Dear Dion

Dear Dion
42. Ilusi


__ADS_3

"Kak Dion mau ngomong apa sama Risa? udah gitu kita ketemunya di taman lagi dan bukannya di dalam." Risa duduk di bangku taman dengan pipi bersemu merah yang jelas diterangi lampu taman.


Penampilannya yang lebih lembut dan jinak dari biasanya seolah memberikan kesan gadis lembut nan rapuh yang memanjakan mata.


Dion tidak tergerak dengan penampilan adiknya ini, dia justru hanya meliriknya sekilas setelah itu tidak bereaksi apa-apa. Sikapnya masih dingin dan tidak bersahabat seperti saat makan malam.


"Siapa yang memberitahu mu tentang Sina?" Tanya Dion datar, matanya yang tajam memandangi hamparan langit malam yang dipenuhi bintang-bintang.


Risa terkejut, senyuman manisnya segera membeku menahan aliran dingin yang mulai memasuki hatinya. Otaknya berdengung mengingatkan jika ada bahaya mematikan yang segera mendatanginya.


"Sina..Mama yang memberi tahuku jika Tante Faras dan Om Randi mempunyai seorang anak yang tidak terbiasa bergaul dengan banyak orang-"


"Risa, aku tahu jika kamu saat ini berbohong." Potong Dion tidak sabar.


Risa meremat tangannya gugup, "Aku tidak bohong, Kak." Katanya lemah, mencoba meluluhkan hati Dion lewat penampilan rapuhnya yang seolah sangat dirugikan.


"Masuk ke dalam kamar ku tanpa izin dan mengambil informasi tentang Sina, aku tidak tahu bagaimana caramu melakukannya tapi Risa kamu harus tahu ini jika aku tidak akan pernah bisa kamu bodohi semudah itu. Trik kecil mu ini, aku sudah bisa menebak sejak awal aku melihat Sina di rumah ini. Tapi percuma saja..." Dion mengalihkan pandangannya menatap wajah pucat Risa, menampilkan senyuman lebar yang tidak bisa sampai ke dalam matanya.


Senyuman yang tanpa sadar membuat Risa merasa lemas karena ketakutan.


"Aku tidak akan termakan dengan trik kecil mu ini." Sambungnya mengejek.


"Trik kecil apa yang Kakak maksud, Risa tidak mengerti apa yang Kakak bicarakan." Risa mengecilkan lehernya tidak berani menatap langsung wajah dingin Dion yang tidak tersentuh.


Dion tetap tidak percaya dan tidak terpengaruh sama sekali dengan ekspresi ketakutan adiknya, "Kamu juga tidak mematuhi perintah ku beberapa waktu lalu, aku bilang untuk tidak mengganggu Sina tapi kamu keras kepala dan bahkan sangat berani menarik Bela untuk memojokkan posisinya di sini. Risa, aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa karena mu."


Risa ternyata sangat berani menarik Bela ikut campur dalam masalah ini, menggunakan posisi Bela untuk menekan keberadaan Sina. Trik menjijikkan seperti ini, Dion langsung menyadarinya dalam sekali lihat.


"Kak Dion sepertinya terlalu lelah sehingga pikiran Kakak kemana-mana, kita lebih baik segera kembali ke rumah agar Kak Dion bisa beristirahat." Risa bangun dari duduknya, mendekati Dion dan mengangkat tangannya untuk meraih lengan kuat Dion.


Akan tetapi Dion mengelak dan menjaga jarak sejauh mungkin dari jangkauan Risa, dia tidak ingin disentuh oleh Risa sedikit pun. Gerakan Risa membeku, mata persiknya yang indah kini mulai basah membendung cairan hangat yang ingin segera keluar dari persembunyiannya.


"Jangan mendekati ku." Ucap Dion tidak senang.


Risa diam tidak bisa mengatakan apapun, dia juga tidak ingin mengatakan apapun karena Dion pasti langsung membantahnya.

