
Apa kamu pikir aku berbohong?" Tanya Dion dengan kedua mata menyipit.
Jika Sina curiga maka Dion harus melibatkan orang-orang perusahaan untuk mendukung kebohongannya. Karena biar bagaimanapun juga kesempatan ini sangat bagus untuk Dion bisa memonopoli Sina sepenuhnya.
Membuat Sina lebih dekat lagi sampai suatu hari nanti dia tiba-tiba membuka hatinya kembali. Mempercayai Dion seperti sebelumnya dan mau memberitahu Dion tentang anak yang sedang dikandung.
"Tidak..tidak..aku percaya apa yang kamu katakan. Kamu adalah orang yang sibuk jadi wajar saja jika mengalami kerugian di perusahaan. Tapi..tapi aku tidak punya uang sebanyak itu Dion. Uang yang diberikan Kakek dan Nenek tidak cukup untuk mengganti kerugian perusahaan mu. Jadi, bisakah kamu memberikan ku waktu beberapa hari lagi untuk meminjam uang kepada kedua orang tuaku. Mungkin prosesnya akan lam-"
"Aku tidak membutuhkan uang kamu." Potong Dion merasa geli.
Bagaimana bisa dia sepolos ini?. Batin Dion tidak habis pikir.
Sina mulai gelisah takut Dion membawa masalah ini ke polisi sehingga dia harus berakhir masuk ke dalam penjara.
"Apa kamu ingin melaporkan ku ke polisi?" Tanya Sina sedih.
Sejak hamil Sina mudah berubah mood. Dia jadi gampang marah, sedih, kecewa, dan juga sering berpikiran negatif. Singkatnya, IQ yang dia miliki seolah turun ke titik yang tidak dia sadari.
"Pftt.." Dion hampir saja tertawa.
"Dion?" Panggil Sina lesu.
Dion melambaikan tangannya sambil memperbaiki ekspresi wajahnya.
"Aku tidak butuh uang apalagi sampai membawa kamu ke kantor polisi. Aku tidak akan melakukannya. Yang aku inginkan dari kamu adalah sebuah kesepakatan." Dion mulai menjalankan rencananya.
"Kesepakatan?" Ulang Sina tidak yakin.
"Ya, aku ingin sebuah kesepakatan dengan kamu." Jawab Dion menekankan.
"Kesepakatan apa yang kamu inginkan dariku?" Sina bertanya gugup.
Dion tersenyum kecil, tampak samar dan tidak terlalu jelas.
"Aku ingin kamu menuruti semua keinginanku. Tidak melarang ku tinggal di sini jika aku mau, tidak melarang ku melakukan apa yang aku suka selama tinggal bersamamu, dan tidak boleh dekat dengan laki-laki manapun selama aku bersama mu. Bagaimana, apa kamu menerima sepakat dengan apa yang aku ajukan?" Ujar Dion menyamarkan keinginan liciknya.
Dengan begini Sina tidak akan punya alasan untuk melarang Dion di sini dan Dion pun tidak perlu membuat alasan lagi jika ingin tinggal di sini.
"Apa kamu serius hanya menginginkan kesepakatan ini?" Tanya Sina tidak yakin tapi tidak bisa menyembunyikan betapa bahagia hatinya.
Dia senang berada lebih dekat dengan Dion, seharusnya ini adalah keuntungan yang sangat bagus untuk Sina.
"Kenapa? Apa kamu ingin lebih dari ini?" Tanya Dion menggoda.
Sina sontak menggelengkan kepalanya panik. Dia ingin tapi tidak mau mengakui. Hei, siapa yang tidak ingin punya kontak yang lebih intim dengan seseorang yang dicintai?
"Aku..aku enggak kok." Bantah Sina dengan wajah yang mulai merah merona.
"Tapi jika boleh tahu kenapa kamu ingin tinggal di paviliun dingin? Karena..setahuku kamar kamu sudah sangat nyaman untuk fokus bekerja." Tanya Sina penasaran.
Dia pernah masuk ke dalam kamar Dion jadi dia tahu jika kamar Dion sangat cocok untuk tenggelam dalam pekerjaan. Semuanya serba tertutup dan kedap suaranya pun bagus. Jadi, Dion seharusnya merasa nyaman bekerja di sana.
"Aku lebih nyaman bekerja di sini daripada di kamarku dan sebelum kamu pindah ke sini pun, kamar ini sudah lama menjadi ruangan kerja aku. Apa kamu memikirkan alasan aneh-aneh lagi?" Dion sekali lagi menggoda Sina.
"Aku gak mikir yang aneh-aneh." Bantah Sina berbohong.
Dia tadinya berharap alasan Dion ingin tinggal di sini karena ingin tinggal bersamanya. Tapi ternyata itu hanya sekedar harapan karena faktanya Dion punya alasan yang lebih masuk akal.
Dion tersenyum simpul,"Aku juga sebenarnya khawatir sama kamu. Tinggal sendirian di tempat seperti ini pasti membuat kamu takut dan tidak nyaman jadi sambil bekerja di sini tidak ada salahnya aku juga menemani kamu. Gak apa-apa'kan?"
