Dear Dion

Dear Dion
57. Kerja Keras Dion


__ADS_3

"Ya, Om?" Sina berjalan mendekati Tuan Edward.


Tuan Edward berlari mengejarnya sampai dia kelelahan seperti ini pasti punya tujuan tertentu. Mungkin itu penting, pikir Sina.


"Om mau bicara sama kamu," Dia mengatur nafasnya. "Mengenai Dion." Lanjutnya lagi.


Ini menyangkut Dion, tidak perlu ditanyakan lagi jika ini sangat penting untuk Sina.


"Dion..apa yang ingin Om bicarakan tentang dia?" Tanya Sina hati-hati.


"Ikut Om dulu, gak enak rasanya bicara ditengah jalan." Kata Tuan Edward seraya berjalan ke arah samping kanan.


Sina tidak mengatakan apa-apa dan mengekori Tuan Edward dengan patuh dari belakang. Mereka berdua berjalan ke arah samping kanan yang mengarah langsung ke danau. Untuk ke sana mereka perlu melewati beberapa tenda orang lain dan menuruni anak tangga yang sengaja dibuat oleh pemilik usaha untuk mempermudah orang-orang mendekati danau.


Sepanjang jalan ke danau Sina dibuat kagum dengan pemandangan malam yang dipenuhi oleh sinar rembulan. Suasana hangat seperti ini sangat cocok untuk orang-orang memadu kasih dan untuk orang yang ingin menyendiri bersama sepinya, tidak diragukan lagi suasana ini sangat sesuai dengan dua kondisi itu.


"Om tadi juga di sana, melihat perdebatan yang terjadi diantara kamu dan Nyonya Xia." Kata Tuan Edward membuka pembicaraan.


Sina meremat tangannya kuat seraya menstabilkan emosinya.


"Om, Sina sungguh gak salah. Sina gak kenal sama mereka jadi kenapa Sina harus mengganggu anaknya?" Kata Sina memberikan pembelaan.


Dia sama sekali gak salah di sini karena sedari awal yang mencari masalah adalah anak itu dan bukan dirinya. Dia juga tidak mengerti kenapa anak itu tiba-tiba memutar cerita di depan banyak orang dan menuduhnya melakukan tindak kekerasan, padahal dia tidak tahu siapa anak ini dan yakin jika dia tidak pernah punya masalah sebelumnya dengan mereka.


Tuan Edward tidak melihat Sina dan fokus menatap danau yang memantulkan cahaya rembulan. Dari sikap diamnya ini Sina tidak tahu apakah Tuan Edward mempercayainya atau tidak karena Sina tidak bisa melihat ekspresi seperti apa yang ditampilkan Edward sekarang.


"Om tidak akan mempermasalahkan perkara siapa yang benar dan siapa yang salah di sini karena itu sama sekali tidak berarti apa-apa untuk Om." Kata Tuan Edward dengan suara rendahnya.


Sina tertegun, perlahan genggaman tangannya terlepas. Terkulai lemas karena sadar jika Tuan Edward tidak terlalu menganggap istimewa keberadaan Sina. Dia lupa jika dia hanya tamu di sini dan seorang tamu hakikatnya merupakan orang asing yang singgah di suatu tempat untuk sedikit waktu, ya.. sebentar saja dan itu tidak berarti apa-apa untuk sang Tuan rumah.


"Tapi ini berbeda dengan Dion, masalah ini sangat penting untuknya." Lanjut Tuan Edward.


"Maksud..Om?" Sina masih belum bisa menebaknya.


"Perusahaan Dion dan perusahaan H milik keluarga Nyonya Xia baru saja menjalin kerjasama untuk sebuah proyek besar jangka panjang. Sebagai pengusaha sukses ini adalah terobosan yang sangat besar untuk karir Dion dalam dunia bisnis. Proyek ini tidak hanya menguntungkan perusahaan Dion tapi juga membuat nama Dion semakin melambung tinggi dalam dunia bisnis, tentunya keuntungan ini sangat bermanfaat untuk Dion karena dengan begitu dia bisa dengan mudah mendapatkan investor besar untuk membuat proyek-proyek besar dimasa depan nanti."


Dari penjelasan singkat ini Sina akhirnya menyadari kemana arah pembicaraan Tuan Edward. Bisnis... hah, Sina masih ingat ancaman Nyonya Xia kepada Dion tadi. Itu mungkin terdengar kekanak-kanakan tapi dampaknya akan sangat merugikan untuk perusahaan Dion dan karirnya. Lagipula Dion tidak akan memihaknya jadi kenapa Tuan Edward mengangkat masalah ini?