__ADS_1


"Sejak hari dimana kamu mengatakan semua perasaan mu ke padaku yang berbeda, maka sejak itu pula aku tidak ingin dekat dengan mu. Hubungan persaudaraan kita telah sirna sejak kamu mengatakannya, terlebih lagi kamu berani membawa Sina ke sini menjadi bukti yang paling masuk akal untuk ku bahwa kamu tidak akan pernah bisa kembali menjadi saudara ku." Vonis Dion santai, kata-kata yang diucapkan ringan dan santai menunjukkan seolah topik pembicaraan ini bukanlah topik besar . Lebih tepatnya, Dion bersikap seolah ini hanya masalah sepele saja dan tidak berarti banyak.


"Kak..apa yang baru saja kamu katakan?" Tanya Risa sangat shock.


Dia tidak pernah berpikir jika kemarahan Dion akan sampai sedalam ini. Padahal Sina adalah orang asing di sini sehingga tidak sepatutnya dia menjadi tolak ukur hubungan persaudaraan mereka. Risa.. tidak bisa menerima kekalahan ini.


"Kamu bukan saudara ku lagi, apakah ini kurang jelas?"


Risa tidak terima, "Aku tidak mau..hanya gara-gara Sina kamu membuang ku, Kak Dion..aku tidak mau.." Risa menghentak-hentakkan kakinya tidak terima.


Bersikap agresif selayaknya anak kecil yang sedang menangis keras meminta mainan baru.


"Ini resiko yang kamu dapatkan karena mencampuri kehidupan pribadiku, seharusnya kamu sudah tahu ini sebelum melawan ku. Lain kali lagi aku menemukan mu mengacaukan Sina, siap-siap saja kamu angkat kaki dari rumah ini." Ucap Dion tidak perduli.


Setelah mengatakan apa yang dia ingin katakan, Dion langsung kembali ke rumah meninggalkan Risa yang sedang terisak keras di bangku taman. Tangisannya memang memilukan tapi di dalam pendengaran Dion, tangisan itu justru menjadi nyanyian menjijikkan yang pernah dia dengar di sini ini.


"14 tahun..aku melalui rasa sakit hanya untuk menjadi kuat dan mampu melindungi orang yang aku cintai, tapi kamu.. begitu berani ingin menghancurkan apa yang milikku. Hah.. Risa, kamu benar-benar salah melakukan ini kepada ku. Tapi.. rencana mu ini cukup bagus ku gunakan untuk menarik kembali ingatan Sina 15 tahun yang lalu. Hari dimana aku dan Sina dipertemukan oleh takdir, aku berharap Sina bisa mengingat hari ini."


...🌺🌺🌺...


"Sina, bagaimana bisa kamu melupakan ku begitu saja?" Sebuah bisikan kekecewaan memasuki kepalanya.


Membuat dadanya tiba-tiba merasakan sakit yang amat sangat menyakitkan, seolah-olah Sina bisa merasakan perasaan sakit dari orang yang baru saja berbisik kepadanya. Ada kekecewaan juga kerinduan yang begitu dalam dari suara ini, sebuah pengakuan terdalam dari sang pemilik suara yang tidak akan pernah bisa dia bayangkan.


Sina menjadi sedih, mengedarkan pandangannya ke segala arah dia ingin menemukan orang yang baru saja berbisik kepadanya. Akan tetapi sekuat apapun dia mencari hanya kegelapan tidak berujung yang terus-terusan menyambutnya. Tidak ada siapapun, pemilik suara itu sudah pergi meninggalkannya. Pergi ke tempat yang tidak pernah bisa Sina jangkau.


Sina marah melihat betapa lambat dirinya, dia berteriak keras memanggil pemilik suara itu tapi hanya kegelapan yang meresponnya dengan sebuah kesunyian.


"Melupakan apa...aku tidak tahu apa yang kamu maksud.. bagaimana bisa aku melupakan mu? Katakan kepada ku..siapa kamu.. siapa kamu..."


"Sina.. Sina, bangunlah!" Seru Calista panik, mengguncang tubuh Sina agar segera bangun dari tidurnya.


Saat dia masuk ke dalam kamar ini dia menemukan Sina sedang menangis dalam tidurnya dan terlihat begitu menyedihkan. Sina pasti bermimpi buruk pikirnya sehingga dia memutuskan untuk segera membangunkan Sina.


