
"Berhentilah bermain, bukankah dia sudah memperingati mu secara langsung?" Suara kesal orang yang ada diseberang sana memenuhi pendengaran gadis cantik itu.
Wajahnya yang terpahat indah dipadukan dengan penampilan anggun yang sempurna terbaring malas menatap langit-langit kamarnya yang sangat membosankan.
"Yah, dia memang sudah memperingati ku tapi aku tidak bodoh untuk mendengarkannya. Aku bisa bermain-main dari belakang dan dengan hati-hati tanpa harus dia sadari. Permainan ini memang sedikit menyebalkan apalagi saat rubah jelek itu bertindak sewenang-wenang di wilayah ku. Wajah tidak tahu malunya membuat ku mual dan muak, aku tidak tahan melihatnya terus saja bergerak sesuka hatinya. Karena aku tidak tahan maka keinginan ku untuk membasminya semakin kuat, yah.. jatuhkan saja rubah tidak tahu malu ini ke tempat yang seharusnya agar dia tahu dimana posisinya yang seharusnya!" Gadis itu berkata tidak puas dengan seekor rubah jelek yang sudah menipunya.
Ia pikir awalnya itu adalah kelinci biasa yang bisa dengan mudah ia manipulasi karena sikapnya juga terlihat sangat polos, namun ternyata kepolosan iti adalah wajah kedua rubah jelek itu yang sangat membuatnya jengkel setiap kali melihatnya. Membuat kepalanya sakit setiap kali memikirkannya dan membuat matanya iritasi setiap kali melihatnya, hah..inilah yang disebut sebagai manusia sampah!
"Apa kamu bodoh? Jelas-jelas kamu sendiri yang menariknya masuk ke dalam rumah itu. Sekarang setelah melihat dia tidak bisa masuk ke dalam perangkap mu dan bahkan mampu mengendalikan perasaan orang itu kamu menjadi marah serta tidak terima. Kamu tidak bisa menerima kelebihannya sehingga kamu menganggapnya menjadi parasit padahal jelas-jelas orang yang bermasalah adalah kamu-"
"Diam, diam, diam!" Teriak gadis cantik itu marah.
Dia segera bangun dari posisi tidurnya dan duduk di atas ranjang. Tangannya yang lentik memegang handphone yang menjadi penghubungnya dengan sang lawan bicara.
"Kamu dan rubah itu sangat menjengkelkan. Aku sudah muak dengan sikap kalian berdua dan karena kalian menjengkelkan aku akan membuat kalian menyesal telah mengganggu ku, hahaha... kalian akan sangat menyesal telah mengganggu ku!" Teriaknya marah seraya menghempaskan handphone tersebut ke dinding kamarnya.
Brak
Handphone tersebut langsung hancur menjadi bagian-bagian yang tidak utuh. Tampaknya gadis ini menggunakan tenaga penuh saat melemparnya ke dinding..
"Seperti sampah ini, aku akan pastikan hidup kalian hancur sehancur-hancurnya." Bisiknya berjanji pada entah siapa yang tahu.
...🌺🌺🌺...
Paginya, Sina langsung ke lantai dua setelah menyelesaikan sarapannya. Di atas meja makan tadi Sina tidak bertemu dengan Dion karena Bik Mur bilang Dion sudah pergi pagi-pagi sekali dan terlihat terburu-buru jadi tidak bisa ikut sarapan.
Sina tidak berkecil hati dan dia pikir sudah saatnya berpikir dewasa. Ia harus terbiasa dengan kehidupan Dion yang serba sibuk dan penggila kerja. Sebagai seseorang yang paling penting untuk Dion, Sina harus mampu mengimbangi rutinitas kehidupan Dion yang aktif dan cepat.
Oh ya, Sina juga tidak menemukan keberadaan Risa saat sarapan tadi. Bik Mur tidak tahu mengapa Risa tidak ikut sarapan padahal tadi dia sudah berkali-kali memanggilnya keluar. Bik Mur juga menjelaskan jika Risa memang sering melewatkan sarapan jadi itu wajar saja tidak ada yang terkejut melihat Risa tidak hadir di meja makan.
"Aku hanya perlu menempelkan jariku di sini-" Lalu, ia menempelkan jari yang direkam Dion semalam.
Ting
__ADS_1
"Luar biasa, sekarang aku bisa masuk ke dalam kamar Dion." Ucapnya bersemangat.
Maka, tanpa menunggu waktu lebih lama lagi Sina segera bergegas masuk ke dalam. Menggeser pintu kamar Dion dengan sangat penasaran Sina lalu membawa langkahnya masuk ke dalam dengan langkah lamban yang menghayati.
Hitam.
Ini adalah kesan pertama yang Sina dapatkan setelah melihat kamar Dion. Semua yang ada di kamar ini penuhi dengan warna hitam pekat sama seperti mata Dion yang dalam. Warna cat dinding, gorden, kasur, lemari, meja kerja dan beberapa perabotan kamar ini semuanya diwarnai hitam.
Entah ini adalah warna kesukaan Dion atau tidak, tapi Sina tidak merasa takut saat melihat ini. Malah ia pikir ini sangat cocok dengan orang yang suka bekerja keras dan butuh suasana sunyi untuk menenangkan pikirannya.
