
Setelah selesai makan malam, Sina berniat membantu Bik Mur dan yang lain untuk membersikan meja makan. Akan tetapi Bik Mur tidak mengizinkan Sina melakukan itu karena mungkin dia takut Dion marah kepada mereka.
"Biarkan mereka yang membersihkannya." Ucap Dion yang mungkin sudah tidak tahan lagi melihatku.
"Aku baru saja makan malam dengan porsi yang besar jadi aku tidak bisa langsung kembali ke kamar dalam keadaan seperti ini. Dunia kesehatan bilang jika pencernaan kita akan terganggu jika langsung tidur. Oleh karena itu aku harus bergerak selama beberapa waktu untuk melancarkan pencernaan ku." Sina mencoba memberi pengertian kepada Dion.
Karena sebagai perempuan bentuk tubuh adalah sesuatu yang sangat penting, apalagi sekarang ia akhirnya resmi menjalin hubungan dengan Dion sehingga menjaga penampilan adalah fokus utamanya sekarang.
Ini adalah pikiran Sina tapi tidak ada yang tahu dengan pikiran Dion. Mungkin, mungkin Dion tidak terlalu menganggap serius Sina karena hati adalah tempat tersembunyi yang tidak bisa disusupi manusia dengan mudah.
"Kamu bisa jalan-jalan di taman untuk memperlancar pencernaan mu, jadi kenapa harus repot-repot melakukan pekerjaan ini?" Tanya Dion tidak mengerti.
Sina tertegun, kilatan cahaya di dalam matanya terlihat begitu jelas. Di dalam hati ia bertanya-tanya mungkinkah ini adalah sebuah kode dari Dion agar mereka berdua bisa jalan-jalan di taman?
Karena hei, semua orang yang baru saja menjalin kasih pasti selalu ingin bersama dengan orang yang mereka sukai!
"Aku..aku tidak sempat memikirkannya." Sina pura-pura terkejut.
Membumbui sandiwaranya agar Dion segera menariknya pergi.
"Kak Dion benar Sina, kamu tidak perlu melakukan semua ini. Jika kamu mau, aku bisa menemani mu jalan-jalan di taman karena kebetulan aku juga ingin pencernaan ku berjalan lancar." Ujar Risa yang tiba-tiba sudah ada di samping Dion.
Kata-katanya terdengar masuk akal dan sulit untuk membuat orang meragukan ucapannya. Namun untuk Sina, dimatanya Risa malah terlihat terlalu jelas ingin memisahkannya dari Dion. Tentu saja itu karena Risa masih belum menerimanya.
"Nah, kamu bisa keluar jalan-jalan bersama Risa sambil mengobrol tentang masalah kalian para wanita." Dion setuju dengan perkataan adiknya.
Jadi, karena ini pembicaraan wanita ia tidak bisa ikut bergabung. Selain itu ia juga punya urusan yang sudah ditunda sejak pulang dari kantor, dan karena malam ini ia punya waktu untuk mengerjakannya, Dion memutuskan untuk tidak menunda-nunda lagi.
"Jika Risa tidak keberatan maka aku akan dengan senang hati bergabung dengan kalian." Sina berpikir banyak hal saat mengatakan ini.
__ADS_1
"Hanya kalian berdua saja yang pergi, aku tidak bisa ikut karena ada urusan mendesak yang tidak bisa ditunda." Dion mengoreksi ucapan Sina.
Sina tertegun, agak terkejut tapi beberapa detik kemudian Sina terlihat tenang kembali. Di dalam otaknya ia sedang memikirkan sesuatu yang mustahil terjadi, ah!
Ini pasti rencana Dion agar aku dan Risa bisa saling berteman, yah, biar bagaimanapun juga sebagai seorang laki-laki sejati dia tidak ingin kekasih dan adiknya punya hubungan yang jelek. Oleh karena itu ia mengambil jalan pintas agar aku dan Risa bisa berteman selayaknya adik dan Kakak ipar. Hah, Dion sangat manis, ah!. Batin Sina menebak.
"Oh tentu saja, hanya kami berdua yang akan saling berbagi ikatan kebersamaannya yang indah." Angguk Sina sok tau.
"Kata-kata mu sungguh manis, aku rasanya ingin sekali-" muntah,
"Tertawa ketika mendengarnya."
Risa benar-benar tidak habis pikir dengan sirkuit otak Sina yang pendek dan tumpul. Mungkinkah dia salah memahami sesuatu di sini? Ekspresi wajahnya yang jelek seperti pasien cacat mental yang baru saja diberikan mainan oleh orang normal. Hah, Sina benar-benar gadis yang bodoh, pikirnya menghina.
