
Setelah selesai menyiapkan makanan ringan dan kue-kue cantik, aku dan Calista kemudian membawanya ke ruang keluarga untuk disajikan. Menaruhnya di atas meja dengan hati-hati agar jangan sampai merusak kerapiannya.
Selesai menyajikan makanan aku tidak langsung kembali ke dapur atau ikut dengan Calista pergi ke taman untuk bersantai. Aku memilih diam di sini mendengarkan dengan patuh obrolan para lelaki yang serius tapi sebenarnya tidak terlalu serius. Diam dari tempat duduk ku melihat wajah tampan Dion dan berharap dia akan melihat keberadaan ku di sini. Namun, sudah banyak waktu berlalu tapi Dion tidak kunjung melihat ke arah ku. Apa dia sama sekali tidak menyadari keberadaan ku di sini?
"Dion." Panggil ku selembut mungkin setelah semua orang bersantai. Menyantapi makanan yang ada di atas meja dengan obrolan yang jauh lebih ringan dari sebelumnya.
Dion menyesap minumannya dan melirikku singkat, lalu dia menganggukkan kepalanya.
Rasanya aneh.
"Bagaimana urusan kantor?" Tanyaku berbasa-basi.
"Tidak ada masalah." Jawabnya singkat.
Apa ini hanya perasaan ku saja atau memang kenyataannya jika Dion lebih dingin dari biasanya. Dia terkesan cuek dan tidak suka berbasa-basi, yah, setidaknya inilah yang aku rasakan sekarang.
Meremat tanganku, aku memutuskan untuk duduk lebih dekat lagi dengannya.
"Syukurlah, tapi..tapi kenapa kamu tidak pernah pulang ke rumah? Kamu tahu, aku sangat khawatir terjadi sesuatu yang tidak-tidak dengan mu." Kataku menyampaikan kekhawatiran ku.
Sangat khawatir sampai-sampai aku tidak malu meskipun sudah beberapa kali tidak diizinkan masuk ke dalam kantor Dion. Itu karena aku ingin tahu bagaimana kabarnya dan bagaimana keadaannya saat itu, intinya rindu bertemu Dion.
"Aku sibuk jadi tidak sempat pulang." Jawabnya singkat, lagi.
Bahkan saat berbicara dia sama sekali tidak menatapku, bertindak acuh yang sangat mengejutkan untuk ku. Karena faktanya...dulu Dion tidak pernah bersikap secuek ini dengan ku.
Mungkin.. karena dia sangat sibuk?
"Oh..tapi selama di kantor kamu tidur dimana? Juga.. untuk pakaian ganti dimana kamu mendapatkannya?"
Dia tidak mungkin pergi ke toko pakaian setiap kali ingin mengganti pakaian'kan? Juga, mana mungkin Dion tidur di kantor selama 3 minggu karena hei, seorang diri di dalam perusahaan sebesar itu butuh nyali yang besar.
"Dimana lagi aku tidur selain di dalam kantor, apa kamu pikir aku ke perusahaan hanya untuk berleha-leha lalu setelah bosan pulang ke hotel?" Dion menatapku datar.
Tidak,
__ADS_1
"Aku tidak berpikir seperti itu." Aku sangat panik, "Kamu tolong jangan salah paham, ini.. tidak seperti yang kamu pikirkan."
Dia mengalihkan perhatian, mengatakan sesuatu kepada yang lain dia lalu berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari ruang keluarga.
"Kamu mau kemana?" Aku berdiri dan mengikutinya dari belakang.
Dia tidak menghentikan langkahnya dan tetap berjalan ke depan tanpa berbalik melihat ku.
"Pergi ke kamar dan berhenti mengikuti ku."
Terkejut, sontak aku langsung menghentikan langkah kakiku setelah mendengarnya. Nada dinginnya yang begitu tidak bersahabat membuat nyali ku menciut tidak bisa mendekatinya. Mungkin, Dion lelah sehingga membuat emosinya tidak stabil.
Benar, aku harus memberikannya waktu untuk istirahat karena nanti dia mungkin akan kembali menjadi Dion, Dion-ku yang terkasih.
...🌺🌺🌺...
"Dia terlalu percaya diri sampai-sampai melupakan kualitas dirinya yang tidak seberapa." Ucapnya mencibir.
Saat ini dia sedang duduk bersantai menikmati kejadian menggelikan yang baru saja terjadi. Beberapa detik yang lalu dia melihat seorang gadis yang tidak tahu malu mengejar laki-laki tampan yang begitu jelas ingin bersembunyi dari gadis itu.
Risa meliriknya tidak senang dan secara terang-terangan mencela pilihan Calista.
"Hah, aku masih ingat beberapa waktu yang lalu kamu mengatakan akan berdiri di samping Sina. Aku pikir kata-katamu saat itu cukup serius sehingga aku memasukkannya ke hati. Tapi, lihat sekarang? Kamu meminta ku untuk memulangkan Sina di saat kamu mulai menyadari bahwa Sina tidak bisa memenuhi harapan mu. Hahaha.. Calista, betapa naifnya dirimu." Ucap Risa mencemooh.
Tampilannya yang cantik dan anggun ketika tersenyum membuat Calista meringis menahan mual, begitu memuakkan pikir Calista.