"Tapi karena masalah mu dengan anak itu Om yakin jika Nyonya Xia tidak akan melepaskannya dengan mudah. Dia pasti menggunakan masalah ini untuk menyulitkan Dion dan menekannya untuk segera memberikanmu sebuah hukuman." Kata Tuan Edward lanjut.


"Om..lalu apa yang harus Sina lakukan agar Dion tidak mengalami kesulitan?" Tanya Sina ragu.


Mungkinkah dia harus pergi meminta maaf kepada wanita angkuh itu atau mungkin jika bisa dia harus berlutut di depan mereka untuk memohon belas kasih mereka?


Ya, Sina tidak akan ragu melakukannya sekalipun dia tidak bersalah di sini. Dia tidak akan ragu melakukannya karena bagi dirinya sendiri Dion adalah hidupnya, jika Dion hancur maka orang yang akan paling hancur adalah Sina dan jika Dion membencinya karena menjadi pelopor kehancuran karir masa depannya maka Sina tidak lagi punya tujuan hidup.

__ADS_1


Dia akan sangat menyesali kehidupannya ini.


"Apa kamu mau melakukannya?" Tanya Tuan Edward menguji.


"Tentu saja, Om." Karena biar bagaimanapun Dion mendapatkan masalah karena dirinya.


Tuan Edward bernafas puas karena dia tidak perlu melakukan apapun untuk membuat Sina mengerti permasalahan ini.


"Malam ini kemasilah barang-barang mu karena besok pagi kamu akan Om kirim pulang ke rumah. Om melakukan ini untuk kebaikan semua orang terutama Dion yang sedang memupuk karirnya, jadi Om harap kamu bisa mengerti." Ini adalah keputusan terbaik yang Tuan Edward pikirkan dan dia harap Sina tidak menolaknya.


Sina agar terkejut, tapi beberapa detik kemudian dia memperbaiki ekspresinya sealami mungkin. Memaksakan sebuah garis senyuman dan bersikap seolah ini bukan hal yang sulit untuk dilakukan.


"Om tenang saja, Sina sangat mengerti permasalahan ini." Kata Sina berpura-pura tenang.


"Bagus, kamu memang bisa diandalkan. Baiklah, kamu harus kembali ke tenda untuk beristirahat karena besok kamu akan menempuh perjalanan jauh lagi." Kata Tuan Edward sangat puas.


Setelah mengucapkan perpisahan Tuan Edward pergi meninggalkan Sina yang masih berdiri di tempat yang sama sembari menatap cahaya rembulan yang terpantul di danau. Terdiam, beberapa kali dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya setelah terasa sesak. Bahkan, dia lupa dengan perutnya yang terasa keram karena satu-satunya yang ada dipikiran Sina saat ini adalah..


Ah, betapa menyedihkannya diriku.


Dia membuat karir Dion terancam dan menjadi biang masalah untuk masa depannya. Hah.. Sina sangat mengerti mengapa Tuan Edward memintanya untuk pulang karena dengan begitu Dion tidak akan mendapatkan masalah lagi.


Tapi..tetap saja, dia sangat sakit diperlakukan seperti ini. Dia tidak salah namun diperlakukan salah oleh semua orang, kenapa hidupnya begitu sial?


...🌺🌺🌺...


Tapi sekarang dia akhirnya kembali ke tenda, kekhawatiran Sina tidak lagi menghantui hatinya.


"Sina?"


Deg


Bukan! Ini bukan suara Calista, tapi ini adalah suara Dion!


Ini sudah tengah malam...tapi kenapa Dion masuk ke dalam tendanya? Dia pikir yang masuk tadi adalah Calista mengingat mereka satu tenda tapi ternyata yang masuk adalah Dion!


"Aku tahu kamu masih bangun." Katanya lagi.


Karena dia sudah menebaknya maka Sina tidak bisa berpura-pura tidur lagi. Dia menggeser posisi tidurnya dan mendudukkan dirinya di samping Dion.


"Ini sudah malam..sudah waktunya untuk tidur." Bisik Sina hati-hati di sela kegelapan.


Maknanya jelas bahwa Dion tidak seharusnya ada di sini apalagi ini sudah tengah malam. Dia tidak ingin mengundang kecurigaan dari orang lain apalagi sampai membuat Bela salah paham dengan hubungan mereka.


"Aku dengar anak itu tadi memukul perut kamu, apakah rasanya masih tidak nyaman?" Dion berpura-pura tidak mendengar ucapan Sina tadi.

__ADS_1


Di kegelapan malam dia hanya duduk di samping Sina sambil menikmati wangi khas Sina yang berbau vanilla, sangat manis.


