Dear Dion

Dear Dion
91. Dion?


__ADS_3

Pagi harinya Sina terbangun ketika merasakan pergerakan dari sisi kirinya. Rasa hangat dan nyaman yang melingkupinya perlahan hilang menguap bersama udara.


"Ugh.."


"Sstt..udah, kamu tidur lagi, yah?" Dion menepuk-nepuk punggung Sina pelan membujuknya untuk tidur lagi.


Sina jelas masih mengantuk tapi ingatan tentang semalam langsung menyapu bersih kantuknya. Dia merasa segar dan hidup kembali, perasaan sukacita di dalam hatinya membuat Sina tidak terlalu malu bertingkah manis di depan Dion.


Dia secara terang-terangan memeluk pinggang Dion dan menidurkan kepalanya di atas pangkuan Dion.


"Mau kemana?" Tanya Sina dengan suara khas baru bangun tidur.


Dion mengelus rambut panjang Sina, mengecup punggung tangan Sina yang halus dan lembut. Tangan Sina terasa sangat pas ketika dia genggam sehingga Dion sangat senang memegangnya.


"Aku mau ke kantor, hari ini Papah ngajak aku ketemu sama koleganya yang dari Amerika. Kenapa, kamu mau ikut?" Dion tidak keberatan Sina ikut ke kantor tapi dia berharap tidak hari ini karena ada urusan penting yang harus dia selesaikan di luar.


"Mau tapi aku gak bisa. Aku gak mau ganggu kerjaan kamu di kantor." Kata Sina sebenarnya cukup enggan.


Melihat Dion bekerja sambil memandangi dokumen dengan ekspresi serius adalah sebuah kepuasan yang tidak bisa dibayar dengan apa pun. Sina ingin melihat laki-laki yang dia cintai bekerja serius menangani dokumen penting tapi dia juga tahu diri.


Dia tidak ingin mengacaukan pekerjaan Dion di kantor.


"Sebenarnya kamu gak ganggu, kok. Aku malah senang kamu ikut nemenin aku di kantor. Tapi hari ini pertemuan kami mungkin memakan waktu lama sehingga kamu sebaiknya di sini daripada merasa bosan setengah mati di kantor."


Sina menganggukkan kepalanya mengerti, menghirup wangi Dion sesuka hati dan kemudian melepaskannya agak tidak rela.


"Ya udah kamu mandi dulu aja biar gak telat ke kantor nanti." Kata Sina seraya mendorong Dion menjauh.


Dion tersenyum,"Telat juga gak apa-apa, aku kan bosnya jadi mereka gak pernah bisa marah." Ucap Dion sombong.


Sina menggelengkan kepalanya tidak berdaya,"Iya deh yang jadi bos."


Sina mendorong Dion masuk ke dalam kamar mandi karena sudah tidak tahan melihat tingkah laku kekasihnya yang terlalu mencuri perhatian.


Setelah Dion masuk ke dalam kamar mandi, Sina memegangi dadanya yang sedang berdetak kencang. Pagi-pagi dia sudah disuguhkan hal yang manis-manis sehingga dia tidak bisa menjamin bagaimana warna wajahnya sekarang.


Hanya dalam waktu semalam semuanya berubah, suasana diantara mereka tidak terlalu canggung lagi dan mereka tidak terlalu malu saling mengungkapkan sikap intim.


Meskipun tidak mengatakan apa-apa tapi mereka tahu bahwa perasaan mereka berdua itu tulus dan tidak bertepuk sebelah tangan.


"Aku akan menyiapkan Dion baju kantornya." Dia membuka lemari, mengeluarkan baju kantor Dion yang sudah disetrika rapi dan harum.


"Bik Mur pasti yang menyiapkannya, lain kali tugas ini akan menjadi milikku." Gumam Sina sambil menyentuh pakaian kantor Dion.


Dia lalu menggantung pakaian itu di atas ranjang yang belum sempat Sina rapikan. Untuk sementara dia menunda merapikan kamar ini karena yang terpenting sekarang adalah membuatkan Dion sarapan.


Di dalam dapur Sina menemukan soto semalam yang belum habis di dalam kulkas. Dia memutuskan memanaskan soto itu dan menaruhnya di atas meja makan.


"Untuk jaga-jaga aku harus membuatkan Dion sandwich, siapa tahu dia lebih suka sarapan ala barat dibandingkan ala Indonesia."


Sina mengambil dua lembar roti tawar dan membuatkan Dion sandwich ala resepnya yang sederhana. Membuat sandwich tidak perlu banyak waktu karena 10 menit saja dia sudah menyelesaikan dua sandwich ukuran penuh. Dua sandwich ini Sina berikan kepada Dion.