"Aku tidak perduli dengan apa yang kamu katakan kepada ku karena seharusnya lebih tahu siapa orang yang lebih naif di sini. Sina, gadis ini datang ke sini karena rencana sialan mu itu. Menggunakan Sina sebagai umpan untuk memutuskan hubungan Dion dan Bela, hei, apa kamu pikir hati Sina itu benda yang bisa kamu gunakan semau mu? Sadarlah sialan, Sina juga manusia dan pasti merasakan sakit saat hatinya kamu mainkan seperti ini. Membawanya ke sini sebagai umpan untuk menghancurkan hubungan Dion dan Bela, apa kamu pikir rencana ini akan berhasil, hah! Apa kamu pikir dengan menggunakan Sina rencana mu akan berhasil?" Marah Calista tidak tahan.
Awalnya dia berencana mendukung Sina untuk menghadapi Risa dan tidak terlalu perduli dengan rasa sakit yang akan Sina terima. Namun, saat melihat wajah sedih Sina karena mendapatkan penolakan dari Dion tadi membuatnya tersadar jika Sina adalah korban di sini.
Benda bernyawa yang telah dinobatkan menjadi umpan luar biasa milik Risa.
Risa memutar bola matanya malas, tidak terpengaruh sama sekali dengan kemarahan Calista.
"Berhasil atau tidak kita akan tahu setelah Bela ada di sini. Kamu, jika kamu tidak ingin masuk ke dalam permainan ini maka cukup mengamati saja dan jangan terlalu banyak bicara. Mulut mu ini terlalu berisik, membuat telingaku sakit setiap kali mendengarnya." Ucap Risa mengejek.
__ADS_1
Apa Calista pikir dengan berbicara seperti ini Risa akan menghentikan semua upaya yang sudah dia persiapkan sejak jauh-jauh hari? Hahaha.. sayangnya itu tidak akan terjadi karena hati dan pikiran Risa sudah dipenuhi akan ambisi besarnya mendapatkan Dion.
Selain dia, tidak ada seorangpun yang diizinkan untuk mendapatkannya.
"Kamu.. dasar cacat mental. Jika kamu masih tidak mendengarkan aku maka jangan salahkan aku untuk memberitahu Sina semua rencana mu ini. Aku yakin, setelah dia mendengarnya semua rencana mu tidak akan pernah berhasil. Dia akan memutuskan untuk angkat kaki dari rumah ini sehingga semua kesialan yang kamu bawa tidak akan pernah kamu wujudkan." Ancam Calista sudah tidak tahan lagi.
Jika Risa bisa membuat rencana gila seperti ini maka diapun juga bisa membuat rencana yang gila, bahkan lebih gila dari rencananya.
Risa menyesap minumannya tenang, "Coba saja kamu berani mengatakannya dan rahasia besar mu tidak akan ragu aku bocorkan kepada kedua orang tuamu." Balik Risa mengancam.
Terkejut, "Rahasia apa maksud mu?" Tanya Calista merasa was-was.
Risa tersenyum penuh celaan, menempatkan gelas minumannya di atas meja dia lalu mengalihkan pandangannya menatap ekspresi panik Calista. Memberikan sepupunya sebuah senyuman yang amat sangat manis dan tentu saja cantik, tapi di mata Calista senyuman ini terlalu menjijikkan untuk dipandang.
"2 bulan lalu saat kita semua pergi kemah, kamu menghabiskan malam yang penuh gairah dengan Kak Ridwan di tendanya. Tidak hanya itu saja, setelah beberapa minggu setelah kejadian itu kamu pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan di bagian dokter kandungan. Rahasia ini, tidakkah kamu menyembunyikannya dengan rapi sampai dengan hari ini?" Ucap Risa santai, mengatakan rahasia Calista dengan gamblang dan tanpa ragu.
Calista terkejut dan takut pada saat yang bersamaan, kedua tangannya yang tersembunyi dibalik gaun kini melampiaskan kepanikannya dengan meremat kuat kain gaunnya.
"Omong kosong apa yang kamu bicarakan?" Tanya Calista dengan gigi terkatup.
"Oh..jadi itu hanya omong kosong? Hem.. bagaimana jika kita buktikan kebenaran ini dengan cara menghubungi Kak Ridwan-"
"Hentikan!" Potong Calista marah.
"Jika kamu berani mengatakan semua ini kepada Kak Ridwan dan kedua orang tuaku, maka semua rencana busuk mu ini akan aku laporkan kepada Paman dan Bibi. Mereka harus tahu bagaimana kelakuan putri terkasih yang sudah susah payah mereka besarkan." Lanjut Calista mengancam, dia tidak ingin kalah dengan Risa saat ini.
Risa tidak panik, sikapnya malah menunjukkan jika ucapan Calista hanya sebatas gertakan yang tidak berarti apa-apa untuknya.
"Ya, katakan saja jika kamu berani." Katanya acuh.
"Tapi Calista, tidak baik menyembunyikan keberadaan anak itu dari Kak Ridwan dan kedua orang tuamu karena biar bagaimanapun juga mereka adalah orang yang kamu kasihi. Ops, aku lupa jika Kak Ridwan masih punya Kak Kira jadi mungkin keberadaan anak itu tidak terlalu beruntung. Yah.. bukannya bertanggung jawab Kak Ridwan malah meminta mu untuk menggugurkan anak itu jika dia mengetahuinya, katakan..apa yang aku katakan ini benar-"
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tiba-tiba suara lembut Nyonya Ranti menginterupsi kata-kata Risa.
Calista lega dan dengan cepat menyambut kedatangan Nyonya Ranti, "Bibi, kami sedang membicarakan tentang Kak Dion." Jawabnya tanpa ragu.
__ADS_1
Bersambung..