
Sina langsung membersihkan dirinya di kamar mandi setelah bangun tidur. Dia sudah tidur selama 3 jam lebih dan masih merasa lemas sehingga dia memutuskan untuk mandi agar badannya lebih segar lagi. Setelah mandi dia memilih menggunakan pakaian santai rumahan yang mudah untuk digunakan untuk bergerak karena dia akan membersihkan kamar Dion. Jadi, untuk memudahkannya kesana kemari dia perlu menggunakan pakaian yang mudah untuk digunakan bergerak.
Puas dengan penampilannya yang ada di cermin, Sina kemudian keluar dari kamarnya dan langsung berdiri di depan pintu kamar Dion. Menempelkan sidik jarinya di sensor sistem dengan santai, sebuah pemberitahuan singkat dari sistem kemudian mempersilakan Sina masuk ke dalamnya.
"Semuanya bersih dan seharusnya tidak perlu lagi melakukan pembersihan, tapi karena ini kamar Dion tidak ada salahnya membersihkan kamar ini meskipun sudah bersih." Ujarnya tidak perduli.
Dia sangat senang berada di kamar Dion karena setiap kali dia masuk rasa lelah dan suasana tidak nyaman hatinya langsung ditekan dengan mudah di sini. Sina akan merasa tenang di dalam kamar ini dan sejenak melupakan kegelisahan hatinya yang tidak berdasar. Entahlah, mungkin itu karena wangi khas Dion yang memenuhi kamar ini sehingga hatinya menjadi tenang. Kerinduan yang dirasakan langsung terobati di sini, pikir Sina menyimpulkan.
Karena tidak ingin membuang waktu, Sina kemudian memulai acara bersih-bersihnya dengan mengelap semua barang-barang Dion di kamar ini. Membersihkan debu nakal yang berani membuat perkampungan di tempat yang tidak seharusnya, Sina merasa gemas dibuatnya.
Yah, meskipun sudah bersih tapi ternyata yang namanya debu pasti akan datang lagi menodai tempat yang sudah bersih. Walaupun kecil dan tidak terlihat, keberadaan debu di sini tidak bisa menampik bahwa tempat itu sudah kotor.
"Darimana debu ini datang?" Bingung Sina seraya mengedarkan pandangannya.
Dia memperhatikan jika kamar Dion sangat tertutup dan bahkan balkonnya saja tidak pernah dibuka untuk sekedar memasukkan udara pagi.
"Padahal kamar ini serba tertutup tapi kok bisa sih ada debu yang mengendap di sini." Gerutu Sina pada entah siapa tidak ada yang tahu.
"Kecanggihan teknologi kamar ini benar-benar tidak mampu menghentikan semua debu-debu nakal ini masuk. Huh, tapi untungnya Dion punya aku sehingga debu-debu nakal ini tidak akan mudah membuat perkampungan ilegal lagi." Ujarnya bangga pada dirinya sendiri.
Oh well, untungnya Dion punya Sina sehingga kebersihan kamar ini bisa dikontrol. Debu yang nakal tidak mudah membuat perkampungan sehingga kebersihan kamar ini benar-benar terkontrol.
"Aku benar-benar istri idaman banyak orang, lihat perubahan besar apa yang aku lakukan. Dari anak rumahan yang tidak bisa melakukan apa-apa kini menjadi anak rumahan yang bisa melakukan pekerjaan rumah tangga. Oh, aku juga sudah bisa memasak makanan rumah meskipun makanan rumahan biasa. Walaupun biasa aku tetap senang dengan kemajuan ku karena setidaknya aku melangkah satu langkah lagi lebih dekat dengan Dion."
Sina sangat puas dengan kemajuan yang dia buat selama ini. Dia juga ingin menunjukkan kepada kedua orang tuanya tentang perubahan besar yang dia alami, bertanya-tanya bagaimana ekspresi mereka saat melihat perubahannya.
Setelah selesai mengelap Sina kemudian melanjutkan pekerjaannya untuk merapikan dokumen-dokumen penting Dion yang ada di atas meja kerja. Dia sangat serius saat merapikan dokumen tersebut karena kertas ini bukan kertas biasa tapi sangat penting untuk perusahaan Dion, ya.. awalnya dia berpikir seperti ini tapi pikiran ini tiba-tiba hilang ketika matanya melihat jas hitam Dion tergeletak di bawah meja kerjanya.
