Dear Dion

Dear Dion
77. Tahap Serius


__ADS_3

"Hubungan kita tidak bisa aku putuskan sekarang." Jawab Calista malu-malu.


Ridwan bingung kenapa masih belum padahal dia sangat yakin Calista juga menyukainya.


"Kenapa? Apa kamu tidak menyukai aku?"


Calista segera menggelengkan kepalanya panik.


"Tidak, aku..aku sangat menyukai Kak Ridwan. Tidak! Aku tidak hanya menyukai Kak Ridwan namun aku juga mencintai Kak Ridwan. Aku sangat ingin bersama Kak Ridwan sungguh!"


Terlebih lagi saat ini aku sedang mengandung anak kamu Kak. Jadi bagaimana bisa aku tidak ingin menjadi milikmu?. Batin Calista terasa manis.


"Lalu kenapa kamu tidak bisa memutuskannya sekarang? Bukankah kita sudah sama-sama saling mencintai jadi kenapa masih harus menunda?" Tanya Ridwan tidak habis pikir.


Harga yang dia bayar untuk mengejar Calista tidaklah main-main dan Ridwan tidak ingin melepaskan Calista begitu saja. Calista hanya bisa menjadi miliknya dan akan hanya bisa menjadi miliknya seorang!


"Ini masalah Kak Kira. Aku ingin Kak Ridwan meluruskan hubungan kalian berdua sebelum menjalin hubungan denganku. Jika Kakak masih belum membicarakannya dengan Kak Kira hubungan ini tidak akan pernah terjalin. Lalu laki-laki yang berciuman dengan Kak Kira, aku ingin Kakak menyelidikinya agar aku bisa tenang bahwa orang yang aku cintai tidak pernah mengkhianati ku." Calista hanya ingin semuanya jelas sebelum menjalin hubungan dengan Ridwan.


Ridwan sendiri juga mengerti apa yang dimaksud Calista. Tinggal di rumah selama beberapa hari kemarin dia bisa melihat ketidaksenangan Kira kepada Calista.


Saat itu dia bertanya-tanya alasan kenapa dan ternyata alasannya adalah karena Kira tidak senang melihat kedekatannya dengan Calista.


Pantas saja Calista tidak mau dekat-dekat dengannya!


"Aku mengerti. Besok aku akan membawa kamu bertemu dengan Kira dan menjelaskan semuanya kepada Kira untuk meluruskan hubungan kita bertiga. Lalu masalah laki-laki itu kamu tenang saja, siapapun dia tidak akan sulit mendapatkan informasinya." Ridwan langsung menyanggupi tanpa ragu.


"Satu lagi.." Ujar Calista berhati-hati.


"Katakan." Ridwan terlihat serius.


"Hubungan kita..aku tidak mau Kak Ridwan menjalankannya setengah-setengah. Aku ingin Kak Ridwan serius kepadaku dan jangan sampai berhenti di tengah jalan. Jika Kak Ridwan tidak mau sampai ke tahap serius maka lebih baik kita tidak usah menjalin hubungan ini."


Karena kita sudah punya anak di dalam perutku maka alangkah baiknya hubungan ini masuk ke tahap yang lebih serius. Kita harus segera menikah agar anak kita bisa lahir dengan kedua orang tua yang utuh dan saling mencintai. Batin Calista berpikir serius.


Ridwan tidak berharap Calista juga memikirkan apa yang dia pikirkan selama ini. Dia tidak hanya ingin menjalin hubungan sepasang kekasih dengan Calista namun dia juga ingin Calista menjadi istrinya, melahirkan buah hati mereka dan membesarkannya bersama-sama.


Harapan ini sudah lama Ridwan rasakan ketika hatinya mulai menggila memikirkan Calista.


"Aku sangat senang kamu memikirkan apa yang aku pikirkan juga. Apa kamu tahu apa yang aku pikirkan ketika kamu terus bersembunyi dariku?" Tanya Ridwan mengenang hari-hari penuh penderitaannya.


Calista menggelengkan kepalanya merasa malu."Aku tidak tahu."


Ridwan menarik Calista lebih dekat lagi dengannya. Mengusap wajahnya dengan hati-hati dan penuh akan kasih sayang.


"Yang aku pikirkan saat itu adalah langsung membawa kamu ke KUA dan mengunci kamu di dalam rumah agar kamu tidak bisa melarikan diri lagi ku. Calista hanya bisa menjadi milikku dan Calista adalah satu-satunya wanita yang bisa memiliku. Lihat, aku ini posesif saat menyangkut hati dan kamu tidak bisa melarikan diri setelah membuat aku seposesif ini Calista. Kamu tidak diizinkan untuk menyesal." Ujar Ridwan mengakui.


Dia sangat serius saat mengatakannya. Membuat Calista lagi-lagi merona dibanjiri dengan berbagai macam kebahagiaan yang selalu dia harapkan dan impikan selama ini.