"Lho, kamu gak mual masuk ke dalam dapur?" Dion sudah berdiri di depan pintu masuk dapur.


Sina juga heran,"Anehnya aku merasa baik-baik saja di sini, tidak seperti dapur di rumah utama." Jawab Sina juga terkejut.


Apa mungkin itu karena Dion?


Matanya beralih menatap wajah tampan Dion yang dipahat indah oleh Sang Pencinta. Laki-laki sekarang menjadi miliknya.


"Apa yang kamu pikirkan melihat ku seperti itu?" Tau-tau Dion sudah berdiri di depannya.


Mengusap wajah bangun tidur Sina yang masih belum dibersihkan.


"Aku pikir kamu... tampan." Akui Sina setengah jujur.


Dion tertawa rendah, mengecup singkat bibir ranum Sina dan duduk di kursi makan. Matanya masih belum lepas dari wajah merah Sina.


"Aku tahu pesona ku tidak bisa ditolak, terlahir tampan memang sudah menjadi takdir yang tidak terelakkan untuk ku." Ucap Dion bangga.


Sina mengulum senyum, menggelengkan kepalanya tidak berdaya tapi tidak mengatakan apa-apa.


Toh, Dion juga memang tampan jadi Sina tidak bisa membantah.


"Ayo sarapan sebelum makanannya menjadi dingin." Sina mengalihkan topik pembicaraan.


Dia mengambil mangkuk kecil untuk Dion dan memasukkan beberapa sendok soto hangat ke dalam.


"Apa kamu mau makan soto semalam? Tapi sudah aku panaskan kok jadi rasanya tetap enak." Sina bertanya sebelum memberikan Dion.


"Selama itu dari kamu apapun akan aku makan." Dion mengambil mangkuk kecil itu dari Sina.

__ADS_1


Menatap Wajah merah Sina yang lagi-lagi merona terang. Sina selalu terlihat lebih cantik saat bersikap malu-malu dengan wajah yang merah, Dion mengakui bahwa dia tidak bisa berpaling.


"Apa kamu ingin sandwich juga?" Tanya Sina berpura-pura tenang.


Dion tidak tahan lagi, dia meraih tangan Sina dan mencium punggung tangannya. Pemilik tangan yang dia cium tampak sangat terkejut hingga tidak bisa bersuara.


"Aku sudah bilang akan makan semuanya asalkan kamu yang memberikannya."


Sina tersenyum malu, menganggukkan kepalanya seraya menarik tangan yang Dion pegang tapi tak kunjung dilepaskan.


"Kamu gak bisa kalau pegang tangan aku terus." Kata Sina tidak berdaya.


"Yah, kamu bisa menyuapiku." Katanya tidak peduli.


Sina melihat waktu semakin terbuang banyak, dia takut Dion datang terlambat ke kantor meskipun dia adalah bos tapi tetap saja itu adalah kebiasaan yang buruk jika sampai terlambat.


"Iya..iya, ini aku makan sendiri kok." Katanya mengalah melepaskan tangan Sina.


Dia cemberut tapi tampak dibuat-buat sehingga terlihat menggemaskan.


"Kamu harus sarapan cepat biar gak telat ke kantor." Sina tidak henti-hentinya menasehati.


"Aku kan bos jadi siapa yang berani marah?" Dion masih sombong dengan jabatannya.


"Sekalipun kamu bos tetap harus datang tepat waktu. Aku gak mau yah kelakuan buruk kamu ini berimbas sama a-" Suaranya tiba-tiba tersendat, menarik minat Dion untuk menggodanya.


"A..siapa? Anak kita?" Tanyanya berpura-pura polos.


"Sama aku, maksudku ngeliat kamu punya sikap buruk di kantor membuat aku jadi terpengaruh." Sina berbohong tapi tidak membantah ucapan Dion.


Secara samar dia mengakui dan untung saja Dion jeli, jadi dia cukup puas.


"Kamu kan udah dewasa jadi sulit terpengaruh." Dion tertawa rendah.


Sebenarnya Dion selalu datang tepat waktu sebelum di sini dan dia malah orang yang pulang telat. Tapi semuanya mulai berubah ketika Sina datang ke rumah ini. Dion mulai asal-asalan mengurus perusahaannya dan lebih banyak menghabiskan waktu memperhatikan Sina.


"Kamu nanti sore mau aku bawain apa sepulang dari kantor?" Sepulang dari kantor Dion berencana ke supermarket untuk membeli bahan makanan dan susu hamil untuk Sina.


Dia perhatikan selama tinggal di sini Sina tidak pernah minum susu untuk pertumbuhan anak mereka padahal itu sangat penting, apalagi ini adalah kehamilan pertama Sina.