Sontak saja, Dion melepaskan dokumen-dokumen yang dia susun dengan rapi di tangannya karena panik dan segera mengambil jas hitam milik Dion yang tergeletak di atas lantai.
Dia menepuk-nepuk kain jas hitam Dion dengan hati-hati agar jangan sampai membuatnya kusut. Sina juga beberapa kali meniup bagian lain yang dia tepuk guna menyingkirkan debu yang hinggap di kain tersebut. Menepuk-nepuk kain tersebut, tiba-tiba tangan Sina tidak sengaja menyentuh sebuah benda padat yang ada di saku jas tersebut. Gerakan tangannya kemudian terhenti, dia menatap kosong benda yang baru dia sentuh tadi. Dia penasaran dengan isinya dan ingin mengeluarkannya, akan tetapi dia ragu karena barang itu adalah privasi Dion. Sebagai orang yang penting untuk Dion, dia tidak ingin mengganggu privasinya. Akan tetapi, sebuah pemikiran lain datang lagi mencerahkan dirinya.
Kenapa dia harus takut melihat barang itu, toh Sina hanya sekedar melihat dan tidak punya niatan buruk apapun terhadapnya. Apalagi, dia adalah satu-satunya orang yang bisa masuk ke dalam kamar ini jadi secara tidak langsung Sina bisa melihat barang apapun milik Dion.
Yah, seharusnya memang seperti itu.
"Aku tidak mencurinya dan hanya sekedar melihatnya saja, jadi Dion tidak akan memarahiku." Ucapnya meyakinkan diri sendiri.
Setelah itu dia tidak ragu lagi mengambil barang yang ada di dalam saku jas Dion. Menariknya keluar, dia melihat jika benda yang ada ditangannya adalah kotak kecil yang dilapisi dengan warna dan hiasan yang cukup mewah.
__ADS_1
"Mungkinkah di dalamnya ada cincin?" Tangannya sekali lagi tergelitik untuk mencari tahu.
Dia membuka kotak itu dengan hati-hati dan benar-benar menemukan sebuah cincin di dalamnya!
Sama seperti kotaknya, cincin ini juga indah dan sarat akan kemewahan yang memanjakan mata! Bentuknya yang ramping dilapisi berlian-berlian kecil yang menyilaukan memberikan kesan bahwa cincin ini sangat berkelas. Lalu, lihat kilauan mahkota cincin tersebut yang terbuat dari berlian biru laut yang indah. Sina seolah-olah bisa merasakan jika dirinya ada di dalam lautan yang luas saat pertama kali melihatnya. Dia bahkan tidak bisa memalingkan wajahnya sedetik saja dari cincin tersebut karena tidak sanggup menolak pesona yang ditebarkan cincin itu.
"Cincin ini... apakah Dion akan memberikannya kepada ku?" Tanyanya masih belum bisa keluar dari pesona cincin tersebut.
Dia merentangkan tangan kirinya, memasukkan dengan gerakan hati-hati cincin tersebut di jari manisnya.
Oh, God!
Cincin ini sangat sesuai dengan jari manisnya! Seolah-olah setiap ruas jarinya di sesuaikan dengan baik oleh cincin tersebut.
"Ini.. Dion benar-benar memberikan ku cin-"
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Tiba-tiba suara dingin Dion mengintrupsi kegembiraan Sina.
Sina terkejut, sejenak dia tidak bisa berkata apa-apa akan tetapi saat matanya melihat wajah tampan Dion segala ketakutannya langsung lenyap.
Segera saja Sina mendekati Dion seraya menunjukkan jari manisnya yang kini berhias cincin berlian biru laut yang indah.
"Apa yang sedang kamu lakukan!" Potong Dion marah.
Dia menarik tangan Sina dengan kasar dan tidak sabaran, melepaskan cincin itu dari jari manis Sina dengan gerakan cepat. Setelah itu Dion mengambil kotak cincin itu dari tangan Sina, meletakkan cincin berlian biru laut yang indah itu kembali ke tempatnya dan menutupnya rapat tanpa meninggalkan celah sedikitpun.
"Aku...cincin ini.." Sina shock dan tidak bisa berkata apa-apa ketika melihat kemarahan Dion.
