Dear Dion

Dear Dion
37. Asam Lambung


__ADS_3

Paginya, Sina bangun tepat 30 menit sebelum matahari terbit. Turun dari ranjang dia memutuskan untuk membangunkan Calista karena dia pernah mendengar seseorang berkata jika orang hamil sebaiknya terbiasa bangun pagi dan melakukan olahraga ringan. Misalnya seperti pergi jalan-jalan di taman yang seharusnya tidak terlalu berat untuk Calista lakukan.


"Calista ini sudah pagi, bangunlah. Aku akan mengajakmu ke taman untuk jalan-jalan." Sina mengguncang Calista beberapa detik dan langsung membuahkan hasil.


Calista terbangun dari tidurnya dan menatap Sina dengan ekspresi linglungnya. Beberapa detik kemudian Calista benar-benar tersadar dan mendudukkan dirinya di atas ranjang.


"Jam berapa sekarang?" Tanyanya malas seraya mengusap wajahnya.


Sina melirik jam dinding di sampingnya.


"5.37 pagi, waktu yang tepat untuk pergi jalan-jalan. Cepatlah bangun jika kamu tidak ingin melewati waktu yang baik ini." Jawab Sina seraya membuka lemarinya.


Dia menggeledah lemarinya dengan cepat dan menemukan handuk mandi yang baru dan belum pernah digunakan sekalipun. Lalu dia melemparkannya ke Sina sebelum menutup pintu lemarinya dengan cekatan.


"Oh ya, apa tidak masalah kamu pergi olahraga ke taman bersamaku? Orang-orang rumah pasti melihat mu nanti dan tahu jika semalam kamu tinggal di sini bersamaku." Gerakan tangan Sina terhenti, menatap Calista dengan tatapan ragu.


Calista mengangkat bahunya acuh, "Jika mereka tahu maka mereka akan tahu, tidak masalah aku ditemukan atau tidak karena aku punya alasan yang bagus jika mereka bertanya nanti. Lagipula, sebenarnya semalam emosiku sedang tidak baik sehingga aku tidak ingin ada orang lain yang tahu tentang keberadaan ku di sini. Tapi sekarang emosiku sudah lebih baik lagi jadi tidak apa-apa mereka tahu keberadaan ku." Jawab Calista tidak perduli.


Sina ragu, "Lalu, bagaimana dengan kedua orang tuamu?"


"Aku sudah memberi tahu mereka semalam jika aku akan tidur dengan mu." Jawab Calista dengan ekspresi tidak bersalah.


"Kamu... benar-benar aneh!" Kesal Sina.


Jadi untuk apa semalam dia bersembunyi di dalam kamarnya jika kedua orang tuanya sudah tahu tentang keberadaannya di sini?


Huh, Sina benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya!


Dia lalu berjalan ke arah kamar mandi dan masuk ke dalam


"Jika kamu ingin baju ganti, pilih saja di dalam lemari ku." Pesan Sina sebelum masuk ke dalam kamar mandi dan memulai acara bersih-bersih singkatnya.

__ADS_1


Yah, dia memang perempuan tapi anehnya tidak terlalu suka melakukan bersih-bersih yang memakan banyak waktu. Misalnya seperti luluran lah, menggunakan krim tertentulah, Sina tidak suka melakukan kegiatan yang membuang-buang waktunya.


...🌺🌺🌺...


Setelah olahraga pagi di taman mereka segera masuk ke dalam untuk sarapan. Sebenarnya orang yang lebih dulu menyerah untuk olahraga adalah Sina sendiri karena tujuan sebenarnya dia ke taman adalah untuk bertemu dengan Dion. Namun, orang yang dia tunggu-tunggu kedatangannya tidak pernah menonjolkan batang hidungnya. Padahal Dion biasanya lari pagi dulu sebelum pergi ke perusahaan untuk bekerja.


"Pagi sepupu ku tersayang, apa tidur mu nyenyak semalam?" Suara lembut Risa menyapa mereka berdua begitu masuk ke dalam rumah.


"Oh, dan tamu terpenting ku juga, selamat pagi."


Sekali lihat saja Calista tahu jika Risa sedang bahagia setelah percakapan mereka semalam. Yah, dia akui jika rencana Risa benar-benar diluar dugaannya. Dia tidak pernah menyangka jika Risa mengetahui rahasia terbesarnya dan dengan kejam menggunakannya untuk meloloskan rencananya.


"Jangan menyapaku dengan ekspresi menipumu itu karena aku sama sekali tidak akan termakan oleh keramahan palsu mu." Calista berbicara terus terang.


"Oh..aku merasa tersanjung." Risa tidak menganggap serius ucapan Calista dan malah berpikir jika itu agak lucu.


Menyenangkan saja rasanya menggertak orang yang biasanya menentang keras rencananya.


"Yah, otak mu memang bermasalah." Cela Calista agak kesal.


