Dear Dion

Dear Dion
89. Ngidam (2)


__ADS_3

Dion tiba-tiba terbangun ketika merasakan gerakan di sampingnya. Kasur empuk yang dia tiduri berderit ringan membuat tidur lelapnya terganggu.


"Ugh.." Dion meraba-raba sisi di sampingnya, kosong namun masih ada jejak kehangatan.


"Sin, kamu bangun?" Suara serak mengantuk Dion langsung menarik Sina dari lamunannya.


"Oh..ya, aku sudah bangun." Jawab Sina gugup.


Ketika bangun dari tidurnya dia sangat terkejut melihat Dion tidur di sampingnya. Bila Dion tidak terlalu dekat dengannya mungkin Sina tidak akan merasa ketakutan tapi jarak mereka sudah bisa diungkapkan selayaknya pasangan suami-istri. Saling menempel dan berbagi kehangatan lewat sebuah pelukan manis.


Kejadian ini sama seperti semalam ketika dia memaksa Dion tinggal bersamanya.


Apa aku memaksa Dion tidur bersama?. Seketika hati kecilnya merasa bersalah.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Dion ikut duduk di samping Sina.


Mengusap kedua matanya dan melihat waktu masih menunjukkan pukul setengah 3 dini hari.


"Bermimpi buruk?" Kantuk Dion perlahan menghilang.


"Aku tidak bermimpi buruk! Ini hanya.." Sina segera membantah namun dia malu mengatakan alasannya.


Jika Dion mendengarnya mungkin hal pertama yang dia pikirkan adalah bahwa Sina punya gangguan otak atau mental yang tidak bisa diobati.


"Perut mu bermasalah lagi?" Tanya Dion tidak sabar dan tanpa sadar mulai meraba perut Sina.


Mengelusnya ringan guna menenangkan si junior yang selalu berulah dan membuat Sina kewalahan.


Wajah Sina terasa panas dan dia tahu warnanya pasti sudah sangat merah. Untungnya hanya lampu tidur yang menyala sehingga Dion seharusnya tidak bisa melihat perubahan warna wajahnya karena reaksi kimia.


"Tidak Dion, perut ku baik-baik saja." Sina segera menyingkirkan tangan Dion dari perutnya.


Dion bersyukur juga lega mendengarnya tapi dia masih cemas melihat ekspresi bermasalah Sina yang ingin mengatakan sesuatu tapi terus ditahan.


"Lalu, dimana kamu merasa tidak nyaman? Katakan saja dan tidak perlu malu." Dion mendesak.


Jika ini buruk maka sebaiknya segera ditangani sebelum berdampak negatif kepada Sina.


"Aku.." Sina menatap wajah cemas Dion hati-hati.


"Aku bangun karena tiba-tiba merasa lapar." Ungkap Sina akhirnya masih malu-malu.


Dia tentu saja harus menjaga wajah di depan orang yang dia cintai dan Sina pun tidak menampik keinginan hatinya ini. Namun anaknya tidak mau mengerti. Anaknya ingin makan sesuatu dan harus dituruti karena bila tidak Sina akan terus diteror oleh keinginan anaknya.


"Lapar..kamu lapar?" Tanya Dion tidak yakin.


Dia mulai meragukan kemampuan pendengarannya!


Reaksi Dion tidak jauh dari harapan Sina. Tetap saja Dion akan terkejut mendengarnya!


Tapi Sina tidak bisa menahan keinginan ini meskipun dia mencoba menahannya.


"Aku lapar.. karena semalam tidak sempat makan apa-apa." Bohong Sina menyelamatkan harga dirinya.


Dion juga ingat mereka berdua semalam belum sempat makan apa-apa jadi wajar saja Sina kelaparan karena di dalam tubuh Sina ada bibit kehidupan yang juga membutuhkan asupan makanan.


"Astaga, ini adalah kecerobohan ku!" Dion buru-buru turun dari ranjang.