Sina tanpa sadar menyentuh perutnya, rasanya memang tidak separah tadi tapi masih terasa tidak nyaman.


"Ini..sudah baikan, kamu tidak perlu khawatir." Ini sulit dipercaya, bagaimana mungkin Dion mengkhawatirkannya?


Sina, jangan terlalu berharap jika kamu tidak ingin jatuh lagi.


"Kalau begitu berbaringlah." Ucap Dion memerintahkan.


"Oh...kalau begitu aku akan tidur." Sina lalu membaringkan dirinya kembali, menarik selimut hangatnya sampai ke dada.


Matanya yang jernih terus menerawang menebak dimana posisi Dion sekarang karena tadi dia merasakan jika Dion sudah beranjak dari tempat duduknya.


"Obat ini sangat bagus untuk menenangkan rasa sakit diperut mu, meskipun tidak bisa menyembuhkan tapi setidaknya perutmu tidak lagi terasa keram setiap kali bernafas." Dion masih di sini.


Dia menarik selimut yang menutupi dada Sina, "Aku akan mengolesinya." Ucapnya agak gugup. Setelah menyingkirkan selimut itu Dion lalu menarik pakaian hangat Sina sampai menampilkan perut ratanya yang putih bersih dan lembut.


Sina panik juga takut tapi entah mengapa dia tidak bisa menyuarakannya. Tidak, mungkin ini karena dia egois. Dia menyukai Dion dan tentu saja tidak keberatan Dion menyentuhnya, malahan hati kecilnya saat ini sedang menari-nari senang saat merasakan tangan besar dan kuat Dion mulai mengelus perutnya.


Rasanya agak licin dan Sina tebak itu pasti obat yang Dion katakan tadi. Aneh, perutnya perlahan mulai tidak sakit lagi saat Dion menyentuhnya. Rasa keramnya menghilang seolah ada sebuah penawar hebat yang membuat perutnya menjadi jinak. Ini sangat nyaman pikir Sina, oh.. mungkin ini karena efek obatnya. Obat ini sangat ampuh untuk menjinakkan penyakit yang bersarang di dalam perutnya.


"Apakah rasanya lebih nyaman sekarang?" Tanya Dion dengan suara seraknya yang ambigu.


Ini sangat lembut, terutama ketika tangannya mulai menyusuri tempat itu lagi. Tapi ada yang berbeda dengan tempat itu, malam saat dia berhasil menaklukkan Sina, dia yakin jika kulit ini masih rata dan tidak berlemak. Namun sekarang kulit ini agak menggembung, mungkinkah selama satu bulan ini Sina sangat suka makan?


Dion pikir Sina bukan orang yang rakus, apalagi beberapa hari ini dia jarang makan karena penyakitnya. Oh.. apakah mungkin ini karena penyakit asam lambungnya?


Ya, ini bisa jadi penyebabnya!


"Y-ya..jauh lebih nyaman, terimakasih." Hah.. wajahnya terasa sangat panas.


Untung saja dia sudah mematikan lampu karena kalau tidak Dion pasti melihat bagaimana reaksi wajahnya sekarang, itu sangat memalukan.


Setelah itu mereka tidak berbicara lagi. Karena Sina sibuk menstabilkan detak jantungnya yang berdegup kencang, mengencangkan kedua tangannya memegang erat pakaian hangatnya sedangkan Dion sibuk mengendalikan panas tubuhnya yang berbahaya.


"A-aku pikir..ini sudah tidak apa-apa lagi..jadi..kamu lebih baik kembali. Takutnya... orang-orang menjadi salah paham." Setelah menjernihkan pikirannya, Sina berpikir jika tidak seharusnya mereka seperti ini.


Sina tidak boleh mengambil keuntungan dari Dion dan Dion pun tidak boleh bersikap terlalu baik kepadanya. Ini agar Dion tidak mendapatkan masalah yang lebih besar lagi sehingga kafir dan masa depan Dion dapat terjamin di masa depan.


"Syukurlah jika perut kamu sudah lebih baik," Dion menurunkan kembali pakaian hangat Sina.


Merapikannya serapi mungkin selama beberapa detik, setelah itu dia beranjak dari duduknya sambil mengatakan. "Apa yang mereka duga itu benar dan mereka sama sekali tidak salah paham tentang kita."


Setelah mengatakan itu dia keluar dari tenda dan meninggalkan Sina yang masih membeku sambil mencerna kata-kata Dion.

__ADS_1


"Apa... maksud Dion?" Gumam Sina berpikir.


Bersambung...


__ADS_2