"Tapi sebelum kamu pergi, aku akan mendata dulu sidik jarimu." Dion mengeluarkan sesuatu dari kantong sakunya.
Sebuah benda persegi yang cukup langka Sina lihat, yah, ini adalah pertama kalinya ia melihat benda seperti itu di dunia ini. Atau lebih tepatnya kehidupan sederhana dan membosankan yang ia jalani dulu adalah titik ternorak yang pernah manusia kaya lihat.
"Oh, ini.." Ucap Sina kikuk seraya mengulurkan tangan kanannya.
Dion segera memegangnya, melingkupi tangan kecil milik Sina dengan tangannya yang besar dan hangat. Ia kemudian mengarahkan satu jari ke arah sensor dan menekannya dengan tenaga kecil untuk beberapa detik.
Beberapa detik untuk kedua tangan mereka saling menyentuh, menciptakan debaran yang sangat kuat di dalam hati Sina. Wajahnya yang merah semakin berwarna merah hampir menyamai kepiting rebus. Mentransmisikan suhu tubuhnya berpusat di wajahnya sehingga terasa lebih panas dari biasanya.
Tik
Rekaman selesai dan Dion dengan alami melepaskan tangan Sina. Mengutak-atik alat tersebut selama beberapa waktu dan langsung memasukkannya ke dalam saku setelah selesai.
"Kamu sekarang punya akses masuk ke dalam kamar ku selama masa hukuman. Tidak diizinkan membawa orang lain masuk selain dirimu sendiri, jika kamu ketahuan membawa orang lain maka hukumannya jauh lebih berat dari ini lagi. Apa kamu paham?"
__ADS_1
"Aku..aku sekarang bisa masuk ke dalam kamar mu?" Otak Sina masih belum berjalan dengan benar di lintasan sirkuitnya.
"Ya, dan kamu tidak diizinkan membawa orang lain masuk apalagi sampai menyentuh barang-barang yang penting."
"Tentu saja tidak, aku tidak akan berani bermain di belakang mu." Apa Sina salah paham terhadap sesuatu lagi?
"Baiklah, kamu bisa masuk mulai besok jadi biasakan diri untuk bangun pagi Sina." Pesan Dion sebelum pergi meninggalkannya Sina dan Risa.
Meninggalkan Sina yang masih belum sadar dari imajinasi liarnya sedangkan Risa yang selama ini hanya menonton semua percakapan menatap tidak percaya pada jari Sina yang sudah didaftarkan ke sistem keamanan rumah ini.
"Kamu benar-benar lebih mirip dengan seekor rubah jelek yang licik daripada terlihat seperti kelinci, aku sudah salah menilai identitas mu." Ucap Risa terdengar bias, menatap cemburu pada keberuntungan Sina.
Dia sangat kesal, bahkan matanya tidak bisa berhenti memandang dengan tidak puas pada wajah konyol Sina yang masih sibuk berpikir liar. Terlihat polos namun sejatinya sangat licik, Cih, Risa benar-benar membenci Sina!
Menghentak kakinya marah, is lalu dengan arogan menabrakkan dirinya dengan Sina. Setelah menabrak Sina, dia tidak menghentikan langkahnya dan justru sebaliknya, Risa semakin melangkah cepat menuju kamarnya.
Ia sudah tidak punya keinginan untuk jalan-jalan di taman!
"Eh, bukannya kita akan jalan-jalan ke taman?" Tanya Sina bingung saat melihat Risa berjalan ke arah kamarnya.
Risa bersikap acuh dan tidak perduli sama sekali dengan panggilan Sina, langkahnya yang cepat dengan cepat sampai ke dalam kamar dan dengan arogan membanting pintu kamar tidak mengizinkan Sina masuk ke dalamnya.
"Bukannya tadi Risa baik-baik saja?" Gumam Sina tidak mengerti.
Beberapa menit yang lalu Risa sangat baik kepadanya dan bersikap seolah obrolan pagi itu tidak pernah terjadi. Namun, mengapa ia tiba-tiba berubah marah tadi padahal Sina tidak pernah mengatakan sesuatu yang menyebalkan.
"Risa terlalu sulit ditebak, ah!" Putusnya menyimpulkan.
Karena dia tidak punya kegiatan apapun dan bahkan kegiatan jalan-jalannya dibatalkan sepihak oleh Risa, Sina memutuskan untuk kembali saja ke kamarnya. Suasana hatinya sedang baik saat ini sehingga ia tidak terlalu memikirkan sikap kasar Risa yang tidak jelas.
__ADS_1
Bersambung...