"Tunggu aku sebentar, aku akan menghangatkan makanan semalam dan membawanya ke sini." Ucap Dion sambil memakai sendal rumahnya.


"Tidak..aku sebenarnya-"


Sebelum Sina selesai menyelesaikan kalimatnya Dion sudah menghilang dari balik pintu kamar. Meninggalkan Sina yang kini sedang menatap bodoh arah kepergian Dion.


"..ingin makan es krim dan soto ayam."


Pikirannya terus saja membayangkan betapa lezatnya es krim coklat dan betapa hangatnya soto ayam bila dimakan jam segini. Dia hanya ingin makan es krim dan soto ayam saja karena selain kedua makanan ini rasa mual Sina akan melonjak lagi.


Tapi melihat betapa sigap dan cepat tanggap Dion merespon keinginannya, Sina tiba-tiba merasa adegan ini cukup lucu. Pasalnya dia tidak pernah melihat ekspresi Dion selepas ini karena biasanya Dion akan mengatur ekspresi wajahnya semalem mungkin.


Sina tidak menyangka Dion punya sisi diluar kendali seperti ini.


7 menit kemudian Dion masuk ke dalam kamar sambil membawa dua mangkuk makanan hangat yang tampak menggugah selera tapi di mata Sina makanan itu tidak bisa dikonsumsi.


"Nah sekarang kamu makan-"

__ADS_1


"Dion..aku..ugh.." Sina mundur ke belakang berusaha menjaga jarak dari asap makanan yang masih mengepul dari dalam mangkuk.


Dia menutup mulut sekuat tenaga dengan kedua tangannya untuk mencegah ledakan mual yang sedang bergejolak di dalam perutnya.


Dion tertegun, menatap kosong makanan hangat yang baru saja selesai dia panaskan.


"Aku akan segera membuangnya." Dia membawa makanan itu keluar sebelum Sina semakin tersiksa.


Setelah itu Dion buru-buru kembali ke dalam kamar, membuka pintu lebar-lebar untuk mengusir bau makanan yang masih tersisa seraya menyemprotkan parfum miliknya di sekitar ruangan.


"Apa sekarang sudah lebih baik?" Tanya Dion cemas.


Ekspresi panik di wajahnya tidak bisa membohongi betapa menyesalnya Dion tadi. Sina lagi-lagi terkejut melihat reaksi cepat Dion, membuat hatinya melahirkan sebuah kecurigaan bila Dion seharusnya tahu tentang kehamilan ini.


Apa itu benar?. Jantung Sina berdebar kencang menahan gejolak perasaan bahagia di dalam dadanya.


"Sina, apa sekarang kamu tidak mual lagi?" Tanya Dion sekali lagi karena tidak mendapatkan jawaban dari Sina.


"Ah.." Sina langsung tersadar.


Dia menghirup udara yang ada di dalam kamar, rasanya itu jauh lebih baik karena kamar ini dipenuhi oleh wangi Dion.


"Ini jauh lebih baik dan aku juga tidak mual lagi."  Jawab Sina setelah menilai secara singkat.


Gara-gara kecurigaannya yang semakin menguat setiap kali dipikirkan, Sina menjadi malu bertatapan langsung dengan mata Dion. Karena tubuhnya akan langsung terasa panas dan jantungnya berdegup kencang menyebarkan aliran kebahagiaan ke seluruh tubuhnya. Sina tidak bisa menahan gelombang manis ini dalam waktu yang bersamaan.


"Lagi aku bertindak ceroboh!" Gumam Dion kesal tapi masih bisa di dengar oleh Sina.


Dion meletakkan parfumnya kembali di atas meja sambil mengambil kunci mobil di atas nanas. Dia juga mengambil jaket kulit dari dalam lemari dan langsung memakainya.


"Kamu mau kemana?" Sina memberanikan diri bertanya.


