
"Apa yang Dion maksud itu Sina?" Bisik Bela bingung.
Mendengar pertanyaan bingung sahabatnya, Kira sontak menggelengkan kepalanya dengan yakin untuk membuang pikiran itu jauh-jauh. Hei, mana mungkin Dion menyukai gadis biasa seperti Sina?
Well, itu adalah sesuatu yang mustahil terjadi.
"Aku pikir...bukan, mungkin yang dimaksud Dion adalah Calista karena kamu tahu sendiri aku punya masalah pribadi dengannya. Yah, Calista memang sepupu Dion tapi meskipun mereka adalah keluarga aku tidak bisa mentoleransi perbuatan Calista selama ini. Ikut campur dalam hubungan ku dengan Ridwan, apa kamu pikir aku akan diam saja melihatnya?" Bantah Kira yakin.
"Calista orang yang seperti itu?" Tanya Bela langsung percaya dengan cerita Kira.
Karena Bela lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja sehingga dia tidak terlalu tahu menahu hubungan Kira dan Ridwan. Apalagi mereka tinggal di kota yang berjauhan sehingga jarang bisa bertemu, maka wajar saja Bela menganggap Kira dan Ridwan sudah berpacaran. Lagipula, Kira selalu mengekori kemanapun Ridwan pergi. Mulai dari sekolah dasar sampai kuliah jurusan kedokteran di Amerika, Kira tidak pernah absen untuk mengikuti Ridwan.
Nah, jika seperti ini ceritanya maka orang-orang yang akan melihat lebih percaya Kira dan Ridwan adalah hubungan kekasih daripada sekedar bersahabat.
Kira memanfaatkan momen ini untuk menjelek-jelekkan citra baik Calista di depan Bela.
"Apa kamu meragukan kata-kata sahabat mu sendiri?" Tanya Kira berpura-pura sedih.
"Jangan salah paham, aku percaya apa yang kamu katakan karena bukan hanya kamu saja yang mengeluhkan tentang Calista. Beberapa kali aku berkomunikasi dengan Risa selama diluar kota, dia juga sempat mengeluhkan tentang Calista. Persis seperti apa yang kamu katakan." Menundukkan kepalanya berpikir.
Dia kemudian melanjutkan ucapannya. "Aku benar-benar tidak menyangka Calista orang yang seperti itu."
"Bela..Bela, kamu terlalu polos dengan orang-orang yang ada di sekitar mu. Jangan tertipu dengan wajah cantik dan sikap sopan nya di depan mu karena kamu tidak tahu jika dibelakang mu dia mulai mengasah pisau untuk menikam mu." Menghela nafas perihatin, Kira tidak bisa membayangkan harinya di masa depan karena Dion tidak suka dia memojokkan Calista.
"Sekarang aku tidak bisa menegur Calista lagi karena Dion tidak menyukainya. Aku tidak tahu bagaimana hubungan ku dengan Ridwan di masa depan jika aku tidak diizinkan berbuat apa-apa." Keluhnya penuh kebencian.
"Jangan khawatir, aku akan membantu mu menjauhkan Ridwan dari Calista. Jadi kamu tidak perlu takut lagi." Kira adalah sahabatnya jadi dia tidak akan sungkan membantunya.
Bela juga bersyukur Dion tidak menganggap Sina penting sehingga dia masih punya peluang untuk mendapatkan Dion.
...🌺🌺🌺...
__ADS_1
"Urus dia di masa depan dan jangan sampai dia mengganggu Sina lagi. Rencana ku sudah beberapa kali berantakan gara-gara pacar manja mu itu." Perintah Dion kesal.
Rencananya sudah beberapa kali menyeleweng dari jalan yang dia rencanakan gara-gara mendapatkan gangguan dari Kira dan Calista.
Ridwan tidak terima, "Siapa yang pacarnya? Jangan berbicara omong kosong."
Dion menghela nafas panjang, mengatur emosinya kembali stabil. Bukan saatnya marah dan bukan saatnya untuk kesal. Dia harus menahannya karena perjuangan yang dia lewati untuk berdiri sampai di sini tidaklah mudah sehingga dia perlu berhati-hati lagi.
"Sina punya penyakit asam lambung dan aku pikir ini cukup serius karena dia hampir tidak makan apapun beberapa hari ini. Perutnya selalu menolak makanan yang masuk sehingga dia tidak punya cara lain selain menahannya. Katakan, apa penyakit asam lambung bisa separah ini?" Tanya Dion mengalihkan topik pembicaraan.
Dia khawatir saat tahu Sina tidak bisa memakan makanan apapun, apalagi Sina lebih kurus sekarang sehingga rasa khawatirnya semakin berlipat ganda.
"Jangan remehkan penyakit ini. Meskipun awalnya tidak terlalu serius dan mudah ditangani tapi ketika sudah masuk fase akut maka ceritanya akan lain lagi. Apa kamu tahu banyak orang yang meninggal dunia karena penyakit asam lambung akut? Penyakit ini sebenarnya diam-diam mematikan." Ridwan mulai menjelaskan dengan khusyuk.
Dion diam dan patuh mendengarkan, wajahnya yang dingin tanpa ekspresi diam-diam menyembunyikan detak jantungnya yang sedang menggebu-gebu karena panik.