Sina membuka matanya dan menatap Calista dengan isakan yang masih belum mau berhenti. Sungguh, rasa sesak di dalam dadanya tidak bisa hilang meskipun dia sudah bangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Calista..aku..ada orang yang mengatakan jika aku sudah melupakannya..aku tidak mengerti tapi hatiku rasanya begitu sakit..hiks.." Ucapnya masih terisak menahan sakit.


Dia benar-benar bingung karena ini nyatanya hanya mimpi tapi mengapa rasa sesaknya masih belum hilang juga meskipun dia sudah bangun.


"Orang?" Tanya Calista merasa ragu.


Sina menganggukkan kepalanya meyakinkan seraya menggerakkan tangannya untuk membuat ilustrasi di depan Calista.


"Ya, aku awalnya merasakan usapan hangat di kepala ku dan itu rasanya begitu menenangkan. Tapi..tapi tiba-tiba usapan nyaman itu hilang digantikan dengan sebuah bisikan kesedihan. Dia bilang..' Sina, bagaimana bisa kamu melupakanku begitu saja?'. Aku tidak mengerti apa yang dia maksud.. bagaimana bisa aku melupakan orang yang tidak aku kenal tapi hatiku sangat sakit setelah mendengarnya karena dia terdengar begitu kecewa dan menyedihkan saat membisikkan ku kata-kata ini...aku tidak mengerti Calista.." Ucap Sina menceritakan apa yang baru saja dia alami di dalam mimpi yang anehnya terasa begitu nyata.


Melihat kegelisahan Sina, Calista lalu meraih tangan bergetar Sina dan menggenggamnya erat. Dia kemudian mencoba memberikan Sina kata-kata penghiburan untuk menenangkan kegelisahannya.


"Tidak apa-apa Sina, tenangkan pikiran mu dulu. Tenangkan pikiran mu agar bisa berpikir jernih karena bisa jadi mimpi ini adalah petunjuk dari masa lalu mu, kita tidak tahu kebenarannya sampai kamu berpikir jernih. Namun, bisa jadi ini hanyalah mimpi biasa saja tanpa maksud apa-apa. Karena terlalu terbawa suasana, perasaan yang kamu rasakan di dalam mimpi itu akhirnya tidak bisa kamu lepaskan dan kamu bawa kembali ke alam sadar. Yah, kemungkinan apapun bisa saja terjadi tapi untuk sementara waktu tenangkan dirimu dulu... jangan terlalu menekan hatimu seperti ini..apa kamu mengerti?" Hibur Calista dengan lembut.


Dia mencoba membawa Sina berpikir secara jernih sebelum menyimpulkan apapun.


"Aku..aku akan berusaha menenangkan diriku.." Angguk Sina masih sesenggukan karena menangis terlalu keras.


Calista mengangguk puas, mengambil gelas dan menumpahkannya air putih, Calista lalu memberikannya kepada Sina untuk melegakan tenggorokannya.


Sementara Sina meminum air itu, pikiran Calista dibawa kembali ketika ia akan masuk ke dalam kamar Sina. Saat tangannya akan membuka pintu tiba-tiba pintu kamar Sina sudah ditarik dari dalam oleh Dion. Mereka berpapasan dan saling menatap selama beberapa detik, kemudian Calista lagi-lagi dibuat terkejut ketika Dion mengulurkan tangannya. Dia memberikan sebuah botol salep kepada Calista seraya berkata,


"Oleskan salep ini 3 kali sehari di pergelangan tangan kiri, Sina."


Setelah mengatakan ini Dion langsung pergi tanpa mengatakan apapun dan membuat Calista kebingungan di tempat.


Memikirkan kejadian tadi, Calista melirik pergelangan tangan kiri Sina yang sudah diolesi salep dengan apik dan rapi. Sekali lihat saja orang-orang akan tahu jika salep itu diolesi dengan hati-hati seolah takut pergelangan tangan yang memar akan semakin parah memarnya.


Ini..


Calista masih mengingatnya dengan jelas jika tadi di meja makan Dion bersikap begitu dingin kepada Sina tapi mengapa tiba-tiba sekarang Dion memberikan perhatian yang hangat kepada Sina? Bahkan bisikan yang Sina dengarkan tadi saat tidurpun Calista curiga jika itu adalah ulah Dion.


Kak Dion, apa yang sebenarnya kamu rencanakan?. Batinnya bertanya-tanya.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2