Karena siapapun akan langsung tahu Dion akan berpergian keluar rumah melihat gelagat terang-terangannya.


"Apa yang ingin kamu makan?" Bukannya menjawab Dion malah balik bertanya.


"Em..itu..bisa ditunda besok, lagipula aku juga tidak terlalu lapar." Bohong Sina enggan melihat Dion meninggalkannya.


Dion pernah mendengar bila wanita hamil harus segera dituruti keinginannya karena jika tidak bayi yang lahir akan ileran.


"Tidak baik menunda karena akan berdampak pada kesehatan tubuhmu." Dan anak kita berdua.


"Aku tahu tapi ini sudah tengah malam Dion. Aku tidak yakin apa masih ada orang yang berjualan di jam segini." Es krim memang bisa ditemukan di minimarket 24 jam yang tersebar di pinggir jalan tapi tukang soto belum tentu masih berjualan. Itulah kenapa Sina memilih untuk menunda dulu meskipun sebenarnya dia juga enggan membiarkan Dion pergi.


Hah, hamil memang tidak mudah.


"Karena itulah aku keluar mencarinya. Katakan saja makanan apa yang kamu inginkan dan tidak perlu malu kepadaku." Dion berusaha membujuk.


Tapi Sina keras kepala tidak ingin membiarkan Dion pergi.


"Aku bisa memesan take away-" Dia mengambil ponselnya tapi segera dihentikan Dion.


"Jangan keras kepala, tidak ada restoran ataupun jasa take away yang masih buka di jam segini. Biar aku saja yang keluar membelinya karena kebetulan aku juga lapar gara-gara belum sempat makan apa-apa semalam."


Ini anaknya dan keinginan anaknya jadi Dion harus menyelesaikan semua kebutuhan anaknya secara pribadi.


"Sina, katakan saja apa yang kamu inginkan. Aku sama sekali tidak masalah keluar untuk mencarinya." Suara rendah dengan nada yang lembut Dion berusaha membujuk Sina.


Dia tahu betapa enggan Sina membuatnya kerepotan.


"Aku..ingin makan soto ayam dan es krim coklat. Em.. ayamnya harus di suwir banyak dan tolong berikan lebih banyak cabe karena aku ingin makan yang pedas." Di bawah tekanan Dion dia akhirnya mengalah dan mengatakan keinginannya.


Dion tersenyum puas, mengusap lembut rambut panjang Sina merasa gemas.


"Soto ayam dan es krim coklat saja? Atau kamu juga menginginkan yang lain?"


Sina menggelengkan kepalanya yakin.


"Aku hanya ingin makan itu saja."


"Baiklah, patuhlah menunggu ku di sini karena aku akan segera kembali." Pesan Dion sebelum pergi menjalankan misinya.


Dia baru saja berbalik namun tangan kanannya sudah ditarik Sina. Dion langsung menoleh menatap wajah gugup Sina yang tampak menyedihkan. Kedua matanya sudah berkaca-kaca menahan isak tangis.


"Ada apa, hem?" Dion berjalan kembali mendekati Sina.

__ADS_1


"Dion.." Panggil Sina sedih.


"Apa yang membuat mu merasa sedih?" Dia mengusap sudut mata Sina cemas.


Intinya, apapun yang berhubungan dengan kekasihnya selalu membuat Dion dilanda kecemasan. Entah ini karena sifat posesifnya sendiri atau karena sifat cinta itu sendiri Dion tidak bisa menebak karena yang pasti Sina adalah titik sensitifnya dalam kehidupan ini.


"Jangan pergi.." Sina tidak mau berpisah dengan Dion.


"Aku kan mau beliin kamu makanan biar kamu sehat terus dan jangan sakit. Gak apa-apa yah aku keluar bentar?"


"Gak mau." Sina langsung menolak.


Dia memeluk Dion erat tidak mau dipisahkan.