"Em..aku mau bahan dapur aja." Kata Sina setelah berpikir sejenak.


"Gak ada yang lain?" Aneh, biasanya wanita hamil punya banyak keinginan dan rewel.


"Hem, dilain waktu." Dion tahu maksud Sina waktu yang mana.


Ini pasti dini hari lagi karena setiap kali Sina bangun dini hari dia selalu ingin sesuatu yang sebenarnya membuat Dion merasa manis dan duka pada saat yang bersamaan.


🌼🌼🌼


D


ion langsung keluar dari pusat perbelanjaan setelah menyelesaikan urusannya. Sebelum pulang dia berhenti di depan supermarket untuk membeli semua kebutuhan Sina di dapur. Kekasihnya ini cukup serius belajar memasak sehingga dia ingin semua kebutuhan dapur terpenuhi. Membuat Dion bangga dan senang pada saat yang bersamaan.


Setelah memasukkan semua kebutuhan dapur ke dalam troli, Dion menyempatkan diri untuk memilih produk susu yang bagus untuk Sina. Dia memilih kotak susu hamil bulan pertama kehamilan sebanyak 3 kotak dan membeli sekaleng besar susu penambah tinggi badan.


"Kamu pasti gak akan tahu." Bisik Dion terkekeh.


Dia langsung kembali ke rumah setelah selesai berbelanja. Berhubung dia tinggal di paviliun dingin maka Dion harus punya jalan tikus agar tidak dilihat oleh orang rumah. Untuk sementara dia harus menghindari Nyonya Ranti sebelum berhasil meyakinkan Sina.


Namun harapan hanyalah sekedar harapan karena kenyataannya dia bertemu Risa di taman belakang.


"Kak Dion mau kemana bawa belanjaan sebanyak itu?" Suara manis Risa menghentikan langkah lurus Dion.


"Kamu sudah tahu jadi untuk apa berbasa-basi." Jawab Dion dingin.


Sudut bibir Risa yang membentuk senyuman membeku, tampak canggung tapi masih dipertahankan seolah tidak terpengaruh.


"Kak Dion..aku..aku bingung siapa yang Kak Dion sukai sebenarnya di rumah ini. Apakah itu Sina atau Kak Bela, maukah Kakak memberitahu ku?" Risa bingung dengan tebakannya sendiri.


Karena bila Dion menyukai Sina mengapa dia mengirimnya ke paviliun dingin?


Tapi jika Dion tidak menyukai Sina maka mengapa dia juga ikut tinggal di paviliun dingin?


Setiap kemungkinan membuatnya ragu.


"Kenapa? Kamu ingin mencelakakannya jika ku beritahu?" Tanya Dion balik tanpa ekspresi.


"Tidak..aku..tidak bermaksud-"


"Risa, bukankah aku sudah memberitahu mu untuk mengenali batasan mu di rumah ini?" Potong Dion tajam.

__ADS_1


Risa bungkam takut mengeluarkan suara. Dion tampak lebih kejam daripada sebelumnya.


"Di rumah ini kehadiran mu tidak lebih dari seorang anak angkat. Sebagai seorang anak angkat seharusnya kamu tahu diri bahwa menggigit Tuan yang memberikan mu makan adalah sebuah kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Terus terang saja satu-satunya orang yang membuat ku muak selama ini adalah kamu, orang asing tidak tahu malu yang merayap masuk ke dalam keluargaku dengan topeng keluarga. Bukankah itu menjijikkan?" Ujar Dion tidak menahan diri.


Risa adalah ancaman terbesarnya di rumah ini. Karena dia adalah gadis gila yang berani melakukan hal gila pula. Dion khawatir kegilaan gadis ini membuat Sina dan anak mereka terancam jika dia tahu bahwa Sina sedang mengandung.


"Kak Dion.." Wajah Risa berubah pucat pasi dan kedua matanya mulai memerah.


"Aku bukan Kakak mu lagi. Enyah, berhenti muncul di depan ku lagi atau kalau tidak, kamu akan menyesalinya." Peringat Dion dingin sebelum berjalan melewati Risa.


Dia sama sekali tidak kasihan atau perduli melihat wajah cantik menawan itu berubah pucat pasi karena ketakutan dan mulai menangis. Bukannya perduli, Dion malah agak takut melihat wajah itu karena dia yang paling tahu betapa busuk hati yang terpendam di dalam kulitnya.


Suasana hati Dion yang sempat suram seketika menghilang ketika melihat wajah lembut orang yang dia cinta sedang berjalan mondar-mandir di dalam kamar mereka. Dion perhatikan dari jauh Sina sepertinya sedang membersihkan kamar mereka.