"Nah, dari penilaian ku sebagai dokter setelah mengamati Sina, aku pikir Sina memang punya penyakit asam lambung. Namun.." Dia mengalihkan tatapan mata seriusnya menatap wajah poker Dion.
"Cukup, aku tidak bisa mempercayai analisis dari dokter gadungan." Potong Dion tidak ingin mendengar lagi.
Ridwan mengangkat bahunya acuh, cukup tahu untuk tutup mulut dan tidak menakuti sahabatnya lagi.
Dion terdiam menatap tanah, beberapa detik kemudian dia mengangkat wajah tegangnya menatap langit malam yang tidak berujung. Begitu gelap dan menakutkan, bahkan sinar bintang saja tidak bisa mengalahkan ketajaman gelapnya malam.
"Aku sudah memeriksa ulang data Sina dan tidak menemukan tentang penyakit apapun ditubuhnya. Untuk memperjelas penyelidikan yang ku dapat, aku juga sudah mengecek dibeberapa rumah sakit yang sudah dia masuki tapi tidak menemukan catatan penyakit serius yang mengganggunya. Jujur, aku bingung kenapa tiba-tiba dia punya asam lambung dan itupun sudah sangat parah, padahal tidak ada satupun hasil penyelidikan ku yang mencatatnya." Cerita Dion putus asa.
Setelah bertahun-tahun lamanya Ridwan sekali lagi melihat ekspresi putus asa Dion yang langka. 15 tahun yang lalu Dion sering menampilkan ekspresi ini setiap kali dia pulang dari suatu tempat. Orang-orang yang ada di sekitarnya menjadi panik dan membujuk Dion untuk menceritakan keluh kesahnya. Tapi Dion menolak dan membuat semua terkejut. Dia mengumumkan akan sekolah di luar negeri untuk memupuk karirnya dari nol.
Bertahun-tahun lamanya menetap di luar negeri ternyata Dion sangat serius dan pulang ke Indonesia dengan prestasi yang gemilang. Awalnya Ridwan tidak tahu apa yang membuat Dion terpacu menjadi Dion yang sekarang sampai akhirnya dia tahu jika itu karena Sina.
Sina, gadis kecil yang sudah menyelamatkan nyawa Dion 15 tahun yang lalu.
__ADS_1
"Apa kamu sudah bertanya kepada orang-orang terdekatnya? Mungkin saja mereka tahu tapi tidak terlalu memikirkannya karena pada awalnya asam lambung tidak terlalu serius."
"Aku sudah bertanya kepada pembantu dan orang tuanya tapi jawabannya sama, mereka bilang Sina tidak punya riwayat penyakit apapun."
"Jangan bersedih dulu, mungkin Sina sedang banyak pikiran sehingga membuat nafsu makannya terganggu. Aku juga berpikir untuk mengecek Sina secara langsung untuk mengkonfirmasi keadaan fisiknya jadi kamu harus menenangkan pikiran mu." Ridwan menepuk kuat pundak Dion guna menyemangatinya.
"Aku juga berpikir seperti itu." Gumam Dion berbisik.
...🌺🌺🌺...
"Tidak apa-apa, aku akan menunda kepergian ku dan memutuskan untuk ikut berlibur bersama keluarga mu. Kamu juga tidak perlu khawatir soal Dion karena aku sudah berjanji untuk tidak muncul di depannya lagi." Ucap Sina mengungkapkan pikirannya sambil menyusun beberapa pakaian ke dalam tas ranselnya.
Anggap saja ini adalah bentuk perpisahan Sina dengan keluarga Dion. Karena bagaimana juga Dion dan keluarganya sangat baik selama dia tinggal di sini sehingga Sina tidak nyaman untuk menolak tawaran hangat dari mereka.
"Sebenarnya aku juga tadi ingin membujuk mu untuk ikut bersama kami. Tapi karena kamu sudah mengatakannya maka aku merasa lega." Ujar Calista senang.
Dia duduk di samping Sina, membantunya mengemasi barang-barang Sina untuk acara besok. Dia juga memberikan beberapa ide untuk Sina dengan mengandalkan pengalamannya setiap kali pergi ke daerah T untuk kemah. Memilihkan beberapa pakaian yang cocok untuk digunakan selama di sana.
"Daerah T agak dingin jadi kamu akan kesulitan menggunakan pakaian seperti ini." Ucap Calista tidak berdaya saat melihat pakaian Sina yang terbuat dari kain ringan dan tidak cocok digunakan di tempat yang dingin.
Model kain seperti ini digunakan saat musim panas karena rasanya akan lebih sejuk.
Sina bingung, "Lalu, apa aku harus keluar membeli pakaian sekarang?" Tanyanya ragu.
"Hah.. jangan gila. Tidak perlu membeli pakaian apalagi malam-malam begini. Cukup gunakan pakaian ku saja karena kebetulan bentuk tubuh kita tidak jauh berbeda."
"Aku menyusahkan mu lagi.." Bisik Sina tidak enak.
Calista tersenyum ringan, "Aku senang di susahkan oleh mu."
Bersambung...
__ADS_1
Khusus hari Jumat double up😘