"Dion gak boleh pergi. Aku gak mau ditinggalin Dion lagi, rasanya sakit."


Dion tersentak dan langsung membalas pelukan Sina. Mendekapnya kuat untuk memberikan perasaan hangat yang selalu mereka berdua dambakan.


"Aku gak akan ninggalin kamu lagi karena aku akan selalu di sini, menemani kamu dan mengobati rasa sakit yang kamu rasakan.." Bisik Dion berjanji, mengecup sayang puncak kepala Sina berkali-kali.


Bagaimana Sina segemas ini ketika sedang manja?. Batin Dion tidak tahan.


"Janji?" Tanya Sina semakin mengeratkan pelukannya.


Dion tersenyum simpul,"Aku janji."


Setelah itu mereka berdua tidak berbicara lagi tapi meskipun begitu suasana di dalam kamar ini amatlah manis. Sina bertingkah manja lagi, bersandar di dada bidang Dion untuk merasakan suara detak jantungnya yang berdetak kencang. Dia juga menikmati wangi khas Dion, menghirup sepuas hati nutrisi hati yang dulu selalu dia idam-idamkan.


Sementara Dion yang menjadi bahan sandaran diam menikmati tingkah manja Sina. Dia sama sekali tidak keberatan ditahan seperti ini oleh Sina. Malah dia sebenarnya senang Sina bertingkah manja di depannya. Karena Dion seolah mendapatkan kotak Pandora dengan berbagai macam kejutan yang menarik perhatiannya.


"Apa kamu masih lapar?" Setelah sekian lama tanpa pembicaraan Dion akhirnya memecah keheningan.


Sina di dalam pelukan Dion menganggukkan kepalanya.


"Lapar." Dia mengakui.


"Kalo gitu Sina tunggu di sini dulu yah-"


"Gak mau!" Potong Sina cepat.


Dia gak mau Dion ninggalin dia lagi.


"Aku keluar cuma beli makanan aja, sungguh. Tadikan aku udah janji gak bakal ninggalin kamu, masih gak percaya?" Tanya Dion geli.


"Aku percaya." Jawab Sina sepenuhnya yakin.


"Tapi aku boleh ikut keluar enggak?" Sina menawarkan diri.


Dion tentu saja langsung menolak mentah-mentah ide ini. Dia tidak akan membiarkan Sina keluar di malam hari apalagi jam segini meskipun Sina bersamanya sekalipun. Sina harus diam di rumah menunggu kedatangannya pulang sama seperti para istri diluar sana. Apalagi saat ini Sina sedang mengandung sehingga tidak aman membiarkannya keluar di tengah-tengah malam yang dingin.


"Gak boleh, Sina. Tugas kamu hanya satu, yaitu diam di sini dan tunggu aku pulang, okay?"


Sina tampak cemberut,"Nanti kamu diambil lagi sama Bela."


"Bela mana bangun jam segini, dia pasti tidurlah di kamarnya." Dion tidak tahu harus tertawa atau menangis menghadapi sikap manja Sina.


Dia senang tapi juga merasa gemas!


Sina terdiam, tampak berpikir lama. Sepertinya dia kesusahan memutuskan antara mengizinkan Dion pergi atau tidak.


"Tapi kamu janji yah langsung pulang?" Sina meminta jaminan.


"Aku janji, percaya sama aku."


Enggan,"Okay, kamu boleh pergi tapi jangan lama-lama."


"Hem." Dion ingin melepaskan pelukan tapi Sina tidak mau bekerja sama dengannya.


Dia tampak tidak rela.


Dion,"....." Apa ini karena dia sedang hamil?


"Sina?" Panggil Dion lembut.


Sina perlahan mengangkat wajahnya, menatap Dion dengan tatapan malu-malu juga warna pipi yang sudah memerah.

__ADS_1


"Cium.." Pinta Sina dengan suara yang sangat kecil.


Bersambung...


__ADS_2