"Pagi Risa." Balas Sina layu.


Dia mendudukkan dirinya di kursi dan mengambil sehelai roti sebagai sarapannya. Mengambil sesendok selai kacang untuk dioleskan di atas roti yang dia ambil. Mengoles secara singkat dia lalu membawa roti tersebut ke dalam mulutnya, begitu masuk ke dalam mulut rasa yang biasanya menarik kini entah mengapa rasanya tidak menarik sama sekali. Malah, terkesan agak buruk dan membuatnya merasa mual.


"Kenapa?" Tanya Risa penasaran saat melihat ekspresi Sina berubah pucat.


Sina menggelengkan kepalanya ringan sambil memaksakan mulutnya untuk menelan gigitan roti tersebut. Jangan sampai dia memutahkan apa yang baru saja dia makan.


"Sepertinya asam lambung ku kambuh" Jawab Sina sambil meletakkan kembali rotinya di atas piring.


Calista khawatir, "Kenapa tidak pergi minum obat jika asam lambung mu kambuh?"

__ADS_1


Wajah Sina terlihat pucat padahal tadi baik-baik saja, Calista khawatir jika asam lambung Sina sudah tahap akut dan berbahaya sehingga tidak baik jika menunda-nunda untuk minum obat.


Sina tersenyum tipis, bangun dari duduknya dia lalu melangkah keluar dari depan kursinya untuk menjaga jarak dari meja makan. Dia tidak ingin terlalu dekat dengan meja makan karena bau makanan yang ada di sini tidak bisa ditolerir oleh perutnya. Rasa mualnya pasti bergejolak kuat ingin muntah setiap kali dia mencium bau makanan di atas meja.


"Awalnya aku pikir sakitnya akan biasa-biasa saja dan tidak pernah mengira jika sakitnya akan separah ini." Jawab Sina asal-asalan.


"Kalau begitu aku ke kamar dulu untuk meminum obatku. Kalian tidak perlu khawatir dan nikmatilah sarapan kalian." Lanjut Sina tidak tahan lagi.


Dia ingin segera menjauh dari meja makan sebelum ia memuntahkan isi perutnya dihadapan mereka berdua. Ingat, dia tidak ingin merusak citra baiknya di sini.


"Apa kamu perlu bantuan ku?" Calista menawarkan bantuan dengan tulus.


Sina segera menggelengkan kepalanya bukan karena menolak kebaikan Calista tapi karena dia memikirkan bahwa ada bayi di dalam perut Calista yang membutuhkan asupan makanan. Meskipun terkesan lebay, tapi Sina sungguh tidak ingin mengganggu asupan untuk bayi tersebut.


"Terimakasih Calista, tapi sungguh aku bisa melakukannya sendiri." Tolaknya sopan.


Menghela nafas panjang, "Kalau begitu aku tidak akan memaksamu tapi nanti jika ada apa-apa kamu bisa memanggilku. Yah, istirahatlah Sina, nanti aku akan menyusul mu ke atas." Ujar Calista masih khawatir.


"Kamu tidak perlu khawatir."


Setelah mendapatkan izin dari mereka berdua Sina lalu naik ke lantai 2 menuju kamarnya. Di sela-sela menaiki tangga matanya tidak bisa menahan untuk tidak melihat ke arah pintu kamar Dion yang tertutup rapat. Membuat Sina bertanya-tanya mengapa Dion masih belum kelihatan di rumah ini, atau mungkinkah Dion pergi bersama kedua orang tuanya untuk mengurus bisnis sebab Nyonya Ranti dan Tuan Edward juga tidak pernah kelihatan sejak pagi.


"Ya, mungkin saja mereka pergi ke perusahaan." Bisiknya menyimpulkan.


"Setelah cukup istirahat aku akan membersihkan kamar Dion dan turun ke dapur untuk melanjutkan kelas memasak ku bersama Bik Mur." Gumamnya menyusun rencana selanjutnya.


Mengangguk puas, Sina lalu menghabiskan waktunya selama beberapa jam untuk beristirahat di dalam kamar. Dia tertidur dengan cepat dan lelap setelah kepalanya terjatuh di atas bantal. Begitu lelah dan mengantuk pikir Sina kebingungan.


Akhir-akhir ini dia juga sering mengantuk dan tertidur dengan mudahnya. Padahal, biasanya dia tidak pernah seperti ini. Apa ini masih ada hubungannya karena penyakit asam lambungnya?


Tapi seharusnya penyakit asam lambungnya tidak akan separah ini karena gejalanya baru-baru ini mulai terasa semenjak dia tidak nafsu makan. Mungkinkah sebelumnya dia memang asam lambung tapi karena tidak terasa dia tidak pernah menyadarinya?

__ADS_1


Asam lambung sangat menyebalkan pikir Sina.


Bersambung...


__ADS_2