Sina berjalan ke balkon sambil membawa air untuk menyirami bunga-bunga di sana. Ketika matanya tidak sengaja melihat ke bawah dia bertemu dengan pemilik obsidian dingin yang sudah mencuri pikirannya sejak pagi.


"Dion.." Teriaknya semangat sambil melambaikan tangan.


"Tunggu aku!" Kata Sina bergegas masuk ke dalam ingin menyambut kedatangan Dion di depan pintu masuk.


"Ya Tuhan..kamu jangan berlarian!" Dion tidak bisa menahan perasaan cemasnya.


Melihat Sina berlari membuat Dion ikut terpacu. Dia berlari keras dengan semua barang belanjaan di tangannya. Dia takut terjadi sesuatu kepada Sina karena kakinya masih belum pulih. Jangankan berlari, berjalan saja Sina masih tertatih-tatih.


Jadi bagaimana mungkin dia tidak takut!


Dia berlari secepat mungkin, membuka pintu tidak sabaran dan langsung bertatap muka dengan Sina begitu dia berhasil membuka pintu. Di depannya Sina menarik sebuah senyuman yang manis dan hangat, terlihat sangat cantik.


"Kamu gak boleh berlarian." Ucap Dion setelah terdiam lama.


Dia melepaskan kantong belanjaannya begitu saja di lantai. Mendekati Sina yang masih mengatur nafas tapi tidak pernah kehilangan senyum.


"Dion..kamu pulang." Sina membentangkan kedua tangannya menunggu kedatangan Dion, memeluk erat dan menghirup aroma khas Dion yang membuat semua sarafnya menjadi tenang.


"Kamu..hah..paling bisa buat aku kewalahan." Dion tadinya marah melihat kecerobohan Sina, tapi kemarahan itu segera padam tatkala melihat sikap manja Sina.


"Kamu capek, yah?" Sina melepaskan pelukan Dion.


Dion menggelengkan kepalaku santai, menarik Sina kembali ke dalam pelukannya.


"Capek, tapi liat kamu langsung hilang capeknya."


"Em," Sina berhasil melepaskan diri dari Dion.


"Pembual!"


"Sini aku masakin, enak gak enak harus dimakan." Sina berjalan ke dapur sendirian.


"Aku bantu juga yah?" Dion di belakang membawa kantong belanjaan yang sudah lecek dan sempat tergeletak tidak berdaya di atas lantai.


"Gak boleh, kamu naik aja ke atas. Mandi sana biar harum." Sina mengambil alih kantong belanjaan di tangan Dion dan mendorongnya keluar dari dapur.


"Emang badan aku bau?" Dion mengendus badannya tapi tidak menemukan bau yang menyengat.


Malah dia masih wangi seperti sebelum-sebelumnya-tiba-tiba dia menyadari bila wanita yang hamil selalu punya keluhan terhadap bau. Apalagi dia baru saja selesai dari tempat yang ramai dan berbau makanan sehingga wajar saja Sina tidak senang.


"Aku mandi dulu ke atas, kalau ada apa-apa kamu teriak aja dari sini."


Sina lega,"Kamu tenang saja."


Setelah kepergian Dion, dia mulai mengeluarkan semua belanjaan Dion dan menjejerkannya di atas meja makan. Sampai tangannya menyentuh sebuah kaleng besar dan terlihat sudah tidak menggunakan segel lagi.


"Eh, susu peninggi badan?" Sina melihat merek yang sudah tidak asing lagi.


"Dion udah tinggi banget jadi pasti bukan dia yang akan minum. Terus siapa yang minum kalau bukan Dion?"


"Aku tanya nanti aja setelah-eh, ini kan dompet Dion." Dompet Dion jatuh di atas lantai, sepertinya dia tidak sengaja menjatuhkannya tadi saat membawa kantong belanjaan ini ke dalam dapur.


"Ceroboh banget sih kamu, Dion." Dia mengambil dompet itu di lantai.


Menepuk-nepuknya pelan untuk menghilangkan debu darinya. Tapi karena dompet Dion terbuka maka Sina secara tidak langsung bisa melihat isinya.


Sebenarnya dompet Dion tidak ada bedanya dengan dompet dompet orang lain. Ada uang, ada berbagai macam kartu, dan ada sebuah foto yang tersemat.


Ya, foto itu menarik perhatian Sina karena di dalam foto itu ada dirinya dan seorang anak laki-laki sedang berpose ceria.


"Anak laki-laki ini?" Dia mengeluarkan foto itu dari dalam dompet Dion.


Memperhatikan wajah anak laki-laki yang tampak tidak asing untuknya. Dia mencoba berpikir keras dimana pernah bertemu dengannya sampai ingatannya kembali pada hari dimana dia menolong seorang anak laki-laki 15 tahun yang lalu.


"Dion?"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2