"Aku tidak akan pernah menyesalinya dan malah aku sangat bersyukur karena Kak Ridwan akhirnya membalas perasaanku."


"Aku akan ingat kata-kata mu ini, jika kamu sampai melarikan diri lagi aku tidak akan ragu mengunci mu di dalam kamar tertutup." Ucap Ridwan masih serius seraya memiringkan kepalanya ingin mencium bibir ranum Calista.


"Aku tidak tahu Kakak orang yang seperti ini." Bisik Calista bisa di dengar dengan jelas oleh Ridwan.

__ADS_1


Ridwan terkekeh kecil,"Itu karena kamu belum mengenal ku saja. Maka dari itu tugasmu mulai malam ini adalah untuk mengenalku lebih jauh lagi. Tidak diizinkan berpaling apalagi sampai bersembunyi dariku."


"Kenapa aku merasa orang yang terjebak di sini adalah aku dan bukannya Kak Ridwan?" Tanya Calista merasa lucu.


Ridwan tersenyum simpul,"Itu hanya perasaan kamu saja."


Calista tanpa sadar ikut memiringkan kepalanya. Mengikuti Ridwan dan bergerak semakin mendekat untuk mengikis jarak diantara mereka berdua. Semakin dekat mereka semakin hangat pula suasana hati mereka. Hembusan nafas hangat yang menerpa wajah masing-masing seolah menjadi candu untuk terus menghilangkan jarak sampai akhirnya...


"Calista, Ridwan! Kalian kok di sini tengah malam begini. Masuk, diluar dingin." Teriak Mama menghancurkan suasana manis mereka.


Calista dan Ridwan sontak menjaga jarak. Saling tatap dengan wajah merah, sorot mata mereka menunjukkan binar kebahagiaan.


"Uhuk.." Calista batuk menyembunyikan rasa malunya.


"Aku..aku masuk duluan." Calista segera melarikan diri dari Ridwan.


Wajahnya sangat panas dan merah membuat Calista malu menatap Ridwan.


Dia tidak berani


"Hampir saja." Gumam Ridwan seraya menyentuh bibirnya.


Dia tersenyum lembut merasakan debaran jantungnya yang terus menggebu-gebu tidak mau tenang sekuat apapun dia mencoba menenangkan.


"Terimakasih Tuhan, dia akhirnya menjadi milikku." Bisik Ridwan bersyukur.


...🌸🌸🌸...


"Apa kamu masih belum mendapatkan kabar darinya?" Tanya orang yang ada di seberang sana terdengar cukup gelisah dan gusar.


Dia menguap lebar, melirik jam dinding yang sudah menunjukkan hampir pukul 3 dini hari. Melihat itu dia tanpa sadar mendesah lelah. Pasalnya dia tadi mengalami insomnia dan baru bisa terlelap satu jam yang lalu.


Usahanya untuk tidur langsung menjadi sia-sia tatkala ponselnya berdering nyaring menandakan adanya panggilan masuk. Dia ingin mengumpat kasar kepada sang penelpon namun umpatannya langsung tertelan ketik melihat siapa yang menelponnya.


"Ya Tuhan, Kak Kira..ini baru pukul 3 dini hari!" Desahnya terganggu.


"Aku tahu Risa tapi aku sungguh tidak bisa menahannya. Beberapa hari ini aku sangat gelisah memikirkan dimana Ridwan karena setiap kali aku hubungi dia tidak pernah mengangkat telpon dariku. Aku takut..aku sangat takut Ridwan saat ini sedang bersama Calista karena malam itu mereka menghilang bersama..mereka pasti pergi bersama!" Kira diujung sana menjawab panik.


Suaranya tidak bisa menyembunyikan nada kegelisahannya. Dia pasti sangat gelisah diujung sana.


"Mereka tidak mungkin bersama, Kak. Aku dengar saat ini Calista sedang ada diluar kota tinggal di rumah Kakek dan Neneknya jadi bagaimana bisa Kak Ridwan juga ada di sana?" Risa sekali lagi menghela nafas panjang.


"Calista ada diluar kota?" Kira terkejut di seberang sana dan cukup senang.


"Ya, dia tinggal bersama Kakek dan Neneknya. Kata Mama dia akan tinggal di sana selama beberapa hari ke depan karena kesehatan Neneknya sedang memburuk." Angguk Risa malas.


"Aku sangat takut, ku pikir mereka berdua..." Dia tidak bisa menyelesaikan kata-katanya karena saat ini dia sangat senang.


Kekhawatirannya seolah disiram air dingin sehingga langsung meleleh.


"Ayolah Kak Kira, tenangkan dirimu dan cobalah untuk berpikir positif. Tenangkan dirimu dan segera tidur untuk mengistirahatkan kepala Kakak. Ini sudah pukul 3 dini hari, waktu yang sangat tepat untuk beristirahat."