__ADS_1
Jantung Sina berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Hawa panas yang aneh mulai mengaliri wajahnya.
"Gak.. apa-apa kok." Faktanya dia sangat senang.
"Lalu..kamu akan tidur dimana? Paviliun inikan cuma punya satu kamar." Tanya Sina sambil melihat sekelilingnya secara acak, ingin mengurangi rasa malunya.
"Aku bisa tidur dimana aja, entah itu di sofa atau dibawah. Aku tidak masalah." Jawab Dion enteng, padahal dia sudah merencanakan sesuatu di dalam kepalanya untuk hari itu.
"Kamu gak bisa tidur di bawah, Dion. Nanti badan kamu jadi sakit." Sina tidak mau Dion di sembarang tempat.
Dion tersenyum lebar,"Kalau aku gak tidur di bawah terus aku harus tidur dimana? Satu ranjang sama kamu?"
"Aku..gak tau. Aku akan cari alas tidur yang empuk dan nyaman untuk kamu biar badannya gak jadi sakit." Sina malu membicarakan topik ini lagi.
Dion mengerti betapa malunya Sina saat ini. Dia memutuskan untuk tidak menggoda Sina lagi sebelum dia berubah pikiran.
"Jadi, apa kamu sepakat dengan tawaran yang aku berikan?" Tanya Dion sangat berharap.
Sina awalnya tidak menunjukkan respon apapun, tapi beberapa detik kemudian dia menganggukkan kepalanya setelah menimbang keuntungan yang akan dia dapatkan.
Dion tinggal di sini, jika Dion tinggal di sini dia punya banyak waktu luang untuk lebih dekat dengan Dion. Itu adalah kondisi yang bagus untuk hati dan anaknya untuk saat ini.
"Bagus, kita sudah sepakat jadi kamu tidak diizinkan untuk mengingkarinya. Jika suatu hari nanti kamu mengingkari kesepakatan kita konsekuensi yang akan kamu dapatkan tidaklah main-main Sina." Ucap Dion serius memperingatkan.
Entah Sina mengingkarinya atau tidak, tujuan dari kesepakatan ini adalah untuk mengikat Sina tetap di sisinya.
"Aku mengerti." Sina agak takut melihat ekspresi serius Dion yang terlihat tidak main-main.
Auranya sangat berbeda dari beberapa menit yang lalu. Sina seolah merasa jika ada sebuah pisau yang diarahkan Dion tepat dilehernya. Menakutkan juga berbahaya.
"Bagus jika kamu mengerti." Dion kembali hangat seperti sebelumnya.
"Kamu bisa masak?" Tanya Sina terkejut.
"Aku masih belum pantas untuk dikatakan bisa masak. Bisa dibilang yah, aku masih dalam tahap belajar masak." Jawab Dion rendah hati.
Sina penasaran dengan masakan Dion, dia tidak sabar ingin segera mencobanya. Akan tetapi dia baru bangun tidur dan masih kucel, jadi Sina cukup tahu diri untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
"Ya sudah, aku ke bawah dulu ya. Langsung turun ke bawah bila kamu sudah selesai." Pesan Dion sebelum turun ke bawah melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.
Setelah Dion menghilang dari pandangannya, Sina tidak bisa lagi menahan senyuman manisnya. Kedua tangannya mengusap ringan perutnya yang sudah mulai berisi dengan gerakan teratur.
"Papa kamu ganteng banget kan, nak?" Tanya Sina pada anak yang ada di dalam perutnya.
Teringat dengan pesan Dion, dia segera masuk ke dalam kamar mandi dengan pakaian ganti yang baru dia ambil dari dalam lemari. Masuk ke dalam kamar mandi dia bersenandung lembut mengikuti suasana baik hatinya.
13 menit kemudian Sina keluar dari kamar dengan wajah segar dan pakaian selutut biru polos miliknya. Itu tampak sederhana tapi setelah dipakai Sina kesederhanaannya berubah menjadi kecantikan polos yang pemalu.
Sina tidak terlalu suka makeup jadi dia hanya menggunakan bedak bayi untuk wajahnya dan pelembab bibir merah muda sebagai pelengkap.
Rambutnya juga dia biarkan tergerai begitu saja dan tidak membutuhkan waktu lama untuk menyisirnya.
Setelah selesai dia segera turun ke bawah dan masuk ke dalam dapur. Di dalam dapur Dion baru saja meletakkan piring terakhir di atas meja.
Dia mengangkat kepalanya, kebetulan mata mereka berdua bertemu tanpa sengaja. Menciptakan suasana harmonis yang ambigu dan manis diantara mereka berdua.
"Kamu kenapa diam di situ? Ayo masuk, kita sarapan bersama mumpung makanannya masih hangat." Panggil Dion setelah tersadar dari lamunannya.
Sina memberanikan diri masuk ke dalam dapur. Saat dia akan menarik salah satu kursi, Dion tiba-tiba menarinya duluan.
