mau membebani kamu oleh karena itu aku memutuskan untuk pergi dari sana."
Aku memang tidak layak untuk Dion tapi perasaan ku egois. Aku tidak mau bersikap sok mengalah lagi dan membiarkannya bersama wanita lain. Aku tidak bisa karena perasaan ini egois.
Aku tidak sanggup melihatnya dengan wanita lain karena orang yang seharusnya selalu berdiri di sisi Dion hanyalah aku seorang.
Hanya aku.
"Jangan nangis, okay.." Dia mengusap wajah ku.
Apakah aku menangis?
"Apa aku terlalu keras kepadamu?"
Aku segera menggelengkan kepalaku, menyandarkan diriku di sampingnya untuk mendapatkan sebuah pelukan hangat.
"Tidak."
Dia lalu mengambil tanganku, menggenggamnya lembut.
"Tuhan menciptakan perasaan cinta kepada kita berdua adalah sebuah bukti bahwa kita berdua layak untuk satu sama lain. Meskipun Mama atau siapapun diluar sana mengatakan jika kita tidak layak bersama itu tidak bisa merubah apa yang Tuhan tetapkan untuk kita berdua. Perasaan yang kita miliki dan anak yang sedang kamu kandung adalah skenario terindah yang Tuhan ciptakan untuk kita berdua."
Dia mencium punggung tanganku, mengecup ringan jari-jari tanganku. Rasanya agak geli tapi aku suka jadi ku biarkan saja Dion melakukannya.
"Lagipula aku tidak butuh prestasi ataupun pendidikan yang tinggi untuk pendamping hidup, semua itu akan sia-sia jika aku tidak menyukainya. Tapi denganmu perasaan ku sangat tulus, Sina. Aku tidak peduli dengan kualifikasi apapun karena yang terpenting adalah aku mencintaimu dan kamu juga mencintai ku. Kita saling mencintai jadi bagaimana mungkin kita tidak layak bersama?"
Ah benar, cinta adalah kunci kebahagiaan. Bagaimana bisa aku sebodoh ini?
Namun, bagaimana dengan karir Dion?
__ADS_1
Jika aku bersama Dion maka semua kerja kerasnya akan hancur dalam waktu yang singkat.
"Tapi bagaimana dengan karir dan perusahaan kamu? Tante Ranti bilang semua usaha kamu akan sia-sia jika bersamaku."
"Mama hanya berbicara omong kosong. Perusahaan ku adalah milikku dan tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan mereka. Lagipula tidak ada satu orang tua pun di dunia ini yang mau menyakiti anaknya, itu juga berlaku untuk Mama dan Papa. Mereka gak akan tega menghancurkan semua usaha aku." Dia menggenggam tanganku erat seolah-olah sedang meyakinkan ku.
"Kamu benar, tidak ada orang tua di dunia ini yang ingin menyakiti anaknya." Faktanya, Mama dan Papa juga tidak jahat kepadaku.
Mereka hanya.. hanya sedikit dingin kepadaku, itu saja.
"Tapi itu tidak bisa merubah kenyataannya, Dion. Tante Ranti tidak menyukaiku dan hubungan kita tidak akan direstui, apa kamu masih mau bersamaku?" Keluargalah yang paling mendominasi kekhawatiran ku.
Jalan kami akan sulit apabila-
"Dia akan merestui hubungan kita, apalagi ada malaikat kecil di dalam perutmu. Dia tidak akan pernah menolak hubungan ini, yakinlah Sina."
Benarkah?
"Aku tidak berbohong, kamu bisa yakin."
Maka aku tidak akan meragukan kekasihku lagi.
"Jadi, apa hubungan kita sekarang?" Dia bertanya.
Benar, hubungan kami ini apa sebenarnya?
"Sepasang kekasih?" Apa kamu akan menolak?
"Aku tidak mau."
Eh?
Bukankah kamu menyukaiku?
"Jika kamu tidak mau maka-"
"Aku ingin kita menjadi sepasang suami-istri, terikat dalam hukum dan janji suci. Apa kamu tidak mau?"
Ah, pernikahan..ini adalah mimpi-mimpi yang seringkali aku angankan sebelum sedekat ini dengan Dion. Aku ingin membangun sebuah rumah tangga bersamanya, menjadi istri yang baik untuknya. Berdiri di depan pintu menyambut kepulangannya setelah seharian bekerja di kantor.
"Jadi ini lamaran?" Sangat tidak romantis!
"Tentu saja tidak, anggap ini sebuah pemanasan."
Aku mencubit hidungnya gemas, saat sakit saja mulutnya masih manis apalagi setelah sehat nanti, bisa diabetes aku dimanis-manisin.
"Udah ah, mending kamu makan aja terus habis itu minum obat biar kamu cepat sehat." Aku mengambil bubur di nakas.
"Kamu udah makan belum?" Lihat, dia masih saja perhatiannya.
"Aku sudah makan bubur tadi." Ini jujur kok, aku makan karena tidak ingin membuat Dion khawatir lagi.
"Sudah minum susu yang aku beli semalam?"
"Aku sudah minum setelah makan bubur tadi." Aku juga tidak mau menyia-nyiakan pemberian Dion untuk ku dan anak kami.
"Jangan berbohong lagi, okay?"
Aku tidak akan berbohong lagi.
"Aku tidak akan, kamu bisa yakin." Kataku serius.
Dia tersenyum, menganggukkan kepalanya.
"Sekarang makan dan jangan banyak bertanya!"
__ADS_1
Bersambung...