"Aku tahu, maafkan aku karena mengganggu tidurmu. Tapi aku akan tenang jika berbicara denganmu. Seperti yang kamu tahu satu-satunya orang yang membantuku mendapatkan Ridwan adalah dirimu. Jadi aku tidak tahu harus menghubungi siapa selain kamu, Risa." Ujar Kira diseberang sana mulai tenang.

__ADS_1


Risa memutar bola matanya tidak perduli. Di dalam hatinya dia mencemooh Kira dengan beberapa kata.


Jangan salah paham, aku membantumu bukan karena tulus ingin membantumu. Bagiku kamu tidak ada bedanya dengan batu sandungan untuk menyingkirkan Calista dari keberhasilan rencanaku. Selain itu kamu sama sekali tidak berguna untukku. Batin Risa mencibir.


"Ya, aku mengerti apa yang kamu rasakan."


"Baiklah, aku tidak akan mengganggu kamu lagi jadi telponnya akan aku tutup."


"Hem." Jawab Risa singkat.


Setelah itu sambungan mereka terputus. Risa langsung melempar ponselnya ke atas meja rias agar tidak mengganggu tidurnya lagi. Dia mencoba menyelam kembali ke alam mimpi selama beberapa menit namun dia tidak berhasil.


"Sial, lain kali aku akan memblokir nomornya sebelum tidur." Umpat Risa tidak tahan lagi.


Kepalanya pusing karena tidak cukup istirahat. Dia ingin kembali tidur namun insomnia yang dideritanya menghalangi.


"Hah..apa yang harus aku lakukan sekarang." Risa turun dari ranjangnya dan berjalan tanpa semangat menuju meja riasnya.


Dia berdiri layu menatap pantulan tubuhnya di depan cermin. Memperhatikan bentuk tubuhnya yang seksi nan indah dan menilai betapa menawan wajahnya.


"Pastinya, aku lebih cantik dari Bela." Katanya percaya diri.


"Tapi.." Dia menoleh ke arah jendela kamarnya.


Langkah lambatnya mendekati jendela kamar. Menyingkap gorden yang sedang menyembunyikan kegelapan malam tanpa sebuah cahaya penerang.


"Apa yang sedang Kak Dion lakukan di paviliun dingin?" Suaranya bertanya-tanya.


"Atau.. mungkinkah Kak Dion sebenarnya tidak ada di sana? Yah, bisa jadi dia pulang ke kamarnya secara diam-diam." Hatinya menolak gagasan Dion tinggal di paviliun dingin bersama Sina.


Dia lebih percaya dan yakin jika Dion sudah kembali ke dalam kamarnya.


"Sudah jelas Sina tidak penting untuknya." Dia semakin memperkuat pikirannya dengan kesimpulan yang dia buat kemarin.


"Hem..lalu tentang Bela. Aku harus segera menyingkirkannya dari rumah ini." Kali ini fokusnya beralih memikirkan Bela.


Jari telunjuknya mengetuk ringan permukaan kaca jendelanya. Dia mengetuk dan mengetuk seraya berpikir langkah apa yang akan dia lakukan untuk segera menyingkirkan Bela dari rumah ini.


"Apa yang harus aku lakukan untuk menyingkirkannya?" Desahnya bingung.


"Tidak seperti Sina yang mudah ditangani, Bela lebih sulit untuk disingkirkan karena semua orang menyukainya di rumah ini. Dia mendapatkan dukungan dari Papa dan Mama, ditambah lagi Kak Dion menyukainya jadi rintangan yang akan aku hadapi sangat besar." Gumamnya menganalisis.


"Aku juga ragu rencana mengadu domba Sina dan Bela akan berhasil. Pasalnya setelah aku perhatikan akhir-akhir ini Sina terlihat menjaga jarak dari Kak Dion. Jadi meskipun aku mengadu mereka berdua, orang yang paling lambat bereaksi adalah Sina. Itupun Sina mungkin memilih tidak akan terlibat dengan Bela. Hah..sial! Jika aku tahu Kak Dion tidak pernah menyukai Sina maka rencanaku tidak akan sebuntu ini." Kesal Risa jengkel.


Dia menarik kasar gorden jendelanya dan langsung menjatuhkan dirinya ke atas ranjang. Berbaring malas dia diam-diam menatap langit-langit kamarnya yang tampak monoton dan tidak menarik.


"Kak Dion.. sangat sulit membuat mu bisa menjadi milikku." Katanya putus asa.


Seringkali dia jatuh dalam keadaan ini. Lelah dan bingung dengan rencananya yang masih belum menemukan titik terang. Dia sudah lelah menahan sabar namun Tuhan masih belum mau memberikannya kesempatan. Sekuat apapun dia bersabar Tuhan seolah menutup mata kepadanya.


"Jika saja aku tidak menjadi adik angkatnya, mungkin Kak Dion tidak akan ragu menyukai ku." Bisiknya berharap.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2