Percaya atau tidak, psikologi mengatakan jika warna hitam adalah warna yang netral dan sangat bagus untuk meredakan stres. Warna hitam juga merupakan cerminan dari orang yang menyukai, entah itu positif atau negatif pasti ada penjelasannya. Misalnya seperti perasaan suka dan duka, Sina tidak yakin jika Dion punya kesedihan yang tidak bisa teratasi sehingga ia menyukai warna ini. Ia malah lebih yakin jika Dion lebih cenderung pada sisi positif. Yaitu, sebuah cerminan diri yang punya keberanian besar, berkuasa, dominan, anggun, dan acuh terhadap omong kosong orang lain di luar sana.
Sina lebih yakin jika Dion adalah orang positif yang seperti ini.
"Mana mungkin Dion punya masa lalu yang menyakitkan? Hahahaha...aku tidak pernah mendengar kabar apapun tentang masalah Dion jadi dia tidak mungkin punya rasa sakit yang tidak bisa terlupakan. Aku yakin, hitam adalah cerminan sisi positif Dion." Yakin Sina.
Ia lalu membusungkan dadanya dan menghirup lautan wangi Dion dengan perasaan puas dan suasana hati yang baik. Ia juga iseng menyentuh ranjang empuk Dion, menekannya beberapa kali dia kemudian melempar dirinya ke kasur. Berguling-guling di tempat yang selalu Dion tiduri setiap malam.
"Ah..wangi Dion sangat harum.." Katanya sangat senang.
Puas berguling-guling, Sina lalu mulai berperilaku normal dan cukup sadar untuk membersihkan kamar Dion. Menyapu debu yang tidak terlalu mencolok dan membalasnya sekali lagi dengan mengepel lantai. Setelah itu Sina merapikan dokumen-dokumen penting yang ada di atas meja kerja Dion. Dia menyusunnya di satu tempat agar Dion mudah mengambilnya nanti.
Beres dengan urusan kamar, Sina selanjutnya masuk ke dalam kamar mandi. Semuanya terlihat bersih dan rapi jadi seharusnya tidak ada yang perlu dibersihkan. Namun, Sina berpura-pura tidak melihat apapun dan mulai membersihkan kamar mandi yang sudah bersih.
Dia sengaja melakukan ini agar bisa menyentuh barang pribadi yang Dion gunakan sehari-hari. Menyentuh dan menyentuh, Sina sudah seperti penguntit gila yang menakutkan.
"Tidak terasa sudah sore saja, kenapa aku merasa jika waktu berjalan terlalu cepat hari ini?" Sina tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika melihat handphonenya waktu sudah menunjukkan jam 3. 46 sore.
Padahal dia pikir baru dua jam yang lalu ia memasuki kamar ini.
"Eh, ada pesan dari nomor asing." Sina segera membukanya.
Malam ini aku ada pertemuan dengan klien jadi pulang agak telat. Bilang kepada Bibi untuk tidak menyiapkan makanan untuk ku karena aku akan makan malam bersama klien dan kalian bisa makan malam tanpa aku.
__ADS_1
Dion Bramasta.
"Ini nomor Dion?" Gumam Sina tidak percaya.
Dion mengiriminya pesan?
Apa ini masih kurang jelas? Dion mengiriminya pesan!
Ah, kenapa Sina merasa jika interaksi seperti ini adalah interaksi manis yang biasanya pasangan suami-istri lakukan?
"Aku tidak menyangka jika kamu akan seagresif ini, ah!" Katanya merasa manis sambil memeluk handphonenya.
"Aku akan menyimpan nomor ini," Kata Sina seraya mengotak-atik ponselnya.
Suami Tampanku
"Selesai!"
Dia menyimpan ponselnya di dalam saku dan dengan cepat mengambil semua peralatan pembersih yang dia gunakan untuk membersihkan kamar ini dan keluar dari kamar Dion.
Berjam-jam di dalam, Sina baru menyadari jika dia sangat lapar. Setelah menaruh peralatan pembersih Sina mencuci tangannya dengan cekatan dan langsung masuk ke dalam dapur untuk makan. Dia berencana untuk makan banyak saat ini agar nanti malam ia tidak perlu makan malam. Pasalnya, Dion sedang sibuk dan tidak bisa makan malam di rumah sehingga Sina enggan untuk makan nanti malam.
"Lho, non Sina dari tadi kemana aja? Bibi cariin kemana-mana tapi non Sina gak ketemu -ketemu." Tanya Bik Mur langsung ketika melihat keberadaan orang yang ia cari.
Sina tertawa kecil meminta maaf karena sudah membuat khawatir, "Sina tadi habis bersihin kamar Dion, Bik. Saking semangatnya Sina gak sadar kalau sekarang udah sore." Jawab Sina agak malu.
"Non Sina bersihin kamar Tuan muda?" Tanya Bik Mur terkejut.
Sina sama sekali tidak menyadari ekspresi terkejut Bik Mur karena perhatian saat ini sudah sepenuhnya dikuasai oleh makanan.
"Iya Bi, semalam Dion ambil sidik jari aku biar bisa masuk ke dalam kamarnya." Jawab Sina jujur.
"Mustahil, kamu pikir kami akan percaya dengan apa yang kamu katakan? Hah, omong kosong belaka seperti ini sudah sering kami dengar dari wanita yang tergila-gila dengan Tuan muda kami." Kata-kata sarkas dari pintu dapur mengalihkan perhatian Sina dan Bik Mur.
__ADS_1
Ternyata mereka sangat tidak menyukai ku, batin Sina menyimpulkan setelah melihat sumber suara.
Bersambung...