Bahkan tangan kirinya yang baru saja ditarik kasar Dion meninggalkan rasa tidak nyaman yang ngilu, akan tetapi karena dia terkejut rasa sakit itu langsung diabaikan Sina.
"Kenapa kamu masuk ke dalam kamarku?" Tanya Dion dingin, mata tajamnya yang kelam mengamati dengan teliti kotak cincin tersebut.
"Aku.. membersihkan kamar ini.. bukankah kamu bilang-"
"Oh, jadi karena kamu bisa masuk ke dalam kamar ini semua barang-barang pribadi ku bisa kamu sentuh sesuka hatimu?" Potong Dion tidak sabar.
Mata hitamnya yang berfluktuasi kini menatap lurus wajah pucat Sina yang ketakutan di depannya. Melihat kerapuhan Sina tidak membuat kemarahannya surut, justru suhu di matanya semakin menurun tanpa ada tanda-tanda melunak.
Mengernyit terganggu, "Apa yang ada di belakang mu?" Tanya Dion mulai merasakan firasat buruk.
__ADS_1
Sina sontak menggeser tubuhnya agak ke samping agar Dion bisa melihat titik fokusnya.
Belum selesai kemarahan Dion dengan masalah ini, sebuah masalah lain lagi datang. Dia melihat dokumen-dokumen penting perusahaannya jatuh berserakan di bawah meja. Kertas-kertas putih yang seharusnya sudah disesuaikan dengan proyek masing-masing di dalam map berbeda kini sudah bercampur di atas lantai.
Berserakan bagaikan sampah tidak berharga yang mengganggu pandangan.
Dion mengepalkan kedua tangannya menahan amarah, jika Sina laki-laki mungkin Dion sudah melampiaskan kemarahannya dengan memberikan tinju kepada Sina. Namun, sayangnya Sina perempuan sehingga dia harus menahan kemarahannya yang kini sedang bergejolak di dalam tubuhnya.
"Minggir!" Perintah Dion dingin seraya berjalan melewati Sina dan menabrak pundak Sina tanpa perduli sama sekali.
Sina sangat terkejut dengan apa yang dia lihat di belakangnya. Dokumen-dokumen yang dia rapikan tadi kini sudah bercampur di atas lantai tanpa dan sangat berantakan.
"Aku..aku tidak sengaja melakukannya..aku tidak-"
"Mulai hari ini kamu tidak diizinkan lagi masuk ke dalam kamarku. Kamu terlalu mengganggu dan membuat kamarku menjadi berantakan. Keluar, aku tidak ingin melihat wajah mu lagi." Potong Dion datar tanpa melirik Sina sedikit pun.
Sina meremat tangannya kuat menahan suara isak tangisnya yang menuntut untuk dilepaskan. Air mata ketakutan bercampur kegelisahan dan rasa bersalah sudah membasahi wajah Sina tanpa terkendali. Bahkan tubuhnya pun kini mulai bergetar menahan Isak tangisnya.
"Dion..aku minta maaf, aku sama sekali tidak bermaksud untuk mengacaukan dokumen-dokumen ini. Aku sungguh tidak sengaja melakukannya..hiks.. Dion.."
"Apa kamu tidak mendengar ku?" Dion mengangkat kepalanya dan menatap datar Sina.
Tangisan rapuh Sina tidak membuatnya melunak sama sekali.
"Aku minta maaf.." Ucap Sina dengan suara yang lebih kecil dari sebelumnya.
Dia sangat takut melihat Dion yang seperti ini.
Dion mengulangi tanpa ekspresi, "Keluar sekarang juga jika kamu tidak mau aku menghubungi kedua orang tuamu." Ancam Dion tanpa memberi ampun.
Sina terkejut dan segera menggelengkan kepalanya kuat. Jika Dion memberi tahu kedua orang tuanya maka mereka pasti tidak mengizinkan Sina tinggal lagi di rumah ini. Kedua orang tuanya akan mengirim seseorang datang menjemputnya dan Sina tidak mau jika itu terjadi.
Dia tidak ingin keluar dari rumah ini.
"Aku akan keluar..aku akan keluar.." Ucap Sina panik seraya berlari keluar dari kamar Dion.
Sebelum semuanya terlambat Sina memilih untuk keluar dulu dan memberikan Dion waktu untuk menenangkan dirinya.
Bersambung..
__ADS_1