__ADS_1
"Duduklah, biar aku saja yang melakukannya." Ucap Dion bersikap seolah mereka sering melakukannya.
Sina tersenyum malu dan menganggukkan kepalanya ringan sebagai ungkapan terima kasih. Duduk di kursi dia lalu memperhatikan makanan yang ada di atas meja.
Makanan yang dibuat Dion terkesan ringan dan mudah dicerna.
"Kamu bisa buat dumpling?" Tanya Sina takjub.
Dumpling adalah makanan khas orang Tionghoa yang sudah tidak asing lagi untuk orang Indonesia. Rasanya juga ringan dan mudah dicerna sehingga banyak orang Indonesia yang menyukainya.
Dion duduk di samping Sina. Mengambil mangkuk kecil dan menaruh beberapa dumpling di dalamnya bersama sup ringan yang khusus dia buat untuk Sina.
"Waktu tinggal di Belanda aku pernah berteman dengan orang Indonesia keturunan Tionghoa. Karena bosan melihat aku makan makanan cepat saji, teman aku itu ngajarin aku masak beberapa makanan Tionghoa yang gampang dan gak butuh waktu lama untuk membuatnya. Bumbu yang digunakan pun cukup tidak asing untuk orang Indonesia jadi kamu tidak perlu khawatir mengenai rasanya. Namun.." Dion tiba-tiba menurunkan matanya menatap perut berisi Sina yang tertutupi pakaian.
"Apa perut kamu bisa menerimanya?" Tanya Dion khawatir.
Untuk memenuhi kebutuhan Sina dan anaknya, Dion sengaja memasak makanan yang ringan dan rendah minyak agar Sina dapat menerimanya.
Sina menundukkan kepalanya mencium wangi sup ringan yang ada di mangkuknya.
Wanginya cukup enak, pikir Sina terkejut. Benar saja saat bersama Dion perutnya tidak akan membuat masalah lagi. Itu karena anak yang ada di dalam perut Sina sudah mengenali Dion sebagai Papanya.
"Aku bisa memakan semuanya." Jawab Sina langsung membuat Dion lega.
"Syukurlah." Gumam Dion lega.
Setelah itu mereka berdua mulai sarapan yang diselingi dengan beberapa obrolan ringan. Sesekali Dion akan mengamati Sina memakan sarapannya. Menilai apakah Sina merasa nyaman atau tidak. Tapi berbanding terbalik dengan ketakutannya, Sina bukan hanya sangat nyaman tapi nafsu makannya juga lebih besar dari sebelumnya.
Sina melahap habis semua makanan yang Dion berikan dan berhenti ketika dia sudah merasa cukup.
Aku tidak pernah merasa sepuas ini sejak hamil saat makan. Batin Sina
"Oh ya, siang ini aku temenin Mama ke supermarket. Kamu mau nitip sesuatu gak nanti di supermarket? Siapa tahu kamu mau makan sesuatu yang gak ada di rumah ini." Tanya Dion bersikap alami seolah ini adalah pertanyaan biasa.
Biasanya wanita hamil sering ngidam ingin makan sesuatu dan keinginan tersebut harus dikabulkan karena itu adalah keinginan sang bayi.
Sina berpikir sejenak dan menggelengkan kepalanya tidak yakin,"Untuk saat ini aku masih belum mau apa-apa."
Dion menganggukkan kepalanya mengerti.
"Kalau kamu mau makan sesuatu atau menginginkan sesuatu, jangan malu ngomong sama aku. Nanti sebisa mungkin aku akan penuhi semua keinginan kamu." Ujar Dion membuat Sina mengerutkan keningnya.
"Kamu kok memperlakukan aku seperti wanita hamil saja." Ucap Sina hati-hati seraya menilai ekspresi Dion.
Dia curiga Dion tahu tentang kehamilannya namun juga tidak yakin. Karena jika Dion tahu maka Sina pasti sudah ada di rumah sakit untuk menggugurkannya. Sina pikir Dion akan menolak kehadiran anak ini.
"Eh masa sih, emang kamu beneran hamil?" Dion bertanya balik.
Pertanyaan ini lagi, jelas dia tidak bisa menjawabnya sekarang. Meskipun sudah ada lampu hijau untuk hubungan mereka, Sina tidak berani bersikap ceroboh. Bila sudah waktunya Dion tahu maka Tuhan sendiri yang akan memberikan Dion kesempatan.
Sina tersenyum canggung, tidak menyangkal ataupun mengakuinya. Dia sepenuhnya bungkam dan berpura-pura mulai sibuk mengumpulkan alat makan yang dia gunakan tadi sarapan bersama Dion.
Tidak mendapatkan tanggapan apapun dari Sina, Dion menundukkan kepalanya menyembunyikan senyum simpul yang penuh akan banyak makna.
Kamu jelas tidak bisa berbohong. Batin Dion dalam suasana hati yang baik.
Bersambung...
Hello?
__ADS_1